
POV Rangga
Aku memikirkan semua yang diucapkan Denis hari ini.
"Ya untung aja kelakuan Bram ketahuan pas mereka belum tunangan gini, kalo udah tunangan atau bahkan udah nikah gimana dong, pasti malu kan keluarga kalo sampai berpisah gini "
Ya Tuhan aku sangat pusing memikirkan masalahku akhir-akhir ini.
Tapi aku juga harus bertanggungjawab dengan semua perbuatan ku.
Semua ini berawal dari kebodohanku!!!, tak bisa mengenali Liliku dari awal.
Dan dengan sangat begonya aku bisa menganggap orang lain sebagai Lili kecilku, sampai membutakan mata hatiku.
Sebenarnya dari awal perkenalan kami saja aku bisa menarik kesimpulan kalau dia bukan Liliku.
Tapi hanya dia yg dari Bandung di angkatanya saat itu.
Inilah awal penyesalaku....
Penyesalan yg tidak bisa membawaku kembali kepermukaan.
Ya, aku telah jatuh tenggelam...
Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
Haruskah aku jujur dengan Lili tentang ini semua?
Bagaimana reaksinya?
Ya Tuhan ampunilah hamba..
Gadis itu...Liliku...
Gadis yg bisa mendebarkan hatiku, baik dahulu ataupun sekarang.
Dahulu...
Ya dulu sekali sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat daddy menggendongnya dan memperkenalkan nya padaku
" Son, Aga sayang..., lihat boneka cantik yang daddy bawa, dia dedek Lili..., putri om Kieb, sahabat daddy, nah ayo kenalan..."
Mataku tak kuasa berkedip saat itu.
Cantik!!!, sungguh cantik.
Benar kata daddy kalau gadis itu mirip boneka, ah salah...justru boneka yg mirip dia.
Matanya yang bulat berbinar-binar saat menatap ku, imut!!, lebih dari definisi imut.
Senyumnya yang manis sungguh membuat detakan yang sangat hebat di dadaku.
Aku akan mengamuk dan menangis setiap kali dia kembali ke Bandung.
Sampai-sampai daddy menyempatkan untuk mengantarkan aku ke Bandung setiap weekend.
Entah kenapa aku selalu lupa diri setiap kali bersamanya.
Bahkan aku rela dipukul berulang kali oleh Anca, saudara kembarnya yg ku ketahui kini bahwa namanya adalah Ardiansyah.
Dia, pria kecil yg menjadi sainganku!!!, dahulu aku membencinya. Dia selalu mengganggu!!!.
Liliku, selalu membuatku merasa nyaman, aku yg tantrum dari keci selalu merasakan ketenangan setiap bersamanya.
Dan satu lagi, karena Liliku begitu imut, membuatku gila dan dengan beraninya aku diam-diam selalu menciumi pipinya.
Dan itu hal gila yg aku kulakukan saat itu, bahkan akupun malu tiap kali mengingat itu.
Ya.., dedek Lili..
Hanya itu nama yang aku tahu saat itu.
Dialah gadis pertama yang mendebarkan hatiku.
Dan detak itu kembali lagi, menggila lagi. Tepatnya pada awal pelajaran baru dimulai, itu sekitar enam bulan yang lalu.
Seorang gadis manis berjilbab berdiri di depan aula. Walau tak langsung melihat wajahnya, hatiku dengan cepat bereaksi padanya. Detakan dihatiku saat itu luar biasa hebatnya, bahkan rasanya hampir bisa meruntuhkan semua organ dalamku.
Seandainya aku menyadari saat itu dialah Liliku...
Tapi semua terlambat kini...
Jessica yang ku kira Lili, dengan beraninya menjebakku di situasi yang sangat sulit.
Dia sungguh kurang ajar!!
Beraninya dia mengumpankan aku pada keluarga nya.
Beraninya dia menuduhku telah menghamili nya.
Cuih!!
Bahkan akupun tak sudi menyentuh gadis lain selain Liliku.
Tidak Jessica, tidak juga gadis lainya, tak pernah ada!
__ADS_1
Tubuhku, felling ku, hatiku..hanya bereaksi padanya saja..
Padanya..., pada Liliku.
Aku mencintainya, sungguh cinta..bahkan di usiaku yang baru delapan tahun kala itu.
Tapi sayang, hanya dua tahun kebersamaan ku dengannya...
Aku kehilangan dia...
Liliku tak ada lagi di Bandung..
Tak ada lagi di Jogja..
Hatiku sakit bertahun-tahun, apalagi di tambah kepindahan kami ke Singapura sampai aku lulus SD.
Dua hari ini aku merasa dia mengetahui sesuatu.
Dia terus-terusan bertanya aku dimana?
Dan aku terus-terusan membohonginya.
Maaf..
Maafkan aku sayang..
Bukan mauku seperti ini.
Aku hanya mencoba mengikuti mau Jessica, aku hanya ingin mencari celah yang ada.
Aku mencari cara untuk membersihkan namaku lagi.
Aku tau dari daddy bahwa papa Syakieb mertuaku adalah orang yg menjujung tinggi kejujuran.
Orang yg bisa melakukan apa saja demi menyingkirkan pembohong dari sekitarnya.
Dan aku???
Bagaimana dengan nasibku?, menantunya yg bahkan baru lima hari ini, sudah berani membohongi putrinya.
Aku pernah berjanji pada Liliku..
Aku akan menyelesaikan ini..
Menyelesaikan permasalahanku dengan Jessica.
Tapi semakin kesini justru semakin rumit yang ku rasa.
Aku curiga keluarga nya ingin melakukan sesuatu padaku.
