Childhood Love Story

Childhood Love Story
Kabar baik?


__ADS_3

Mama Neela dan mommy Tara siang ini menyempatkan waktu mereka untuk mendampingi Ara kontrol kandungan.


Hari ini adalah hari kedatangan Ardiansyah setelah ekstension sebulan lebih karena harus ikut pertandingan tinju disana.


Hari ini baik papa ataupun daddy Hen berencana mengumpulkan semua keluarga dan orang terdekat mereka untuk meberikan kabar gembira yang selama ini mereka simpan.


Bagi mereka saat ini adalah saat terbaik untuk membuka semua, mengingat beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun Ara dan Ardi. Apalagi usia kandungan Ara juga sudah lewat 3 bulan, dimana setiap usia janin 100hari dalam kandungan, maka Allah akan meniupkan ruh pada mereka.


Untuk itulah papa maupun daddy berharap kelak sang cucu bisa menjadi manusia yang berakhlakul karim, dengan menyelenggarakan acara syukuran sederhana.


Ara beserta mommy dan mama tersenyum saat dokter mengatakan kandungan diperut Ara dalam keadaan sehat dan stabil.


Pertumbuhannya bagus, sesuai perkembangan janin kembar sebagaimana mestinya.


Tapi memang iya, Ara terlihat lebih berisi dan bertambah cubby. Dan sungguh membuat siapa saja menjadi gemas, ingin mencubit pipi gembul yang sangat-sangat menggemaskan.


" Hai Beb, lo terlihat mirip bakpao sekarang!!" Seru Ardiansyah saat melihat kemunculan Ara, mommy dan mama dari pintu samping garasi.


Dengan cepat disambarnya gadis itu dalam gendonganya dan diciuminya sepuasnya.


Ardiansyah sangat kangen berat dengan kembarannya ini. Begitu juga Ara, bahkan saat ini diapun enggan melepaskan pelukanya pada Ardi.


Dan malah erat melingkar dalam gendongan Ardi.


" Ardi!!!, turunin!, turunin Lili" Teriak mama histeris.


" Jangan lagi sayang, jangan lagi..." Pinta mama.


" Kau harus hati-hati memperlakukan adikmu mulai sekarang Ardi! Jangan sembrono!!" Ucap mama lagi.


" Hahhh!!, biasanya juga begini??" Ucap Ardi sambil menurunkan Ara, pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Eh tapi lo emang gendutan deh beb, agak berat soalnya" Kata Ardiansyah dengan mengamati bentuk Ara yang tidak jauh berubah, cuma agak tembem dan sedikit bertambah berat.


" Emang iya semakin gendut, tapi tambah seksi kan?" Sahut Ara.


" Seksi apanya?, perut buncit mirip orang cacingan begitu seksi dari mana?!" Jawab Ardi.


" Ih jahat!!!, ngatain Lili cacingan!!, ini juga hasil cacing dari Rangga Bayu Wijaya tahu!!!" Seru Ara geram dan lansung meninggalkan Ardi untuk rebahan di sofa.


Ardi melongo mendapati kemarahan Ara. Otaknya nggak cukup loading untuk memahami ucapan Ara barusan.


" Assalamualaikum..." Suara lembut dari pintu yang sama dimana tadi mama, mommy dan Ara masuk, kini juga masuklah seorang gadis bercandar.


Pandangan mereka bertemu, tiba-tiba membuat dada Ardiansyah berdentum-dentum tak karuan.


" Waalaikumsalam.." Jawab mereka serempak.


Kecuali Ardi. Matanya terus menatap mata indah yang juga kini menatapnya.


Ada rasa hangat dalam dada Ardi saat ini.


Matanya terus mengikuti pergerakan gadis yang kini sedang menyalami takzim dua wanita baya yang kini duduk di ruang keluarga.


Dan gadis itu kini berjalan kearahnya.


" Apa kabar mas?, Kapan sampai, gimana perjalananya?"


Ardi tersadar dari lamunannya.


" Emm, ahh Alhamdulillah. Barusan sampai, brothy tadi yang jemput" Jawab Ardi kikuk.


