
Hari ini sekolah akan mengadakan Freedom Fair dimana hari ini siswa bebas datang tanpa menggunakan seragam.
Ara yang telah berada dalam mobil terkejut tidak percaya saat melihat Janu membuka pintu kemudi mobil.
Begitu juga dengan Janu yang tenganga melihat tampilan Ara.
Mereka sama-sama syok melihat penampakan mereka masing-masing.
Bagaimana tidak?? mereka saat ini memakai baju yang sama. Sama persis malah, tepatnya baju yang dibeli oleh mereka, Janu dan Rangga, saat mereka berada di Singapura beberapa bulan lalu.
" Kamu nggak punya baju lain hah!! haruskah selalu pakai baju suami kamu kemana-mana!!" Bentak Janu geram.
Selama di sini sudah tiga kali ini Janu melihat Ara selalu mengenakan baju Rangga.
Tentu saja alasan utamanya karena Ara kangen berat pada Rangga, dengan memakai bajunya seolah dalam pelukan Rangga.
" Serah aku!!, suami aku aja bolehin!!" Sahut Ara ketus.
" Kamu yang harusnya ganti, aku yang udah duluan pakai!!" Lanjut Ara santai.
" Dasar saiko...." Ucap Janu dan berbalik lagi kembali ke dalam rumah untuk berganti baju. Sorry ya!!, jatuh harga diri!!, dikira anak panti kali kembaran baju sama Ara.
" Pindah ke depan Ara!!, kamu kira aku sopir taksi!!" Bentak Janu lagi, saat kini sudah kembali ke mobil. Bajunya telah terganti sekarang, kemeja kotak-kotak yang menawan.
" Isshhh, tinggal jalan aja resek amat sih.." Gerutu Ara, walaupun begitu dia tetap berpindah kedepan tanpa turun dari mobil, melangkah begitu saja, sudah style Ara begitu mau gimana lagi.
Janu tak habis fikir melihat penampakan mengherankan di hadapannya saat ini.
" Cewek kok nggak ada manis-manisnya" Gumam Janu.
" Serah akulah!!, manisku tak perlu aku tunjukkan padamu" Sahut Ara lagi.
Entah kenapa, mereka sangat mirip anjing dan kucing. Opps sorry!! Jangan anjing deh, mereka tepatnya mirip kucing dan tikus.
**
Sampai di sekolah Lenox sudah menunggu Ara di parkiran dengan tak sabar. Begitu mobil hitam legam milik Rangga memasuki parkiran pemuda itu sudah bersiap di depan pintu Ara.
" Lama amat si----" Ucapannya menggantung saat melihat penampilan Ara yang kini membuka pintu, keluar dari mobilnya.
Matanya membola tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
" Spiderman???, nggak salah nih??" Tanya Lenox heran.
" Kenapa salah?, dan apa yang salah??, ini baru spiderman..lo akan mati kejang-kejang saat tahu kalau Ara itu pengikut aliran Black Metal" Suara Vino mengagetkan Lenox dan Janu. Dan tentu saja Denis dan Rayya yang ada disampingnya.
Mereka langsung menatap pada gadis yang berlalu pergi dari sana dengan sedikit berlari mengejar Natasha.
Janu dan Lenox saling tatap sesaat, dan dengan cepat saling membuang pandangan masing-masing lalu pergi meninggalkan parkiran dengan arah yang berlawanan.
Kegiatan hari ini diisi dengan pengembangan bakat mereka. Beberapa terlihat begitu berbeda saat menggunakan pakaian kasual. Terlihat dewasa dan banyak yang tidak terkenali.
Chandra membantu Yuda dalam mengurusi segala hal, karena sepertinya Melloda tak terlihat di mana-mana.
Di dapur sekolah tepatnya markas club memasak, pagi ini dikejutkan oleh kedatangan Juna sang cogan baru.
Heboh dan penuh jeritan histeris terjadi di sana. Club yang sejatinya didominasi cewek itu kini memiliki member cowok yang lumayan bening dan wahh, menambah semangat untuk memasak.
Sementara Ara, Natasha dan Hana kini berada di club musik. Suasana sunyi dan tenang tiba-tiba berubah setelah terdengar suara....petikan lembut gitar Ara.
Dem..dem..dem..dem..dem..dem..dem.
jreng..jreng...jreng..jreng...
