
---Happy Reading---
Luna yang tidak bisa menemukan ide untuk designnya pun langsung keluar dari ruangan khusus dalam kamarnya lalu berjalan menuju balkon kamar yang langsung menunjukkan suasana indah disore hari. Dan menatap suasana luar dengan tatapan kosong.
"Mengapa? Apakah ada sesuatu yang tidak boleh diriku mengingatnya kembali?"
"Aku merasa sosok bocah didalam mimpiku ini ada hubungannya dengan masalahku. Tapi siapa dia?"
Di sebuah kota besar dari negara A, seseorang berjalan dengan tergesa gesa dan memasuki ruangan besar yang didapati seorang pria berjas biru tua berdiri menatap luar jendela tanpa menyadari sosok yang sudah masuk keruangannya.
"Tuan,...." Panggil sosok itu yang baru masuk dengan membungkuk tanda hormat.
"Ada apa?"
"Tuan besar menyuruh anda untuk pulang, karena sudah 10 tahun lamanya anda tidak pulang kerumah tuan besar." Pria yang dipanggil 'tuan' tertawa sinis lalu membalikkan tubuhnya dan menatap orang yang sudah berdiri disampingnya sejak saat itu. "Untuk apa diriku pulang kerumah? Kau tadi bilang rumah? Bagiku itu adalah penjara tidak lebih dari itu."
"Tapi tuan-"
"Cukup! Silahkan keluar." perintahnya tanpa bisa dibantah membuat orang itu melangkah pergi keluar dari ruangan 'tuan' nya. Pria itu duduk dikursi kebesarannya dan memulai bekerja kembali fokus kepada tumpukan kertas yang berada diatas mejanya.
Lalu pandangannya tidak sengaja kesebuah bingkai yang selalu menemaninya dimanapun ia berada. Dia mengambil dan mengelus pelan sosok yang berada didalam foto tersebut. "Kangen, kangen kalian."
Ujarnya lalu menaruhnya kembali ditempatnya, pria itu menghela nafas untuk menenangkan dirinya yang entah kenapa merasa gelisah untuk hari ini. Tak lama benda pipih yang berada disampingnya berbunyi lalu ia melihatnya siapa yang menelpon dan ternyata.. "Ck. Pria tua itu, untuk apa dia menelponku?"
Tanyanya namun ia menekan tombol hijau dan mengarahkan benda itu ketelinga kirinya. Dengan suara datar ia menyapa, "Halo?"
"Kamu ini, kenapa lama sekali angkat telpon dariku?"
"Ada apa?" Tanyanya tanpa ingin berlama lama berbicara sampai pria itu mendengar suara helaan nafas disebrang sana. "Nanti malam kamu harus datang kerumah."
"Untuk perjodohan? Tidak diriku sibuk."
"Bukan, bukan perjodohan. Ini perkumpulan keluarga, sudah lama rumah ini tidak makan malam bersama keluarga."
"Ck, memangnya karena siapa yang membuat itu semua terjadi? Aku tidak tau bisa atau tidak, aku tutup." ucapnya sambil memutuskan panggilan itu secara sepihak membuat orang yang disebrang menghela nafas lelah lalu menatap telpon genggamnya dengan tatapan sendu.
❣❣
__ADS_1
Pria itu mau tak mau harus datang kerumah yang ia anggap penjara, karena saat ia berniat ingin pulang tak lama seorang supir milik pria tua itu masuk dan mengendarai mobil miliknya, karena ia memang sudah lelah jadinya ia biarkan sampai ia sudah berada didepan rumah besar itu.
Sosok pria tua sudah berdiri didepan pintu rumah disampingnya juga ada dua orang yang tak ingin ia lihat dalam hidupnya. Pria itu berjalan dengan tatapan tajam dan wajah dingin membuat siapa saja yang melihatnya takut untuk menatap pria itu.
"Akhirnya kamu datang juga, nak.."
"Untuk apa mereka datang? Bukan tempat mereka disini, dan aku tidak membutuhkan mereka." Pria tua itu menghela nafas, lalu mengangguk. "Mereka juga keluarga kita nak, lebih baik kita langsung makan malam, ayo nak." ajaknya namun lagi dan lagi pria itu masuk terlebih dahulu meninggalkan tiga orang dewasa yang membuat hidupannya berubah.
Selama makan malam dimulai, diruang makan hanya terdengar suara dentingan piring dan sendok. "Sudah cukup diamnya, beritahu tujuan mereka? Mengapa dua orang ini ada disini?" tanyanya dengan tajam, membuat dua orang itu gugup dan takut.
"Nak, mereka juga ayah dan ibumu." Pria itu tertawa garing. "Hahaha! Ayah ibu? Sejak kapan diriku ini yang tak lain adalah anak pembawa sial mempunyai ayah ibu semacam mereka?" Sindirnya.
"Maafkan ayah, nak."
"Apa maaf kau bisa membawa kembali bunda kandung saya?" tanyanya dengan dingin. Pria itu menggelengkan kepalannya. "Tidak, itulah jawabannya. Kalian tidak perlu lagi datang kemari memohon kepada pria tua ini karena percuma didiri saya sudah tidak menerima kalian orang sampah yang hanya mementingkan keinginan kalian sampai membuat pertumpahan darah dan korban. Saya kelar, permisi." ujarnya dengan sinis.
Pria tua yang disebut dalam percakapan langsung kesal kepadanya namun tidak dihiraukan olehnya karena ia samar samar hanya mendengar. "DASAR BOCAH KECIL! Masih berani beraninya memanggilku pria tua! Aku ini KAKEK-mu!" Teriaknya menggelegar diseluruh ruangan.
