
"Ra, lo liat gak tampang geram kak Rangga saat teman bang Adnan ngasih lo bunga tadi..?" tanya Natasha saat mereka kini berada di kamar yg memang disediakan Adnan untuk mereka berempat.
"Nggak liat tuh..." Jawab Ara santai sambil tanganya mengusapkan kapas pembersih di wajahnya.
" Lo jangan terlalu cuek sama kak Rangga napa Ra..., lo nyesel nanti.." Vera yang bersila di atas ranjang sambil ngotak ngatik ponsel ikut nimbrung.
" Lusa doi berangkat ke Kanada apa lo tau Ra..." Lanjutnya.
Ara mengangguk, sejenak gadis itu menghentikan aktivitas nya. Matanya menatap pantulan matanya sendiri di cermin.
" Aku nggak cuek Ver..cuma..."
" Malu !!???, ih..kak Rangga kan bukan orang baru di hidup lo Ra..." Sambar Vera sambil berjalan menghampiri Ara.
" Besok kak Rangga mengajak aku bolos..." Ucap Ara pelan saat Vera sudah berada di belakangnya.
" Hah..!!! What????" Teriak Vera dan Natasha kompak.
Sedang Hanum yg sudah tertidur dengan buku yg menutupi wajahnya terjingkat kaget.
" Wah..wah...gila!!!, kak Rangga gercep juga ya....."Natasha bertepuk tangan.
" Trus lo mau kan Ra?" Tanya Vera kepo.
" Jangan bilang lo nggak mau Ra..." Todong Natasha dengan jari telunjuk mengarah ke wajah cantik Ara.
" Masalahnya kita udah nggak masuk sekolah dua hari dan....'"
" Nambah sehari nggak papa lah, udah cepet lo tidur..., biar lo besok fresh ketemu ayang...." Sela Natasha dengan segera dia mengangkat bahu Ara untuk berdiri. Didorong nya tubuh Ara nenuju ranjang double dikamar itu.
" Num geseran dikit dong, ni Ara mau bobok cantik, besok dia ada date dengan mas Aga..." Vera menggeser tubuh Hanum yg tak bergerak karena benar-benar pulas.
****
Di restoran hotel pagi ini ramai dengan keluarga Al Ghifari yg menjadwalkan akan sarapan bersama.
Terlihat formasi sudah lengkap minus Adnan dan Hana.
Kakek duduk di kursi utama sambil membaca koran. Sedang papa Syakieb duduk di sisi kirinya sambil memangku Bianca. Dan paman Syahril duduk di kursi sisi kanan kakek dengan matanya fokus pada tab nya.
Adnan memasuki restoran dengan sedikit berlari.
" Maaf kek, paman , pa....Adnan terlambat..." Ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya disamping mama Neela.
" Hana mana sayang..?" Tanya mama Neela.
" Hana....." Kata-kata Adnan mengambang.
" Biarlah ora popo..., gadis itu pasti capek" Ucap kakek sambil melipat bibirnya kedalam, menyembunyikan senyumnya.
" Mari mulai sarapan " Lanjut kakek.
Brian yg mengerti arti senyuman kakeknya pun melempar daun selada ke arah wajah Adnan.
" Wah udah nggak perjaka lo..." Bisiknya sambil menaik turunkan alisnya.
Muka Adnan berubah merah padam, dan sedikit menunduk malu.
Brian sangat puas melihat wajah Adnan yg begitu imut.
__ADS_1
Kini pandangan matanya pindah kesampingnya, pada saudara kembarnya.
" Jadi berapa ronde lo semalem bro..." Bisik Brian disamping telinga Marvel.
Pria yang sangat mirip denganya itu diam sambil mengoles rotinya dengan selai coklat kacang, wajahnya terlihat kecut.
" Zonk" Lirihnya dengan suara yang sangat pelan.
" Buahahaha..ha...ha..." Tawa Brian tak dapat lagi dia tahan. Brian tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Dengan geram Marvel memiting kepala Brian dan di kempit di ketiaknya.
" Marvel!!, Brian!!! Jaga sikap kalian, kita di meja makan!!!" Teriak paman Syahril.
" Ra popo le..., jangan terlalu kaku Syahril..." Kakek mengusap lengan putra tertuanya itu. Dia yang tidak pernah melihat kedua cucu kembarnya itu semasa kecil, sedikit merasa terhibur dengan tingkah mereka sekarang ini.
Brian membekap mulutnya agar berhenti tertawa sampai-sampai air matanya keluar.
Mama Neela mengambilkan nasi dan lauk di piring kakek, selanjutnya ke piring papa. Sedang Ara meladeni paman Syahril dan kedua abangnya.
Brian yg merasa iri tak ada yg melayani ikut menyodorkan piringnya ke Ara.
Ara menerima nya dan tersenyum.
Nasi goreng lengkap kini tersaji di piring Brian.
Dengan lahap Brian menyantap nasi goreng itu. Marvel melongo melihatnya, bukankah dia dan Brian tak pernah bisa sarapan nasi sebelum nya.
" Jadi kapan Ardi berangkat le..." Tanya kakek Ghifari disela kunyahan di mulutnya.
Rencananya Ardi akan terbang ke Thailand. Pemuda itu mendapatkan sponsorship selama lima bulan untuk belajar tinju di The Thailand Boxing Academy.
" Hari Minggu depan kek..." Jawab Ardi dengan matanya menatap mata Bianca yg sudah berkaca-kaca dan hampir merembes di pangkuan papa Syakieb.
Tangis Bianca pecah di pundak Ardi.
Semua mata menatap nya iba, gadis kecil berusia dua tahunan itu tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Dan hanya Ardi yg sangat disayanginya.
