Childhood Love Story

Childhood Love Story
Boleh kakak memelukmu?


__ADS_3

" Sampai kapan kamu mengurungku kak? Aku harus pulang, banyak tugas dari dosen aku tuh..." Gerutu Ara.


" Ini rumah kita, terus kamu mau pulang kemana?" Ucap Rangga tegas dengan tangan sibuk menguncir rambutnya.


Ara hanya diam. Jujur Ara masih bingung untuk mengambil sikap saat ini.


" Kenapa ambil kedokteran sayang?" Tanya Rangga. Lalu mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang.


" Suka-suka aku lah.." Jawab Ara ketus


" Nggak boleh ketus-ketus sama suami kan?, lupa atau gimana?. Atau mau dihukum bibirnya itu.." Sindir Rangga dengan mengelus jilbab Ara pelan.


" Kenapa masih menutup aurat di depan suami? Hemmm. Aku masih suamimu kan?" Tanya Rangga sedih.


Ara menundukkan kepalanya. Jemarinya saling menaut satu sama lain.


" Sudahlah, kenapa ambil kedokteran hemm?"


" Suka aja..." Jawab Ara singkat.


" Tapi itu akan lama, untuk spesialis bisa 7 sampai 10 tahun..." Sahut Rangga.


" Jalanin ajalah...." Lagi Ara hanya menyahut singkat.


" Kedokteran umum saja ya, 3tahun lagi kelar kan. Kalau dikejar dengan serius, tahun depan sudah bisa Ko As.."


" Ini juga serius kok!, siapa bilang main-main..."Sahut Ara.


Rangga tertawa kecil, meraih jemari tangan Ara untuk digenggamannya.



" Kita sepertinya harus merencanakan punya mainan imut seperti Saga dan Rasya" Rangga menerawang jauh.


" Maksudnya?" Ara menolehkan kepalanya menatap Rangga.


" Kakak pengen seperti Vino sayang, Vino terlihat keren, He's looking good be a young daddy. Terlihat gagah dan macho, manly banget Vino"


"Ckk kamu ini, keadaan kita saja masih kayak gini.." Ara menelungkupkan badanya, menyembunyikan wajahnya ke bantal.


" Nah itulah makanya, kakak akan benahi semua.... Kita bangun lagi semua dari awal" Rangga terus mengelus kepala Ara.


" Kamu mau kan sayang?, sayang...." Rangga mengguncang pundak Ara pelan.


Tapi Ara tetap diam dan semakin menyembunyikan wajahnya.


Rangga mulai ikut berbaring, lalu dengan pelan memeluk Ara dari belakang.


" Kakak minta maaf sayang..... Kakak mohon ampun..., sudah cukup hukuman yang kamu berikan sayang, lima tahun kau abaikan sudah cukup membuatku ingin mati..., benar sayang. Kakak sempat terlintas ingin bunuh diri saat harus wisuda seorang diri tanpa kamu, mommy dan daddy..." Rangga semakin mempererat pelukanya.


Dapat Ara rasakan air merembes di punggungnya, ya..bisa di pastikan itu adalah air mata Rangga


Rangga kembali meraih jemari Ara dan dibawanya untuk menyentuh wajahnya.


" Cincinmu kemana?" Tanya Rangga.


" Buang..." Jawab Ara.


" Benarkah?, lalu ini apa?" Tanya Rangga ketus lalu mengeluarkan cincin yang ditemukannya di mesin cuci tadi pagi.


" Nggak penting lagi, buat apa dipakai. Kamu juga tidak memakainya. Memangnya hanya kamu saja yang pengen terlihat single, aku juga kali..." Jawab Ara dengan cepat-cepat duduk.


" Benarkah?, terus kenapa sampai hari ini kamu tidak juga menerima Lenox??, hemmm.." Tanya Rangga dan juga ikut duduk.


Ujung telunjuknya mengangkat dagu Ara agar menatapnya


" Kenapa? hemmm " Rangga mengerlingkan sebelah matanya.


" Tau dari mana?" Ara kembali menundukkan kepalanya.


" Chandra..." Sahut Rangga cepat.


Ara diam tak berkutik.


" Kakak tidak memakainya lagi karena sudah tidak muat di jari kakak sayang. Sudah sempit, bukan berarti niat.." Rangga mencoba menjelaskan lagi. Apapun akan dia luruskan sekarang, semua harus jelas dan clear.


Sudah saatnya mereka menata hidup berumah tangga mereka dengan benar.


Sudah saatnya mereka mulai harus menatap masa depan.


Hidup terus berjalan, jangan terus diisi pertengkaran dan pertengkaran. Sudah cukup main-main kekanak-kanakan seperti ini.


