
" Pembukaan telah lengkap dok, sudah waktunya " Ucap suster pada dokter Linda yang berdiri di depan kaki Ara yang telah diposisinya.
Rangga terus mengecupi pipi dan kening Ara penuh rasa cinta.
" Oke dokter Ara, begitu bayi mulai mengajak untuk keluar, anda juga harus membantunya dengan mengejan. Siap dokter?" Ucap dokter Linda mantap.
" InsyaAllah, siap dok..." Jawab Ara.
" Bismillahirrahmanirrahim...uhhhh...uhh"
Ara terus berusaha mendorong dengan mengejan begitu kontraksi datang.
Rangga benar-benar syok, berulang kali dia menangis melihat perjuangan istrinya saat ini.
Rangga menggenggam erat tangan Ara, mencoba mengalirkan semangat untuknya.
" Uhhhhhh..." Lagi, erangan Ara begitu menyayat hati Rangga.
" Oke, oke bagus dokter Ara, ambil nafas dulu baru mengejan lagi. Yok mulai yuk...ini babbynya udah ngajak nih...." Ujar dokter Linda penuh rasa keibuan.
" Eghhh..." Ara berusaha mengejan dengan kuat sampai-sampai nafasnya tersengal-sengal.
Ara menggelengkan kepalanya berulang-ulang, seolah-olah sudah menyerah dan tak sanggup lagi.
" Dokter Ara, ayo dok...anda bisa dok..." Dokter Linda sahabat mommy Tara terus memberikan semangatnya.
" Sayang..., cintaku, Liliku..., ayo sayang. Kamu bisa, kamu pasti bisa...I love you sayang, I love you so much..." Bisik Rangga yang ikut terlihat kacau. Wajahnya juga ikut memucat dan tegang.
Ara kembali mengejan saat perutnya kembali menggeliut hebat.
" Nah itu udah mulai terlihat kepalanya dokter Ara, dorong sekali lagi yang kuat dok, ayo dok..."
" Eghhhhh....."Arapun mengejan dengan sangat kuat dan panjang, tak sampai 5 detik suara tangis bayipun terdengar memenuhi ruangan. Tangisan yang melengking kuat, memberikan tanda bahwa dia begitu sehat dan kuat.
" Selamat Rangga dan dokter Ara, baby pertama babyboy..." Ucap dokter Linda dengan menggendong bayi itu dengan kedua telapak tangannya lalu meletakkannya diatas dada Ara.
Dan tak sampai 5 menit berikutnya disusul tangisan bayi kedua yaitu babygirl.
Rangga begitu bahagia sampai-sampai menangis sedemikian rupa. Dikecupinya istri dan anak-anaknya.
Setelah babyboy selesai dibersihkan maka sekarang tugas Rangga untuk mengadzaninya. Dan dilanjutkan iqomah untuk babygirl nya.
" Terimakasih sayang..., terimakasih.... Kau telah melengkapi hidupku. Love you sayang...." Rangga menangis terisak di samping kepala istrinya. Bahkan tangisannya hampir menyaingi tangisan kedua anaknya itu sendiri.
" Ha..ha..kau kembali cengeng seperti Aga si cengsum...." Bisik Ara dengan bibir yang mengulum senyum. Tanganya membelai rahang Rangga penuh kasih.
" Aku menangis karena begitu bahagia sayang...." Ucap Rangga dengan terus mengecupi wajah Ara yang masih penuh peluh.
...***...
" Ihhh...Bian gemes sama twins..." Ucap Bianca dengan terus mengelus pipi twins lembut.
Ardi dan Azura juga ikut mengelusnya pelan.
" Iya, babygirl cantik banget mommy.... Dia adikku juga kan?" Tanya Saga pada Ara yang sedang mengusap kepalanya.
__ADS_1
" Jelas dong, mereka adik kalian juga..." Ucap Ara lembut dengan mentoel pipi Saga gemas.
Bocah ganteng usia 3tahunan itu begitu lengket kepada Ara.
" Kenapa babyboy nya diam saja Ayah?" Tanya Shine pada Marvel ayahnya.
" Dia kan mirip seperti uncle Ranggamu itu, pendiam yang jutek.." Bisik Marvel.
" Brothy ! Jahat ! ngatain anak Lili begitu..." Ara melempar botol susu pada Marvel saking geramnya. Dan Rangga hanya melotot geram pada Marvel.
" Ha..ha..ha..sorry princess.., sorry..." Ucap Marvel sambil terus tertawa. Sementara Dian menjewer telinga suaminya itu.
Sunny saudara kembar Shine sama sekali tidak tertarik untuk melihat adik barunya, fokusnya justru pada gadis kecil di samping Ara.
Keduanya terus saja saling curi pandang sejak awal masuk ruangan.
Ya, gadis kecil cantik imut itu adalah Shanum Cahya Nilam, anak pertama Vino dan Vera.
" Jadi siapa nama mereka?" Tanya daddy Hen mendekati box bayi dan mengangkat babyboy pelan.
" Almeer...." Sahut seseorang dari pintu ruangan. Lenox berdiri diambang pintu.
