
Karena kejadian yang terjadi pada Natasya malam itu, akhirnya romo dan mommy memutuskan membawa Natasya untuk dipingit di Jogja.
Dan Denis hanya bisa pasrah harus berpisah dengan kekasihnya selama dua minggu full.
Setiap hari dirinya terus uring-uringan karena rasa rindunya yang tak terkendali. Chandra selalu jadi sasarannya.
" Huhh!!!, lama amat sih minggu ini habis!" Umpatnya kesal.
" Ya Tuhan, ini juga baru hari kelima bang. Chandra khawatir kak Denis akan gantung diri dihari ke sepuluh bang..." Bisik Chandra pada Gama.
" Hust!! kamu ini!!" Sentak Gama.
"Aduh...., pusing gue Chand!!, tolong mintain OB bikinin gue kopi pahit" Ucap Denis, dengan terus meremas kepalanya.
Selama lima hari ini Denis benar-benar kacau. Tidak bisa bertemu Natasya, bahkan tidak bisa menghubunginya benar-benar bagai kiamat untuknya. Kerjaanya tidak ada yang beres lima hari ini. Yang dikerjakan hanya bengong menatap laptopnya.
Chandra dan Gama hanya saling tatap dan tersenyum simpul.
" Kenapa kakak tertawa?" Ucap Denis melihat Gama yang sedikit tertawa.
" Kamu lucu..."
" Emangnya aku badut"
" Kamu jelas lebih lucu dari badut!!"
" Kak, aku serius nih..." Denis benar-benar tidak bisa diajak bercanda untuk saat ini.
" Kak Gama juga serius Denis!!, kenapa kamu jadi bego sih!!" Ucap Gama tegas.
Denis terkesiap, Gama itu baik orangnya. Jarang marah walau Rangga dan Denis sering bertingkah. Tapi jika Gama sudah marah, berarti itu hal yang serius.
" Gimana maksudnya nih?" Tanya Denis bingung.
" Nomor yang diblokir sementara oleh romonya Natasya kan nomor kamu doang!!, kamu kan masih bisa nelpon dia pakai nomor lain, ponsel Ara misalnya..." Ucap Gama santai tanpa beban.
" Aku akan repot kalo kamu kerja seperti ini setiap hari. Bisa-bisa tender kita hancur semua, kamu kacau lima hari ini, banyak saham berprofits yang lepas, karena ketumpulan intuisi kamu itu tau!!" Gama berbicara dengan serius dan dengan tatapan yang angker. Ini dia, inilah Gama yang sesungguhnya.
Siapa saja yang mengenal Gama pasti tau dia adalah pria muda yang berdedikasi tinggi. Ketelatenan dan keuletan nya membawanya menjadi businessman muda terhandal tahun ini.
" Maaf kak..." Ucap Denis. Ada rasa lega saat mendengar saran Gama yang menyejukkan, membuatnya kembali memiliki semangat kembali.
...**...
Sepulang kerja, Denis begitu terburu-buru untuk menuju rumah Rangga dan Ara.
Tujuanya hanya satu, yaitu meminjam ponsel Ara untuk menghubungi Natasyanya.
" Assalamualaikum..." Seru Denis yang muncul dari teras samping.
Dia telah terbiasa keluar masuk rumah Rangga.
" Hai uncle...Wa'alaikumussalam" Sapa Ara dengan melambaikan tangan Almeer yang berada dalam gendongannya.
" Ra..., pinjem ponselmu dong sebentar.." Ucap Denis to the point. Rasa rindunya seolah ingin meledak.
" Buat??" Tanya Ara penasaran.
" Kak Denis mau nelpon Natasya, kangen banget Ra.... Mau gila rasanya.." Denis duduk disofa, disamping Almaeera yang sedang terbaring disana. Dikecupnya pelan pipi gembul Meera dan sesekali diusap-usapnya pipi itu gemas.
" Rangga belum pulang?" Ucapnya saat melihat begitu repotnya Ara mengurus kedua anaknya.
