
" Aa...a...." Bianca membuka mulutnya saat Rangga terlambat menyuapi pizza yg tadi dipesannya lewat jasa pengiriman makanan.
Ara tersenyum melihat Bianca yg bisa bahagia bersama nya. Karena ini juga satu rencana Ardi untuk mengurangi interaksinya bersama Bianca.
Karena jujur, Ardi sangat menyayangi Bianca, jadi rasa berat untuk meninggalkannya itu ada. Apalagi dalam waktu yang lama. Ya lima bulan lamanya.
Rangga menatap Ara yang sedang tersenyum, dicubitnya pipi gadis itu gemas.
" Ih...gak double brothy, gak bang Adnan, gak Ardi, kalian semua sama!!!" Geram Ara sambil menggosok pipinya yang perih.
" Dari kecil hobbynya nyubit dan nyosor..." Gumamnya sambil membuang muka.
" Apa.." Tanya Rangga bingung.
" Bukan apa-apa..." Jawab Ara cuek.
Rangga tidak percaya, dia sangat mendengar dengan jelas kata-kata Ara.
" Apa sih...." Tanyanya lagi-lagi sambil memutar tubuh Ara agar menghadapnya, penasaran sudah menguasai otak dan seluruh sendi fikiran nya.
Ara hanya menggendikkan bahunya acuh.
" Apa sih, siapa yang suka nyosor...?" Tanya Rangga sudah pada batas level kepo yg maximal.
Ara bergeser menjauh, agar tidak bisa dijangkau Rangga, malas Ara dibuatnya, sudah susah payah memancing ingatan Rangga tentang siapa dirinya tapi tak kunjung berhasil juga.
" Bukan siapa-siapa ayaaaaang...." Jawab Ara mengalah saja daripada dikejar-kejar pertanyaan yang sama dan berulang-ulang.
Rangga yang dipanggil ayang bukan main senengnya.
" Deal kita salaman " Ucap Rangga bersemangat dengan wajah yang tampak berseri-seri. Dengan cepat dia menyodorkan tanganya pada Ara.
" Buat???" Ara bertanya dengan menyambut tangan Rangga.
" Mulai hari ini dan di masa depan, Lailia Nafeesa Anara akan memanggil diriku Rangga Bayu Wijaya dengan nama panggilan 'ayaang' "
" Ishhh..., apaan sih.." Senyum Ara terbit semakin cantik.
" Talo Bianta?? juda pandilna ayang juda?"
Mereka berdua melongo.
Rangga menepuk jidatnya gemas.
Yah...beginilah kalau kencan barengan bocah. Berasa ngga ada manis manisnya gitu.
Mereka membersihkan bekas makan mereka, rencananya setelah ini mereka akan ke pasar malam.
Tapi saat ini Bianca sudah sibuk ingin main ditaman kota, dimana banyak wahana mainan anak-anak disana, bahkan Ardi sering membawa nya kesana.
Waktu masih sore saat mereka telah sampai di taman kota. Bianca berlari kesana sini. Permainan yng ditujunya, adalah jungkat-jungkit, dimana Bianca berpasangan dengan Ara melawan Rangga.
Tawa lepas ketiganya mengiringi kebahagiaan yg terpancar dari wajah mereka.
Ini adalah puncak kebahagiaan yg dirasakan Rangga selama ini.
Dimana hidupnya dulu yang hanya di isi sekolah, rumah dan belajar, kini berwarna-warni bagai pelangi.
__ADS_1
Dan jangan lupakan, dia anak tunggal yg selalu ditinggal bisnis orang tua nya seminggu, dua minggu, bahkan berbulan.
Setelah capek memutari dan mencoba semua permainan kecuali perosotan, mereka duduk disamping motor Rangga, menunggu waktu sholat Ashar.
Rangga duduk dengan menyelonjorkan kakinya, sedangkan Bianca lagi-lagi berbaring di pangkuannya. Ara terlihat menatap Bianca sambil cemberut.
Rangga melihat Ara yg bertampang seperti itu pun gemas.
" Kenapa hemmm, iri sama Bian?, mau pangkuan di sini juga?" Olok Rangga dengan melipat bibirnya, menahan senyumnya.
"Nggak tuh..." Jawab Ara jutek. Padahal Ara masih mau naik ayunan, tapi Bianca justru mengeluh capek dan pingin istirahat.
" Sini..." Rangga menggeser kepala Bianca pada sisi pahanya, dan menepuk satu pahanya untuk Ara.
" Baringkan kepalamu disini..." Lanjutnya.
Ara ragu-ragu, tapi sudut hatinya ingin.
Rangga terpingkal dalam diam, bibirnya terlipat semakin dalam. Ingin tertawa tapi takut dosa.
Lihatlah sikap malu-malunya membuat ku gumush...gumush...gumush...
Dengan gerakan cepat Rangga meraih kepala Ara untuk di baringkan diatas pahanya.
Awalnya Ara meronta tapi lambat laun dia pasrah saja saat tangan Rangga terus menahan kepalanya.
Ara menatap wajah tampan itu dari bawah. Tak menyangka sama sekali, pria kecilnya dulu berubah menjadi pria yg seperti ini.
Wajah tampannya sungguh membuat Ara berdebar, matanya, hidungnya, bibirnya, ntah mengapa semua yang ada pada pemuda ini membuat Ara terpesona.
Tetap sama, tetap tampan seperti dulu, tetap membuatnya jatuh cinta seperti dulu, tetap disukainya seperti dulu.
" Kak..." Ara memanggilnya dengan lirih.
