
Saga berdiri tepat si depan gerbang rumah mommy Aranya saat ini. Dia tidak tahan lagi, ucapan pemuda kemarin yang menemui langsung unclenya begitu membuatnya gelisah sepanjang malam.
Seperti biasa, pemuda itu membuka gerbang dan langsung ke pintu samping.
" Assalamualaikum mom..." sapanya seperti biasa. Suara sahutan Ara terdengar dari arah dapur.
" Masak apa mom?" Ucapnya sambil meraih tangan Ara untuk dikecupnya.
" Nih.., kari telur kesukaan Meera. Duduklah, kita makan siang sama-sama mommy udah mau beres ini..."
Saga mengangguk patuh, tapi dia tidak duduk seperti perintah Ara. Tapi melangkah menuju samping kolam dimana disana banyak kursi-kursi dan meja. Biasanya uncle Rangganya selalu memberikan bimbingan khusus pada mahasiswanya yang lambat memahami materi disana.
Hari ini Saga tidak ada jadwal kuliah, makanya dia bisa menyempatkan dirinya kesini.
Matanya menatap balkon dimana kamar Meera berada.
" Apa kamu masih membandingkan ku dengan brothy Mymee..?" Batinya.
Tep..tep..tep...
Suara langkah kaki seseorang yang terdengar buru-buru menuju ke arahnya membuat Saga menoleh seketika.
Degh!!
Ternyata Meera, gadis itu hendak mengambil barangnya yang tertinggal dimeja yang dimana saat ini Saga duduk.
Meera mematung sesaat, begitu juga Saga. Kedua pasang mata mereka akhirnya bersitatap dalam waktu yang cukup lama. Meera bingung antara mau maju atau mundur.
Maju rasanya tidak kuasa, karena kakinya begitu lemas untuk melangkah.
Mundur, justru itu akan memperkeruh suasana.
Tapi matanya memanas saat pandanganya tertuju pada benda melingkar di tangan Saga. Ya, itu adalah jepit rambutnya yang tertinggal di Surabaya saat mereka liburan beberapa tahun lalu.
Sebenarnya kemarin saat dipanggung Almaeera juga sempat melihatnya, tapi tidak yakin. Dan tebakanya tepat, jepit rambutnyalah itu.
" Mau ini?" Tanya Saga sambil mengangkat buku kumpulan contoh-contoh soal tes UNBK UI yang tadi tergeletak di meja depanya.
" Hemmm" Sahut Meera masih mematung ditempatnya. Gadis itu sibuk merapikan jilbabnya, padahal sih enggak. Dia sibuk mengusap air matanya yang mengalir tanpa disadarinya.
" Nih...ambil sini.." Saga mengayunkan bukunya agar Meera mendekat.
" Ya udah biarlah nanti aja..." Meera memilih untuk pergi dari pada mendekati Saga.
" Mymee!!.." Panggil Saga dengan suara bergetar penuh kesedihan.
" Kenapa kita jadi seperti ini?" Ucapnya lirih, menunduk menyembunyikan matanya yang panas.
Deghhh...
Jantung Meera searah mau lepas, panggilan itu sudah hampir lima tahun ini tidak di dengarnya.
" Mee....duduk sini sebentar. Ka Saga pengen ngomong sama kamu...." Ucap Saga tidak tahan lagi. Kesal dan ingin marah rasanya saat ini.
Meera pun mau tidak mau melangkah maju dan duduk berhadapan dengan Saga yang terus menatapnya, sementara kepala Meera terus menunduk.
" Apa wajahku menjadi lebih jelek daripada dahulu?" Tanya Saga dengan dada yang begitu sesak. Sudah sejak lima tahun lalu Meera begini. Selalu menunduk tidak mau melihatnya.
" Ti..ti..tidak.." Jawab Meera lirih.
" Lalu?, kenapa kau seolah-olah jijik setiap kali melihatku.." Lanjut Saga sedih, wajahnya menunduk.
" Bu...bukan begitu..." Ucap Meera lagi.
" Terus??, kamu sudah nggak suka ka Sagamu ini lagi? " Ucap Saga to the point.
Mera hanya menggeleng berulang-ulang.
Satu tahun kedepan Saga akan menyusul kakaknya ke Boston untuk pertukaran mahasiswa. Dia hanya ingin memastikan perasaan Almaeera padanya.
Saga juga jengah terus-terusan dikejar-kejar cewek-cewek. Jujur, diusianya yang masuk 20an ini, Saga juga ingin tahu rasanya yang orang-orang sebut sebagai pacaran itu. Luigi saja udah gonta-ganti pacar, masak dia Jones akut gegara nungguin gadis di depanya ini.
Ngenesnya, yang ditungguin nggak respect sama sekali.