Bunyi cabikan gitar akustik Ara menggema memenuhi ruangan.
Alunan suara gitar Ara menyajikan nada lagu The Unforgiven milik Mettalicca sontak membuat setiap telinga yang mendengarnya langsung berlari berjubel memenuhi ruangan club musik.
" Ara..Ara..Ara..." Teriak para siswa histeris.
Apalagi disusul dentuman tabuhan drum Hana semakin membuat jebol telinga mereka semua.
Vino hanya tersenyum melihat mata guru-guru melotot mendengar apa yang mereka dengar kali ini.
Demikian juga Denis dan Rayya. Sementara Chandra asyik merekam aksi Ara dan membagi link-nya pada Gama Bagaskara sang tutor abadi Ara.
Mereka band cewek yang biasanya membawakan lagu manis melankolis itu kini benar-benar mengejutkan dengan membawakan lagu Metallica, dan lihatlah mereka saat ini.
__ADS_1
Ara dengan kostum Spider-Man nya, Hana dengan hoody Alan Walker dengan tutup tudungnya dan Natasha dengan jins belel dan tatanan rambut metalnya.
Attention Please!!!
Suara Yuda dari pengeras suara, menghentikan aksi dadakan band somplak.
Suasana di club musik saat ini benar-benar tak terkendali lagi.
Semua saling dorong demi melihat konser dadakan Natasha cs.
" Natasha, Ara, Hana.., kalian semua pindah ke aula. Dan semua cabang club atletik yang menggunakan aula, silahkan pindah ke lapangan belakang.."
Yuda akhirnya mengambil keputusan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, karena saat ini kondisi club musik benar-benar semrawut tak kondusif lagi.
Memang benar apa yang diramalkan Rayyan Athaya, mereka bakalan menjadi most wanted di SMU Bhakti, dan sekarang inilah buktinya.
Suasana aula heboh mirip stadion gelora bung Karno saat menggelar pertandingan sepak bola.
Apalagi saat chorus lagu di dendangkan, semua siswa ikut bernyanyi.
🎶🎶🎶
What I've felt, what I've known
Never shined through in what I've shown
Never be, never see
Won't see what might have been
What I've felt, what I've known
Never shined through in what I've shown
Never free, never me
So I dub the " Unforgiven "
🎶🎶🎶
Lenox bersedekap didada, tubuhnya bersandar pada dinding aula. Menatap Ara tanpa berkedip sama sekali.
Bagaimana dia bisa melepaskan nya sementara setiap detik setiap waktu dia akan semakin jatuh cinta dengan semua yang ada pada diri Ara.
Semakin hari akan semakin bertambah ketertarikannya pada Lailia Naffesa Anara.
Kau beruntung kak Rangga..
Kau beruntung menemukannya lebih dulu dariku...
Demikian juga yang dirasakan Denis saat ini.
Kemarin tak ada kemajuan apa-apa, walaupun mereka berusaha bicara. Tetap saja tidak ada ujungnya. Natasha tetap tidak mau mengungkapkan alasanya tiba-tiba bersikap acuh seperti sekarang ini padanya.
Selama sejarah kedekatannya dengan cewek, baru kali ini Denis merasa babak belur oleh rasa yang meremat-remat hatinya.
Gila!!, seorang Natasha telah berhasil mengobrak-abrik hati playboy tengil macam dirinya.
***
Ara sedikit kecewa karena tidak bisa ikut menjemput Vera sore ini.
Diapun minta Janu untuk mengantarkannya ke rumah Syakieb.
" Assalamu'alaikum " Ucapnya sambil membuka pintu.
" Waalaikumsalam nty...." Suara Bianca memekikan telinga.
Di belakangnya nampak Azura muncul dengan sebotol susu yang tinggal setengah.
Mereka berangkulan dan berpelukan hangat, hampir dua minggu penuh Ara selalu berada di rumah Wijaya dan tidak bertemu mereka sama sekali.
Janu meneliti rumah yang terlihat simpel tapi dengan tatanan yang menyejukkan.
Disetiap sudut terdapat bunga Lili segar yang semakin mempercantik dekorasinya.
" Silakanlah masuk kak.." Ara mempersilahkan masuk tamunya.
