Childhood Love Story

Childhood Love Story
Aluna Nada - Part 22


__ADS_3

---Happy Reading---


Aluna sudah sampai dirumah dengan selamat setelah abangnya mengebut agar mobil yang mengikuti mereka tidak sampai kerumah yang ia tinggal. Aluna baru saja sampai rumah langsung diperlihatkan beberapa barang beserta koper miliknya sudah berdiri disana, ia bingung tak lama mama dan papanya baru saja turun dari lantai dua dan berhenti saat melihat putri kesayangan mereka balik dengan selamat.


Mata mama sudah berkaca kaca melihat pergelangan putrinya yang sedikit memar memerah mungkin karena diikat dengan tali tambang. "Aluna, putri mama?" tanya Anzel dengan nada tertahan. Aluna menangis dan menganggukkan kepala. "Aluna pulang, ma, pa." ujarnya dengan cegukkan.


Mama langsung turun dengan langkah cepat kemudian ia memeluk putrinya dengan erat. "Syukurlah kamu selamat sayang, hari ini adalah hari terakhir kita disini. Kita harus segera pergi dari sini menjauhi dari tanda bahaya, ya?" Aluna mengangguk kemudian tangan papa meraih pipi tembam anaknya dengan lembut ia elus. "Syukurlah kamu baik baik saja, nak."


"Iya papa, disana sangat menakutkan." ucapnya lalu menangis dengan kencang, papa dan mamapun langsung memeluknya dengan erat seakan menenangkan dirinya yang terguncang.


"Lalu dimana aksa?" tanya kakek alex


Aluna mencoba meredakkan tangisannya lalu menatap kakek alex. "Abang balik lagi ngejemput ka adam dan kakek mika yang masih disana." Kakek alex mengangguk lalu menyuruh aluna untuk ganti baju dulu ditemani dengan mamanya dikamar tamu bawah.


Aluna trauma jika ia kekamar lantai atas. Ia masih takut dengan tiba tibanya wanita itu membawanya dengan  membius dirinya. "Kita akan meninggalkan abang aksa, ka adam dan kakek mika, ma?" Mama mengelus rambut putrinya lalu menganggukkan kepala. "Iya, sayang. Karena tempat ini memang sangat berbahaya untuk kita sebagai perempuan. Apa lagi kita tidak bisa bela diri."


"Jadi mama dan papa sudah membicarakan ini saat aksa dan adam merencanakan keselamatanmu dalam gedung tua itu. Kita harus pulang segera."


Aluna menganggukkan kepala, lalu ia melihat sesuatu diarah belakang mamanya ia menyipitkan matanya lalu ia melangkah kearah tempat yang ia lihat sedari tadi. Mama bingung saat luna tiba tiba saja menghempaskan pelan tangannya yang sedang mengelus kepala luna.


"Ada apa sayang?" tanya mama yang langsung dijawab oleh aluna dengan tanda lima jari. Dibukanya lemari itu dan langsung memperlihatkan tangga yang mengarahkan kebawah, aluna yang penasaran langsung menyalakan lampu didekat tangga itu.


Betapa takjubnya ia melihat ruangan rahasia bawah tanah. "Mama panggil papa dan kakek gih."


"Hati hati sayang." ujar mama yang langsung segera memanggil suaminya dan ayah angkatnya. Aluna yang sendiri berada dikamar itu hanya bisa diam melihat apa saja yang ada didalam ruangan itu. "Ada apa sayang?"


"Kamu sedang apa luna?" tanya papanya yang baru masuk kekamar dan melihat putrinya yang sedang duduk dilemari. "Kakek tau ruangan apa ini?" tanya aluna kepada kakek alex yang hanya diam didepan pintu. "Iya, kakek tau. Ini adalah ruangan rahasia milik kakek dan pemilik rumah dulu."


