
---Happy Reading---
Didalam mobil, aluna hanya bisa diam menatap pemandangan diluar jendela mobil. Adam yang menyetir sedikit melirik dan melihat aluna yang sedang melamun, ia bertujuan kearah tempat yang sunyi namun indah yaitu bukit yang jarang didatangkan oleh orang orang.
Perjalanan cukup panjang sampai membuat aluna tertidur, dan adam tidak tega untuk membangunkan gadis itu. Dengan pelan adam membuka pintu dengan pelan lalu dia duduk diatas kap mobil yang lumayan sudah dingin karena mesin ia matikan sejak lama ia sampai kemari.
Ia melihat kota dibawah sana yang sangat indah dan dipenuhi dengan kendaraan bermacam macam yang membuat kota itu semakin penuh. Aluna sudah bangun dari tidurnya dan ia melihat bahwa adam sedang duduk santai dikap mobilnya sepertinya ia sangat senang memandang pemandangan kota dibawah bukit tersebut.
"Sejak kapan kita sampai?" tanya luna yang baru saja keluar dari mobil, adam menatap gadis itu dengan senyuman. "Nyenyak tidurnya? Kita sudah lama sampai dan aku tidak tega membangunkanmu yang sangat nyenyak itu. Jadi aku berakhirlah disini."
Aluna mengangguk paham, kemudian ia duduk disamping adam dengan mata yang memandang langit langit yang sebentar lagi akan menunjukkan senja disore hari. "Wahh.." gumamnya saat melihat warna langit berubah menjadi keorenan dan kekuningan karena matahari sebentar lagi akan terbenam.
"Indah bukan?" aluna mengangguk setuju. "Ya sangat indah, dan aku sangat menyukainya."
"Syukurlah jika kamu menyukai senja, aku mengajakmu kesini karena ingin mengatakan sesuatu dan kemungkinan kamu akan senang atau tidak senang?"
"Apa itu?" tanya aluna dengan menatap adam tatapan tanda tanya.
Adam juga menatap mata aluna dengan dalam, diambilnya nafas lalu dibuangnya dengan pelan. "Aku menyukaimu, sangat menyukai ah- tidak maksudku aku mencintai sangat mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi istriku dimasa depan dan menjadi teman hidupku disetiap aku kesulitan maupun senang, tapi semua itu aku harus melewati satu hal dan menyelesaikannya terlebih dahulu." pengakuan cintanya diakhiri dengan kalimat menggantung bagi luna.
Aluna mengerjapkan kedua matanya sangat pelan karena ia sedikit kaget akibat pengakuan dari adam. Lalu ia menatap adam dengan senyuman manisnya. "Lalu apa yang harus kamu lewati?"
Adam sedikit ragu sampai ia menggaruk tengkuk lehernya yang tiba tiba gatal, "aku harus balik ke negara A menyelesaikan masalah keluarga kami yang belum selesai." ujarnya yang kurang aluna pahami.
"Maksudnya? Masalah yang kemarin aluna disekap itu?" Adam mengangguk. "Ya, itu sebenarnya masalah keluarga kami, dan kamu termasuk orang asing yang tidak tau masalah kami namun kamu menjadi korban. Maka dari itu aku tidak mau kamu menjadi korban kedua kali."
Aluna mengangguk dengan sedikit menundukkan kepalanya, tangan adam mencoba mengangkat dagu luna dengan lembut. Adam terkejut ketika mata didepannya mengeluarkan air mata."
"Kenapa kamu menangis? Apa ada ucapanku yang membuatmu sakit hati?" Tanya adam yang dijawab anggukkan oleh luna. "Kamu mengatakan bahwa aku orang asing. Dan entah mengapa itu sangat menusuk." lirihnya. Adam langsung memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
"Maksudku bukan begitu, aku tidak menganggapmu sebagai orang asing melainkan lawanku yang menganggapmu seperti itu dan aku tidak mau kamu yang tidak mengerti tentang itu menjadi korban. Aku khawatir kamu kenapa kenapa." jelas adam dengan tangan yang mengelus punggung luna dengan pelan.
"Kamu akan pergi berapa bulan?" adam menggeleng lemah, "bukan bulan melainkan tahun."
"Hah? Kenapa lama sekali, lalu berapa tahun kamu akan meninggalkanku?" adam melepaskan pelukannya dan menatap luna dengan tatapan manis, "Dua tahun, aku akan pergi dua tahun setelah itu aku akan kembali dan pulang untuk melamarmu. Doakan semoga masalah ini cepat selesai, dan kita akan hidup bahagia."