" Sudah minum?, mau Zu buatkan?" Tanya Azura saat diliriknya meja ruang keluarga masih kosong, tak ada apa-apa.


" Emmm, iya boleh.." Jawab Ardi lagi dengan canggung.


Azurapun ke dapur, membuatkan satu teko minuman dan menaruh beberapa gelas dan juga memotong kue keju yang dibuatnya tadi sebelum berangkat sekolah.


Ardi mengikutinya dari belakang, tanganya mencomot seiris kue yang berada di atas nampan begitu saja.


" Hemmhh ini lezat, kamu yang buat?"


Azura mengangguk dan melangkah menuju ruang keluarga dimana semua telah berkumpul.


Ardi terus mengikuti langkah Azura yang beranjak ke kamarnya dan Bianca.


" Zu..." Panggil Ardi pelan.


" Hemmm.."

__ADS_1


" Bisa bicara sebentar?"


Azura menoleh saat menyadari ternyata Ardi mengikutinya sampai ke depan kamar, gadis itupun mengurungkan niatnya membuka pintu.


"Bicara apa mas?, bicara saja sekarang.."


" Tidak disini, besok kita pergi ke taman kota dengan Bian, sudah lama kan tidak kesana?" Ucap Ardi.


" Sering kok dengan brothy Brian" Sahut Azura.


Degh!!!


Ada rasa nyeri dalam hati Ardi saat ini. Ternyata perkembangan langkah Brian sudah sejauh ini.


" Oh ke Sorrento saja, Bian suka kesana kan?"


" Iya sih, tapi sering juga kesana, Bian sudah bosan.."


Sesering itu sampai Bianca bosan??


Ardi mematung dengan lamunannya.


Nyut..nyut..


Hatinya terasa ngilu membayangkan gadis di depanya ini dimiliki brothy nya.


Ada rasa tak rela, gadis yang ditemukannya lebih dulu ini harus direbut oleh brothy nya seperti Hana direbut oleh kakaknya sendiri.


Entah sejak kapan fikirannya tidak terisi kembali oleh Han.


Mungkin sejak komunikasinya dengan gadis ini tiga bulan lalu. Dan sejak saat itu pula nama Hana sedikit demi sedikit terusir dari hatinya.


" Dengan siapa kesana?" Tanya Ardi setelah tersadar dari lamunannya.


" Dengan brothy..." Jawab Azura cepat.


" Kalau ke Ancol aja gimana?"


" Kemaren baru dari sana, karena brothy libur kemaren kan.."


" Timezone??"


" Sudah sering!!, bersama brothy juga!!" Ardi menyambar dan meninggikan suaranya.


" Shhhhh sial, brengsek!!" Dengan geram di acaknya rambutnya kasar.


" Tidak bisakah kalau kamu sedang kencan dengan brothy, tidak usah bawa-bawa Bianca!!" Umpat Ardi dan segera berlalu meninggalkan Azura begitu saja.


Ara yang tepat berdiri di belakang Ardi menutup mulutnya tak percaya.


Dia sangat tahu arti ucapan Ardi apa. Ara mematung saat ini.


Semua terjadi sangat cepat, dia sangat bisa menyadari situasi saat ini apa?.


Ardi cemburu pada brothy Brian?.


Artinya???


Ancanya mencintai Azura?


Dan brothy Brianpun???


Ya...Allah ini rumit..


Kenapa lagi-lagi Ancaku harus terlibat cinta yang seperti ini...


Ya Allah...


Ara segera mundur dari tempatnya saat ini, berharap Azura yang sedang melamun tidak menyadari keberadaannya.


***


Malam datang penuh kebahagiaan. Semua keluarga besar berkumpul. Bahkan Marvel dan Dianpun yang berencana untuk melahirkan di Indonesia juga sudah tiba.


Acara makan malam keluarga Syakieb hari ini berpindah ke taman belakang yang luas.


Karena tidak hanya keluaga besar saja, tapi semua sahabat Rangga dan Arapun turut hadir serta. Tak terkecuali Lenox.


Acara barbeque an kali ini sangat meriah, obrolan hangat pelepas rindu dari mereka-mereka yang kemarin jauhpun kini terlihat mencair.