" Hemmm..." Jawab singkat Rangga dengan hanya melirik padanya, bibirnya mengecup- ngecup bunga rumput yg dipegangnya.
Rangga saat ini juga sedang melamun, dengan banyaknya sikap Ara yg merujuk pada Lilinya, semakin dibuat dilema.
Satu sisi Jessica, yang sangat berbanding terbalik dengan image Lili kecilnya. Dan Ara, orang yang diyakini sebagai orang baru dalam hidupnya, tapi mempunyai tidak hanya satu, tapi banyak kemiripan dengan Lilinya.
Bagaimana tidak, tadi Ara menjerit ketakutan saat Bianca naik ke perosotan tanpa pengawasan mereka.
Bahkan badan Ara menggigil ketakutan, titik-titik keringat dingin nampak pada wajahnya yang pucat.
Mendengar Ara memanggilnya lagi, Rangga menunduk kebawah, menatap mata indah Ara.
"Apa sayang..." Tanya Rangga lembut dengan bunga rumput yg kini digesek- gesekan dengan lembut ke seluruh wajah Ara. Ara terpejam saat gesekan itu membuatnya geli.
" Kita sudah sepakat tadi, tidak ada lagi kakak sayang..., hanya ayang" Bisik Rangga.
Ara hanya mengangguk.
" Ini seumpama ya...., seumpama Ara ternyata bukanlah seperti yg kakak harapkan, bagimana?" Tanya Ara sambil menatap Rangga lekat.
" Maksudnya gimana..?" Ucapnya sambil terus menggesek lembut bunga rumput, yang kini hanya fokus di bibir Ara.
" Ara udah pernah dicium cowok kak, eh yang...Ara minta maaf..." Jawab Ara sambil menahan bunga rumput yg berada diatas bibirnya.
__ADS_1
Rangga terpaku, dadanya bergemuruh hebat. Marah, muak dan geram bekecamuk dalam dadanya.
Ingin sekali dia meninju motornya yang terparkir di sampingannya.
" Siapa...?" Tanya Rangga dengan suara berat dan datar.
" Cowok spesial..., tampan, lucu, baik dan sedikit cengeng, tapi Ara suka." Ara berbicara tentang cowok lain dengan intonasi yg biasa saja, membuat Rangga murka luar biasa. Loss dooolll!!!
" Siapa dia???" Tanya Rangga lagi dengan mata yang memerah dan genggaman tangan yg terkepal.
Ara yg takut dengan reaksi yg ditunjukkan Ranggapun segara duduk dan menggosok lengan pemuda itu lembut.
" Kakak..."
Baru saja Ara akan bicara Rangga telah memelototinya.
" Ay...ayang marah dan cemburu dengan bocah delapan tahun?" Mata Ara yg menatap nya lembut membuat hati Rangga yg panas bagai tersiram air es, sejuk seketika.
Rangga terkesiap. Nggak level lah yaw...cemburu kok sama bocil!!!.
Lagi dan lagi, suatu petunjuk membuatnya terpaku.
Bagaimana Rangga akan marah dengan kejujuran Ara. Sedangkan dirinya sendiri juga tidak seperti yg diharapkan Ara.
Bahkan dia sendiri di usia delapan tahunnya sudah berani mencium anak orang.
"Kakak tidak marah, kakak tidak cemburu, apalah hebatnya anak delapan tahun itu, kakak juga mau jujur padamu, kakakpun tak sebaik yg Ara kira...., maafkan kakak..." Ucap Rangga dengan penuh rasa benci pada pria kecil yg telah mencium kekasihnya ini.
" Tapi untuk kedepanya, tidak akan ada yg lainya, only you my Ara...." Dicubitnya dagu Ara. Matanya menatap lekat pada bibir yg sedikit terbuka karena cubitanya.
Wajah Rangga maju sedikit demi sedikit, Ara merasa sesuatu yg belum saatnya akan terjadi segera menutup mata.
Sampai pada saat bibir itu hendak bersentuhan, ketiga jari Ara dengan cepat membuat blokade jarak agar kedua benda kenyal itu untuk tidak saling bertemu.
Ara menggelengkan kepalanya...
"Maaf..." Ucapnya lirih. Rangga hanya diam.
Kedua matanya terpejam lama, dan sangat lama. Rangga sedang berusaha menurunkan sesuatu yg terlanjur menggila di dalamnya.
Ara bingung harus bagaimana?, walaupun restu sudah turun, tidakkah harus menunggu sampai saat yg tepat bukan.
Semakin kesini Arapun semakin merasakan betapa dia takut kehilangan Rangga.
Bertahun lamanya dia menunggu kekasih kecilnya. Berulang kali ke Jogja untuk sekedar singgah dirumah kosong yg selalu ditujunya. Berharap muncul pria kecil yg selalu berlari menyambutnya dengan tangan yang terentang lebar sambil berteriak-teriak memanggil namanya.
Nama kecilnya, 'dedek Lili'.
Rindu..sungguh Ara rindu masa-masa itu.
" Bianta nanti bilang cama om Aldi talo om Langga mau cum nty Ala..."
" Jangan..." Teriak mereka bersama-sama.
" Jangan Bian, nanti om Rangga ditinju om Ardi dong..., Bian nggak sayang om..?" Tanya Rangga dengan memasang wajah melas.
"Nggak cayang tu..., Bianta hanya cayang om Aldi..."
__ADS_1
" Ye..Bianca nggak asyik..., pulang yuk..., nggak jadi deh ke pasar malam.." Ucap Rangga dengan tampang betenya.
" Yee...Bianta tan belcanda om....ayo pelgi pacal malam..., Bianta tasi deh om Langga cum nty Ala..."