" Marvel dan Dian rencananya akan berangkat ke Korea sore ini kek, ayah, om..., dan mungkin akan langsung kembali ke Amerika..., jadi Marvel minta doa restu nya.." Ucap Marvel disela obrolan mereka.
" Kita juga besok harus berangkat ke Dubai, kerjasama kita merambah baju muslimah dan burqa yg pasarnya ke Timur Tengah..." Ucap papa Syakieb.
Ucapan papa Syakieb tiba-tiba membuat mama Neela gemetar, ada perasaan berat untuk berangkat besok hari.
" Adnan, kapan kalian berangkat honeymoon sayang..." Tanya mama Neela pada putranya, raut wajah cemas menguar di wajahnya tiba-tiba.
" Emmmm...minggu depan deh mah.." Jawab Adnan ragu, karena entah kenapa ada perasaan tak enak dalam dadanya.
Adnan juga baru menyadari bahwa kepergian mereka kali ini berbarengan, yang secara otomatis meninggalkan Ara sendirian tanpa pengawasan dari kelima panglimanya selama ini.
" Jadi dalam minggu ini kita semua akan pergi?" Ucapan mama Neela tersangkut ditenggorokan.
Ara yg mengerti arah pembicaraan mamanya segera mengeluarkan suaranya.
"Ma...jangan khawatirkan Lili..."
" Tapi sayang...." Sela mama Neela.
" Bang Ardi ke Thailand demi cita-citanya, kesempatan yg datang tak bisa berulang mah...., Lili ditemani Azura dan Bi Marni, Bianca juga ya sayang...." Ucap Ara sambil mencubit gemas pipi Bianca.
__ADS_1
" Bukan itu nak tapi mama takut..."
" Mah..., mama takut apa?, mama lupa Lili siapa.?, Lili pemegang sabuk hitam lho mah..." Sabun Ara dengan cepat.
" Ada Brian tante..., Brian masih ada proyek disini, mungkin dua mingguan lagi selesai, tante tidak perlu khawatir.." Ucap Brian lembut.
" Ya ma..., Adnan juga hanya akan pergi satu minggu.."
Papa Syakieb menatap Ara dengan tatapan yang entah, papa merasa sedikit kekhawatiran di dadanya. Tidak biasanya begini.
" Pa, ma...Lili ijin bolos hari ini...." Ucap Ara sambil menunduk, kedua tanganya saling meremas.
" Bolos???, bukanya kemaren udah nggak sekolah dua hari???" Tanya Ardi bingung.
Pantasan saja Ara belum memakai seragam nya pagi ini.
" Mau ngapain lo bolos..." Tanya Ardi menyelidik.
Ara semakin menunduk, karena Ardi sudah di mode posesif nya.
" I..itu, kak Rangga besok terbang ke Kanada selama sepuluh hari, jadi ka Rangga mengajak Lili un...."
Marvel sedikit mengangkat kepalanya, raut wajahnya terlihat garang. Dian mengusap paha Marvel, dia tahu suaminya masih sangat posesif pada Ara. Dian memahami itu.
" Nggak boleh!!!! " Bentak Ardi.
Ara hanya bisa diam, menarik nafas dan menghembuskannya segera.
" Kecuali...." Lanjut Ardi dengan menggantung kata-kata nya.
Mereka yg disana menatapnya penasaran.
" Kecuali kau bawa Bianca serta..." Ucapnya sambil nyengir.
" Hole...hole..Bianta jalan-jalan cama nty Ala cam om Langga...hole...hole." Terak Bianca heboh.
Mama Neela tersenyum saat melihat Ara menghembuskan nafas lega.
" Bilang dulu sama Azura, nanti dia khawatir.." Ucap kakek.
" Azura...gadis yang luar biasa, diusianya yg masih sepuluh tahun sudah menjadi yatim piatu...." Gumam paman Syahril dengan gumaman yg pelan.
" Dan diusia yg belum genap lima belas tahun harus kehilangan kakak satu-satunya..." Lanjut papa Syakieb.
" Dan masih harus merawat bayi kecil berusia empat bulan....Subhanallah" Kini mama Neela menatap Bianca yg tak paham dengan yg sedang dibicarakan orang dewasa itu.
" Jadi boleh kan...?" Tanya Ara memastikan.
" Boleh..." Ucap papa Syakieb sambil mengangguk dan tersenyum.
" Ini pesannya baru masuk di ponsel papa, sepertinya dari selamam pemuda itu minta ijin..."papa Syakieb menyodorkan ponselnya pada Ardi.
"Sebenarnya beberapa hari lalu mas Hen juga sudah meminta secara langsung padaku, dia sangat ingin menjadikan Lili cepat - cepat menjadi menantu mereka."Ucapan mama Neela membuat wajah Ara merona merah. Semburat kemerah-merahan menghiasi wajahnya yg putih.
Adnan mencubit pipi Ara gemas, melihat Ara yg malu- malu mengingatkan nya pada sikap Hana samalam.
" Ah!!!, Astaghfirullah Hana...." Gumamnya sambil tangannya dengan cekatan menuangkan nasi dan lauk pauk di sebuah piring.
" Kek, paman, pa, ma...Adnan ke atas dulu ya.., Hana belum sarapan"
__ADS_1
Yang hadir disana mengangguk dengan tersenyum. Baru semalam jadi suami Adnan sudah lupa kalau dia sudah beristri. Haduh 🥴🥴
Setengah jam mereka lalui di meja makan, Ardi juga harus segera berangkat sekolah. Sedangkan Natasha, Vera dan Hanum sudah diantaranya pulang kerumah mereka masing-masing subuh tadi.