__ADS_1
" Om ini capa nty?" Tanya Bianca menatap Janu, sementara Juna tersenyum dan mencubit pipi gembul itu sayang.
" Ini namanya om Janu sayang..., kakaknya om Rangga.." Jawab Ara dengan mengelus pipi gembul Bianca yang habis dicubit Janu.
Sementara itu Azura masuk ke dalam untuk mempersiapkan minum dan biskuit untuk tamu mereka.
Tak lama mobil Hana dan Adnan memasuki halaman rumah Syakieb.
" Bian...aunty Hana datang nih..." Teriak Hana dari pintu samping garasi.
" Kak Adnan nggak ikut Han?" Tanya Azura yang muncul dari dapur dengan nampan berisi segelas jus jeruk dan biskuit di tanganya.
" Abang langsung balik ke kantor" Jawab Hana.
" Apa ada tamu?" Tanya Hana dengan memajukan dagunya menunjuk pada nampan.
" Iya, kakak sepupunya kak Rangga.."
" Oh si Janu..janu..itu.." Gumamnya dan langsung melesat ke kamarnya di atas.
Dan karena ternyata Janu puasa maka jus dan biskuit nya untuk Bianca.
Ternyata berkat Bianca, Janu sangat betah di rumah Syakieb. Hingga waktu menjelang Ashar pun dia masih betah menemani Bianca bermain. Maklum lah Janu anak tunggal seperti Rangga.
" Kak, kamu belum pengen pulang?" Tanya Ara?
"Belum, mau ngapain juga dirumah?" Bukanya menjawab Janu justru melempar pertanyaan pada Ara.
" Mau masak buat buka sore ini.." Sahut Ara.
" Nggak usah masaklah, kita delivery aja.." Jawab Janu santai.
" Loh kok kamu yang ngatur!!, aku mau masak kok!!" Sahut Ara cepat.
" Nggak usah masak, om tante nggak pulang, mereka langsung ada meeting di Surabaya.." Janu berbicara tanpa menoleh, fokusnya hanya pada Bianca.
" Oh..Alhamdulillah!!, kalau gitu Ara nginep sini aja.., kalau kamu mau pulang silahkan aja.." Ucap Ara dan langsung pergi ke dasar tangga.
" Han!!! Hana!!!, masak yuk" Teriak Ara memanggil Hana.
Hana yang mendengar suara Ara segera bangkit dari rebahanya di kamar.
Sudah lama nggak masak bareng sahabatnya itu.
Diapun segera berlari turun ke lantai bawah.
Saat melintasi ruang keluarga matanya bersibobrok dengan mata Janu.
Janu terkejut kenapa bisa ada Hana disini.
Hana tersenyum dan menganggukan kepalanya sopan. Lalu mereka berdua, Ara dan Hana berangkulan menuju dapur.
Janu menatap gadis imut berlesung pipi itu dengan tatapan terpesona.
" Bian, kok aunty Hana ada di sini?" Tanya Janu pelan, hampir berbisik malah.
" Iya om, nty Ala dan nty Hana itu tan bestie.." Jawab Bian.
" Kok dari atas aunty Hananya?" Tanya Janu lagi.
" Tamalna emang dicana.." Jawab Bianca lagi.
Jawaban Bianca semakin membuat Janu bingung.
" Bianca, ayo mandi... Mmy sudah siapin bebek banyak di bathup tuh.." Panggil Azura.
Dan Bianca pun merengek tidak mau.
" Nanti mmy..., bian main cama om dulu.."
" Sudah sore sayang..." Azura mulai mendekati mereka.
" Nanti ja mmy..." Tawar Bianca lagi.
" Biar ajalah, biar aja om Ardi nggak mau pulang kalau Bian nggak nurut sama mmy..." Azura pura-pura menempelkan ponselnya di telinga.
Tapi justru ponsel itu memekik ditelinganya. Dan Azura semakin terkejut saat melihat siapa yang menelponnya.
Ini tak pernah terjadi, Ardiansyah tak pernah menelpon ke nomor ponselnya semenjak dia ke Thailand.
__ADS_1
Palingan dia akan menelpon di ponsel Brian, papa, mama, Adnan atau ponsel Ara.
" A...As..Assalamualaikum mas..." Sapanya kikuk. Niat hati pura-pura ngerjain Bianca eh malah beneran telponan dengan Ardi.