Pada sore itu aku mengantarkan nya pulang ke Bandung, karena bu Sasti ada acara.
Ibunya memberikanku secangkir teh saat itu, dan entah kenapa aku menjadi mengantuk yang luar biasa.
Saat aku bangun tidak terjadi apapun padaku, tidak ada yang aneh saat itu.
Tapi kenapa muncul fotoku yang tidur dengannya???
Kapan???
Ya Allah mohon bukakan kebenarannya...
Aku takut, sangat takut..
Jika sampai foto itu sampai ke tangan keluarga Lili aku pasti GILA!!!!.
Ya..aku pasti GILA kalau harus berpisah dengan Liliku..
Dan karena foto itulah aku bagaikan sapi yg dicucuk hidungnya oleh Jessica.
Aku harus menurutinya agar foto itu tak tersebar kemana-mana.Bahkan aku sampai rela membohongi cintaku untuk menyelamatkan hubunganku.
Sumpah!!!
Aku tak bisa lagi berpisah denganmu seperti dulu sayang...
Aku gila saat itu..
Setiap hari hanya menangis, mengamuk..
Aku tidak sanggup seperti itu lagi sayang..
Maafkan aku sayang....
***
Tett....tett...
Bel pulang sekolah membuat Rangga tersadar dari lamunanya.
" Yu ah...kita kebawah.." Tepukan Denis membuatnya segera ikut beranjak.
Mereka bertiga kini telah sampai di depan gerbang dengan motornya masing-masing.
Tapi dari arah koridor dalam hanya terlihat tiga orang saja yang berangkulan menuju ke tempat mereka.
__ADS_1
Dan itu adalah, Hana, Vera dan Natasya.
Lalu Ara dimana?
Hana segera menuju depan satpam untuk menunggu Adnan.
Vera langsung duduk diboncengan Vino, pun Natasya.
" Kau nungguin Ara kan bro?, kami cabut dulu ya..." Pamit Denis dan Ranggapun menganggukkan kepalanya.
Drt..drt..drt..
Ponselnya terus saja berbunyi, membuatnya merogoh celananya dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
" Ada apa Jess.."
" Kak perut Jessi keram, Jessi ada di UKS.."
"Gue udah pulang dari tadi!!" Ucap Rangga bohong.
" Nggak!!, aku sempat ngeliat kakak diparkiran tadi.., kesini atau tante Sasti akan mengirim foto itu ke kantor papa kakak??"
" Brengsek!!!!"
Rangga meremat ponselnya geram.
Dan segera turun dari motornya, bergegas ke UKS.
Ara dan Candra baru keluar dari ruang guru.
Sejam yg lalu ibunya Lenox menelpon Ara untuk minta tolong di bawakan kartu kesehatan siswa dari SMU Bhakti.
Dan ternyata guru yang bertugas sedang tidak hadir, maka mereka dipersilahkan menemui penjaga piket UKS hari ini untuk memintanya langsung kesana.
Mereka berduapun menuju ke UKS.
Saat memasuki UKS, Ara melihat sepatu Rangga ada di rak depan ruangan.
" Loh, dia belum pulang ya?, apa dia sakit?"
Ara berfikir mungkin Rangga sakit karena cuma sarapan roti tadi pagi.
Tapi saat melintasi bilik yang tirainya sedikit terbuka matanya terbelalak melihat Rangga dan Jessica ada di sana.
Degh!!!
Ara menghembuskan nafasnya yang sesak.
Ara segera menetralkan raut wajah dan sikapnya, walaupun hatinya sudah sangat hancur dan porak poranda, lebih dari tersapu gempa.
Rangga pun sama, tubuhnya langsung terpaku di tempat.
Jatungnya derdetak bagai pacuan kuda.
Ya, Rangga terciduk sekarang.
Sebagai suami yang tertangkap selingkuh.
Ara tak peduli, dilewatinya Rangga begitu saja, bahkan menyapapun tidak.
Chandra yang bersamanya pun heran melihat situasi ini.
Kok keduanya saling cuek begini.
Padahan dikelas kemaren mereka mesra banget walau cuma bisik-bisik dan bersenandung berdua.
Chandra hanya mengamati tidak perlu ikut bicara.
Sekali lagi Ara melewatinya begitu saja saat urusanya di UKS sudah selesai.
Sedangkan Chandra saja masih tersenyum dan menyapa Rangga.
Tapi Ara??
Jangankan menoleh, menganggap Rangga adapun tidak.
" Jess, sorry banget, gue harus pulang sekarang..."
Rangga langsung berlari keluar ruangan dan berusaha mengejar Ara.
Ara terlihat telah duduk diboncengan Chandra. Rencananya mereka akan ke tempat Lenox.
Sedikit banyak Chandra itu masih mengenal Lenox dengan baik karena dulu mereka satu SMP.
Motor Chandra melaju ke arah rumah sakit dengan kecepatan sedang, tiba-tiba dijalan sebuah motor memblokir jalan mereka, menghasilkan suara decitan yang nyaring dan miris jika di dengar.
Ara mengenali motor dan pengemudinya.
Ya tentu saja dia adalah Rangga, suaminya.
" Cepet turun!!, pindah sini!!" Bentuknya pada Ara.
Ara yg tidak mau ribut segera turun dari motor Chandra.
" Chand, maaf ya..., kita jenguk Lenox lain waktu aja, terimakasih udah mau nganterin..., maaf ya.." Ucap Ara sungkan.
__ADS_1
" Yahh, ngga papa Laili.., oke kalo gitu gue duluan ya, bye Lailia.."
Chandra segera melesat meninggalkan mereka yang terlihat tegang.