Saatnya maju, merenda masa depan yang indah. InsyaAllah...


...***...


Rangga masih mengurung Ara, tapi tidak lagi di dalam kamar, karena hanya pintu depan saja yang dikuncinya. Sebenarnya dia hanya tidak mau istrinya itu bertingkah lagi. Hari ini dia berniat untuk membenahi semua.

__ADS_1


Pertama dia harus kerumah daddy dan mommynya. Memohon ampun untuk semua kesalahannya. Dan selanjutnya kerumah mertuanya lalu dilanjutkan ke kedua kakak Ara.


Bersyukur Rangga memiliki mertua yang baiknya luar biasa seperti papa Syakieb dan mama Neela.


Ranggapun berencana untuk membuat pesta pernikahan ulang untuk mereka kembali, yang sebelumnya sempat kacau.


Kedua orang tua dan mertuanya pun menyetujuinya. Dukungan dari para sahabat dan kedua kakak Arapun sudah didapatkan.


Tinggal bagaimana menaklukkan singa betina yang masih merajuk itu.


Rangga memasukkan buku-buku Ara ke dalam koper besar, sementara bi Marni membantu mengepak baju-baju Ara. Rencananya Rangga ingin belajar hidup mandiri dulu bersama Ara. Berharap hubungan yang panas kembali redam dengan interaksi yang hanya ada mereka berdua saja.


Empat koper besar kini telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil Rangga.


Tapi Rangga merasa ada yang janggal. Dari tadi rumah mertuanya ini sangat sepi, tidak seperti biasanya.


Ahhh!! Ya...Bianca. Kemana gadis itu?. Pasti sudah besar sekarang...


" Bi.., Bianca mana?" Tanya Rangga.


" Non Bianca dan non Azura sudah pindah rumah setahun yang lalu..." Jawab bi Marni.


" Loh??, kenapa??"


" Ya nggak mungkinlah den.., masa calon suami istri harus tinggal satu rumah.." Jawaban bu Marni membuat Rangga mengernyitkan keningnya.


" Den Ardi sudah tunangan dengan non Azura setahun yang lalu, den Rangga. Dan sekarang non Azura sedang berada di Kairo untuk belajar...."


Begitu banyak yang terlewati olehnya sejauh ini.


" Jadi Bianca?"


" Dirumah mereka bersama den Ardi, tapi sebentar lagi juga datang.." Ucap bi Marni lagi.


" Assalamualaikum....Momo...Bianca pulang...." Teriakan Bianca membuat Rangga langsung menoleh.


" Bianca..." Panggil Rangga.


" Om...Ranggaaaaaa..." Bianca langsung berlari memeluk Rangga yang berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis itu.


"Udah bisa panggil om Rangga sekarang ya..., dulu aja om Langgaaaa..." Ucap Rangga sambil menciumi wajah cantik Bianca.


" Ekhhemmm" Suara deheman Ardi membuat Rangga menoleh.


" Hai Di apa kabar? congratulations ya..." Ranggq menyodorkan tanganya.


" Your engagement, Jadi yang kau tangisi malam pesta ulang tahun itu mmynya Bianca ya ha..ha..ha.."


" Hah apaan??, Gue nangis?, sorry!!. Gue ini Ardi!! bukan Rangga!!" Ketus Ardi dengan melemparkan tubuhnya ke sofa.


" Ckck masih pura-pura, mau aku ingatkan nggak?, atau videonya langsung ni?" Rangga ikut duduk di samping Ardi.


" Gue ngga pernah menyangka lo nangis seperti itu karena cewek.." Rangga tersenyum melihat Ardi salah tingkah.


" Diem lo!!, lo salah sangka, waktu itu mata gue kemasukan debu!!" Sanggah Ardi.


" Ya, dan debunya itu brothy Brian kan?" Rangga semakin mendekatkan duduknya kearah Ardi.


" Sanaan, gue gerah!!" Usir Ardi dengan mendorong tubuh Rangga agar menjauh.


"Kalau Azura yang duduk deketan kok kamu nggak gerah ha..ha. "


Rangga semakin ingin menggoda Ardi yang terlihat memerah karena malu.


Ardi menutup telinganya saat Rangga terus-menerus menggodanya.


Beberapa saat mereka terdiam, tak saling bicara, Biancapun mengikuti mama ke dapur membuat kue.


" Di, gue mau minta maaf sama lo..., gue gagal... Gue nggak bisa membuat istri gue bahagia. Gue...." Rangga meremas jemarinya kuat-kuat, mencoba tegar.


