Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ardi in action 2


__ADS_3

" Ekkmmm, ekkmmm"


Ardi merasa tenggorokannya kering, haus menderanya saat ini.


Tangan kirinya mengusap tenggorokannya, sedang tangan kanannya perlahan menggosok kedua matanya yang perlahan terbuka.


Pandangan pertama saat mata itu terbuka adalah visual gadis cantik yang tidur dengan nyenyak di sampingnya.


" Oh iya, gue udah punya istri..." Gumamnya dengan senyuman.


Ardi menatap wajah teduh itu, mata yang indah saat tertutup, pipi yang berisi menggemaskan, hidung yang imut tinggi dan kokoh, dan bibirnya yang...


Tiba-tiba rasa panas menjalari tubuhnya hanya ketika menatap bibir Zura, Ardi jelas-jelas masih ingat betul bagaimana manis dan nikmatnya bibir itu.


Cup..


Dikecupnya pelan penuh penghayatan, sebelum akhirnya pemuda itu memutuskan untuk turun ke dapur untuk mengambil air minum.


Kini sebotol air telah berada di tangan Ardi dan berjalan pelan menaiki tangga.


" Belum tidur nak?" Suara papa Syakieb mengagetkan Ardi. Pria baya yang masih sangat gagah itu berdiri di ujung tangga dengan hanya memakai celana pendek saja, tanpa baju atasan alias bertelanjang dada.


" Oh, pah... Sudah. Ardi terbangun karena haus.., papa belum tidur?" Ardi menatap papanya yang saat ini sepertinya sedang memikirkan sesuatu, terlihat dari guratan kekhawatiran di keningnya.


" Ada masalah pah?" Tanya Ardi khawatir.


" Sedikit.., ya sudah.. Kembalilah ke kamar.." Papa Syakieb kembali melangkahkan kakinya menuruni tangga, tapi saat sampai pada samping Ardi..


" Pah, Ardi perlu tahu apa masalah papa..."ucap Ardi.


Papa Syakieb menghentikan langkahnya seketika itu.


"Papa hanya stress memikirkan pendapat orang tentang kamu dan Zura karena keberadaan Bianca.."


" Jadi papa juga mendengarnya?" Sahut Ardi, dan kini kepalanya menoleh menatap manik mata pria yang sangat dicintainya itu.


Papa Syakieb mengangguk sendu.


" Kembalilah ke kamar, besok kita bicarakan ini lagi.." Papa Syakieb menepuk-nepuk pundak Ardi yang sedikit mendorongnya ke atas.


Ardi memasuki kamar dengan fikiran kosong, ucapan-ucapan buruk tentang dirinya terus berputar-putar dalam memorinya saat ini.


Sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa istrinya tidak lagi ada di peraduannya.


Ardi duduk di tepi kasur dengan terus mengusap wajahnya.


Nggak nyangka putra Syakieb ada yang bobrok akhlaknya..


Nah, anaknya aja sudah berumur 8 tahun, berarti mereka zinanya di usia sekolah dong..


" Astaghfirullahalazim..." Desis Ardi.


" Kenapa mas?, ada apa?"


Tangan halus itu mengelus bahu Ardi, membuatnya menoleh dan mendapati istrinya tersenyum manis kepadanya.


Lagi, rasa sesak yang dirasakan Ardi sedari tadi entah lenyap kemana, setelah menatap wajah cantik istrinya.



" Tidak ada apa-apa Zu, kok bangun?" Tanya Ardi dengan mata yang terus menatap bibir Zura.


" Zu, habis tahajud.." Jawab Zura lembut. Ardi mengangguk dan tersenyum, tiba-tiba tanganya menarik jemari lentik Zura agar duduk di pangkuanya.


Brugh...


Saat beban tubuh itu menindih pangkuanya, rasa terbakar menjalari tubuh Ardi seketika.


Dadanya tiba-tiba merayakan pesta kembang api yang meletupkan suara berisik tak terkira.


Wangi tubuh Zura tanpa parfum sungguh melenakan Ardi saat ini.


" Zu.., aku..... Emm maksudku, aku tidak ahli..eh maksudku.... Ini adalah kali pertamanya aku begitu dekat dengan perempuan selain mama dan bebeb. Aku mohon maaf jika kelak aku tidak bisa memuaskanmu karena kebodohanku..." Bisik Ardi di telinga Zura.