Aluna menatap dalam mata adam. "Apa kamu bisa berjanji padaku untuk tidak terluka atau menghilang tanpa kabar. Aku akan khawatir jika kamu tidak mengabariku."
Adam tersenyum mengangguk. "Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan usahakan untuk mengabarimu jika ada waktu senggang."
__ADS_1
"Jadi aku akan menunggu jawaban darimu setelah kupulang dari sana, ya? Yang kuharap saat aku pergi jauh kamu tidak selingkuh atau dekat dengan lelaki lain diluar sana, karena kamu masih tunanganku sejak kita kecil." ujarnya sembari memasukki benda kedalam jari manis luna.
Luna tersenyum manis, dengan debaran jantung yang berdegup kencang didalam dadanya. Lalu menatap adam sampai ia memejamkan matanya saat merasakan benda kenyal dan dingin milik adam berada dikeningnya. Adam mengecup kening aluna dengan lembut sambil membatin 'Semoga apa yang kita inginkan tercapai. Tunggu aku.'
Malam hari, aluna sedari tadi tersenyum senang dikamarnya maupun diruang makan sesekali ia melirik kearah adam yang sama mengulum senyum. Dan tingkah kedua yang aneh ini diperhatikan oleh mama sampai anzel ikutan senang, sepertinya keduanya sudah mengatakan sesuatu yang serius atau status yang serius?
"Ada apa denganmu lun? Sejak tadi abang perhatikan kamu senyum terus menerus." aksa memang melihat adiknya senyum terus sampai ia berpikir bibir adiknya apa tidak kering? Aluna menatap abangnya kemudian senyum pula. Membuat aksa bergidik ngeri, "Lun, kau kenapa? Tiba tiba tersenyum seperti itu. Apa kau sakit? Atau kerasukkan?"
Plak!
"Aw! Sakit lun."
"Habisnya, adiknya dibilang kerasukkan. Kalau luna beneran gimana? Abang mau nanggung?" Aksa menggeleng takut. "Ya ngga, kalau kamu begitu abang kabur."
"Ish."
"Sudah sudah, lanjutkan makan kalian besok kalian masih masuk ngampus bukan?" tanya mama yang diangguki oleh keduanya. Mama melirik alex yang sedari kemarin hanya menjawab singkat jika ia mengajaknya berbicara seperti yang lalu. "Ayah, masih tidak ingin berbicara kepadaku?" tanya anzel sedikit ragu karena mendapatkan hawa dingin dari alex.
Alex menatap anzel dengan tatapan lembut. "Ayah hanya kelelahan anzel, jangan khawatir ayah tidak marah kepadamu. Ayah duluan, selamat malam." pamitnya dengan sedikit melirik ranz dan aksa. Orang yang sudah membantunya dinegara sana, namun dia dengan tidak malunya malah mengatakan kalimat tajam pada dua orang itu.
Mereka orang lain dan sudah seharusnya dia pindah dari rumah ini namun jika dipikirkan lagi anzel serta putrinya tidak mengetahui masalah itu jadi ia tidak ingin anzel penasaran dan mengorek kasus keluarganya lagi.
❣❣
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sautnya dari dalam, tanpa menoleh ia hanya fokus dengan pakaiannya sampai ia melirik seseorang yang sudah duduk ditepi kasurnya dengan tatapan lesu. 'Sepertinya dia sudah mengetahui.' pikirnya.
"Apa benar, kau akan pergi dari rumah kami?" tanya orang itu dengan menatapnya serius. "Sebenarnya ada masalah apa lagi sih? Apa masalah itu belum kelar? Lalu mengapa ayah mika berkata kepada kami sudah kelar dan baik baik saja?"
"Ayah alex tolong jawab pertanyaanku. Jangan mengalihkan pandanganmu dan tatap mataku!" pekiknya saat ia masih tidak dihiraukan oleh alex. Alex mengambil nafas lalu buang dengan pelan, ditatapnya manik coklat itu dengan lembut. "Iya, kami akan pergi. Mengurusi semua masalah dalam keluarga kami."
"Tapikan aku juga keluarga ayah.. Aku bisa membantu kalian.." Alex menggelengkan kepala lalu tersenyum kepada wanita yang sudah dianggap kakak oleh keponakan kesayangannya. "Tidak, masalah kami tidak akan bisa kamu bantu dengan tenagamu. Kamu dan luna adalah orang yang membuat kami lemah dihadapan musuh, karena kalian adalah orang yang kami sayangi, jadi menurutlah dan jaga diri kalian baik baik kami tidak akan lama kok."
"Berapa tahun? Berapa tahun kalian akan pergi?"
