Childhood Love Story

Childhood Love Story
Video Call Ardi..


__ADS_3

Ardi menatap lekat wajah ayu dan imut yang ada di layar ponselnya.


Wajah pemilik hatinya, wajah yg selalu dirindukanya, wajah yang selalu dimimpikanya, dan wajah itu adalah wajah kakak iparnya, Hana.


" Hei, Ardodol!!, di tanya kok malah bengong!!"


Seru Hana membuat Ardi gelagapan.


" Ah..i..iya..Waalaikumsalam, Han...apa, eh ah..., kabar ku baik Alhamdulillah "


Ardi tetiba jadi gagu di depan wajah yang terlihat semakin ayu itu, apalagi sekarang Hana sudah berhijab, beratus kali terlihat lebih cantik.


" Nah gue pasang kamera belakang ya, sekalian gue loudspeaker nya, nah tu abang.., say hello abang sayang.." Ucap Hana dengan mengarahkan kamera pada Adnan.


Degghh...


Jantung Ardi bagai diremat, sakitnya luar biasa hebat. Lagi-lagi Ardi lupa, Hana adalah milik kakaknya.


Bang sayang???, sial menyedihkan banget aku ini...


Ardiansyah terdiam sesaat saat layar ponsel menampilkan gambar Adnan yg sedang melambai-lambai kan sendok padanya.


" Dek...apa kabar?, makan yuk.." Sapa Adnan dengan senyum khasnya yang teduh dan berkharisma. Apalagi wajah imut Hana menempel di pipi Adnan.


Ardi tak dapat berkata-kata, melihat raut muka bahagia mereka saja sudah dapat menjelaskan semua.


Mereka berdua saling mencintai dan aku ini apa?, hanya debu di mata Hana!!


Aku ini hanya kumbang penganggu ya aku kumbang menyedihkan yang mengharapkan madu milik orang lain, yg lebih gilanya madu dari bunga milik kakakku sendiri


Duhai Tuhan, ampunilah aku, yg dengan kurang ajarnya menikmati kecantikan wajah dari milik kakakku sendiri!!!


Akkhhh!!!


Go to hell Ardi!!!


Ardi memaki dirinya sendiri, sekuat apapun dia mencoba menghapus Hana dari hatinya, semakin melekat pula dia disana.


" Hei!!!, lo kenapa Di??, kayak nggak sehat gitu??" Tanya Hana, wajah Hana yang tersenyum kembali memenuhi layar ponsel.


Tahukah engkau wahai Hana hati Ardi semakin sakit setiap kali melihatmu tersenyum begitu.


" Nggak kok gue sehat, cuma agak capek dikit" Jawab Ardi berusaha membuat wajahnya senormal mungkin.


" Gimana gadis Thailand Di? cantik-cantik kan?, udah dapet gebetan belum lu?, Hayyuu ah keluarkan pesonamu Ardi!!!, semangat!!!" Ucap Hana berapi - api.


Bahkan semua yg dimeja makan ikut tersenyum melihat semangatnya.


Ardi terkesiap, begitu juga Azura yang ada disampingnya, gadis itu juga sangat ingin menunggu jawaban Ardi.


Setidaknya dia bisa mengambil langkah untuk menata hatinya, dia sangat capek mencinta sendirian, apalagi telah ada orang baik yang menawarkan cinta padanya. Entah kenapa tiba-tiba Azura meletakkan sendoknya dan terus-terusan minum air putih, terlihat khawatir dan sedikit gugup.


Brian yang ada di depannya memperhatikan perubahan sikapnya itu.


" Ya jelaslah..., cantik-cantik, montok, bahenol, semlohai, gemoy, seksi abess!!" Jawab Ardi dengan senyumanya yang mengembang.


" Ada sih beberapa yang naksir berat ke gue, dan sedang deket juga, ntar gue kenalin deh, beb gue tunggu restu lo...."Lanjutnya, dan sedikit mengeraskan suaranya untuk kata-kata yang ditujukan pada Ara.

__ADS_1


Degghh..!!!


" Saya ke kamar dulu, mau lihat Bian..." Pamit Azura tiba-tiba, matanya terasa panas setelah telinganya mendengar ucapan Ardi. Entah kenapa hatinya serasa ditusuk ribuan jarum.


" Eh Zu..ini ponselnya, barangkali mau ngobrol sama Ardi, atau barangkali Ardi mau lihat Bianca..." Hana menyodorkan ponsel di tangannya pada Azura.


"Eh...kok!!!, nah gue udah nunggu dari tadi nih!!!" Sewot Ara.


" Sayang, tadi kan udah nelpon berjam-jam, masa kurang sih" Rangga tak percaya dengan Ara yang masih mau telponan sama Ardi. Heran aja Rangga tadi aja udah hampir dua jam lebih ngobrol, ngobrolin apa coba?


" Lo ngalah dulu sama bocil Li.., entaran lah, kayak nggak ada waktu lain aja, lagian tadi aja katanya udah berjam-jam" Hana menimpali.


" Ye.. suka-suka gue, mulut-mulut gue , abang-abang gue, dan dia juga mau-mau aja gue ajak ngerumpi, ngapain lo sewot?" Sahut Ara.


" Gue nggak sewot ya, gue cuma ngasih tau lo" Hana menimpali kembali.


" Ya kalo ngga sewot apa namanya co--- emmpp" Kata-kata Ara terpotong karena Adnan segera membungkam mulut Ara dengan telapak tangannya.


