Childhood Love Story

Childhood Love Story
Persiapan...


__ADS_3

Sesampai di Jogja, Denis dan rombongan langsung menuju rumah kakek Al Ghifari. Disana telah ada papa Syakieb dan mama Neela.


Sementara itu di rumahnya, Natasha harus menjalani serangkaian prosesi pernikahan adat Jawa yang begitu padat dan sakral.


Seperti saat ini, Natasha sedang melakukan prosesi siraman.


Denis dan keluarga Al Ghifari menyaksikan acara dari video yang dikirimkan oleh Vino dan Vera yang telah berada disana.


Natasha dibawa oleh romo dan mommynya menuju taman belakang dimana acara akan digelar.



Sebagai anak tunggal tentu Natasha diperlakukan bak putri( ya emang Natasha itu putri keraton).


Setelah berada di taman, kemben Natasha dilapisi lagi dengan roncean dari bunga melati dan rambutnya pun disanggul sedemikian rupa.


Siraman pertama dilakukan oleh kakek dan neneknya.



"Jadi beliau yang keturunan langsung dari ratu nak Denis..." Tunjuk kakek Al Ghifari pada kakek Natasha.


" Ihhh, kok Denis jadi merinding ya, mana Denis belum mahir banget berbahasa Jawa halus..." Gumamnya.


" Jangan terlalu risau lah bro, santai.... Takutnya nanti kamu malah gugup dan stress..." Ucap Rayya.


" Iya Den, tenang aja yang penting. Kalau emang nggak bisa bahasa Jawa ya jangan dipaksakan, nanti malah berantakan.." Pesan profesor Pramana.


" Huftttt..."


Lagi-lagi Denis menghembuskan nafasnya. Dari raut wajahnya terlihat gurat keresahan yang luar biasa.


Kehidupan Denis yang lempeng ini harus bertemu dengan kehidupan kental keraton yang banyak tidak dimengetinya, membuatnya galau tiada tara.


Perasaan was-was takut mempermalukan keluarga jelas menjadi ancaman tersendiri. Apalagi pada pangeran dari kasepuhan Solo yang memang telah dijodohkan dengan Natasha pasti juga akan datang.


Pangeran itu pasti memiliki kualitas yang jauh lebih dari seorang Denis.


Tapi Natasha tetap memilihnya, disinilah beban ini berasal. Denis sangat takut mengecewakan Natasha.


Profesor Pramana menatap putranya itu dengan sendu. Andaikan istrinya masih ada tentu akan ada yang membantunya untuk menenangkan putranya yang sedang resah seperti ini.


Karena biasanya seorang ibu memiliki beribu cara untuk bisa menenangkan hati putra-putrinya disaat seperti ini.


Tak terasa air mata menetes dari sudut mata berkacamata seorang profesor Pramana.


" Denis..." Panggil mommy Tara.


" Ya tant...." Denis berjalan menghampiri mommy Tara yang membawa beskap untuknya.


" Ini beskap Jawa kiriman dari sana, coba dulu nak. Barangkali ada yang sempit, atau perlu dirubah.."


" Iya tante, Denis coba dulu.." Denis menerima baju dari tangan mommy Tara dan segera masuk ke dalam.


...*...


Malam hari rumah kakek Al Ghifari begitu ramai.

__ADS_1


Adnan Hana, dan putranya. Marvel Dian dan si kembar. Ardi Zura dan Bianca semua telah berkumpul. Tinggal menunggu keluarga Vino yang sedang menuju ke sini.


Papa Syakieb memasang aplikasi ke layar televisi agar bisa VC an dengan putri bungsunya.


Saat ini mereka sedang bercakap-cakap secara virtual.



" Ya ampun..., lucunya twins..." Teriak Hana heboh.


" He's my brother aunty, Almeer is my brother.." Seru Sunny dengan mengelus gambar Almeer yang ada dilayar televisi.


" Dua-duanya kan adikmu. Kenapa hanya Almeer.." Tanya Marvel heran. Karena sejak kelahiran twins, hanya Almeer yang ada di galeri ponsel Sunny.


" Cause I want soldier to my squad!!, and that's him!!"


" Memang kau mau memerangi siapa?" Tanya Marvel lagi.


" Semua yang jahat-jahat dibumi ini akan Sunny habisi yah, sampai habis..." Seru Sunny.


" Assalamualaikum...." Suara cempreng gadis kecil membuat Sunny langsung menolehkan kepalanya ke arah suara.


" Shanum..." Teriaknya heboh.


" Ya Ampun anak itu..." Gumam Dian dengan diselingi senyum kecilnya.


" Kayaknya kak Dian bakalan berbesan dengan Vera nih..." Ucap Ara dari layar televisi.