" Ck, dia anak gue kenapa lo yang heboh bikin nama!!" Umpat Rangga.
" Memangnya nama apa yang sudah kamu siapkan son? " Tanya daddy.
Rangga menatap Ara dengan tatapan bingung. Tidak ada nama yang terlintas di fikiranya.
" Almeer juga bagus..." Ucap kakek yang kini mengambil alih cicitnya untuk dipangkunya.
" Almeer Nassyauqi Wijaya, bagaimana?" Tanya kakek.
" Bagus romo..., setuju.." Ucap daddy mantap. Papa dan yang lain juga terlihat mengangguk.
" Biar gue yang cari, tunggu...." Ardi mengetuk-ketuk keningnya seolah berfikir.
" Almeera, Almira, Almaeraa, Alma..." Ucap Ardi cepat.
" Almaeraa..." Sahut Rangga.
" Yahhh, Almaeraa....Almaeraa Haura Siddiqi..." Ucap papa Syakib. Dan langsung disetujuinya oleh yang lain.
Saga merosot turun dari ranjang Ara dan bergegas menuju mama Neela yang sedang memangku Almaeraa.
" Adik kecilku..., Almaeraa, boleh Saga panggil dia Meera.." Ucapnya lembut dengan jari telunjuknya mengelus pipi mungil itu sayang.
" Iya boleh sayang, Mau cium adik kecilnya Saga? " Tawar mama Neela.
" No..., Saga malu..." Jawab Saga.
Ucapan Saga membuat siapapun yang ada diruang tertawa renyah.
" Boleh, Lenox menggendongnya kek.." Lenox meminta babyboy pada tangan kakek.
" Almeer, kenalkan ini daddy Len----"
Pluk!!!
__ADS_1
Toyoran pada kepalanya membuat Lenox menghentikan ucapanya.
" Daddy! Daddy!, gue daddy nya...." Sembur Rangga.
" Gue juga mau dipanggil daddy kok!, lo kenapa sewot!!" Jawab Lenox.
" Lenox! Rangga! Jangan gaduh didepan cucuku!" Seru papa Syakieb.
" Lagian kamu itu Lenox, kapan kamu halalin putriku yang di Casablanca itu. Udah dibawa kemana-mana masih juga dikacangin begitu?" Seru papa lagi.
" Iya om bentaran, tunggu modal cukup. Atau kalau nggak barengan kak Denis aja lumayan bisa bagi dua pengeluaran..." Ucap Lenox ringan.
" Enak aja lo!!, gue nggak mau!!, kak Denis pula, gue nggak punya adek modelan lo lagi" Sahut Denis geram.
" Ye...padahal gue cuma bercanda, kalo Wari mau besok juga bisa!!!" Sahut Lenox cepat.
" Begitukah?, maka buktikan!!" Tantang papa Syakieb.
...***...
Setiap hari selama Ara masih dirawat dirumah sakit, Rangga menghabiskan harinya disana. Tidak pulang ke rumahnya sama sekali.
Sepulang mengajar dia langsung menemui istri dan anaknya. Begitulah setiap hari.
" Sayang, princess daddy..how are you..."
Sapa, Rangga pada babygirl nya yang telah selesai disusuin oleh Ara.
Karena saat ini Ara sedang menyusui Almeer sang babyboy.
" Hai Princess, mau daddy gendong hemm??" Rangga mengusap pipi itu lembut dan pelan. Takut kalau-kalau sampai membuat lecet pipi halus itu.
Dielus sedemikian rupa membuat bayi mungil itu tersenyum.
" Hey..hey...look at this!!, she smiles at my sayang, she's so sweet like you sayang.... I think i'm falling in love again sayang...with her, with our princess..." Seru Rangga bahagia saat mendapatkan senyum indah dari putri tercintanya untuk pertama kali.
Ara menatap Rangga dengan persaan yang tidak bisa dijabarkan.
Sebagai pria muda yang masih berusia 25tahunan Rangga begitu dewasa dan bertanggungjawab. Sekembalinya dari Amerika benar-benar membuatnya berubah, berubah dari segi perilakunya dan semakin mature dalam mengambil keputusan.
Semua kesalahan hanya dilakukannya sekali saja, sekuat tenaga dia tidak akan mengulanginya.
Kalau Lenox saja didiamkan oleh Ara bisa hampir bunuh diri. Nah Rangga jelas pernah mengalami itu 3 tahun lamanya.
Semenjak itu Rangga berjanji untuk memperbaiki diri. Cukuplah kesalahan cuma sekali, jangan diulang lagi.
Diraihnya putri kecilnya yang terus tersenyum itu dalam gendonganya.
" Love you my princess....,my sweet heart..."
***************************************
Sebenarnya cerita RanggAra sudah selesai.
Tinggal cerita Denis dan Natasya.
Lenox dan Wari, serta Rayyan dan Hanum.
__ADS_1
Tetapi nanti tetap ada bonus chapter RanggAra....oke..
Terimakasih..ππΌππΌππΌππΌ