Childhood Love Story

Childhood Love Story
Nasi Liwet


__ADS_3

Daddy, mommy dan Janu turun dari mobil dan langsung menuju lorong ke ruang kepala sekolah. Sementara Ara berbelok ke lorong menuju kelasnya, tapi cekalan tangan Janu dilenganya mengagetkan Ara.


Kepalan tinju Ara hampir mengenai wajah Janu yang dengan tidak sopan menyentuhnya.


Untung saja reflek Janu akurat, dengan cepat dia menangkap kepalan Ara sebelum mendarat di wajah tampannya yang sedikit mirip Rangga itu.


" Eiitsss!!! Tunggu..!!, nih bekalnya, gue bukan bocah TK yang harus bawa-bawa bekal beginian, in---"


" Wah!! Thanks, kalo lo gak mau buat gue aja!!!" Sambar Lenox pada kotak bekal dari tangan Janu.


Ara menatap kedua orang itu bergantian, satunya jutekly abis, dan nggak punya sopan. Dan satunya berandalan brengsek yang meresahkan.


" Hufftt..., terserah lah.." Ucap nya dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


" Janu ayo!, ayo sayang!!" Panggil mommy saat mendapati Janu tidak ada di belakang mereka.


...**...


" Cuy, katanya ada anak baru di kelas kak XII IPA 1, cogan baru cuy!! Lebih ganteng dari kak Rangga.!"


" Masa?? Lo udah ketemu??"


" Udah pas gue ke ruang guru tadi?"


" Nah itu dia guy's, gila man badas gila"


Mata cewek-cewek SMU Bhakti menatap pintu masuk kantin. Dimana empat cowok keren memasuki kantin dan langsung menuju meja yang telah disiapkan oleh Natasya and genk.


Ara diam saja saat Janu duduk di depanya.


Ara itu simpel prinsipnya, lo mau jadi teman gue ayo, nggak!! ya sana pergi. Lo pun boleh benci gue asal lo jangan berani usik gue. Menghadapi cowok modelan Janu sih Ara santai bae. Lo angep gue adik, hari itu juga gue anggep lo kakak. Prinsip hidup Ara simpel, nggak pernah muluk-muluk.


" Ih Li..., lo bikin nasi liwet. Kok aku nggak dibawain beib.." Protes Hana saat melihat isi kotak bekal Ara.


Dan keadaan itu justru dimanfaatkan Lenox yang ada di samping Ara, dengan cepat dia membuka kotaknya.


Senyum manis terbit dari bibirnya, lalu dengan santai dia melambaikan bekal itu tepat di hidung Hana, dan justru mengibas kibaskan telapak tangannya agar bau aroma nasi liwet tercium oleh Hana.


" Ihhh, kok malah Lenox yang dibuatin!!!, lo nggak asik Li!!!" Hana merajuk dengan melipat tanganya di dada, dan membuang muka tepat di hadapan Janu.


" Bukan sengaja aku buatin Lenox beib, aku niatnya buati kakak ipar aku!!" Ujar Ara.


Degh..!!!


Janu menatap Ara sekilas.


Hana yang memang kakak ipar Ara segera merebut kotak itu dari tangan Lenox saat pemuda itu lengah.


" Heii!! Siniin!!" Teriak Lenox murka, tapi Hana tak peduli.


" Lo punya kuping kan?, Lili bilang ini buat kakak iparnya kan?. Dan itu gue!!"


Janu menoleh menatap Hana dengan tatapan terkejut. Ditatapnya wajah Hana dengan intens. Cantik, manis, imut, dan lesung pipinya membuatnya gemas.


Kesalahpahaman dimulai dari sini. Kakak ipar yang dimaksud Ara jelas Janu. Dan Janu notice. Hana yang memang kakak ipar, benar merasa dirinyalah maksud Ara.


Tapi justru Janu salah paham atas Hana. Dia mengira Hana ingin menjadi kakak ipar Ara. Berarti??? Pasanganya??? Entahlah!!!


