Childhood Love Story

Childhood Love Story
Persiapan Wisuda


__ADS_3

Sedari subuh lagi-lagi Ara harus berjuang untuk mempertahankan moodnya.


Hari inilah adalah hari wisudanya. Tapi lihatlah, keadannya sedang dalam keadaan yang memprihatinkan.


" Sayang mama sudah buatin air jahe nih, ayo cepet minum.." Rangga menyodorkan air jahenya pada Ara.


Ara terlihat kayu dan sendu, kepalanya benar-benar pusing dan terasa berat.


" Emmm, nanti ajalah Bi.... Lili mau rebahan dulu sebentar, pusing..." Ara kembali membaringkan tubuhnya.


Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Rangga sebenarnya juga masih mengalami mual dan muntah. Tapi sekuat tenaga dia mampu mengatasi nya demi bisa mengutamakan istrinya. Kan nggak seru dia ikut-ikutan meletoy. Sorry!! Gengsi Rangga terlalu tinggi untuk bermanja-manja minta perhatian istri yang sedang seperti ini.


Rangga memang manja tapi dia tahu waktunya juga kali.


" Rangga.." Panggil mama Neela dari luar pintu.


" Ya mah..." Rangga meraih pintu dan membukanya.


" Masih belum ada kemajuan Lili nya sayang?" Mama Neela melongok pada ranjang mereka.


Rangga menggeser tubuhnya agar ibu mertuanya bisa masuk ke dalam.


" Sayang..., jam 9 kita berangkat loh. Masih pusing kah?" Mama Neela mengelus kepala Ara dengan lembut.


" Pusing dan malas gitu mah, pokoknya pengen rebahan doang..." Ara semakin membenamkan wajahnya ke bantal.


" Beb..., ayo!!" Ardi nyelonong masuk kamar Ara begitu saja.


" Rangga lo tuh gimana sih??, hari ini kami wisuda loh..., lo apain adek gue..?" Ardi menatap Rangga kecut saat mendapati Ara yang masih berada dikasurnya dengan nyaman.


"Adekmu HEG lagi, parah pagi ini..." Ucap mama.


" Waduh...trus gimana nih?" Ardi duduk di samping kepala Ara dan mengecupnya sayang.


" Anak lo minta apa?, biar uncle nya ini yang cariin.." Ucap Ardi dengan lembut mengusap-usap perut Ara.


Ara merasakan rasa nyaman, semakin dielus Ardi semakin lega rasa mual yang mencekiknya dari tadi.


" Kok belum gerak ya beb, masih 2bulan lebih ya kan?, kalau twin dulu..upss maaf...." Ardi langsung mengangkat tangannya saat dia merasa salah bicara.


" Nggak papa bang, pegang lagi nih.... Kayaknya mereka nyaman sama unclenya..." Ucap Ara.


" Beneran boleh Lili minta sesuatu?" Lanjut Ara dan menatap serius pada Ardi.


" Yup, bilang aja mau apa?" Sahut Ardi cepat.


" Bubur sumsum mang Jo, yang sering kita makan saat kecil itu bang, tapi pakai kuah santan saja nggak usah pakai gulanya.."


Ardi mengingat-ingat makanan yang di maksud oleh Ara.


" Oh oke, lo siap-siapa mandi trus dandan yang cantik, pokoknya gue pulang nyari bubur sumsumnya lo juga harus udah beres, janji...." Ardi menaut jari kelingking Ara. Sementara Ara mengangguk setuju.


" Nah gitu dong..., mama siapin gaunya dulu ya sayang.." Mama Neela beranjak mengambilkan kebaya yang dijahitkanya khusus untuk Ara di hari wisudanya ini.

__ADS_1


Ara tersenyum dan mengangguk, sebelah tangan Ardi mengusap-usap rambut Ara gemas, begitu juga mama. Tak lamapun mereka beranjak meninggalkan kamar Ara dan Rangga.


" Yok mandi....Bi.." Ara menjulurkan kedua tangannya, dan cepat-cepat disambut oleh Rangga.


" Siap queen...." Rangga mengedipkan sebelah matanya. Mereka berjalan kekamar mandi seperti anak TK yang sedang main keretapi.


Rangga didepan sementara Ara gelendotan dibelakangnya.


Setelah air dan keperluan mandi telah dipersiapkan oleh Rangga, pria muda itupun beranjak keluar.


" Kamu nggak mandi sekalian Bi....?" Tanya Ara.


Rangga langsung menolehkan kepalanya cepat.


" Ini tawaran serius atau prank??" Tanya Rangga dengan wajah penuh selidik. Tiba-tiba dadanya berdebar-debar, ingin melompat saking senangnyaaaa.


Ara terlihat tersipu malu dan tertawa kecil begitu saja karena melihat raut wajah Rangga yang menggemaskan.


" Ya sudahlah, sana kalau nggak mau..."


Didorongnya punggung Rangga untuk keluar. Tapi Rangga membatukan tubuhnya dengan tidak bergerak sama sekali.


"Mau dong!!, Rangga Bayu Wijaya tidak pernah menolak rezeki nomplok begini, apalagi kamu udah kasih lampu hijaunya.." Ucapnya diwarnai dengan gerakan memainkan lidahnya dengan sensual.


Dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan rutinitas mandi yang Rangga bayangkan, jelas tak sama dengan bayangan Ara.