" Semoga saja, kita tidak berhak memaksa, biarkan saja mengalir apa adanya..." Ucap mama Neela.


" Mommy.., mommy tidak kesini?" Teriak Saga saat melihat Ara ada di layar.


" Tante ini ada henna dari pihak perempuan, untuk di lukiskan ke tangan kak Denis..." Vera menyodorkan sebuah tepak yang berisikan beberapa buah Henna.


"Waduh ini sih yang jago Natasha, dan kamu Ra, keluar dong dari situ lompat kesini.." Ucap Hana dan membuat semua tertawa.


Akhirnya dengan penuh usaha yang maksimal mama Neela memberanikan diri untuk menghias tangan Denis.


Lalu para wanita dirumah ini saling menghias tangan mereka, dan Azuralah akhirnya sebagai eksekutor nya, karena hasil lukisannya paling bagus saat menghias tangan Bianca.


" Sha mau juga aunty..." Ucap Shanum dengan menyodorkan jarinya pada Azura.


...**...


Shanum dan Bianca terus menjaga agar hiasan tangan mereka tidak rusak.


Sunny dan Shine mendekati keduanya.


" Tangan kalian kenapa?" Tanya Shine.


" Sedang dihias seperti ini..." Tunjuk Bianca pada tanganya.


" That's tattoo?" Tanya Shine lagi.


" Ya, ini mirip tato. Tapi ini bisa hilang. Tidak permanen.." Jawab Bianca.


" Punya Shanum flowers, that's so cute..."

__ADS_1



" Mau aku bikin tato dipunggunmu bro?, aku bisa menulis tulisan seni yang bagus..." Ucap Sunny pada Shine.


" Tuliskan saja di lenganku..., mana tatonya tadi Sha?" Tanya Shine.


" Ada di aunty Zura" Jawab Shanum.


Sunnypun berlari meminta sisa henna pada Zura.


" Nah, mau ditulis apa di lenganmu bro?" Tanya Sunny.


" Tulis saja SuShi...." Jawab Shine.


" Idihh geli gue!!!, masa tato cowok macho kaya kita tulisanya SuShi!! Ogah gue.." Teriak Sunny.


" Sushi itu lo dan gue dodol!!, Sunny dan Shine.., bego dipiara!!!" Bentak Shine tak mau kalah.


" Oh...he..he..i'm sorry brother..., I don't know about that..." Ucap Sunny dengan nyengir. Tanganya dengan hati-hati menggores huruf demi huruf dilengan Shine menggunakan Henna itu.


" Ya jelas lo nggak tau apa-apa, karena yang lo tahu cuma Shanum...Shanum..." Sindir Shine.


" Ha..ha..jadi apa itu tandanya kamu cemburu?" Tanya Sunny.


" Buat apa, dia aja nggak pernah lirik aku.." Sahut Shine.


" Kalau aku udah nggak ada pasti nanti yang dilihatnya cuma kamu..." Ucap Sunny tanpa sadar.


" Emang lo mau kemana?" Tanya Shine bingung.


" Mau ke toilet!!, kebelet..." Sunny melempar henna ditanganya begitu saja dan berlari ke toilet.


" Dasar gila dia..." Desis Shine, lalu berjalan ke ruang keluarga untuk memamerkan tatonya.


Sekembalinya Sunny dari toilet dia sudah dihadang oleh Shanum yang berdiri tepat di depannya.


" Kok disini Sha?" Tanya Sunny.


" Nih...aku juga mau ditulisin kaya Shine tadi.." Shanum menyodorkan henna pada Sunny.


" Hah!!, mau ditulisin SuShi juga?" Tanya Sunny tak percaya.


" Ya ngga lah, tulis di sini nama kamu, MANGGALA SUNNY..." ucap Shanum dengan menyodorkan pergelangan tanganya.


" Ap..." Sunny melotot tak percaya, tapi sumpah!. Hatinya benar-benar bahagia.


Bianca yang mengintip obrolan keduanya hanya menjulurkan lidah nya.


" Dasar bocil gelo!!"


" Kenapa kak? Siapa yang gelo?" Tanya Shine.


" Tuh, Shanum!, lagi klepek-klepek sama abangmu..." Ucap Bianca.


" Kira-kira aku beda dari brothy itu apanya ya kak?, kok Shanum milih brothy Sunny daripada aku..." Tanya Shine sendu.


" Sunny itu pemberani, tegas. Tapi kalau kamu itu lembut dan penyayang. Mungkin tipe yang disuka Shanum seperti itu.."

__ADS_1


" Kalau kak Bian sendiri suka cowok yang kayak gimana?" Tanya Shine lagi.


" Yang seperti daddy ku!!" Ucap Bianca tegas.


__ADS_2