Childhood Love Story

Childhood Love Story
Bonus..


__ADS_3

Menjadi daddy dari tiga anak membuat Rangga berubah menjadi pria muda yang dewasa.


Harinya dihiasi dengan keriuhan putra putrinya. Tapi dengan tanggap dan disiplin dia bisa mengantisipasi semua. Kecakapan dan kedewasaanya dibuktikan dengan tindakanya, bukan kata-katanya. Apalagi istrinya adalah seorang dokter yang telah dikukuhkan statusnya beberapa tahun silam.


Bahkan mereka mengambil keputusan tepat saat itu, dengan memiliki tiga balita yang perlu perawatan ekstra, mau tidak mau Ara dan Rangga memutuskan untuk pulang kembali kerumah Wijaya.


Apalagi untuk anak kedua, Ara hanya mendapatkan cuti dari Universitas cukup dua setengah bulan saja.


" Haduh...malunya gue, koas tiga tahun aja cuti maternity gue udah hampir enam bulan waktu itu..." Keluh Ara pada Lenox mengingat masa lalunya.


" Santai ajalah Ra, laki lo kan orang dalam... Amanlah itu.." Sahut Lenox.


" Aman, aman kata lo Le, gue sampai sekarang juga tetap malu tau..." Ara merasa tidak nyaman dengan keadaan yang pernah dialaminya.


" Dienakin aja lah Ra, tambah saus kacang, cabenya yang banyak, bawang gorengnya juga taburin penuh- penuh, kerupuk jangan lupa..."


Ara menjewer telinga Lenox seperti biasa, sementara yang lain tertawa melihat keduanya.


Lenox ikut tertawa terbahak-bahak, mengusili Ara adalah kebahagiaan tersendiri baginya, esok hari dia dan keluarga kecilnya akan berangkat lagi ke Jerman. Libur musim dingin telah usai, saatnya kembali ke rutinitas mereka kembali. Setelah lulus dari kedokteran umumnya, beberapa tahun lalu, Lenox memutuskan melanjutkan pendidikan dokter spesialisasinya bersama Wari yang juga melanjutkan kuliahnya di Jerman. Tapi rupanya pekerjaan telah memanggil mereka untuk tinggal lama disana.


" Ha..ha..., Ra lo masih inget nggak--"


" Nggak!" Sahur Ara cepat.


" Anak gue dulu waktu pertamanya bisa panggil gue...dy...dy..., gue seneng banget Ra. Rasanya nggak sabar pengen pulang kerja saat itu...."


Lenox menatap tampilan layar ponselnya yang terdapat gambar putranya disana.


" Jadi inget juga saat Almeer mulai bisa panggil gue om Nox dahulu..." Lanjutnya dengan senyum mengembang cerah.


" Almeer bukan panggil kamu om Nox tapi Monox...Monox...ha...ha..ha..." Sahut Denis sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Mengingat begitu imutnya putra pertama Rangga yang menjadi jantung hati para papa angkatnya.


Dahulu Almeer kecil begitu imut dan menggemaskan, tapi sangat cengeng. Tapi sekarang, Almeer begitu manis, pendiam dan cool, benar-benar duplikat dari seorang Rangga Bayu Wijaya sejati.


Lenox mensweap ponselnya, disana ada puluhan foto Ameer dengan berbagai pose dari bayi sampai berusia 16 tahun saat ini.


Lenox menyayangi Almeer bahkan melebihi putranya sendiri.


Almeerpun begitu dekat denganya, kadang-kadang membuat Rangga sang daddy cemburu. Dan itu sudah terjadi sejak Almeer lahir sampai saat ini.


Tapi Rayden, putra Denis justru lengket pada Rangga dari pada papanya sendiri.

__ADS_1


Entahlah, yang jelas anak-anak genk somplak tumbuh di tangan banyak ayah dan banyak ibu. Tak ada satupun yang saling iri dengki, semua sama. Dalam mengasuh anak mereka begitu bertanggungjawab dan bekerjasama. Tidak ada kata-kata itu anakmu atau ini anakku. Semua bersikap sama, semua dididik sama rata.


Apalagi Brian, dia satu-satunya young daddy yang paling dijadikan idola oleh para anak-anak genk somplak.


Selain sabar dan penyayang, Brian juga memiliki banyak keahlian yang bisa diturunkan kepada para anak-anaknya, seperti bela diri, menggunakan senjata, survival diberbagai macam situasi dan kondisi, memasak dan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan beberapa bahasa asing.


Tak heran jika Brian paling disayangi oleh mereka, terutama Sunny. Dia begitu menghormati dan menyayangi Brian lebih dari ayahnya sendiri.


Jika Brian begitu disegani karena manisnya, justru bertolak belakang dengan Marvel kembaranya.


Marvel yang easy going..., justru mengajarkan jurus-jurus bagaimana mendapatkan cewek incaran para putra-putranya. Tapi dia juga selalu menekankan pada seluruh putrinya, baik itu Bianca, Shanum, Almaeera, Tiara, Azmya dan Maureen untuk selalu meninggikan harga diri seorang wanita, jual mahal!!! semahal-mahalnya!!.


Karena putri-putri genk somplak adalah putri utama yang dididik dengan baik dan berkelas.


" Bianca, siapa lelaki yang selalu menghubungimu setiap malam itu!!" Bentak Marvel yang selalu mendapati Bianca masih berbicara dengan seseorang di malam hari, walaupun itu melalui ponsel sekalipun.