" Gue tahu gue ini..brengsek menjijikan Di!!, tapi tolong jangan pisahkan gue dengan adik lo. Lo bisa hukum gue apa aja asal jangan yang satu itu..." Rangga menunduk dalam.


" Huuuhhhh, maunya gue nonjokin lo sampai mampus saat ini juga.... Tapi masalahnya adek gue cinta mati sama lo. Jika gue buat lo mati, pasti adek gue ikut mati juga, bersyukurlah lo bisa milikin adek gue..."


" Karena selama lo nggak ada, dan lo nggak dateng di acara perta pernikahan itu... Banyak lamaran yang masuk ke kami..."


" Bahkan beberapa terang-terangan datang ke kampus adek gue membuat pernyataan yang wah..."


"Dan apa kau tahu. Itu berlanjut sampai saat ini.."


Rangga merasa dadanya bagai ditusuk-tusuk ribuan belati. Sakit tapi tak berdarah.


Dan dia percaya itu, tidak mungkin gadis secantik istrinya dibiarkan nganggur oleh mata jahat.


Tapi mengingat Ardi tadi sempat bilang bahwa Ara cinta mati padanya.


Rangga cepat-cepat berdiri dan pamit pulang.

__ADS_1


" Gue balik dulu lah...Bian.... Om Langga pulang ya..." Teriak Rangga.


" Ikut om...." Bianca berlarian ke ruang keluarga.


"Jangan sekarang sayang.., om Rangga ada keperluan penting, nanti saja kita kesana sama momo ya......" Mama Neela mencoba menghalangi. Karena mama sangat tahu Rangga dan Ara saat ini butuh berduaan saja.


Rangga hanya bisa tersenyum dan mengelus tengkuknya malu-malu.


...***...


" Sayang...." Seru Rangga begitu membuka pintu apartemen nya.


Tidak ada sahutan sama sekali.


Brug..brak...


Dilemparkanya begitu saja koper dan tas yang dibawahnya. Dengan cepat pemuda itu berlari ke kamar atas. Dia sangat khawatir Ara pergi untuk meninggalkannya.


" Sayang..." Rangga mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.


Suara gemericik di kamar mandi membuatnya lega. Terlihat Rangga beberapa kali mengusap dadanya.


Bergegas dia kembali ke bawah untuk mengambil koper.


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka saat Rangga sedang menyusun baju-baju Ara di lemari.


Rangga menoleh mendapati istrinya sedang menggosok rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil.


" Sini sayang.., biar kakak bantu keringkan" Rangga mengambil alih handuk itu ke tanganya. Membawa Ara untuk duduk disofa dan membantu mengusap rambut basah Ara.


Rangga mengusap rambut Ara dengan tangan bergetar dan dada berdebar hebat.


Ara pun demikian, wajahnya terasa panas bagai terbakar.


" Sayang......" Suara Rangga begitu sendu.


" Hemmmm"


" Kau......, kau....., kau tidak kangen padaku?" Tanya Rangga dengan dada yang teramat sesak.


Sesak karena melihat Ara mampu bersikap begitu tegar.


Rangga takut Aranya tidak memiliki getaran padanya lagi.


Rangga takut Aranya tidak memiliki rasa cinta padanya lagi.


Awalnya dia sempat yakin dengan ucapan Ardi tadi, bahwa Ara cinta mati padanya, tapi melihat begitu dinginya Ara bersikap.


Membuatnya ragu-ragu.


Ara tertegun sejenak mendengar pertanyaan Rangga.


Kangen???


Jelas aku kangen lebih dari yang kau rasa kak...


" Sayang...." Rangga kembali memanggil Ara pelan, sangat pelan dan dengan suara yang menyedihkan.


" Hemmmm..."


" Boleh kakak memelukmu sayang...." Rangga tidak mampu lagi menunggu. Rangga sudah sangat rindu....


" Boleh???" Suaranya semakin serak, bahkan kini kedua matanya memerah menahan tangis.


Ara mengangguk lemah, dan Rangga pun segera menyambarnya.



" Maafkan kakak sayang..., demi Allah maafkan kakak... Kakak berjanji akan mengganti semua tangismu dengan kebahagiaan. Berikan kakak kesempatan sayang..kakak mohon.." Rangga mendekap Ara dengan erat.


Tangis mereka tertumpah, luruh bersama dendam yang mengalir deras sederas air mata mereka..


Pergilah duka, lara dan nestapa..


Selamat datang bahagia....


Takkan kulepas lagi setelah ini..


Takkan ku sia-siakan lagi sehabis ini..


Cukup...


Cukup sudah air mata tercurah..


Cukup sudah sesak ini...cukup..

__ADS_1


__ADS_2