Childhood Love Story

Childhood Love Story
Bertemu Jessica


__ADS_3

Suara Rangga dari pintu dapur membuat keduanya menoleh.


Rangga menggandeng tanggan Bianca, yang telah memakai seragam SDnya.


" Oh, nggak ada Bi.... Disuruh anterin Bianca sekolah maksudnya.." Ucap Ara dengan langkah kakinya menuju kehadapan Rangga dan meraih tanganya untuk di kecup.


" Nanti hati-hati berangkat koasnya sayang, bilang Lenox untuk bawa mobilnya pelan aja ya..."


" Iya Bi...." Ara mengusap lengan Rangga pelan.


Bianca berhambur memeluk perut Ardi.


" Daddy nanti pulangnya jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak buat Bian dan adik-adik okey..." Ucapnya dengan mendongakkan wajahnya menatap Ardi.


" Iya sayang, asal Bian nurut sama momo, jangan membuat momo kerepotan okey.." Ardi menyodorkan jari kelingkingnya pada Bianca dan disambut oleh Bianca dengan senyum cerahnya.


" Ayo Bian, sudah hampir terlambat ini..." Ucap Rangga, tanganya mengelus perut Ara yang kini telah terlihat membuncit.


" Bianca berangkat dulu dad, safe flight ya dad...love you..."


Ardi menundukkan tubuhnya untuk menciumi wajah Bianca dengan sayang.


" Ya sayang, love you too" Ucap Ardi tulus.


Dielusnya rambut Bianca dengan penuh cinta, sebenarnya Ardi tidak tega meninggalkan Bianca bersama mamanya untuk pergi bulan madu ke pulau Jeju sore ini. Tapi tiket telah di boking oleh kakek, dan tidak bisa di reschedule.


...****...


Kandungan Ara telah memasuki usia 7 bulan. Setiap hari tanpa seharipun Rangga membiarkan istrinya melakukan apapun sendirian.


Rangga benar-benar menjadi suami siaga yang bisa diandalkan.


" Sshhhhh, aduh...." Desis Ara saat perutnya terasa keram. Kedua bayi dalam kandungannya begitu aktif bergerak sedari subuh tadi. Sampai-sampai keringat mengucur pada sela-sela rambut Ara.


"Kenapa sayang..., sakit?" Rangga langsung melompat meninggalkan aktifitasnya saat mendengar desisan Ara.



" Nggak papa Bi, cuma terlalu aktif mereka hari ini, aahhh awww...." Desis Ara dengan wajah yang begitu pucat pasi.


" Sini sayang..." Rangga meraih cangkir dalam tangan Ara dan meletakkannya di meja.


Lalu dengan cepat pria muda yang sebentar lagi menjadi daddy itu langsung mengankat Ara dan meletakkan nya disofa.


" Sshhhhh, sayang.... Ayo yang tenang, tuh...mommy letih tuh... " Rangga mengusap-usap perut itu pelan, dan beberapa kali mengecupinya sayang.


Tanganya meraih tisyu diatas meja dan mulai mengelap keringat yang terus mengucur dari dahi Ara.


" Apa ini sering begini?, Kenapa biasanya terjadi hal kayak gini sayang?" Tanya Rangga dengan terus mengusap perut Ara lembut.


" Ya karena mereka memang tidak benar-benar diam saat dalam kandungan Bi..., karena otot dan syaraf mereka terus berkembang, makanya mereka terus bergerak. Apalagi saat perkembangan itu disertai kedutan-kedutan yang membuat mereka terus reflek bergerak seperti ini.."


" Wow...woww..." Pekik Rangga saat gerakan dalam perut Ara semakin menjadi-jadi.


" Hey boy.., that you?...kamu ingin main dengan daddy hemmm" Rangga dengan telaten terus mengelus perut Ara.


Tapi rupanya tak hanya salah satunya yang terus menggeliut-geliut, tapi dua-duanya seolah-olah ingin bermain dengan daddynya.


Rangga begitu bahagia, dikecupnya sayang kening Ara dengan berulang-ulang.


" Sepertinya kakak sudah harus potong rambut sayang, awal bulan ini prediksi kelahiran twins, kakak ingin terlihat tampan saat mereka melihat daddy mereka untuk pertama kali..." Ucap Rangga.


" Begini juga udah tampan kok..." Ara mengelus rahang Rangga pelan.


" Duh...jangan mancing-mancing...." Ucap Rangga dengan dada yang tiba-tiba berdebar.