Hah.. "Kalian sudah puas dengan ucapan bocah kecil itu? Kalau begitu kalian pergilah, jangan pernah datang kembali kerumah ini. Betapa bodohnya putriku menerima pria semacam kau! Dan betapa bodohnya diriku mengangkat dirimu menjadi putriku. Kalian sudah bukan lagi anakku mulai saat ini, karena kalian aku kehilangan putri kesayanganku." jelasnya dengan berdiri dari duduknya. Tak lama beberapa pengawal berjas hitam dengan tubuh besar menghampiri kakek dan sedikit menunduk tanda hormat.
"Baik tuan besar!" ujar mereka serempak, dan dua orang itu dengan pasrah diseret kedepan keluar gerbang rumah tersebut, sedikit dorongan membuat kedua orang itu terjatuh dan terduduk diaspal.
"Ah!"
"Pergilah sejauh mungkin sebelum kami menghancurkan apa yang kalian miliki." ancam pengawal tersebut membuat mereka berdua pasrah dan sedikit menyesal sudah menghianati orang yang dulu sayang dan tulus kepada mereka.
'Kami menyesal Adel, maafkan kami.' batin mereka masing masing.
Tanpa mereka sadari ada seseorang menatap mereka dari atas dibalik jendela besarnya, saat sedang menatap punggung penghianat ia mendengar langkah kaki dibalik punggungnya, ia tau siapa yang berada dibelakangnya. "Sudahlah tidak perlu menatap mereka seperti itu, terlalu hina untuk dilihat."
"Mengapa mereka datang lagi kemari?"
"Mereka menyesal, mereka bersujud dan memohon kepadaku dan mengatakan bahwa mereka menyesal." Pria itu berdecak tak sudi. "Penyesalan memang selalu datang terakhir, maka dari itu jika tidak ingin menyesal lebih baik dipikirkan kembali. Mereka saja yang hanya mempunyai otak cetek tidak bisa memikir panjang." Gerutunya.
"Pria tua, apa kau merindukan bunda Adel?"
"Sudah berapa kali aku mengatakan bahwa diriku ini kakekmu, nak. Sepanjang masa diriku akan selalu merindukannya seperti diriku merindukan nenekmu. Mungkin saja mereka sudah bertemu dan berbahagia bersama diatas sana. Apa kamu merindukannya juga nak?"
__ADS_1
"Tidak ada niat untuk menghapuskan kenangannya, aku akan selalu merindukan bunda adel. Karena dia adalah manusia jelmaan malaikat, terkadang diriku sering bertanya mengapa bunda selalu berbaik hati kepada semua orang yang belum tentu baik kepada kita. Namun bunda menjawab itu semua hanya dengan senyuman, senyuman yang tak pernah ku lupakan seperti senyumannya."
Kakek mengangguk paham dan tahu senyuman dari putrinya itu sangat persis dengan mendiang istrinya. "Apa, tidak kamu temukan saja gadis itu?" Pria itu menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak, aku berfirasat bahwa aku akan bertemu dengannya sebentar lagi, entah itu kapan yang pasti aku menunggu waktu pertemuan itu."
"Baiklah nak, sampai kapan kamu tidak ingin memanggil ku dengan sebutan kakek? Aku ini kakekmu, satu satunya kakekmu."
"Sampai anda tidak memanggilku dengan julukkan bocah kecil lagi."
"Baiklah baiklah, diriku tidak akan memanggilmu dengan julukan lagi. Aku akan memanggilmu seperti bunda mu memanggilmu, Adam."
"Terima kasih kakek, karenamu, aku bisa sampai saat ini. Berdiri kokoh dan pantang menyerah untuk segala hal." ujarny dengan mata berkaca kaca karena sangat merindukan bundanya. Kakeknya menatapnya dengan senyuman lalu beliau memeluknya dengan erat.
Adam bisa merasakan kehangatan dalam pelukan ini. Ia pun langsung mengeratkan pelukan itu dan nangis dibalik punggung itu. Punggung yang hampir rapuh, dan ia berjanji akan melindungi kakeknya dan orang yang ia cintai sampai kapanpun ia akan berani untuk menyelamatkan orang yang ia sayangi dengan nyawanya.
"Sehatlah selalu kakek, sampai diriku menikah dengan gadis itu." bisiknya.
Kakek mengangguk, "Baik, kakek akan menjaga kesehatan kakek agar bisa melihatmu menikah dengan gadis manis itu."
❣❣
Siang hari luna sudah siap dengan pakaian santainya. Lalu turun menuju kedapur berniat mengambil susu stroberinya dan ia berjalan keruang keluarga yang sudah ada mama dan papanya yang fokus menonton berita terkini. "Mama, papa, luna mau keperpustakaan boleh?" tanyanya setelah duduk disamping papanya.
"Bukannya luna lagi dihukum? Kenapa keluar?"
Luna menepuk jidatnya, lupa akan hal itu. "Oh iya, luna lupa tapi gimana dong luna udah rapih gini.." ucapnya dengan murung membuat papa mama langsung iba, dengan ide cemerlang mama Anzel langsung membisikkan sesuatu ke suaminya.
"Bagaimana jika kita bertiga jalan jalan bersama? Kita bertiga jarang untuk keluar Fun time?" Mendengar ajakan papa mata luna langsung berbinar dan semangat kembali. "Hua! Mau! Ayo ayo... Udah lama kita gak main bertiga. Ayo ma pa!"
"Oke ayo, setelah mama sama papa ganti baju ya sayang, tunggu disini." ucap papa sambil mengelus pelan kepala putrinya. Tak lama mama papa sudah siap dengan pakaian kasualnya. Dan mereka pun langsung cus pergi ketujuan yang diinginkan oleh Luna, putri kesayangan mereka.
---Bersambung---
Jangan lupa like, like, like, dan ikuti diriku yaw
Terima Kasih
__ADS_1