Childhood Love Story

Childhood Love Story
Rayya dan Hanum


__ADS_3

Hari Minggu pagi rumah Rangga dan Ara begitu ramai.


Usia twins telah genap sebulan sudah hari ini.


Rayya datang bersama Hanum, Denis dan Natasya yang memang sudah menginap disitu beberapa hari yang lalu.


Nampak Azura dan Ardipun terlihat menuruni mobil mereka dan memasuki pekarangan rumah Rangga.


"Loh kak Denis kok disini?, nggak bulan madu?" Tanya Ardi heran mendapati Denis berada di rumah adiknya, harusnya pengantin baru kan asyik-asyikan bulan madu.


" Ini kan juga bulan madu lah, disini juga bisa bulan madu..." Sahut Denis santai sambil terus memainkan joystick PSnya.



" Dia ini orangnya super pelit sejak kecil Di, hotelnya berdiri di mana-mana, tapi bulan madu malah nginep dirumah Rangga yang gretongan...." Sahut Rayya.


" Iya tuh, seminggu aja mereka disini ya.., persediaan shampo kami udah habis tiga botol untuk mereka berdua saja" Sambar Rangga.


" Heyy!!! Kau ini perhitungan sekali ternyata Ga!! " Sahut Denis geli, senyuman terkulum dibibirnya karena malu.


" Ha..ha..ha.." Tawa riuh terdengar dari ruang PS sampai ke dapur dimana para wanita berada.


" Halah..., cuma shampoo doang, pabrik shampoonya juga bisa dibeli oleh kak Denis, ya nggak?" Ucap Ardi.


" Nah betul itu Di..." Sambar Denis lagi, disertai dengan tawanya yang meledak lagi.


Sebenarnya tidak ada masalahnya sama sekali Denis berada dirumah Ara atau tidak. Karena Denis dan Natasya menghabiskan hari mereka berada di lantai dua. Sedangkan Ara dan Rangga banyak beraktivitas di bawah.


Memang benar kata-kata Denis, bahwa bulan madu bisa dimana saja, dan mereka merasa nyaman dengan numpang dirumah Rangga begini.


Setiap pagi mendengar suara tangis twins itu bagai melodi yang indah. Setiap pagi dan sore membantu memandikan twins, bermain dengan mereka rasanya begitu menyenangkan.


Dan berkat itu pulalah sedikit demi sedikit pola pikir Natasya mulai bisa berubah. Dan mungkin mereka akan menambah satu minggu lagi disini, untuk memastikan keputusan Natasha yang masih abu-abu sebelum benar-benar terbang ke Berlin.


" Kak Rayya sendiri gimana kak?, kapan ngundang?" Tanya Ardi pada Rayya.


Rayya terlihat pias saat Ardi bertanya tentang pernikahan.


" Hufft....."


Helaan nafas Rayya membuat ketiga pasang mata itu semua menatapnya penasaran.


" Ada apa?"


Denis meletakkan joysticknya dan menghadap pada sahabatnya itu, instingnya begitu tajam.


" Apa ada masalah?" Lanjutnya.


" Jalanku bersama Hanum tidak akan mudah..." Ucap Rayya sendu.


" Loh, bukanya Hanan dan ustadz Abqori udah setuju ya?" Tanya Rangga.


Rayya lagi-lagi menghela nafasnya yang tiba-tiba begitu sesak.

__ADS_1


" Dari keluarga Hanum, tidak ada masalah apa-apa, mereka welcome padaku.., tapi bundaku...." Rayya mengusap wajahnya kasar.


Ardi, Rangga dan Denis saling tatap.


" Bunda lo?" Rangga tak tahan akan rasa penasarannya. Pria muda dua anak itu berpindah duduk di bawah sofa dimana Rayya berada.


" Hemmm, bunda dan ayah sudah lebih dulu me...me...melamar Sekar.."


Prang!!!


Air minum di nampan yang berada di tangan Hanum tumpah dan terjatuh begitu saja saat kata-kata dari mulut Rayya menusuk gendang telinganya. Begitu sakit menusuk sampai terasa nyeri dan merambat kehati. Merematnya kuat hingga rasa sesak tak mampu lagi dibendung oleh Hanum.


" Hanum...." Desis Rayya yang syok saat mendapati keberadaan Hanum didepan pintu ruang PS.


Rayya bergegas berdiri dan berlari ke depan Hanum.


" Num, mari bicara...." Rayya menatap sendu mata yang tergenang oleh air mata di depannya. Dadanya ngilu bagai diremat-remat.


Hanum hanya mengangguk pelan. Sementara Ardi, Rangga dan Denis saling tatap tak tau harus berbuat apa, karena mereka sendiripun syok akan semua ini.


Dibalkon dapur tepatnya, saat ini Rayya dan Hanum duduk berhadapan.


" Mungkin kamu sudah mendengarkanya tadi Num, seperti itulah yang terjadi....


Tapi percayalah padaku Num, aku hanya mau kamu..."


Rayya meraih jemari Hanum untuk digenggaman nya. Persetan Hanum mau ngamuk, mau teriak silahkan saja, toh Rayya hanya ingin agar Hanum tahu bahwa dia begitu mencintai gadis ini.


Hanum melotot melihat tanganya yang berada dalam genggaman Rayya.


" Num, dengarkan aku..Aku men... men... menci---"


" Sudahlah, tidak perlu diteruskan, sudah tidak berguna semua itu. Kau akan pergi juga dariku. Jangan membebani hatiku dengan beratnya rasa cintamu kak..." Sambar Hanum.