" Ihhhh, kamu ini Bi.... Disentuh dikit aja udan begitu. Bingung Lili mah...., nggak maulah Lili pegang kamu lagi Bi...."

__ADS_1


" Ha..ha...ha...bukan gitu juga, ekhemm. Yah kakak ngaku deh..., memang kakak itu mudah banget bernafsu bila itu kamu..." Bisik Rangga.


" Aneh...." Ara melempar bantal pada dada Rangga, dan langsung ditangkapnya cepat.


" Sayang...."


" Hemmmmm"


" Sayang....."


" Apa Bi......"


" Tatap aku dengan rambut gondrongku sayang.." Ucap Rangga dengan membingkai wajah Ara dalam kedua telapak tanganya.


" Sudah kok, sudah Lili tatap dari pagi siang sore malam..., tetap tampan.." Ucap Ara dengan memberanikan diri untuk menyosor bibir Rangga duluan.


Rangga yang dasarnya mesum akut, jelas tidak membuang kesempatan emas ini.


Akhirnya sesuatu terjadi karena ulah main sosor yang dilakukan oleh Ara.


Jelas Rangga untung banyak dengan aksi main sosor yang dilakukannya tadi.


...***...



Ara bediri didepan kaca, penampakan perutnya yang mengembung membuat dirinya sendiri merasa gemas.


" Sayang ayo...." Teriak Rangga membuatnya segera membenahi pakaiannya dan segera turun ke bawah.


Semenjak tujuh bulan lalu tidak ada suara telapak kaki yang berlarian di tangga lagi. Karena Ara berubah menjadi anggun dan penuh kehati-hatian saat menuruni tangga.


" Yukk sayang...kamu yang tentukan model rambut baru kakak okey..." Bisik Rangga nakal. Hari ini adalah hari libur untuk keduanya, biasanya sangat susah untuk bisa mendapatkan libur berbarengan seperti ini. Hari ini jugalah hari yang tepat untuk memangkas rambutnya di depan istrinya.


Ara mengangguk patuh dengan tangan yang langsung memeluk lengan kokoh Rangga.


Tak sampai tiga puluh menit, mobil telah terparkir di salah satu mall. Selain untuk memangkas rambutnya Rangga dan Ara juga berencana untuk membeli beberapa kebutuhan babby twins. Karena setelah pemeriksaan terakhir, kandungan Ara telah turun sedemikian rupa.


Jelas itu dikarenakan seringnya intensitas hubungan intim yang selalu diprakarsai Rangga. Semenjak dokter Linda membisikkan kalimat ajaib ditelinganya untuk mempersering aktifitas hubungan suami istri untuk mempermudah dalam persalinan, Rangga dengan senang hati mempraktekkannya.


Apalagi setelah itu jelas dia akan berpuasa dari kesenangannya itu dalam waktu yang lama, bisa satu bulan lebih bro!.


Mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk mall, siapa saja yang melihat tentu akan iri dengan pasangan ini. Pria yang tinggi tegap dan tampan, beberapa helai rambut tipis tumbuh di dagu dan kumisnya.


Sementara sang wanita disampingnya begitu cantik dan elegan, wajahnya yang memang telah cantik itu kini semakin mengeluarkan aura semenjak kehamilannya.


" Bi.....Lili mau ke toilet dulu, sering pipis sekarang..." Bisik Ara.


" Iya sayang, kakak anterin atau gimana?" Rangga sibuk mengintil di belakang Ara.


" Nggak Bi...., tunggu sini aja deh...." Ucap Ara berlalu dengan cepat, karena benar-benar telah kebelet.


" Kak Rangga..." Panggilan seseorang membuat Rangga menoleh ke arah suara.


" Jessi......." Ucap Rangga pelan dengan mata penuh selidik menatap Jessica di depannya.



" Long time no see kak..." Ucap Jessica dengan melangkah mendekati Rangga.


" Stop disitu saja, apa maumu!!" Bentak Rangga jutek.


" Cihhh!!!, kamu jadi budak istri kah sekarang?. Kenapa aku nggak boleh maju hemmmm, takut istrimu marah?, lantas apa bedanya kakak dengan banci!" Ucap Jessica.


" Diam! Dan enyah dari hadapan ku Jessi!!" Bentak Rangga lagi.


" Kamu terlihat semakin dewasa dan macho kak, sialan!!!. Kenapa harus Ara yang mendapatkan kehangatanmu itu.