" I..itu hanya teman satu fakultas om.." Jawab Bianca.


Ardi yang sedang fokus pada tabnya langsung menoleh menatap Bianca yang duduk bersandar di bahu Azura.


" Boy or girl?" Tanya Ardi tegas.


Bianca semakin menyembunyikan wajahnya dibalik lengan aunty nya itu. Ya, Bianca sudah tau siapa sejatinya dia, sejak mulai masuk SMU, Bianca diberitahu bahwa Azura adalah aunty nya. Dan Ardiansyah adalah ayah angkatnya.


" B..b..boy dad..." Jawab Bianca tergagap takut.


" Hi..hi..hi..., pasti pacarnya tuh..." Olok Almaeera yang duduk dibawah kursi Saga, meletakkan kepalanya di sebelah kaki Saga.


" Apaan..., emangnya kamu!!. Kecil-kecil udah pacaran..." Bianca melempar bungkus coklat pada Meera, tapi dengan cepat Saga menangkapnya sebelum mengenai wajah Meeranya.


" Don't do like this sist" ucap Saga tegas.


Bianca masih juga melempar kulit kacang ke arah Saga.


" Bian!!, daddy bicara sama kamu. Siapa pemuda itu?" Tanya Ardi lagi. Kali ini matanya menatap tajam Bianca.


" Namanya Gerald dad, dia juga mahasiswa dari Indonesia, dia kakak tingkat Bian dad..Kami berteman karena berasal dari satu negara saja kok..." Jawab Bianca.


Tapi Denis menggigit bibirnya gemas, pria satu anak ini jelas tahu ada sesuatu yang lebih, gesture tubuh Bianca menunjukkan itu. Natasha melirik Denis dengan mengangguk kecil, sepertinya keduanya satu pemikiran.


" Gadis kecil yang imut dahulu sudah dewasa sekarang " Bisiknya di telinga Natasya.


Jadi sejak Bianca duduk di bangku SMU, Marvel membawanya ke Chelsea untuk menemani tante Diannya yang terpuruk atas kejadian mengenaskan yang dialami Sunny beberapa tahun lalu. Sementara Shinee justru diungsikan ke Jerman untuk tinggal bersama oma Lana, bunda Marvel.

__ADS_1


Saat ini adalah hari terakhir mereka berkumpul di White Base, karena esok hari semua akan kembali ke rumah masing-masing.


Adnan Hana dan putranya Rasya akan kembali ke Singapura, Marvel dan Brian kembali ke Amerika, Lenox dan Wari ke Jerman, Vino dan Vera kembali ke Surabaya.


Persahabatan mereka tetap terjalin baik, semakin usia bertambah, bertambah pula tingkat kedewasaan mereka.


" Sha...come here" Panggil Marvel saat melihat kekasih putranya itu melintas. Tepatnya mantan kekasih Sunny. Hatinya ngilu setiap kali melihat Shanum selalu menunduk dan kehilangan senyumnya semenjak Sunny diculik dan ditemukan meninggal hanyut di sungai.


" Ya uncle..." Shanum tertunduk melangkah mendekat disamping Marvel. Marvel menepuk samping tempat duduknya, Shanum pun melangkah kesana dan duduk.


" Apa princess cantik ini lupa caranya tersenyum hemmm??" Ucap Marvel dengan mengelus rambut Shanum.


" Tidak ada alasan lagi saat ini bagi Sha untuk tersenyum uncle.., tapi nanti mungkin iya.., saat Sunny dat---"


" Cukup Sha..." Ucap Vera.


" Iya nak..., ikhlaskan Sunny..." Lanjut Vino.


" Apa yang harus diikhlaskan pa..., apa?. Sunny itu masih hidup pa!, yang ditemukan uncle Brian itu bukan Sunny..." Teriak Shanum kesal.


" Sayang mama mohon..., ini tidak bisa seperti ini terus. Kasihah Sunny juga disana kalau seperti ini..." Lanjut Vera


" Mah.....please jangan bilang begitu. Sunny masih hidup mama.., dia masih tersesat diluar sana mamah....tolonglah.." Tangis Shanum.


" Benar om tante!!, Shanum benar. Jenasah yang kita kuburkan itu bukan brothy, dia orang lain...karena di punggung brothy Sunny ada tattonya...


Tatto dengan tulisan nama Shanum dan brothy..." Ucap Shine yang berdiri diambang pintu.



Dia tidak bisa diam saja setiap kali semua menyudutkan Shanum.


" Maaf ayah..., sebenarnya brothy melarangku untuk menyatakan ini, aku juga sudah berjanji padanya untuk tutup mulut. Tapi...memang benar, jasad itu bukanlah brother..." Ucap Shinne tegas.


Tapi rupanya kata-kata nya tidak serius ditanggapi orang para orang dewasa ini.


Dan sangat disayangkan, mereka para orang dewasa itu tidak ada yang serius mendengarkan ucapan Shine saat ini. Mereka lebih dulu tenggelam dalam kesedihan mereka. Sunny si biang kerok yang atraktif dan nakal itu tidak ada lagi ditengah-tengah meteka. Ucapan Shine tidak ada yang menganggapi sama sekali.


Kalaupun ada, mereka menganggap Shine sama seperti Shanum yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Manggala Sunny Marvelino benar-benar telah tewas akibat penculikan beberapa tahun silam.


ย 


Oke...yang penasaran dengan cerita Shanum dan Sunny ada disini๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

__ADS_1



__ADS_2