__ADS_1


" Emmm ha..ha..ha.." Zura malah tertawa kecil mendengar ucapan Ardi, ntah memang kata-kata Ardi yang lucu atau karena kegelian karena dibisikin tepat di depan telinga.


"Kenapa tertawa hemmmm" Ardi dengan cepat membanting tubuh Azura kekasur dengan pelan, lalu dengan gerakan seduktif segera mengungkungnya.


" Apa yang membuatmu tertawa seperti itu sayang?, apa kau tahu? Suara tawamu membuatku gila..."ucap Ardi dengan suara yang bergetar penuh nafsu.


Di tatapnya mata indah Zura yang kini juga tengah menatap nya sendu, Ardi mendekatkan wajahnya dan mulai mengecupi mata, pipi, hidung dan terakhir pada bibir ranum yang manis dan nikmat.


Ciuman yang mulanya lembut itu kini berubah menjadi semakin panas dan menuntut.


Walaupun baru semalam Ardi mengetahui bagaimana yang namanya berciuman, tapi sepertinya saat ini Ardi sudah mampu menciptakan ciuman yang mampu meningkatkan gairah mereka berdua.


Bahkan tangan Ardi kini sudah mulai meraba-raba diperut Azura, dan lama-lama mulai masuk menyusup ke atas.


Remasan lembut di kedua bukit kenyal itu membuat Azura semakin meliuk-liukan tubuhnya, membuat Ardi semakin gelap mata.


" Sayang...." Desis Ardi saat Zura menggigit bahunya demi mengurangi rasa gelisah dan panas yang mulai menderanya saat ini.


Ardi tak menghiraukan gigitan Azura, karena justru membuatnya semakin gila.


Kali ini tanganya susah terus aktif bergerilya kemana-mana. Pelan tapi pasti Ardi kini telah berhasil menyingkap pakaian yang dikenakan Azura.


Tubuh polos Azura kini terpampamg nyata di depannya.


" MasyaAllah...." Bisik Ardi.


Azura yang merasa malu, segera meraih selimut untuk menutupi bagian memalukanya.


" Jangan ditutupin sayang, mas ingin melihatnya.." Ucap Ardi pelan dengan kembali membuka selimut itu.


Lagi-lagi Azura terdiam pasrah, namun tidak dengan reaksi tubuhnya yang semakin menegang tak karuan.


Meski begitu Ardi tidak mungkin bisa berhenti, Ardi terus saja melancarkan aksinya karena hasratnya kini sudah tak tertahankan.


Ardi terus mencumbui Azura dengan penuh cinta, tidak tergesa-gesa. Dia ingin


menikmati setiap momen penyatuan keduanya dengan penuh perasaan dan penghayatan.


Dan itu berhasil membuat Azura mulai rileks dan nalurinya juga menuntunnya untuk membalas menyesap bibir Ardi, menyesap leher Ardi bahkan mulai menyentuh tubuh Ardi dengan merajalela kemana-mana.


" Z..z..zu..., mas mau...akhhh, boleh?? "


Ardi menatap Azura dengan mata sendu yang telah berselimut nafsu.


" Iya mas, lakukanlah..." Bisik Azura pelan.


Akhirnya penyatuan itu terjadi, Azura memekik kecil sambil merintih kesakitan disertai dengan airmata yang merembes dari kedua sudut matanya.


Kini bagian dari dirinya telah terkoyak, oleh lelaki yang telah lama bersarang pada hatinya. Ardiansyah Syakieb Al Ghifari, nama yang terbingkai indah di sudut hatinya.


Ardi yang melihat air bening merembes pada sudut mata Azura dan lagi remasan pada sprei yang sedemikian rupa membuatnya sedikit terguncang, dengan segera dia menuntaskan hasratnya yang sudah berkumpul diubun-ubunya.


D*sa*an panjang dari bibir Ardi menunjukkan betapa rasa lega yang luar biasa hebatnya, sekarang telah memenuhi jiwa raganya.


" Terimakasih Zu...., terimakasih.... Dan maafkan aku jika harus menyakitimu sayang..."


Ardi mengecupi mata, hidung, pipi dan mengecup kilas bibir Azura tanpa melepaskan yang masih menyatu dibawah.


" Love you Zu..."


" Love you too mas..." Bisik Zura disertai senyumnya.


...***...


Yang namanya menikah, dan pengantin baru, tentu aktifitasnya tak jauh-jauh dari 'itu'.


Begitu juga yang dirasakan Ardi saat ini. Ardi yang malu dan kebingungan saat baru pertama berduaan dengan wanita itu kini benar-benar berubah total.