__ADS_1


Ssshhhh...aku saja belum move on dengan dada bidangmu itu kak..."


Prak!!!


Ponsel ditangan Ara terjatuh begitu saja saat telinganya mendengar ucapan Jessica.


" Sa...sayang.." Rangga dengan cepat memungut ponsel itu dan menarik Ara mendekat padanya.


" Sayang, itu tadi... Itu tadi Jessi asal bicara..." Ucap Rangga gelagapan.


" Ya, Lili tahu....." Ucap Ara dengan menunduk. Ara begitu gemetar, entah kenapa melihat Jessica rasa takut menyelubungi dirinya tiba-tiba. Bayangan kehilangan twins dulu berkelebatan bagai roll film yang terus berputar di otaknya.


Rangga tahu bahwa Ara begitu syok. Dengan sayang dipeluknya erat tubuh Ara dalam dekapanya. Berusaha menyalurkan hawa positifnya pada istri tercintanya.


" Oh jadi kalian akan memiliki anak lagi?, cihhh.... Sayang sekali yang dulu harus hilang ha..ha... Mereka pasti menangis dan bertanya-tanya kenapa mommy dan daddynya bodoh sampai-sampai tak bisa menjaga mereka ha..ha..." Tawa Jessica begitu menjijikan dengan menatap iri pada perut Ara.


" Sebenarnya apa maumu Jessic" Tanya Ara pelan.


" Kau ingin tahu aku mau apa hah??, Jelas aku mau suamimu itu!!" Teriak Jessica histeris.


" Aku menunggunya selama 5 tahun di penjara, tapi tidak sekalipun dia datang menjengukku!"


" Kau melarangnya kan hahh!!!" Jessi dengan cepat mengulurkan tanganya untuk menyerang Ara. Tapi dengan sigap Rangga nemblokadenya.


" Jessi...kau mau suamiku?, tapi pernahkan kau berfikir apakah suamiku mau denganmu?" Ucap Ara lembut.


Keributan kali ini membuat beberapa orang mengerumuni mereka.


" Jelas Kak Rangga ma---"


" No!!!, sampai kiamat pun. Bahkan walau didunia ini tinggal satu wanita dan itu kau...Aku tidak sudi memilihmu!!" Sahut Rangga.


" Lo dengar kan Jessi?, bahkan gue pun akan melakukan apapun asal dia tetap menjadi milik gue, walau itu harus melenyapkan elo dari bumi ini!!. Camkan itu!!" Bisik Ara tepat di depan wajah Jessi.


" Ayo sayang, buang-buang waktu meladeni dia..." Rangga menarik pinggang Ara agar menempel padanya dan membawanya masuk mall meninggalkan Jessica begitu saja.


Sejuk, hati Rangga begitu sejuk mendengarkan bahwa Ara sebegitu memperjuangkannya.


Dalam diamnya, sebentuk senyum terukir indah disana.


" Huuu dasar pelakor!!"


" Iya nih...dasar nggak laku..."


" Huu....".


Umpatan beberapa orang kepada Jessica yang menatap punggung Rangga dan Ara dengan tatapan benci.


" Memangnya kapan kamu mendekap Jessi di dadamu Bi....hemmmm?" Tanya Ara dengan nada super jutek dan pedesnya.


" Nggak pernah!!!, mungkin pas diambil foto itu sayang..." Sahut Rangga.


"Kok sepertinya dia ketagihan banget!!" Ucap Ara geram.


" Auk ah..... " Rangga mengacak rambutnya geram.


" Wah..wah, berarti kamu nggak perjaka waktu sama aku ya Bi...."


" Ehh!!! Sorry ya...kamu yang pertama dan terakhir sayang...apaan sih!!" Geram Rangga.


" Masa sih??" Lagi, Ara begitu ingin menggoda Rangga


" Susah-sudah...., yok pangkas rambut dulu baru dilanjutin nanti..." Ucap Rangga dengan menyodorkan gambar-gambar model potongan rambut lelaki padanya.


" Yang mana yang kamu suka sayang?" Tanya Rangga dengan berani-beraninya menggigit telinga Ara didepan beberapa orang di dalam salon.


" Ya ampyun tsay, laki lo romantis amat stay, cucok meong buat simpenan ayyy..." Ucap tante-tante hebring itu dengan terus menatap Rangga nakal.

__ADS_1


" Lo harus langkahin mayat gue dulu tante!!, baru bisa dapetin Rangga gue" Ucap Ara sadis.


__ADS_2