Childhood Love Story

Childhood Love Story
Aluna Nada - Part 26


__ADS_3

---Happy Reading---


Seorang gadis baru saja turun dari lantai dua yang masih menggunakan pakaian tidurnya yang lucu itu, tak lama dari arah pintu utama ada dua pria yang baru saja selesai berolahraga dengan pakaian santainya yang sporti. "Kalian habis lari?" tanya gadis itu yang dibalas anggukkan oleh keduanya. "Dan kau baru bangun? Jam segini?" tanya salah satu pria itu, lalu diangguki juga dengan gadis itu.


"Iya, karena hari ini aku meliburkan diri, karena ada seseorang yang harus pergi kebesokkan harinya." jawabnya dan berjalan kearah dapur diambilnya mangkuk dan sereal kemudian susu. "Buatkan kami juga dong." pinta pria itu yang sudah duduk didepannya.


"Buat sendiri dong."


"Sekalian, sekali sekali layani abangnya dan calon suami." ledek pria itu yang membuat wajah gadis itu memerah karena malu. "Jiah, mukanya merah kayak kepiting rebus." ledek aksa yang membuat aluna tidak membuat sereal untuknya dan meninggalkan dapur dengan membawa semangkuk sarapan paginya. "Udah ah! Bikin sendiri sana, abang resek pagi pagi. Bye."


"Cantik." gumam adam.


"Ish disuruh abangnya malah kabur. Eh tapi apa tadi dam? Kau berkata adikku cantik?? Dia belum mandi dan pasti masih bau ilernya dan kau bilang cantik?"


Adam mengangguk. "Gadis cantik itu dilihat dari wajah bangun tidurnya, dan luna termasuk dari gadis cantik itu."


"Hais! Bucin. Udah nih sarapanmu, makan disini atau dihalaman belakang?"


"Disini aja." Aksa mengangguk kepala lalu duduk disamping adam, pria yang sudah ia anggap sebagai sodara sendiri dan sebentar lagi kemungkinan akan menjadi adik iparnya.


"Kau benar akan pulang kembali dua tahun setelah masalah itu kelar?" Adam mengangguk. "Iya, kenapa?"


"Kau yakin tidak perlu bantuanku? Kitakan saudara, walaupun tidak sedarah tapi kau tetap keluargaku." adam menggeleng. "Kau memang saudaraku walaupun tidak sedarah namun ini bukan masalahmu, ini masalahku bersama kakek dengan orang orang yang tidak waras disana. Kami tidak ingin adalagi korban lagi seperti dulu."


"Korban? Seperti dulu?"


Adam mengangguk. "Asal kau tau, dulu ada satu keluarga yang ikut membantu kami untuk menyelesaikan masalah ini namun masalah tidak selesai, keluarga itu malah menjadi korban keegoisan mereka. Jadi lebih baik kami saja yang menyelesaikan tidak usah kalian, karena kami tidak ingin merasa bersalah itu semakin banyak. Jadi kau mengerti, mengapa kakek berkata seperti itu?"


Aksa mengangguk mengerti, "ucapan kakek hanya untuk menjaga dan melindungi kami agar kami tidak ikuta campur walaupun kalimat kakek cukup menyakitkan untukku."


"Maafkan kakek, karena keluarga yang menjadi korban yang tak lain teman bermain kakek waktu kecil. Aku juga baru tau sih, dari kakek mika." ucapnya sembari tersenyum.


"Selamat pagi boys, kalian makan apa?" tanya anzel yang sudah segar sepertinya baru selesai mandi dan baru menyiapkan sarapan untuk semua penghuni. "Makan sereal ma, mama baru bangun?"


"Ngga, mama habis main sama papamu." jawab anzel yang langsung dibalas memutar bola mata malas oleh aksa.  Sedangkan adam hanya terkekeh kecil. "Terus papa?" tanya aksa.

__ADS_1


"Tidur lagi kenapa?" aksa menggelengkan kepala. "Tidak, bilang kepapa jangan pernah buatkan kami adik lagi. Aku tidak mau menjadi kaka hanya aku ingin menjadi paman saja." balas aksa dengan acuh.


Anzel cemberut. "Jahat banget abang, yaudah iya, mama dan papa gak buat adik tapi cuma main sebentar. Kapan kamu nikah? Masa adikmu dulu sih yang nikah?" tanya ketus anzel karena kesal kepada putra satu satunya.


"Mungkin nanti setelah dia balik sama kakek kerumah ini, aku bakal bilang ke mama papa bahwa. 'Aku akan nikah.' Tunggu saja."


"Dengan siapa?" tanya anzel yang penasaran dengan calon yang akan menjadi menantunya selain adam. "Adalah."


"Sahabat luna ma." balas adam membuat aksa melotot kearahnya. "Oh! Siapa? Citrakan udah nikah berarti Rizka!?" pekik mama yang langsung dibalas oleh anggukan dari adam, sedangkan aksa hanya memejamkan mata karena pekikkan mamanya yang memekakkan telinganya.


"Mama! Bisa gak, pelan pelan gak usah mekik mekik sakit tau."


"Gak bisa, mama harus kayak gini, seriusan kamu deket sama rizka bang?" Aksa mendengus lalu mengangguk. "Iya."


"Akhirnya, putraku yang jomblo ini ada jodohnya juga ya allah.." ujar mama dengan penuh syukur, aksa menatap adam dengan sinis sampai matanya disipit sipitkan agar mengintimidasi namun yang ditatap hanya bisa tertawa dan meledekkinya. "Adalah masa gak ada."