Kakek alex melangkah menghampiri luna yang sudah berdiri dari duduknya. Berniat ingin masuk namun terhenti saat ia melihat luar jendela ada sekumpulan berjas hitam dengan banyaknya mobil. Ditariknya lengan anzel, luna dan ranz untuk segera masuk kedalam ruangan itu.


"Ayo semua masuk, mereka sudah datang kemari." ujar kakek alex yang langsung dituruti oleh tiga orang itu. Kakek alex yang terakhir masuk keruangan itu sebelum masuk keruangan rahasia ia menutup pintu kamar tamu lalu menguncinya dan merusakki gagang pintu itu agar mereka tidak bisa masuk kedalam kamar ini.


Dengan segera ia menutupi pintu lemari tidak lupa ia kunci dan mematikan lorong tangga yang tadi dinyalakan oleh aluna. Dan menutupi tangga itu dengan pintu kayu yang selalu terbuka sejak lama.

__ADS_1


Aluna yang sudah berada dibawah ruangan rahasia itu langsung terbengong melihat sekitaran ruangan tersebut betapa megahnya ruangan ini dari pada ruangan seluruh penjuru di luar ruangan ini. "Kakek, kapan ruangan ini dibuat? Mengapa sangat megah." tanya luna kepada kakek alex yang sudah berjalan menghampiri dirinya yang berdiri diantara papa dan mamanya.


Kakek alex tersenyum, "Sudah lama kakek tidak bermain disini, sejak kejadian itu."


"Kakek, luna boleh tau. Pemilik rumah ini sebenarnya siapa?"


"Dia, adalah pemuda yang berhati mulia namun sayangnya dia sudah tiada dan orang tuanya juga menghilang begitu saja seperti ditelan oleh bumi." ujar kakek dengan senyuman diwajahnya, namun itu bukan senyuman bahagia melainkan senyuman sendu dan kerinduan.


Didalam rumah sekumpulan orang berbaju hitam mulai berdatangan dan main masuk begitu saja. "Sepertinya mereka berniat pergi dan meninggalkan negara ini, cari dibandara jika mereka berada disana bius mereka lalu bawa kehadapan bos." ucap salah satu pria berjas yang melirik beberapa barang sudah rapih diruang keluarga.


"Baik."


Semua orang langsung mencar mencari jejak dari penghuni yang sudah diperintahkan kepada atasan mereka untuk menyandera keluarga dua pria yang sengaja menggagalkan rencana bosnya. Pria yang tadi memerintahkan bawahannya melihat pintu lusuh yang sedikit mencurigakan baginya.


Dengan langkah pelan ia mencoba mendekat pintu lusuh itu lalu mencoba membukanya namun pintu itu tidak bisa dibuka. Dan ia merasa mereka sudah tidak pernah menggunakan ruangan itu lagi karena kelihatannya orang kaya akan jijik jika menyentuh benda yang sudah usang.


"Bos, saya tidak menemukan apapun selain baju dan beberapa benda tak terpakai."


"Ya sudah kita harus pergi kebandara, melihat apa mereka benar benar sudah pergi meninggalkan negara ini." ujarnya yang langsung melangkah keluar meninggalkan rumah yang sudah mereka obrak abrik barangnya. Sebelum pergi pria itu hanya sedikit melirik kiri kanan apa ada yang menciduk mereka dan ternyata semua orang yang tinggal dikomplek itu seperti mengerti jika satu mata melihat, mereka akan mati.


Karena mereka adalah anggota yang menguasai beberapa kota dan ditakutkan oleh kebanyakan warga dinegara ini. Panggilan mereka adalah ScorpDevil.


Setelah sekumpulan itu pergi tak lama mobil yang dikenakan aksa baru saja sampai dan turunlah adam dan kakek mika dengan pakaian serba hitam.


Mereka terkejut melihat rumah yang digunakan untuk tinggalnya keluarga mereka ternyata telah dibernatakki oleh seseorang yang membuat mereka panik adalah dimana orang kesayangan mereka semua. "Bagaimana bisa?"


"Mereka tidak mungkin dibawa lagi bukan?"