__ADS_1


Ting...ting...ting...


Papa Syakieb mengetuk gelas dengan sendok. Berharap atensi para tamu fokus tertuju padanya.


" Oke mohon perhatiannya sebentar.."


Semua mata tertuju pada papa Syakieb yang nampak gagah didepan hadirin yang berkumpul.


" Assalamualaikum wr, wb.


Tujuan kami mengumpulkan semua kerabat kami disini adalah untuk memberikan kabar baik..., kabar akan kehadiran member baru klan kita" Ucap papa Syakieb.


" Silahkan Hen..." Papa mempersilahkan daddy Hen untuk mewakilinya. Karena Ara memang putrinya, tapi darah anak-anak Ara tentu akan bernasab Wijaya bukan.


" Oke.., saya menyambung ucapan Syakieb tadi. Dengan mengucap Alhamdulilah. Telah hadir diantara kita bakal penerus klan Wijaya....."


Semua mata saling tatap tak percaya, mereka rata-rata adalah orang cerdas yang mampu menangkap kata-kata dari daddy Hen langsung menatap pada Ara yang tersenyum malu-malu di antara mommy dan mama.


Daddy Hen mengikuti atau pandang para hadirin.


" Ya, dan yang ada di benak kalian benar. Menantuku, Lailia Nafeesa Anara saat ini sedang mengandung 15 minggu, buah dari putraku Rangga Bayu Wijaya..."


" Wahh....Alhamdulillah..." Teriak para sahabat Rangga dengan saling berangkulan.


Natasha cs, langsung menghambur memeluki Ara dengan suka cita.


Sementara itu Lenox dan Ardi terpaku ditempatnya masing-masing.


" Hamil???" Desis Lenox.


" Iya, dan jalanmu jelas buntu sekarang!, so!! mundurlah.." Sindir Janu yang duduk tak jauh dari Lenox.


Lenox tersenyum menyeringai.


" Kau fikir segampang itu mundur?, Ara berubah jadi nenekpun aku tak akan mundur!!, asal lo tau!!" Jawab Lenox penuh penekanan.


" Betulkah?, kita lihat saja nanti.." Sahut Janu cepat, sementara matanya terus saja mengikuti gerak-gerik Hana.


Gadis imut dan berlesung pipi itu berbulan-bulan ini sungguh mampu mencuri perhatiannya.


Membuatnya tak enak makan dan tak nyenyak tidur.


Hana Nidya Harahap, nama gadis yang tergores indah di hati Janu.


Suasana semakin ramai saat proyektor Brian menghadirkan Rangga ditengah-tengah mereka. Kebetulan saat ini Rangga tengah tidak ada kelas. Hingga susana mendukung untuk berbincang bersama secara virtual.



" Hai sayang miss you so much..." Ucap Rangga yang tidak menyadari bahwa begitu banyak manusia ada disana.


Tatapanya tertuju pada satu wanita, dan dia hanya Lili, istri tercintanya.


" Huaawww....Huuu...." Sorak sorai yang riuh terdengar menyadarkan Rangga akan sesuatu.


Membuatnya ikut tertawa malu-malu.


Suasana semakin hangat saat kini mereka semua dapat berkomunikasi secara langsung.


Di sela-sela itu juga ada pembicaraan bisnis antara para pria.


Sementara kakek terus mengelus kepala Ara dan Dian dengan sayangnya. Di dalam perut cucu dan cucu mantunya kini bersemayam cicitnya. Penerus Ghifari ada diperut Dian, dan penerus Wijaya ada di perut Ara.


Di sudut taman Brian sedang mendekati Azura yang sedang berbincang dengan seseorang di ponselnya.


" Iya Nath, aku usahakan besok ke rumah orang tuamu.."


"........"


" Iya, ha...ha..., kau bisa saja Nath..."


"........"


" Ya..., terimakasih pujianya..., kamu juga ganteng kok..ha...ha..."


Degh.!!!!


Brian terpaku ditempatnya.


Siapa yang ngobrol dengan Azura sedekat itu?

__ADS_1


Bahkan menyebutnya ganteng segala?


__ADS_2