
Kehadiran Ardi bersama dua orang gadis cantik dan seorang gadis kecil tentu sangat menarik perhatian undangan.
Apalagi jelas Ara memiliki kecantikan diatas rata-rata, dan lagi Azura yang hanya nampak matanya saja juga sangat menarik perhatian.
Beberapa teman Ardi bahkan terang-tetangan menggoda gadis-gadis itu.
" Hai Ardi.., siapa gadis cantik ini?" Sapa beberapa teman Ardi yang sengaja mendekati meja mereka.
" Yang mana bro?" Tanya Ardi ramah.
" Yang ini" Pemuda dengan badan kekar dan rambut cepak itu memajukan dagunya menunjuk pada Ara yang cuek memasukkan kue ke dalam mulutnya.
" Oh, dia adek kembaran gue..Jangan ganggu!, dia udah terdaftar paten nya ditangan seseorang.." Jawab Ardi tegas.
Teman Ardi itu tersenyum dan menepuk keningnya, menyayangkan keterlambatannya.
"Oh, kalau gitu yang ini deh.." Sahut pemuda itu dengan melirikkan matanya pada Azura.
" Oh yang ini juga sama!!!, dia adek gue juga. Adek ketemu gede..ha..ha.." Kata Ardi renyah, yang matanya berusaha melihat reaksi pada mata Azura.
" Yang ini jelas spesial, nggak diobral. Gua jelas nggak akan kasih sama lo atau siapapun..." Ucapnya dalam dan tegas.
Dan benar saja, Azura terlihat menatap nya dengan tatapan terkejut beberapa saat dan langsung kembali menunduk malu.
" Yaaaahhhh.., masih ada nggak adek lo yang barangkali masih ketinggalan dirumah bro?" Tawar teman Ardi lainnya.
Ardi tertawa keras dan menggelengkan kepalanya.
" Yang ini saja ya...., tapi tunggu lah 20 tahun lagi ha...ha...ha..." Lanjut Ardi sembari mengangkat Bianca tinggi-tinggi dan melemparkannya sekilas lalu ditangkapnya.
Bianca tertawa bahagia diperlakukan seperti itu oleh orang yang sangat disayanginya.
Sementara teman-teman Ardi tertawa bersama melihat kekocakan Ardi yang memang terkenal itu.
Acara terus berlanjut, semakin malam semakin meriah. Ardi terus saja didatangi teman- temanya, beberapa dari mereka sekedar sharing bagaimana pengalaman Ardi mendapatkan pelatihan khususnya di Thailand.
Beberapa kali Ardi terlihat menegur teman-teman nya yang berusaha menggoda gadis-gadis nya.
" Kamu sudah ngantuk beb?" Tanya Ardi ketika mendapati Ara mengucek matanya.
" Belum sih.." Jawab Ara jujur.
" Bian sudah ngantuk belum sayang?" Kini pandangan Ardi berpindah pada Bianca yang ada di pangkuannya. Dan gadis kecil itupun menggelengkan kepalanya.
Kini kepalanya di condongkan kesamping, terjulur menuju pada telinga Azura.
" Kalau kamu sudah ngantuk belum? Sayang..." Bisik Ardi dengan menekankan kalimat sayang disana.
Azura menoleh dengan cepat. Gadis itu membelalakan matanya lebar.
Ardi yang melihat reaksi imut itu tak dapat menahan tawanya.
" Emmmhhh ha..ha..ha..ha.."
Azura yang mendapati Ardi menertawakannya sedemikian, dengan geram menabok paha Ardi keras.
Ardi justru malah semakin tertawa bahkan sampai keluar air mata dari sudut matanya.
Azura ini sungguh imut, ya Tuhan..
Lihatlah, tingkahnya sangat lucu saat malu-malu begitu rasanya gue mau....aakhhhh...
" Apaan sih bang, nggak sopan ketawa kaya gitu.." Ara menabok lengan Ardi geram.
Bianca juga terlihat menatap Ardi dengan tatapan heran. Sementara Azura semakin menunduk karena semakin malu.
Drrrt..drrt..drrt
Ponsel Ara bergetar tanda panggilan rutin Rangga masuk.
" Bang Lili angkat panggilan kak Rangga sebentar ya di balkon..."
" Iya beb...." Jawab Ardi tanpa curiga, karena Ardi sangat tahu mereka butuh privasi.
Ara melangkah menuju pintu luar ballroom.
Balkon yang cukup luas dan tenang. Ara mengambil tempat yang sedikit menyudut dan sepi agar bisa leluasa berbicara dengan Rangga.
" Hai sayang, Assalamualaikum.."
" Hai juga kak, Waalaikumsalam..."
Rangga dapat menangkap suara yang riuh dibelakang Ara, dan diapun dapat mengambil kesimpulan bahwa Ara dan Ardi masih berada di tempat acara.