"Masalah sudah selesai, untuk apa mereka menyandera keluarga kita? Kakek mengapa kau terdiam disana?" tanya adam kepada kakek mika yang hanya berdiri diam didekat pintu lusuh. "Sepertinya mereka bersembunyi." ujar kakek membuat adam dan aksa mengernyit, dimana mereka bersembunyi?


"Bersembunyi dimana?" tanya aksa, namun kakek mika hanya menyuruh keduanya untuk mendekat kearahnya lalu mendobrak pintu lusuh ini dengan tenaga penuh.


Bruk! Pintu lusuh itu jatuh kelantai dan ia bisa melihat ada baju yang aksa kenali sebagai baju aluna yang tadi adiknya pakai. "Ini, baju aluna bukan?" tanyanya yang langsung diangguki adam. Kakek mika berjalan kearah lemari dibukanya dan melihat pintu rahasia yang sangat asing ia lihat namun ia tau karena adiknya sering kali menceritakan ruangan rahasia kepadanya.

__ADS_1


"Mereka disini." ucapnya baru saja ia ingin membuka pintu itu namun sudah lebih dulu dibuka dari dalam, muncullah ranz yaitu papa dengan wajah yang panik namun lama kelamaan tersenyum lega. "Syukulah kalian bertiga selamat dan kalian mengagetkan kami berempat."


Mika tersenyum lalu memeluk ranz dengan erat. "Tenang saja, mereka sudah pergi dan masalah sudah selesai, diselesaikan oleh jack dan cucu alex yang lain."


Ranz mengangguk. "Baguslah kalau begitu, apa kita semua bisa pulang ketempat asal kami? Kakek juga ikut saja dengan kami."


Ajak ranz  kepada mika yang hanya disenyumi dan digelengi. "Disini tempat ayah tinggal, kakek tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan negara ini, karena disinilah ayah bertemu dengan istri kesayangan ayah."


"Kalian saja yang cepat pulang sebelum sekumpulan dari mereka datang lagi dan ingin menghancurkan kalian." ujar mika dengan menyuruh cepat orang tersayangnya untuk pulang keasalnya dan ia memeluk cucu kandungnya dengan rasa tulus kerinduan.


"Lindungilah kakek alexmu dan gadis kecilmu." Adam mengangguk. Aluna, mama dan kakek alex sudah keluar dari ruang rahasia ia langsung memeluk mereka dengan bergantian dan menyuruh mereka meninggalkan negara ini segera.


Mereka pun menurut lalu berpamitan dengan mika yang sudah ditinggal sendiri dinegara kejam menurut aluna. Karena dinegara inilah bunda adel dibunuh dan disiksa didekat sini.


Mereka tidak tau apa maksud dari ucapan mika sebelum mereka pergi meninggalkan negara tersebut, mika mengucapkan kata kata yang harus dipikirkan dua kali lipat.


"Semua akan baik baik saja, karena diriku."


"Ma, maksud dari ucapan kakek mika tadi apa? Semua baik baik saja, karena aku?" tanya luna yang hanya dibalas elusan dikepalanya. "Tidak perlu dipikirkan, luna tidur saja."


"Dam, maksud kakek mika apa?"


"Tidak tau, dan tidak mengerti. Apa kakek alex tau sesuatu?" tanya adam menatap alex yang masih terdiam menatap jendela luar dengan mata memerah lalu menoleh ke adam dan menggelengkan kepala. "Tidak tau, kakek tidak mengerti. TIdurlah."


Adam dan aksa mengangguk lalu keduanya tertidur seperti papa, mama, dan aluna yang sudah terlelap. Sedangkan alex hanya bisa menahan tangisannya dan membatin. 'Sepertinya kau ingin mengorbankan nyawamu untuk kami semua mika.'


"Ku berdoa yang terbaik untukmu. Kakak."


---Bersambung---


Jangan lupa like dan mampir keceritaku yang lain.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2