Tapi kali ini pun Rangga lagi-lagi dibuat gila dengan keberanian Ara yang luar biasa. Gadis itu lagi-lagi membuatnya kualahan untuk mengimbanginya. Entahlah, yang Rangga rasa kali ini, Ara terlihat begitu seksi dan agresif semenjak hamil kedua ini.


Dan Rangga jelas menyukainya, Petualangan baru yang menyenangkan dan mengasyikkan untuknya.


" Kapan sudah bisa di USG sayang.." Rangga mengelus perut yang sedikit menonjol itu dengan lembut, sementara tangan kirinya memutar keran bathup untuk mengisi air yang telah berkurang banyak, karena aktifitas gila mereka barusan.


" Bulan depan, awal trisemester kedua bisa terlihat jenis kelaminnya mereka.." Jawab Ara.


" Mereka??"


" Yes that's true, they are twin.., again..." Bisik Ara dengan menggigit bibirnya bahagia.


" Really...???" Lagi, Rangga berusaha meyakinkan dirinya.


Kabar hari ini begitu membuatnya ingin meledak karena bahagia.


" Sure, Lenox mendengar detak jantung ganda saat memeriksa Lili kemarin..."


...***...



" Congratulations..." Ucapan selamat dari semua kerabat dan sahabat sungguh membuat Ara tak mampu menahan tangisnya, begitu juga Ardi.


Pria muda itu tak menyangka bahwa sahabat nongkrong dan sahabat balapnya ternyata telah berkumpul di depan rumah mereka.


" Leon apa kabar? " Sapa Ardi pada sahabatnya sedari kecil itu.


" Seperti yang kau lihat Di, sehat dan tetap jomblo ha...ha...ha.." Tawa Leon.

__ADS_1


" Ckck, kau saja yang ketinggian standar! Cewek jelas menghindar!" Sahut Ardi.


" Standar gue nggak muluk-muluk sih Di, palingan yang seperti Ara, atau Zura. Kalau boleh gue nungguin Bianca aja deh...ha..ha..ha.."


Ardi melotot geram, kenapa jg harus cewek yang disekitarnya yang di minati oleh Leon.


" Cck, nungguin Bianca?, yang ada lo udah bungkuk, sedangkan anak gue lagi cantik-cantiknya ha..ha..ha.."


" Jadi lo restuin gue nungguin Bianca?"


Lagi-lagi Ardi tercengang, Leon ini bicara serius dan nggak serius nggak ada bedanya.


" Lo gila!!!, ya nggak lah!!. Mana ada mantu gue sahabat gue sendiri..." Maki Ardi geram dengan tangan seolah mencekik Leon.


" Bagus tuh kalo dijadiin judul buku" Sambar Marvel yang tiba-tiba telah berada di belakang Ardi.


Dan merekapun tertawa bersama, sambil mata mereka menatap gadis berumur 8 tahun yang sedang berlarian mengejar ketiga adik lelakinya.


Ya, gadis itu adalah Bianca Aurora.



" Anak lo benar-benar cantik Di, apa mmynya juga secantik dia?" Leon masih betah membicarakan topik ini.


" Gue nggak tahu lah, gue juga belum lihat " Jawab Ardi cuek.


" Masa sih Di? Jadi??"


" Jadi apa? Prok prok prok....." Sahut Ardi dengan menirukan gaya pak Tarno.


" Ya nggak jadi apa-apa?, emangnya mau jadi apa?, tapi sebentar lagi sudah bisa gue pandang dengan halal wajah itu Yon.. " Lanjut Ardi.


Pria muda itu segera berlari membukakan pintu mobil untuk Azura yang telah siap menghadiri acara wisudanya.


Leon berjalan cepat mendekati sahabatnya itu.


" Maksudnya??" Tanyanya kepo.


" Rencananya malam ini gue mau ke Jogja sama papa, buat lamar Zura, tapi ternyata brothy Brian sudah membawanya kesini semalam..."


" Wah...lo udah mau lepas perjaka lo dong Di, nah gue cium pipi cewek aja belum pernah Di...gila!!! Kamana aja gue selama ini...." Leon menggosok wajahnya geram. Jomblo akut seumur idup, ngenes amat padahal wajah lumayan keren, dasar nasib Leon kurang mujur.


" Lo kira gue pernah!!!, selain mama, bebeb gue dan Bianca, gue juga nggak pernah lah cium cewek!!" Ardi tertawa dengan gaya khasnya. Kedua tanganya menepuk pundak Leon dengan masih tertawa.


" Daddy.., itu uncle Rangga dan uncle Marvel udah pergi tuh..." Teriak Bianca dengan melongokkan kepalanya keluar jendela mobil.


" Om Yon, masuk sini..." Ucap Bianca pada Leon.


Bianca mulai memanggil Ardi dengan sebutan daddy itu tepatnya semenjak Ardi sembuh dari hilang ingatannya.


Leon menatap gadis itu dengan senyum yang mengembang.


" Om bawa mobil sendiri sayang..." Ucap nya.


" Ya udah Yon, gue berangkat dulu ya.... Lo nyusul kan..." Ardi melambaikan tanganya pada Leon dan segera masuki mobilnya menuju hotel dimana acara wisuda diselenggarakan.

__ADS_1


__ADS_2