" Sudah malam sayang, kenapa belum pulang..?"
" Iya sebentar lagi kak..."
Ara dan Rangga terus bercakap-cakap seperti biasa.
Sementara itu, disudut tak jauh dari Ara, beberapa pria dengan pakaian pelayan terus memperhatikan gerak-gerik Ara.
__ADS_1
" Target sudah terpisah boss..."
" .........................."
" Siap boss.."
Massachusetts, USA.
" Sayang, babby sehat kan?" Pertanyaan rutin Rangga beberapa bulan ini.
" Iya kak, Alhamdulillah... Cuma Lili semakin gemuk hi...hi..hi.." Jawab Ara dengan menepuk kedua pipinya.
Rangga tersenyum, menatap istrinya dengan tatapan penuh kerinduan.
" Kakak minta maaf ya sayang, tidak berada disampingmu di saat seperti ini.."
" Iyaa kakak sayang..., Li juga sering bilang kok sama twins, daddynya sedang jihad. Menuntut ilmu demi masa depan kita semua..."
Rangga tertegun dengan setiap ucapan Ara. Gadis itu selalu bisa membuat hatinya tenang dengan kata-kata nya.
Inilah ciri-ciri istri sholeha, selalu menyejukkan hati.
Tapi saat matanya fokus dengan layar laptopnya. Rangga melihat seseorang tampak tengah mengendal-endap dibelakang Ara.
" Sayang, sudah dulu ya..kembali ke Ardi cepat.."
" Kenapa?, nanti dulu... Lili masih kangen.."
Selalu begini, Ara selalu menolak bila pembicaraan mereka terlalu singkat.
"Tapi sayang disitu terlalu sepi bahaya!!!, cepat ke Ardi sayang. Kakak mohon.."
Rangga semakin panik saat melihat sebuah tongkat baseball berada dalam genggaman seseorang dibelakang Ara.
" Sayang please...please ke Ardi sekarang!!!"
" Kenapa sih?" Tanya Ara bingung.
" Say-------" Teriak Rangga histeris.
" ALLAHU AKBAR!!!" Teriakan Ara memekikan telinga Rangga.
Brughh!!!
Suara benda jatuh terdengar dari ponselnya, membuat Rangga berdebar hebat.
Apalagi saat ini kamera ponsel Ara mengarah pada langit-langit balkon.
" SAYANG!!! JAWAB KAKAK SAYANG!!! "
" Ya Allah..., ya Allah apa yang terjadi...APA yang terjadi????!!!"
Teriakan histeris Rangga membawa para sahabatnya berlari ke arahnya.
" Bro ada apa!!!" Tanya Elliot dan Adam ikut panik.
"LILI!!! LILI !!!..ya Tuhan seseorang memukulnya...Akkh...Akkhh..." Teriak histeris Rangga.
Pemuda itu mondar-mandir dengan mengacak rambutnya frustasi.
Fikiranya buntu saat ini!, istrinya sedang diserang di depan matanya. Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.
Ah Ardi!!!
Rangga bergegas menekan nomor Ardi dengan tangan bergetar.
" ARDI!!! Angkat Ardi!!!angkat!!!!" Teriak nya dengan memaki-maki ponselnya.
" Ya..." Suara Ardi terdengar bercampur dengan kebisingan.
" Ardi Lili di balkon!! ada yang menyerang nya..TOLONG dia !!!, TOLONG dia Ardi!!!"
Tanpa mempedulikan ponselnya yang terjatuh, Ardi segera berlari ke balkon.
Rangga terduduk bersimpuh dengan wajah yang penuh air mata.
" Akkhh.....Akhhhhn, Aku tidak berguna.... AKU TIDAK BERGUNA!!!! Hu...hu...hu..." Tangis Rangga memilukan. Membuat Elliott dan Adam ikut menangis karenanya.
Kembali ke Ballroom, Hotel Mahakam. Jakarta.
Ardi berlari secepatnya ke arah balkon.
Dia tidak perduli beberapa kali mendapatkan umpatan kasar dari beberapa undangan yang ditabraknya begitu saja.
Saat sampai di sana, dia melihat Ara sedang berusaha melawan beberapa orang yang sedang menyerangnya.
20 menit yang lalu..
Saat Rangga terus menyuruhnya pergi ke Ardi sebenarnya Ara sudah merasakan sesuatu yang tidak beres. Kebetulan di depan Ara juga terdapat kaca yang bisa melihat pantulan dibelakangnya.
Dan Ara juga menyadari ada seseorang yang berada di belakangnya sejak tadi.
__ADS_1
Akan tetapi tidak mungkin juga Ara tiba-tiba lari, justru akan memancing reaksi impulsive dari pria misterius itu kan.