"Sekitar dua tahun, atau lebih?"
"Lama banget! Kalau lebih dari dua tahun aku akan mengunjungi kalian kesana, jika kallian tidak ingin kami kesana maka pulanglah karena kami menunggu kehadiran kalian." ucapnya lalu berjalan keluar dengan langkah lebar ditambah dengan ekspresi kesalnya membuat alex meneriaki namanya.
__ADS_1
Setelah anzel keluar dari kamarnya muncullah cucunya dengan wajah khas datar miliknya. "Mengapa mama sangat kesal setelah keluar dari kamar ini kek?"
"Ia sudah tau,"
"Tentang kepergian kita?" Alex mengangguk lalu disletingnya koper miliknya dan duduk disamping cucunya yang sudah naik kasurnya dengan nyaman. "Kamu sudah memberitahu kepada gadis kecil itu?" adam mengangguk. "Sudah, dan juga pengakuanku."
"Kau melamarnya?" adam mengangguknya dengan ragu bimbang ingin memberi tahu namun telanjur mengangguk. Alex menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Benarkah? Lalu apa jawabannya?"
"Aku tidak tau." jawabnya dengan mengangkat kedua bahunya dengan mulut cemberut. Alex mengernyit pelan, "mengapa tidak tau? Bukannya setiap orang berkata jujur dengan pengakuan pasti lawannya akan menjawabnya segera, bukan begitu?"
Adam mendangak menatap langit kamarnya dan menghela nafas. Kemudian ia menatap kakeknya dengan malas, "Apa harus begitu? Aluna juga butuh waktu untuk berfikir, wanita diluar sana aja yang terlalu murahan menerima sipria tanpa berpikir terlebih dahulu." netijen mulut adam keluar sekejap.
Alex mengerjapkan matanya dengan tatapan tak percaya. "Wah! Mulutmu benar benar kembali seperti dulu waktu dirimu masih sma ya? Tajam sekali."
"Kakek lebay, jadi kapan kita akan berangkat?"
"Lusa, lusa kita akan berangkat." jawabnya lalu meninggalkan adam yang masih duduk nyaman dikasur dan masuk kedalam kamar mandi untuk berganti baju.
Adam menoleh kearah pintu balkon kaca yang menunjukkan langit yang penuh bintang dimalam hari ini. Ia berjalan melangkah keluar balkon dan duduk dikursi yang selalu berada disana, ditatapnya bintang bintang yang penuh menyinari dan menemani bulan dilangit.
"Bintang, bulan, kuharap kalian bisa menyampaikan salam baik untuk kakekku yang berada dinegara A, dan beritahu kepada bunda bahwa putranya sangat merindukannya, bahagialah selalu ditempat barumu." ujarnya dengan senyuman sendu dan senang bergabung.
Ia masih memandangi pemandangan yang berada diluar sana, banyaknya lampu yang menyala disetiap rumah dan jalanan. Ia merasakan hawa nyaman dan hangat diudara sedingin ini karena angin sepoi yang cukup kencang. "Adam, masuklah, angin malam tidak bagus untuk tubuhmu." ucap alex yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lebih santai dari yang sebelumnya.
"Baik kek,"
"Mulailah istirahat, besok adalah hari terakhir kita disini mungkin saja mereka akan menyiapkan pesta kepergian kita."
"Mana ada, pesta kepergian seperti pesta kematian saja." ucap adam dan seketika mulutnya langsung ditampar oleh tangan kanan kakeknya sendiri. "Sakit kek! Kejam banget."
"Habisnya kamu berkata tajam sekali, kakek jadi merasa sebentar lagi meninggal tau."
"Hush! Kakek juga berkata yang tidak tidak. Kek ucapan itu doa, jadi jangan mengucapkan kalimat buruk dari mulutmu. Aku tidak ingin kamu kenapa kenapa hanya karena ucapan sendiri."
Alex mengangguk mengiyakan perkataan cucunya lalu membaringkan tubuhnya sedikit menendang kaki cucunya untu tidak duduk ditempat kakinya berada. "Kakek apa apaan sih?" kesalnya karena ditendang. "Kau menghalangi jalan kakiku! Kaki kuat ini butuh istirahat dan kamu malah duduk ditempatnya. Cepat tidur sudah malam."
"Iya, tuan besar. Saya akan segera tidur, jika anda ingin berbagi sedikit selimutnya." ucapnya dengan sopan dan sedikit menahan kesal.
---Bersambung---
__ADS_1
Jangan lupa like ceritaku dan mampir kecerita lainnya.
Terima kasih.