"Oh, by the way dimana luna? Belum bangun?" tanya mamanya saat aksa ingin menjawab aluna sudah menjawabnya terlebih dahulu yang belakangnya diikuti kakek alex serta papanya. "Udah bangun kok ma, cuma baru selesai mandi." Jawabnya dengan pakaian yang sudah rapih.



"Mau jalan," jawabnya sembari melirik kearah adam yang sedang menyuap sereal sembari senyum tipis. "Sama?" tanyanya dengan melirik kearah dua pria muda dihadapannya. "Sama adam dan aksa?" Aksa menggeleng. "Ama ka adam doang kok, abang gak usah nyebelin dia."


"Dih gitu, masih ngambek ama abang?"


"Abang nyebelin sih bikin mood luna rusak."


"Emang diapain luna sama abang?" aksa tertawa. "Bercanda doang ma, tapi jadi sensi banget mau dapet ya?"


"Iya, makanya jangan deket deket." ketus luna sembari mengambil sepiring nasi goreng buatan mamanya. "Dam, hati hati ya dijalan, kau bawa macan ngamuk soalnya."


Pletak!


"Enak aja putri papa dibilang macan, kalau luna macan kamu sodaranya juga macan dong. Sama sama macan diem." omel papa setelah menepuk dahi aksa dengan sendok. Aksa yang mendapatkan balasan dua kali lipat terdiam dan mengusap dahinya yang kemungkinan sedikit memerah, sedangkan aluna yang dibela mengulum senyuman lalu meledek kearah abangnya yang juga mendelik kesal kearahnya.


Anzel yang melihatnya hanya menggelengkan kepala begitupun dengan adam dan alex hanya tersenyum melihat keharmonisan dipagi hari dalam keluarga ini. Kemungkinan alex dalam hati akan sangat rindu suasana seperti ini setelah pergi keasalnya dulu sama dengan adam yang mungkin akan sangat merindukan orang orang yang ia sayangi dan orang yang sangat ia cintai.

__ADS_1


"Luna, sudah selesai. Ka adam udah mandi?" adam menggeleng. "Belum, tunggu sebentar ya." Aluna mengangguk. "Iya, luna tunggu diruang keluarga ya. Pa main yuk, kakek juga yuk kalau udah selesai." ajak luna kepada ranz yang juga sudah selesai dengan sarapannya.


Adam dan aksa sudah menyelesaikan sarapannya setelah mamanya sudah selesai menyuci piring kotor aksa menahan tangan mama. "Biar aksa aja ma, mama duduk aja sama yang lain didepan." anzel tersenyum dan berjalan kearah suami dan putrinya yang sedang bermain catur dengan ayah alex.


Aksa menyuci piring kotor, adam pun melangkah menuju kearah kamarnya yang dilantai dua itu untuk segera mandi agar gadisnya tidak terlalu lama menunggu dirinya. Cukup 10 menit ia bersih bersih dan 15 menit kemudian ia sudah rapih dengan pakaiannya, yang cukup kembar dengan gadisnya.



Adam menuruni tangga dengan kedua tangan dimasukkan kedalam kantung celana, lalu berjalan kearah ruang keluarga yang terdengar ramai karena teriakkan aluna dan aksa, dia melihat kakeknya yang sedang bermain melawan aksa dengan suporter gadis kecilnya itu.


Mama anzel menyadari adam yang sudah berdiri didekat tangga dan tatapan mata adam terhadap putri kecilnya itu sangat memuja. Sepertinya sudah ada apa apanya didalam hubungan kedua remaja tersebut. "Aluna, adam sudah rapih tuh. Dan lihatlah pakaian kalian berdua sama seperti itu apa kalian sudah menjadi pasangan satu sama lain?" goda mama membuat alun menundukkan kepalanya agar pipi merahnya tidak terlihat.


"Aduh putri mama malu malu, udah sana berangkat mau kemana sih kalian bukannya senang senang dirumah saja manja manjaan disini."


"Gak enak ada mama papa disini. Mending diluar ya dam, gak ada yang jagain haha." Celetuk aksa disetujui dengan kakek alex yang ikutan tertawa. "Bisa saja kamu sa, apa jangan jangan kamu begitu? Karena pengalaman."


"Pengalaman apaan, cewenya aja digantung mulu sampai sekarang masih pdkt doang."


"Diam aja gak usah sirik."


"Ngapain sirik, orang luna udah dilamar!" balasnya yang langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangan kanannya lalu kabur dari hadapan kedua orang tuanya. Adam pun yang berdiri dibelakangnya sedari tadi hanya mengulum senyuman dan tertawa bahagia.


"Jadi adam, kamu udah.. " tanya mama menggantung saat adam mengangguk. "Udah, niatnya mau sepulang dari sana ngelamar dihadapan mama papa tapi luna malah keceplosan adam berangkat dulu ya semuanya.."


"Iya hati hati, gandeng tangannya luna biar gak nyasar." ucap anzel dan menatap wajah suaminya yang seperti syok dengan kenyataan bahwa putri kecilnya sudah dilamar oleh seorang pria. "Aku tidak tau, putri kecilku ternyata sudah besar."


"Sejak dulu luna sudah besar sayang, kamunya saja yang selalu menganggap luna anak kecil."


"Bagiku luna tetaplah putri kecilku, tidak akan pernah berubah sampai kapanpun." Anzel tersenyum mendengarnya, seperti mengingat masa remajanya yang selalu dimanjakan dan dijaga selalu oleh ayahnya. "Jadi ingat ayah, perkataanmu sama dengan apa yang diucapkan oleh ayah kepadaku."


Ranz tersenyum dan mengangguk. "Kamu memang harus dijaga begitupun dengan luna."


---Bersambung---


Jangan lupa like ceritaku dan mampir keceritaku yang lain.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2