Bahkan sehabis melakukan untuk pertama kalinya tadi. Ardi terus saja menggasak istrinya itu.


Mereka hanya akan berhenti saat sholat subuh. Selanjutnya Ardi mulai merusuh lagi, bahkan tidak kenal tempat.


Sebagai istri sholehah yang tahu betul bagaimana harus bersikap pada suami. Azura tentu hanya bisa menurutinya.

__ADS_1


Saat ini waktu sudah menunjukkan hampir setengah 7 pagi dan lihatlah keadaan Azura yang mengenaskan.



Azura terkulai lemah di sofa setelah harus meladeni keberingasan Ardi pagi ini.


" Sayang...., mas udah suapin air mandinya.." Bisik Ardi dengan mengelus pundak Azura yang terbuka.


" Hemmm" Sahut Zura pelan.


" Maaf....." Bisik Ardi pelan, saat mata indah itu terbuka dan menatapnya lembut.


Azura hanya tersenyum dan mengangguk.


" Ngga papa mas, sudah kodratnya Zu untuk meredam syahwatmu..."


Nyesss


Dada Ardi bagaikan tersiram air yang sejuk, sesejuk wajah yang kini begitu manis dengan senyumnya yang menawan didepan matanya.


Dan mulai semalam dan untuk selamanya senyum itu hanya dia yang bisa menikmatinya.


" Sini mas gendong..."


Ardi mengankat tubuh ringan itu menuju bathup.


" Kamu ringan sekali Zu, sepertinya porsi makanmu kurang banyak.."


" Apaan nggak lah..." sahut Zura.


" Kamu setahun lebih muda dari bebeb dan aku, tapi secara fikiran dan pengetahuan kamu jauh lebih dewasa dari kami Zu..., aku begitu bersyukur telah milikimu..." Bisik Ardi saat menurunkan Azura ke dalam air hangat yang telah dituangi aromaterapi yang memenangkan oleh Ardi beberapa saat lalu.


" Berendamlah dulu, mas akan ambilkan sarapanmu..." Ardi mengecup kening Azura dengan penuh rasa sayangnya.


Dan berlalu keluar setelah mengusap rambut itu pelan.


Azura menatap punggung Ardi yang melangkah keluar dengan tatapan penuh cinta.


" Alhamdulilah, dia pria baik yang telah dikirimkan Tuhan untukku dan Bianca, dialah tempat kami bergantung setelah ketergantungan hakiki kami kepada Tuhan.."


Azura memejamkan matanya lama, merasakan rileks saat air hangat itu meresap pada tubuhnya yang serasa lepas seluruh onderdil nya akibat ulah Ardi.


Sudut bibirnya terangkat, pipinya tiba-tiba memanas saat mengingat apa yang telah terlewati olehnya dan Ardi sejak semalam.


Pria muda yang awalnya bertingkah malu-malu itu ternyata mampu berubah menjadi singa yang kelaparan saat berada di atas ranjang.


...***...


" Bang, kakak ipar baru mana?" Tanya Ara yang langsung menggelendot manja.


" Mandi dia..." Ucap Ardi malu-malu, mengulum senyum dengan melipat bibirnya dalam-dalam.


" Emmmmm ada yang malu-malu nih?, wah abang gue udah nggak perjaka.. wkwk"


" Ck...kau itu beb!" Ardi mentoyor wajah Ara gemas tanpa meninggalkan senyumnya sedikitpun.


" Berapa ronde bang?" Tanya Ara lagi.


" Haisshhhh..., sanaan beb...." Ardi yang di dera rasa malu mendorong tubuh Ara, dan mengambilkan makanan untuk Azura.


" Wah sampai belum sarapan juga kakak iparku!!, gila lo bang!!" Ara kembali berbisik di telinga Ardi, membuat Ardi benar-benar malu.


" Ssstttt, diamlah beb!!, gue suruh Rangga bantai lo baru tahu rasa lo.."


" Kak Rangga nggak usah disuruh aja udah rusuh bang..." Ucap Ara cepat.


"Disuruh apaan?"


***************************************


Keluar ruang wawancara cek email dari mommy.


Cek bab rupanya bab yang harus gue yang isi!!!!!

__ADS_1


Duh nano-nano rasanya apalagi, Ardinya polos amat...ya sudah gitu aja...semoga suka😝😝😝.


Yuk my....lanjut......


__ADS_2