Ara melihat ke arah jam dinding sekilas.
" Sebentar lagi kayaknya, mampir ke market untuk beli keperluan twins sepertinya.."
__ADS_1
" Kak, tolong pegang Almeer sebentar. Ara ambilkan ponsel dulu dikamar. Sejak beberapa hari ini boy rewel tiap ditaruh di box" Ucap Ara.
" Kenapa?, apa ada yang sakit?" Tanya Denis penasaran, sementara dia bersiap meraih Almeer untuk digendongannya.
" Ngga ada sih, mungkin cuma manja doang..hi..hi.." jawab Ara.
Beberapa saat setelah Ara masuk ke kamar, rupanya mobil Rangga telah memasuki garasi.
Denis asyik bercengkrama dengan Almeer dalam gendongannya dan Meera disampingnya.
"Almeer..., boy cepat besar ya. Nanti kita tanding PS sama uncle oke!!"
" Anak gue bukan maniak PS macem lo!!" Sentak Rangga yang muncul dari pintu dimana Denis masuk tadi.
" Ha..ha..biasalah bro, PS kan untuk healing..."
" Kok lo udah disini?" Tanya Rangga.
" Iya, gue kangen berat..."
" Hah maksud lo!!, kangen sama?, Lili gue??, atau twins??" Sahut Rangga cepat.
" Ckck..kau itu!!, ya kangen Natasyague lah!" Sahut Denis tak mau kalah.
" Kangen Natasya kok ke rum---"
" Nih kak ponselnya...eh, udah pulang Bi..." Ara meraih tangan Rangga untuk diciumnya seperti biasa. Sementara Rangga memeluknya dan menciumi pipi dan keningnya. Seolah tak ingat keberadaan Denis, Rangga dengan santainya menyambar bibir Ara sekejap.
" Woyyy ada gue disini woyy, lupa ya...gila kalian" Seru Denis.
" Lah emang kami ngapain sih, lo tuh ya!!, kangen buat fikiran lo miring!!" Seru Rangga dengan meletakkan telunjuknya miring dikeningnya.
" Husstt!!, jangan berantem didepan twins lah...., udah tua-tua juga masih saja.." Ucap Ara melangkah mendekati Denis dan mengambil alih Almeer.
" Rangga yang udah tua, kak Denis mah belum Ra.." Bisik Denis saat menyerahkan Almeer pada Ara, dan sayangnya Rangga mendengar itu.
" Hei!!, biar gue tua juga Lili masih suka!!, lo mau apa?, biar gue tua juga gue udah punya istri dan anak, lo punya apa hah??" Ucap Rangga geram.
" Makasih sayang..." Lagi, Rangga mengecup kening Ara sebelum berlalu ke atas menuju kamar mereka untuk mandi.
" Ra, gue pake kamar tamu boleh ya..." Ucap Denis.
Soalnya nggak enak mau kangen-kangenan dengan Natasya harus terdengar oleh Ara kan.
Sementara Ara hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Hallo Ra Assalamu'alaikum...kangen twins...." Sapa Natasya langsung nyerocos tanpa tahu siapa yang menghubunginya.
" Waalaikumsalam sayang...." Balas Denis.
Natasya melotot tak percaya mendengar suara Denis ada di ponsel Ara.
Apalagi dirinya sedang dilulur saat ini.
" Bisakah VC sayang?" Tanya Denis.
" Sebentar kak, Natha masuk kamar dulu..." Bisik Natasya dengan mata memindai sekeliling, takut ada mata-mata dirumah mereka.
Ceklek.
Brakk....
" Hai kak..." Bisik Natasya.
" Hai Shayang...." Balas Denis.
__ADS_1
" Kok pake ponsel Ara, eh itu juga kamar tamu rumah Ara..." Natasya mengenali kamar dimana Denis berada.