" Mee..., ka Saga akan pergi. Ka Saga hanya ingin tahu. Kita ini bagaimana kelanjutannya?" Ucap Saga lagi.
Meera terlihat mencuri tatap pada Saga sekilas.
" Apa kamu masih melihat brothy Shinee yang lebih segala-galanya dariku Mee..?" Lanjut Saga.
" Kenapa harus bawa-bawa brothy sih!!" Seru Meera kesal.
__ADS_1
" Ya karena kamu lebih suka menatapnya dari pada aku!!" Sahut Saga lebih kesal.
" Ya iyalah beda, ka Saga fikir semudah itu kita menatap orang yang kita su---"
" MEERA ADA YANG NYARI NIH!!" seru Ara membuat Meera menghentikan ucapanya.
" Siapa mom?" Seru Meera balik.
" Ryan..., katanya temen sekelas kamu.." Jawab Ara yang sudah berdiri di depan pintu arah taman.
Brakk!!
Saga yang kesal menendang kursi di sampingnya dengan hati yang dongkol. wajahnya yang tampan nampak memerah karena marah.
" Tuh sana!!, pantasan aja nyuekin aku!!, tega banget kamu nyelingkuhin ka Saga Meera!!"
Saga berdiri lalu berlalu meninggalkan Meera yang bingung tak bisa berkata-kata.
πΆ Ih abang jahat! Aku tuh cinta berat.
Sini dong dekat-dekat.
Ku pegang erat-erat..πΆ
Samar-samar telinga Saga mendengar syair lagu tik tuk itu dari bibir mungil Meera. Tapi suaranya yang sangat kecil membuat Saga kurang peka.
Apalagi kekesalan dan emosinya sudah diubun-ubuh karena mendengar nama Ryan tadi.
Saga melangkahkan kakinya yang panjang itu ke ruang tamu.
Disana telah duduk seorang pemuda yang kemarin menghadangnya dan Rangga.
Matanya melirik sinis pada pemuda itu.
Brugh!!
Saga duduk di sofa ruang keluarga yang masih bisa melihat langsung ke ruang tamu.
" Hayy Ryan, ada perlu apa?" Tanya Almaeera pura-pura tidak tahu peristiwa kemaren.
" Ahhh, ini mau main aja kok." Jawab Ryan menunduk malu.
Sesekali pemuda itu mencuri-curi pandang kearah Meera.
" Hiih!! Pengen gue colok matamu itu!!" Umpat Saga kesal dengan suara kecil. Dia kesel bukan main saat wajah yang disukainya sejak bayi itu di tatap oleh orang lain.
" Ohhh..." Jawab Meera sambil melirik Saga.
" Universitas Indonesia.." Jawab Meera singkat.
Saga sedikit kaget mendengar nya, disaat dia harus pertukaran mahasiswa, kenapa permata hatinya justru akan ke kampusnya.
" Aku juga akan coba kesana, kita bisa kuliah sama-sama.."
Bugghh!!
" Kurang asyemmm, nih anak. Pen gue remes jadi remahan rempeyek apa lo!!" Lagi, umpatan Saga hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
" Eemmmm, Almaeera lo udah ada cowok belum?" Tanya Ryan langsung keintinya.
Disini Almaeera serba salah. Bilang ada, tapi Saganya nggak pernah nembak, ngomong nggak ada, entar malah jadi ribut.
Padahal dari tempatnya Saga juga panas dingin ingin mendengar jawaban Almaeera.
Pipinya terlihat menonjol disisi kiri dan kadang berpindah ke pipi kananya. Untuk mengurangi nervous nya Saga memainkan lidahnya di dinding pipinya dari dalam mulut. Matanya menatap tajam Almaeera yang memang kebetulan berhadap-hadapan denganya walaupun mereka tidak berada di dalam satu ruangan.
" Almaeera..." Panggil Ryan lagi, karena hampir tiga puluh menitan Almaeera hanya diam.
" Lo udah ada pacar belum?" Tanya Ryan lagi. Mungkin karena saking penasarannya makanya Ryan berusaha mencari jawaban pastinya.
" Eh...i...i..itu..." Almaeera melirik Saga yang juga sedang meliriknya.
Tapi lirikan mata Saga di salah artikan oleh Almaeera.
Lirikan Saga dianggapnya sebagai lirikan kebencian padanya.
" Belum!! Belum ada..." Ucap Almaeera tegas.
Brukk...
Saga merebahkan kepalanya dengan mata terpejam diatas punggung kursi.
Inilah hari kiamat baginya. Hidupnya berakhir hari ini. Dunianya runtuh saat ini juga.
" Kalau boleh tahu, cowok yang kamu suka seperti apa Meera?" Tanya Ryan lagi.
" Yang dewasa, dia harus lebih tua dariku..." Meera membesarkan suaranya, berharap Saga mendengarkan ucapanya, tapi sayang, saat ini semua panca indera Saga telah lumpuh total.