Pokoknya disini Janu terus-terusan mencuri tatap dengan Hana.


Sementara itu Lenox murka atas kelakuan Hana dengan terus melototkan matanya sampai memerah.


" Ya udah kamu makan ini saja Le..." Ara mendorong kotaknya ke depan Lenox yang mendidih karena marah.


" Kamu kan tadi mendapatkannya secara nggak baik , kamu merebutnya dari seseorang, maka yang kamu dapatkan juga perlakuan yang sama. Ingat Le!!, apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu tuai, dan ini buktinya.." Ucapan Ara kali ini tidak hanya mengena pada Lenox saja, entah kenapa Janu juga tersindir oleh kata-kata Ara.


Sementara Rayya dan Denis berbarengan mengulurkan tangan mereka untuk mengelus kepala istri sahabat mereka itu.


Mereka berdua, Denis dan Rayya. Berjanji untuk menggantikan Rangga dalam menjaga Ara semampunya. Memastikan Ara untuk tidak bersedih dan tidak mengalami kesulitan selama ditinggal Rangga belajar.


Janu membuang muka melihat betapa sayangnya para teman Rangga yang kini menjadi teman barunya ini pada istri sepupunya.

__ADS_1


Denis kini melirik pada gadis di depanya, Natasha.


Natasya berubah sekarang, entah kenapa?.


Beberapa hari sekolah tak ada komunikasi serius antara keduanya.


Kemana hilangnya rasa yang pernah ada diantara keduanya beberapa bulan lalu.


Denis meremat kepalanya frustrasi.


" Besok kita sudah bisa jemput Vera.." Suara Vino yang diam dari tadi mengagetkan mereka.


" Baiklah.., kita bisa bersiap" Ucap Rayya.


" Brothy Marvel menawarkan rumahnya untuk kami tempati" Lanjut Vino.


" Iya, mungkin juga biar ada yang merawat rumah mereka kak.." Sahut Ara.


" Aaaa..." Lenox menyodorkan sendok yang berisi nasi dan telur puyuh di depan mulut Ara.


Ara yang tak sadar langsung menerima begitu saja. Tapi saat terdengar deheman keras Janu, Ara langsung tersadar dan melotot terkejut.


Sementara Lenox tersenyum bahagia.


Janu menatap Ara dalam diam, ada kemarahan dalam tatapanya.


" Aaaa..." Lagi Lenox menyodorkan sendok.


" Aku sudah kenyang Le..,makanlah untukmu..." Lagi-lagi Ara menolak dengan sopan.


" Ra..ikut aku!!" Tiba-tiba Janu menarik tangan Ara untuk keluar dari kantin.


Ara menghempaskan tangan Janu.


" Jangan sentuh aku sembarangan, kak Janu!!" Ucap Ara tegas.


" Sorry.."


" Lo selingkuhin Rangga??" Tanya Janu to the point.


" Nggak!!, apakah yang terlihat seperti itu?" Tanya Ara cuek.


" Ya!!, kamu dan berandal itu ada hubungan kan?"


" Tentu saja ada!!, walaupun teman itu bentuk sebuah hubungan, bukan?" Ara bersedekap santai.


" Cihhh!!!, gadis songong macam lo gini yang jadi pilihan Rangga, gue gak habis fikir" Ucap Janu.


" Maka jangan difikir!!, siapa yang suruh kamu mikir!!!, kurang kerjaan aja!!"


Ara berbalik badan dan meninggalkan Janu begitu saja. Membuat Janu geleng-geleng tak percaya.


" Berani sekali dia, Gila!!" Dan karena bel masuk sudah berbunyi maka Janupun keatas, munuju kelasnya.


***


Sopir keluarga Wijaya telah menunggu menantu dan keponakan tuanya di depan pos sekuriti.


" Kamu nggak pulang ke rumah Li?, Bianca kangen kamu loh" Ucap Ara saat mereka berjalan menuju gerbang.


" InshaAllah akhir minggu ini, sebelum ke panti aku mampir deh..." Jawab Ara.