" Tapi ini benar Num, aku mungkin akan menyakiti Sekar bila harus meneruskan dan menuruti keinginan Bundaku, karena semua yang ada pada diriku akan terus berpusat padamu, Num disini hanya ada kamu..." Rayya menunduk sedih sambil jari telunjuknya menusuk-nusuk dadanya.


Bugh...bugh...


Rayya menepuk dadanya kuat, sekalian saja untuk merontokkan rasa sesak yang ada. Andaikan tak tahu malu, ingin rasanya Rayya menangis sepuasnya untuk meleburkan rasa sesak yang begitu menghimpit.


" Cukup, jangan menyakiti diri sendiri" Hanum menarik kedua tangan Rayya yang terus menepuk dadanya brutal untuk digenggamannya.


" Sumpah Num!, Sumpah demi Allah Hanum..., aku mencintaimu saja...".Rayya kehilangan harga dirinya, pria itu memalingkan wajahnya kesamping, tak ingin terlihat menangis di hadapan wanita yang begitu berarti baginya.


Bertahun-tahun sudah Rayya menunggu, menunggu kepulangan Hanum.


Menunggu hari ini datang.


Menunggu masa mereka bersama.


Rayya itu pria penyabar yang luar biasa.


" Bukankah pria bisa memutuskan sendiri pilihannya, pria juga tidak perlu perwalian untuk menikah kan? Jadi Num, aku bisa datang melamarmu tanpa kedua orang tuaku kan?"

__ADS_1


Hanum menatap mata Rayya yang beberapa tahun ini tidak lagi memakai kacamatanya. Mata yang indah, tidak ada kebohongan disana, yang ada hanya tatapan tulus dan murni.


" Num, tahukah kamu?, sejak aku memberikan hadiah boneka capit padamu. Sejak hari itu pulalah hatiku ikut serta terbawa olehmu..."


Hanum diam membisu. Harus bagaimana ini?. Diapun sama, walau tak bicara dan tidak pernah menunjukkan ekspresi sukanya. Tetapi Hanum jelas memiliki rasa pada Rayya.


Diapun sama, tidak mau orang lain sebagai imannya kelak, karena di hatinya sudah ada nama Rayyan Athaya.


" Walaupun begitu, kita tetap butuh restu orang tua kak, awal langkah kita untuk bersama adalah dengan adanya restu itu.." Ucap Hanum pelan.


" Num juga sama, Num juga..itu..itu......" Hanum menjeda ucapanya dan menoleh ke kiri dan kekanan.


Untuk mengungkapkan rasa cintanya Hanum belum bisa, lidahnya begitu lekat tidak mau berucap.


" Num mau jadi yang kedua asal itu bersamamu kak Rayyan, menurutlah pada bundamu terlebih dahulu, aku tidak masalah, karena aku sudah terbiasa menunggu....." Bisik Hanum.


Rayya mendelik tak percaya, begitupun beberapa telinga yang sedang menguping di balik jendela.


Ya, saat ini Rangga dan Denis beserta Natasya menguping pembicaraan mereka.


" Gila, Hanum gokil juga..." Bisik Denis. Posisi Natasya saat ini berada dalam dekapannya, menempel di jendela.


" Iya, gila dia.. Tapi Nat nggak sama ya. Nat mau, kakak cuma buatku seorang..." Natasya berjinjit mengecup bibir Denis sekilas. Denis memejamkan matanya beberapa saat lamanya.


" Kamar yuk..." Bisik Denis seksi ditelinga Natasya, dengan senyumnya yang mengembang sempurna.


Natasya mengangguk malu, Denis meraih jemari Natasya dan membawanya berbalik ke arah tangga.


Mereka pun berlarian kecil menaiki tangga dan menghilang dengan cepat tanpa disadari oleh Rangga yang masih setia menempelkan kupingnya di sela pintu.


" Heyy, jangan nguping!!, itu kerjaan iblis tahu..." Ara melintas dan mencolek pundak Rangga.


" Cuma dikit doang kok yang..." Sahut Rangga.


" Dikit banyak sama saja, nguping juga namanya..., Natasya dan kak Denis mana?" Tanya Ara lagi.


" Loh, tadi mereka disini..." Rangga celingukan mencari keduanya.


" Udah lari ke atas..." Sahut Ardi yang membawa Almeer dalam gendongannya, lalu duduk disofa, memangku keponakan tersayangnya.


Rangga mengangguk sepintas lalu melirik pada mata Ara. Ara mengangkat bahunya, sok cuek dengan lirikan Rangga yang menyiratkan sesuatu.


" Ck..." Suara decakan Rangga mengagetkan Ara dan Ardi.


" Kenapa mendecak seperti itu?" Tanya Ara curiga.


Ardi juga ikut menatap mata adik iparnya itu penasaran.


" Puasa itu benar-benar menyiksa ya Di, kita hanya disajikan makanan tiap hari. Tapi tidak bisa menikmatinya.., apa kau tahu Di?. Rasanya benar-benar mau mati.."


Ucap Rangga dengan mengusap kasar wajahnya, lalu mengacak-acak rambutnya gemas. Matanya masih menatap mata Ara dengan tajam.


" Lo ngomong apa sih?, nggak maksud gue..SUMPAH!!" Sahut Ardi

__ADS_1


Ara tertawa kecil melihat kelakuan Rangga yang seperti itu.


__ADS_2