__ADS_1
Pemuda itu tidak lagi mampu mendengar apa yang dibicarakan Ryan dan Meera. Otaknya sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Tapi beberapa saat ketika kewarasan itu hadir, Saga langsung berdiri dan berjalan menuju ke ruang tamu, berdiri di depan Ryan.
" Jadi kamu ingin pacaran sama dia?" Jarinya menunjuk pada Almaeera.
" Ahhh...i..itu..." Ryan gagap, dia kebingungan.
" Kamu kesini mau nembak dia kan!!, tembak aja langsung!!. Kenapa bertele-tele begitu!!" Bentak Saga kesal.
" Ka Saga apa sih?" Almaeera meraih lengan Saga agar diam.
" Tembak cepat!!, aku juga ingin tahu dia nerima lo apa nggak!!" Saga meremas genggaman tangannya kuat-kuat.
" Ryan maaf, kamu pulang dulu deh, kakak aku lagi mode gahar nih...." Almaeera hanya bisa mengambil keputusan itu untuk saat ini. Saga melotot geram disebut sebagai 'kakak'.
Ryan akhirnya pamit, karena situasinya sangat panas saat ini.
" Ka Saga duduk..." Meera menarik tangan Saga untuk duduk, tapi Saga tetap membatu.
" Ka Saga sedang marah saat ini, tolong duduklah, atau mau Mee pangku?"
" Dasar!!" Saga mentoyor kepala Meera dan langsung duduk.
" Apa?? Udah duduk ini" Saga masih terlihat kesal dan terlihat marah.
" Kenapa marah-marah terus sih, jadi nggak suka akunya!!, jadi ilfeel kan aku jadinya!!" Ucap Meera kesal.
" Emang kapan kamu suka aku?, yang kamu suka kan brothy Shinne!!" Sahut Saga.
" Dih sok tahu amat!!, emang situ bisa nerawang isi hati aku apa!" Sela Meera lagi.
" Ya iyalah, emang seperti itu yang terlihat.." Saga masih ketus dan merajuk.
" Berarti yang ka Saga lihat salah, aku suka yang dewasa dan lebih tua. Apa menurut ka Saga yang tua diantara kita cuma brothy Shinne?" Lanjut Meera kesal.
Gadis itupun segera masuk ke kamar, malas aja dia lihat Saga yang jutek begitu.
Ka Saganya yang selalu terlihat manis dimatanya, sampai-sampai dia tidak bisa menatapnya lama-lama. Malah menunjukkan sisi mengerikannya saat marah begitu.
Saga yang merenung diruang tamu mulai mendapatkan pencerahan.
Kata-kata Meera terus terngiang-ngiang.
Apa menurut ka Saga yang tua diantara kita cuma brothy Shinne?
" Yang lebih tua Rasya dan Aku" gumam Saga.
Saga segera berdiri dan berlarian menuju kamar Meera.
Pintu terbuka sedikit, Saga bisa melihat Meera sedang duduk di meja belajar nya.
" Boleh masuk?"
" Masuk aja.."
" Maaf Mee...., ka Saga membuatmu takut.." Ucap Saga diambang pintu.
" Nggak takut tuh.." Sahut Meera
" Mee...ka Saga akan pergi ke Boston menyusul kak Shanum dan brothy, dan itu akan lama Mee..."
"Tapi sebelum itu ka Saga ingin memastikan sesuatu dulu..." Ucap Saga terjeda.
" Mee..., sejak kau lahir sampai hari ini. Semua cinta, kasih sayang, perhatian dan duniaku hanya tertuju padamu.."
" Aku sendiri tidak pernah tahu awalnya bagaimana bisa begini, ka Saga sangat menyukaimu Mee.."
" Jika kau setuju, Apa kau bisa menunggu ka Saga?, sepulang dari Amerika ka Saga akan melamarmu Mee..." lanjut Saga.
" Nah gitu dong!!, kalau gitu kan jelas. Meera kan juga nggak tahan mendemin perasaan Meera lama-lama kak...." sahut Meera lirih dengan menutup wajahnya dengan buku.
" Hah apa?" Saga merasa tubuhnya lemas seketika, jantungnya seakan melompat dari tempatnya.
ππππππππππππππ
Pengumuman.
Jadi banyak reader yang bingung.
π¦ : kok Almeer udah mau kuliah aja sih, kan di Binar Cahya dia baru lulus SD
π© : loh Saga udah kuliah?, kan masih SMA Putra Bangsa.
Jadi begini...
Mulai episode Luigi Travis Daffran, Saga Vino Malik...itu semua sebenarnya hanya spoiler untuk novel Childhood love story season selanjutnya..
__ADS_1
Jadi yang bocil-bocil di Binar Cahya adalah awalnyaππΌππΌππΌππππ