" Kamu lagi PMS ya?, biasanya kalo lagi cerewet gini iya nih?" Tanya Adnan sambil tertawa jarinya menggelitiki perut Ara yg sedikit berkurang nyerinya setelah minum wedang jahe buatan Azura tadi.


Sedangkan Ara segera naik kepunggung Adnan untuk digendong dibelakang dengan terus tertawa.


Hana dan yang lainya ikut tertawa melihat kelakuan kakak beradik itu.


Dari kamera ponsel yang berada di tangan Azura Ardi bisa melihat itu semua. Ardi sangat rindu suasana seperti itu, ya kini Ardi tahu rasanya seperti Ara dulu.


Azura yang sejak tadi memegang ponsel itupun terlihat salah tingkah, antara mau dan tidak untuk menerima ponsel itu.


" Azura, aku mau ngomong sama kamu...," Suara Ardi mengagetkan Azura.


"E..e..i..iya.." Dengan ragu-ragu gadis itu menghadap kan kamera ponsel ke wajahnya dan terlihatlah wajah Ardiansyah disana memenuhi layar itu. Ini terlalu dekat!!.



"Kenapa Zu, kamu sakit?" Tanya Ardiansyah saat dilihatnya tatapan lemah dari mata Azura padanya.


" Nggak, hanya capek gendong Bianca.." Ucapnya lirih.


" Berat badanya udah naik hampir satu kilo, dan maunya cuma gendongan sama aku saja..." Lanjutnya.


" Ha..ha..ha..pasti sangat gembul banget ya dia, aduh imutnya, pengen pulang akutuh..." Ardi menatap mata indah Azura.


Mata yang jarang dan bahkan tidak pernah ditatap nya sedekat ini.


Mata yang indah, besar dan bulat. Bulu mata yang tebal dan lentik.


Biji mata hitam gelap, terasa dalam dan damai.


Entah kenapa Ardi merasa tersedot kedalamnya. Rasa tenang dan nyaman berada disana. Ardi tak mau pergi, rasanya ingin tetap di sana, di dalam bola mata Azura yg menenangkan.


Indah..., mata Azura sungguh indah, kenapa aku tak pernah menyadarinya selama ini.


Matanya saja cantik, apalagi...


Akkhhh!!!, Apasih Ardi udah gila kamu!!!


No!! No!!!, tak ada Azura!!, hanya Hana.

__ADS_1


Hana Hana Hana Hana titik!!!


" Mmy....mmyy..." Teriakan Bianca membuat tatapan mereka terputus seketika.


" Ah sepertinya sudah bangun..." Azura segera naik ke kasur, mendapati Bianca yang sudah duduk bersila.


" Bian, ini susunya sayang..., dan ini om Ardi telpon nih.." Azura menyerahkan botol susu pada Bianca.


" Ayo sayang ucap doa dulu yok...Biss.." Pancing Azura.


" Bismillahirrahmanirrahim.." Bukanya Bianca, Ardi yang justru melanjutkannya.


" Biar Bianca minum susu dulu sampai habis ya om..., nanti baru ngobrolnya.." Ucap Azura pada Ardi.


Didepan Bianca Azura selalu memanggil Ardi om, agar otak Bianca yg masih bersih tak rancu dalam menerima asupan informasi, begitupun Ardi dan yang lainya.


" Baiklah, oke mmy...om tunggu sampai Bianca selesai minum susu..." Ardi mengedipkan satu matanya pada Bianca.


Bianca dengan cepat segera menghabiskan susu di botolnya.


" Cudah ni.., mana mmy..ciniin hepona.."


" Eits...,baca dulu Alha..." Pancing Azura lagi.


" Alhamdulilah " Lanjut Bianca dengan segera merebut ponsel di tangan Azura.


"Om Aldi tapan puyang..." Pertanyaan yang nggak pernah berubah, selalu seperti ini setiap telponan dan itu pasti akan sangat lama, entah apa yang diobrolkan mereka berdua.


Tok..tok..tok.


" Bian boleh nty masuk..." Ara melongok ke dalam kamar.


" Tunggu sebentar Li, biar Bian aja yang aku bawa keluar.., dia juga belum makan..." Suara Azura terlihat canggung, pandangan mata Ara tak sengaja tertuju pada kaca rak sepatu. Disana terpantul wajah cantik Azura yg telah terbuka cadarnya.


" Masya Allah cantik banget kamu Zu..." Gumam Ara.


Dan Ara pun segera menutup pintu untuk kembali ke ruang TV.


Brian, Adnan dan Rangga tampak sedang ngobrol perihal Vino dan Vera.


Ara berinisiatif untuk mengambil kan nasi untuk Bianca, dan melangkahkan kaki nya ke meja makan.


Hana terlihat turun dari tangga dengan membawa sepucuk surat di tanganya.


Mereka kini telah berada diruang TV, dengan ponsel yang masih ditangan Bianca.


Ara menyodorkan piring berisi makanan pada Azura tapi dengan cepat di rebut oleh Brian.


" Biar brothy aja yang suapin Bian.." Ucap Brian yang masih sangat terdengar jelas oleh Ardi.


Ardi sangat ingin marah mendengarnya, hatinya panas dan geram. Entah rasa apa ini, yang jelas Ardi sangat takut, takut kalau-kalau kasih sayang Bianca padanya direbut oleh Brian.


Bersambung ya....


****


Bay the way Rangga udah operasi plastik nih....

__ADS_1



__ADS_2