Childhood Love Story

Childhood Love Story
Who's your first love?


__ADS_3

Api unggun kini telah berkobar di tengah lapangan, seluruh panitia yang rata-rata kelas Xll sibuk menggelar tikar di sekeliling api unggun.



Setelah makan malam dan sholat isya yang terlambat mereka dijadwalkan untuk berkumpul di sana.


Pembukaan acar telah dimulai, dan tentunya Yuda Pradana yang membukanya.


Dilanjutkan sambutan oleh Bpk Kepala Sekolah, doa untuk kelancaran acara juga dipanjatkan oleh Hanan selalu ketua seksi Rohis yang juga dalam waktu dekat ini akan melengserkan diri.


Rangga celingak-celinguk mencari keberadaan Ara yang tak terlihat sedari tadi.


" Kemana dia, shiittt!!! Nggak liat dia belum satu jam aja hati gue udah kayak gini..., apalagi nggak liat sampai 5 tahun, mati muda gue...." Desis nya geram.


" Lah itu derita lo, keputusan kan lo yang buat sendiri..." Sindir Denis.


Rangga dan Denis masih terus tetap bersitegang dengan saling serang mulut dan bersahut-sahutan, tanpa menyadari kehadiran Ara dan Hana yang sudah duduk di depan api unggun dengan Al Qur'an ditangan keduanya.


Ternyata pembacaan ayat suci Al-Quran, kali ini dibacakan oleh Ara dan sari tilawah nya oleh Hana.


Saat suara merdu Ara terdengar menelusup gendang telinganya, dengan secepat kilat Rangga mencari asal suara.


Sejuk, melihat bidadarinya duduk manis memangku rehal dan mengumandangkan ayat suci dengan suara merdunya, sungguh nikmat yang tiada tandingannya.


Rangga menatapnya dengan bangga, seolah meyakinkan pada dirinya sendiri, dia pilihan terbaiknya.


Setelah acara struktural selesai tiba saat acara bebas, sebagian anak kelas XII yang bertugas besok asyik menyusun acara mereka, sedangkan gitar dan pengeras suara musik mulai melantun meramaikan suasana.


Bahkan Lenox membawa lampu Disco jumbo yang berkelap- kelip menambah suasana semakin wow.


Tibalah acara permainan yang dimainkan secara bergiliran perkelas.


Yaitu lomba susun balok, entah memang tidak beruntung atau apa, pas giliran Ara selalu tumbang dan tumbang.


Dan berulang kali Ara selalu kalah, membuat Rangga yang panitia saja ikut gemas.


" Hukum...hukum...hukum...." Teriak semua siswa saat didapati pelanggaran terbanyak adalah Ara


" Jadi Ara?, siap menerima hukuman?" Tanya Yuda.


" Siap..." Jawab Ara santai.


" Mau dihukum apa nih?" Tanya Yuda pada audiens.


" Joget dangdutan bro.., biar hangat..."


" Joget goyang ngebor bisa gak Ra?


" Goyang itik aja kalo nggak?"


" Goyang dumang gimana Ra?"


Celotehan para audiens semakin menjadi-jadi.


Sementara pemuda gondrong yang berdiri bersedekap di pinggir tenda mengepalkan tanganya kuat.


" Ya pokonya goyang dangdut aja deh Ra, siap Ra...."


Ara hanya mengangguk dan tersenyum manis.


Musik mulai mengalun dan Arapun telah bersiap ditengah.


🎶 Saya si putri....Si Putri sinden pa....🎶


Ceklek!!


Rangga mematikan pengeras suara itu dengan mata yang tajam menatap Ara.


Kepalan tanganya tergenggam erat.


Rahangnya mengatup keras, semua yang melihat kemarahan Rangga bergidik ngeri.


" Cari hukuman lain, dan kamu duduk!!!" Bentaknya pada Ara.


Dengan ketakutan luar biasa Arapun segera duduk disamping Hana dan Natasha.


" Dia kenapa?" Tanya Hana.


" Entahlah..." Jawab Ara bingung.


Semua yang ada di sana saling pandang.


" Yang kalah tetap harus dihukum, hukum Ara dengan sesuai tapi, jangan sekali-kali kalian menyuruhnya bergoyang, atau ku congkel mata kalian..." Ucap Rangga dengan sadis.


Bapak Kepsek tersenyum kecil melihat tingkah Rangga yang tidak pernah seperti ini, dan tentu ini bagus, berarti Rangga sangat menjaga Ara.


" Okey guys maunya dihukum apa nih si Ara, jangan nyanyi, dia mah jagonya" Ucap Darren.


" Gue tantang lo bertanding Ara " Ucap Lenox tiba-tiba.


" Gue tau lo bisa bela diri, ayo bisakah gue ukur kemampuan lo?" Tanya Lenox dengan membungkukan tubuhnya.


Rangga semakin geram, dilepaskan dari mulut buaya malah disambar mulut macan.


" Okey..." Lagi-lagi Ara menjawab dengan santai.

__ADS_1


Ara dipersilahkan kembali ke tenda dengan berganti pakaian karatenya begitupun Lenox.