" Iya, habis nomor ponsel kakak diblokir jadi nggak bisa hubungin kamu. Jadi gini deh..." Ucap Denis dengan tampang sendunya.
" Ka...kamu baru mandi ya?" Ucap Denis gagap melihat bagian tubuh Natasya terbuka.
" Nggak lah, ini lagi kembenan, lagi dilulur Simbok..ha..ha..ha..."
" Den Ayu...den..." Panggilan dari luar pintu mengagetkan keduanya.
" Kak nanti malam aja lagi ya, masih ramai di rumah..." Bisik Natasha.
" Ya udah deh..., nanti kakak hubungin lagi..."
Merekapun akhirnya mengakhiri pembicaraan mereka segera daripada harus repot lagi jika ketahuan.
...*...
" Den, makan malam yuk...." Panggil Rangga di depan pintu kamar dengan menggendong Almaeera.
" Oh ya, disitu ada baju ganti, pake aja. Kamu mau ke musholla nggak?" Lanjut Rangga.
"Gue sholat di rumah aja..." Sahut Denis, tanganya masih menimang-nimang ponsel Ara.
" Udah bisa hubungin Natasya?"
" Udah, tapi di rumahnya masih ramai. Takut kepergok gue...." Jawab Denis.
" Ya udah lo nginep sini aja deh..."
Denis terlihat berfikir sesaat lalu mengangguk setuju.
Mereka bertiga saat ini sedang makan malam. Tepatnya hanya Ara dan Denis, soalnya Rangga terus saja menyuapi Ara, sampai-sampai dia sendiri lupa menyuap untuknya sendiri.
Ara sendiri menggendong dua anaknya dikedua sisi tanganya.
Denis menatap mereka dengan tatapan yang tak terbaca.
" Kalian membuatku iri..." Gumam Denis pelan.
Mendengar gumaman Denis, Ara dan Rangga kompak menoleh.
" Maksud lo..." Tanya Rangga penasaran. Sementara Ara yang memangku kedua anaknya juga mengangguk ikut penasaran.
" Kalian mendapatkan cinta sejati yang manis, dan berhasil menyatukan cinta itu, begitu mengharukan.." Lanjut Denis.
"Dari kecil kau hanya terikat pada satu wanita, gue benar-benar salut sama lo Ga, kesetiaan lo benar-benar bisa diacungi jempol..."
" Huuffttt..., apa gue bisa seperti elo ya Ga..." Denis terlihat melamun.
Rangga menatap sahabat dari kecilnya itu beberapa saat. Sepertinya Rangga menangkap sesuatu yang tidak beres terjadi pada sahabatnya itu.
Setelah selesai menyuapi Ara, giliran Rangga makan dengan cepat. Fikiranya masih dihantui rasa penasaranya dengan ucapan Denis yang baginya janggal.
"Kamu ada masalah apa bro?" Tanya Rangga to the point. Saat ini mereka sedang sama-sama membuka laptop mereka di ruang keluarga. Rangga duduk di karpet, sementara Denis bersila di sofa. Ara?
Ara sudah masuk kamar untuk menidurkan anak-anaknya.
" Gue bingung Ga, Natasya bilang ke gue nggak mau punya anak setelah menikah.."
" Loh..., kok gitu..." Rangga menghentikan aktifitas nya dan menatap pada Denis yang juga telah menutup laptopnya.
" Katanya dia takut setelah melihat begitu tersiksanya Ara saat akan melahirkan kemarin.." Jawab Denis.
Rangga termangu mendengarnya, jujur dia sendiri begitu trauma melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana perjuangan Ara untuk melahirkan keturunan Wijaya.
Dan bahkan Rangga juga sempat berjanji dalam hati untuk tidak membuat Ara hamil lagi.
__ADS_1
" Wajar lah.., akupun begitu syok saat itu.. Bahkan aku juga berharap Lili tidak melahirkan lagi setelah ini.." Ucap Rangga menerawang jauh.
" Loh kok gitu..?" Denis menggeleng tak habis fikir.