Ara berlarian saat melihat abang tersayangnya merentangkan tangan menyambutnya di depan gerbang.


" Lili kangen abang..."


" Abang juga mut.." Adnan menciumi seluruh wajah Ara dengan gemas.


Sekarang sangat sulit untuk menghabiskan waktu seperti dulu. Kadang saat Ara kerumah Syakieb justru Adnan tengah berada di rumah Harahap. Atau kalau kebetulan Adnan dan Hana dirumah Syakieb, justru Ara berada di rumah Wijaya.


" Ekhemm, ayo cepetan!!" Suara Janu mengagetkan Ara.

__ADS_1


"Bang Lili pulang dulu ya..., salam buat papa dan mama. Assalamu'alaikum bang, love you so much.." Ara menyempatkan mengecup pipi abangnya dan menuju mobil hitam pekat milik Wijaya.


" Hati-hati sayang, waalaikumsalam.." Sahut Adnan dan Hana sambil melambaikan tangan mereka.


...**...


Natasha kesulitan mengeluarkan motor maticnya, karena sebuah mobil menghalangi jalanya untuk keluar parkiran sekolah.


Tin...tin...tin...tin...


Dengan geram Natasha membunyikan klakson motornya berulang-ulang.


" Brengsek!!, siapa sih tu!!" Natasha menstandar motornya dan segera turun memukul kaca pintu mobil itu geram.


Kaca pintu mobil turun dengan perlahan-lahan dan tampaklah oleh Natasha siapa gerangan yang ada di dalam mobil.


Ya!!, tepat sekali!. Denis, pemuda itu adalah Denis.


Natasha segera berbalik badan saat tahu orang yang dihindarinya justru ada di depanya.


Tapi langkahnya kalah cepat dari cekalan tangan Denis.


" Masuk!!, kita harus bicara!!"


" Nggak mau!!, nggak ada yang perlu dibicarakan!!" Tolak Natasha dengan merota melepaskan diri.


Tapi tenaga perempuan jelas beda dengan tenaga lelaki. Dengan mudahnya Denis bisa menjebloskan Natasha ke dalam mobilnya dan mengunci rapat semua pintu.


" Turunin Natha!!, Natha bawa motor!!" Teriak Natasha.


" Motor kamu ada yang ngurus!, diam dan pasang sabuk pengaman!!" Bentak Denis.


Tapi Natasha tak mengindahkan, gadis itu malah melengos membuang muka keluar kaca jendela.


Ciitttt....


Denis menghentikan mobilnya mendadak. Tiba-tiba tubuh wangi maskulin itu mencondongkan tubuhnya didepan Natasha.


Tangannya melingkar sempurna diatas perut Natasha. Natasha menahan nafas saat wajah Denis saat ini benar-benar telah berada di depan wajahnya.


Bahkan Natasha mampu merasakan hembusan nafas Denis yang hangat menerpa wajahnya.


Ceklikk.


Bunyi sabuk pengaman yang telah terpasang sempurna mengagetkan Natasha dari keterpakuanya.


Dan saat itupun wajah tampan Denis beringsut kembali ke tempat duduknya semula.


Natasha merasa ada yang hilang, saat ini. Melihat Denis yang biasanya ngoceh menjadi diam saja membuatnya merasa kosong.


Tapi kemarahanya belum hilang sampai saat ini.


Hatinya sakit saat melihat Denis berciuman di bandara bersama Rose, bertepatan dengan keberangkatan dirinya ke Australia dua minggu lalu.


^^^Kau playboy brengsek kak.^^^


^^^Sampai kapanpun aku tidak akan jatuh padamu..^^^


^^^Kau mempermainkan aku kak.^^^


^^^Maka terimalah pembalasanku..^^^


^^^Aku Natasha Agil Phrameswari, tak akan pernah tunduk di kaki playboy sepertimu..^^^


^^^



^^^


Natasha Agil Phrameswari.

__ADS_1


__ADS_2