Mereka kini berhadapan dengan saling memasang kuda-kuda.


Pertandingan pun dimulai, dan pak Lukman sebagai wasit.


Dua putaran selesai dan seimbang, Lenox dan Ara sama-sama kuat. Pada putaran awal mereka masih sama-sama menghindar dan mempelajari jurus masing-masing.


Sementara putaran kedua Ara banyak menyerang, sedang Lenox banyak menghindar dengan tepisan-tepisan tak berarti, bagaimana mungkin dia bisa menyerang gadis yang mencengkeram kuat hatinya saat ini.


Tiba di putaran ketiga, Ara tetap kalah karena sangat jelas tenaga pria tak sebanding dengan tenaga wanita.


Tepuk tangan riuh dan menggema. Lagi, mereka lagi-lagi harus mengakui pesona seorang Ara yang luar biasa.


" Dia bisa mengimbangi gue dalam 2 sesi, gila!! gadis ini luar biasa.." Gumam Lenox kagum.


Rangga segera menyodorkan botol minumnya pada Ara, wajah cantik penuh peluh itu begitu cantik, apalagi tersirami cahaya rembulan yang semakin menambah kecantikanya.


Rangga terpaku menatap separuh hatinya itu, bibir Ara yang basah karena sisa minumnya membuat Rangga susah menelan ludahnya sendiri.


Sementara Ara menatapnya dengan tatapan bingung, tadi marah-marah nggak jelas sekarang perhatian kaya gini.


" Maaf...." Bisik Rangga ditelinga Ara, tangan nya sibuk mengelap peluh diwajah Ara dengan tisu.


" Kakak nggak rela kamu goyang-goyang depan orang lain, tapi malah buat kamu capek kaya gini..." Bisiknya lagi.


" Goyang aja nggak boleh..." Lirih Ara.


" No!!! Nggak boleh, tapi kalau goyangnya di atas aku baru boleh..." Bisik Rangga dengan mesumnya.


" Aauu....sakit sayang..." Jerit Rangga saat cubitan Ara pedas memutar di perutnya.


" Sudahlah.., Lili mau ke tenda ganti baju..." Ucap Ara dan bergegas ke arah tenda.


"Nanti kesini lagi..." Teriak Rangga menatap punggung Ara yang berlalu dari hadapan nya.


Dan hanya dianggukin oleh Ara tanpa menoleh.


Ara yang merasa gerah, dia berjalan lurus saat melewati tendanya dan menuju sungai.


Dengan perlahan-lahan Ara menyusuri tepi sungai dan turun. Dengan santai duduk di atas batu. Dilepasnya peniti pada jilbabnya, dan mengguyur wajahnya dengan air.., segar.


Lalu membasuh kulit tubuhnya yang dirasa lengket.


Gemericik suara air membuatnya terlena, dan memejamkan mata menikmati semilir angin malam yang syahdu. Rembulan besar bertengger dilangit yang gemerlap penuh bintang


" MashaAllah....." Ucapnya lirih mengagumi keindahan karunia Tuhan yang Maha Agung.


Tiba-tiba angin berhembus menerpa jilbab yang belum terpasang peniti itu..


Plung...


Dan jatuh ke dalam air, rambut panjang berkibar diterpa angin, menutupi sebagian wajah Ara yang menunduk meraba-raba jilbabnya di dalam air.


Sepasang mata menatap penuh takjub tanpa kedip keindahan yang tersaji didepanya.


Dadanya berdebar bagai genderang perang yang telah ditabuh.


" Lailia...., Masha Allah....." Bisiknya pada dirinya sendiri.


" Li.....Lili...Lili..." Suara panggilan Rangga menyadarkan Ara pada fokusnya mencari jilbabnya.


Rangga menyorotkan senternya ke sekeliling.


Alangkah terkejutnya pemuda itu saat cahaya senternya menyorot sesosok yang dikenalinya berada di dalam sungai.


" Gadis itu benar-benar..." Umpatnya geram.


Rangga segera berlari ke arah Ara berada dan segera melepas jaketnya.


Dengan tergesa-gesa dia turun ke sungai dan menutupi mahkota Ara yang menawan itu dengan jaketnya.


" Kau itu bodoh atau apa!!!" Bentak Rangga lagi.


" Li..Lili tadi itu...., jil...jilbabnya jatuh...disitu.." Ara berbicara terbata-bata, selain karena kakinya sudah sangat dingin karena terlalu lama di air juga karena syok dengan bentakan Rangga yang bertubi-tubi.


Melihat gadisnya hanya menunduk saja Rangga menyadari sesuatu.


Astaghfirullah...aku membentak nya lagi...


Rangga mengusap wajahnya kasar.


" Sayang maaf, kakak sudah membentakmu lagi, maafkan kakak....., hupp" Rangga segera mengangkat Ara dalam gendongannya dan membawanya mentas dari sungai.


Ara mempererat pegangan jaket pada dagunya.


" Kenapa ke sungai nggak bilang kakak?" Suara Rangga terdengar datar dan dingin.