Saat tongkat baseball berayun kearahnya Ara masih mampu menghidar, tetapi karena fokus Ara hanya melindungi perutnya maka justru dia tersungkur kedepan.
Dan tentu saja ponselnya terlempar entah kemana.
" ALLAHU AKBAR!!!" Teriak Ara saat dengan kencang pria misterius itu menendang pinggangnya sebelum dirinya mampu bangkit.
Dan lagi-lagi Ara terjerembab jatuh ke lantai.
Rasa nyeri luar biasa pada perutnya membuat Ara berdebar dan berkeringat dingin.
Do'a-do'a keselamatan di rapalkanya demi memohon perlindungan untuk twins.
Tak ingin kecolongan Ara segera berdiri dan bersiap memasang kuda-kuda. Dielusnya perutnya sekejab.
Tiga pria misterius itu dengan cepat menyerang dengan membabi buta sementara Ara berusaha dengan tenang menangkis setiap serangan itu dengan hati-hati demi melindungi perutnya.
Duakk!!
Tendangan salah satu pria itu berhasil mengenai tulang kering Ara. Membuat gadis itu tidak stabil karena sakit pada kaki kanannya.
Pria misterius dengan baju pelayan maju menyeringai dengan menjijikan, dengan ayunan kaki yang maksimal ditendang nya kaki Ara yang telah tidak stabil itu sekali lagi.
Duakkk!!
"ALLAH......." Seru Ara.
Tubuhnya limbung, dan...
Brughhh!!!
Ara jatuh dengan kedua lutut menyentuh lantai denga keras.
Ada rasa bergejolak hebat pada perutnya saat berbenturan keras pada lantai.
" LILI!!!! Brengsek!!!, dasar BANCI kau!!!, beraninya pada gadis!!!" Maki Ardi murka.
Dengan cepat di hantamnya wajah pria itu sekuat tenaga.
Bertepatan dengan kedatangan Ardi, maka muncul jugalah beberapa pria bertatto yang entah datang darimana.
Pengeroyokan tak dapat dihindari, bahkan dua orang pria sengaja menutup pintu ballroom agar aksi mereka tidak diketahui undangan yang lain.
Bag...bug...bag..bug.
Adu jotos antara beberapa preman dan Ardipun tak dapat dihindari.
Azura yang melihat Ardi berlarian tadipun merasa cemas. Gadis itu menggendong Bianca untuk mencari Ardi ke arah yang dituju Ardi tadi.
Pintu utama memang tertutup. Tapi ada satu pintu lain yang terbuka. Dan Azurapun melangkahkan kakinya kesana.
" ANCA AWAS!!!"
Teriakan Ara mengagetkan Azura, dengan cepat gadis itu berlari ke arah sumber suara.
Matanya membola saat dilihatnya beberapa pria sedang mengeroyok Ardi, dan Ara yang bersimpuh dengan kedua tangan memegangi perutnya.
Melihat keadaannya sepertinya Ara sedang menahan kesakitan yang hebat.
" Bi..Bian. Bian nurut mmy ya.... Bian sembunyi disini ya, mmy bantu om Ardi dan aunty Ara ya sayang..."
Bianca kecil terlihat bingung dalam gendonganya dan menangis saat melihat keadaan yang mencekam di depanya.
Tapi belum juga beranjak dari tempatnya, seseorang telah lebih dulu merampas Bianca dari pegangan Azura.
" Tidak!!!, Bian!!!" Teriakan Azura mengagetkan Ardi dan Ara.
" Astaghfirullahalazim..." Desis Ara geram.
" Lepaskan!!!, jangan sentuh Bianca!!" Teriak Ardi murka, diamuknya mereka yang berada di depanya.
Wajahnya semakin mengeras dan memerah padam saat salah seorang dari pria itu menarik penutup wajah Azura.
" BRENGSEK KALIAN!!!!" Teriakan Ardi menggelegar.
Dengan kekuatan tersisa Ara beranjak berdiri, dengan sedikit berlari dia menghadang pria yang kini menggendong Bianca.
" LILI !!!...JANGAN!!!!!!" Teriak Ardi saat mendapati sebuah tongkat baseball terayun kebelakang pinggang Ara....
Brughhh........
Beruntung Ardi dapat menendang pria itu dan tersungkur.
Beberapa teman Ardi yang melihat Ardi berlarian dan tak kunjung kembalipun merasa penasaran. Dan mencarinya kesini. Mereka syok mendapati pemandangan di depanya.
Dengan sigap mereka segera membantu Ardi membereskan preman-preman berpakaian pelayan itu.
Dan dengan mudah pria misterius tersebut di bekuk, tapi beberapa dari mereka berhasil kabur melarikan diri...
Ardi dan Azura berlari mendekati Bianca dan Ara yang merintih memegangi perutnya.
__ADS_1