" Lili gerah dan berkeringat, jadi Lili----"


" Ya sudah, ganti baju, dan cepat ke api, disana hangat.."


" Mau ditungguin atau gimana sayang?" Tanya Rangga lagi.


" Tinggal aja..." Jawab Ara seraya memasuki tendanya.

__ADS_1


Sorak sorai dari para siswa yang mengelilingi api unggun membuat malam yang dingin berubah menjadi malam yang hangat dan santai.


" Oke guys...semakin malam semakin asyik kan?" Teriak Yuda.


" Oke, atas usulan pak Kepsek sesi kali ini diisi tentang Who's your First Love kita...yuhuuuuuu, siapa yang setuju nih?" Teriak Yuda.


" Euhuuuyyyyy...setuju...setuju..." Teriak para siswa antusias.


Ya pada usia mereka semua yang berbau love-lovean pasti sesuatu banget. Tak pernah pendek ceritanya, karena selalu akan panjang sepanjang jalan kenangan dan sepertinya Pak Kepala Sekolah tahu itu.


Pertama kali yang menceritakan tentang siapa cinta pertama adalah Pak Kepala Sekolah sendiri.


Dan ternyata cinta pertama Pak Kepsek adalah istrinya saat ini.


Dan berlanjut pada guru-guru yang terkena kocok namanya.


Dan alangkah terkejutnya mereka bahwa cinta pertama Pak Lukman adalah muridnya sendiri, tepatnya alumni SMU Bhakti. Tapi karena suatu hal mereka tak berjodoh.


Cerita semakin seru dengan terus dikocoknya nama-nama yang acak terpilih. Dan saat ini jatuhlah nama Denis.


Denis terlihat sedikit kurang nyaman saat dirinya disodori microphone.


" Emmm...siapa ya?" Ucapnya Ambigu.


" Ingat guy's...harus jujur..." Ucap Yuda lagi, saat melihat keraguan di mata Denis.


" Playboy macam dia mah cintanya di mana-mana " Sindir Natasya dengan sewot, entah kenapa dia merasa gugup untuk tau siapa cinta pertama Denis.


Denis terlihat menarik nafas dalam saat akan membuka mulutnya.


" Namanya Naka....Runaka Maheswari..., cinta pertama gue, saat gue kelas dua SMP.."


Rayya, Rangga dan Vino terkejut luar biasa. Mereka tentu sangat kenal dengan Runaka Maheswari, putri kepala sekolah SMP mereka dulu.


" Dia...., my first love....Runaka sudah meninggal sebelum kami saling mengenal dekat, cintaku pergi dan tak pernah terbalas..." Ucap Denis sendu..


Suasana tegang beberapa saat.


" Ngenes juga cerita hidup playboy tengil itu.." Bisik Rayya dan di angguki oleh Vino.


Suasana tegang kembali hangat setelah sebuah gulungan kertas dengan nama Lailia Nafesaa Antara jatuh.


" Yuhuuy....pasti kak Rangga nih..." Teriak beberapa murid bersorak sorai..


" Jujur Ara...." Yuda kembali mengingatkan.


" Sudah pasti Rangga ..." Teriak bu Sasti heboh.


" Rangga...Rangga...Rangga...".Koor para audiens serentak.


" Bukan!!!, bukan dia..." Jawab Ara tegas.


Tiba-tiba suasana yang riuh berubah menjadi tegang seketika. Mata mereka seketika menatap pada Ara yang menunduk.


" Bukan..., bukan kak Rangga...." Tatapnya dengan berkaca-kaca tertuju pada Rangga yang menunduk.


Deghh!!!


Rangga meremas dadanya sakit, selama ini dia menyangka dialah cinta pertama Ara.


" Bukan berarti papa !!!, kita tau cinta pertama seorang putri adalah papanya..., ini cinta pertama selain papa..." Ucap Yuda lagi mengingatkan.


" Tidak, memang bukan mereka, bukan kak Rangga, dan juga bukan papa..."


Rangga terlihat menunduk dan menyembunyikan rasa sesaknya.


" Aku mencintainya jauh sebelum mengenal mereka.."


" Dia akan selalu ada di sebelah hatiku, sebelah jiwaku..."


Mereka yang disana terpaku, memasang telinga atas kata-kata Ara.


" Dia selalu bersamaku sedari dulu, dia segalanya bagiku, dengan dialah aku berbagi segalanya...hanya dengan dia..."


Hana seorang yang connect dengan ucapan Ara. Dia segera menyalakan video pada ponselnya dan mengirim siaran langsung pada grup keluarga Al Ghifari.


" Dia cintaku bahkan tidak hanya di dunia ini saja..."


Rangga ngenes luar biasa, sebesar itukah cinta Ara pada selainnya.


Penasaran hebat sudah sangat menggerogoti hatinya, menimbulkan sesak yang begitu hebatnya.


Gama kah?


Hanan kah?


Marvel kah?


Akkhhh shhittt...shittt...shittt


Teriak hati Rangga.


" Cinta pertamaku bernama...." Ara menggantung uncapanya.


Membuat para audiens semakin sesak dan tak bisa bernafas...

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2