Childhood Love Story

Childhood Love Story
Badai Lenox Maha Dafran


__ADS_3

Lenox begitu gemas melihat Ara yang mengunyah makananya tanpa jaim sama sekali. Pipi Ara mengembung saat terus mengunyah, sampai-sampai Lenox menirukan gerakan mengunyah Ara.



" Ra...lo udah selesain stase lo kan hari ini? Pretest udah belum?" Tanya Lenox pada Ara.


Saat mereka dan para sebagian peserta koas sedang dikantin untuk makan malam.


" Alhamdulillah udah semua Le.., tinggal nungguin kak Rangga jemput aja...Auuhhh" Ara mengusap perutnya dengan wajah yang mengernyit kesakitan.


" Kenapa?, kenapa Ra?, yang mana ya sakit?...Ra.....Ara...." Lenox begitu khawatir melebihi reaksi Rangga. Beberapa suster dan dokter wanita menjadi iri dengan kedekatan mereka. Lenox yang notabene dokter muda tampan dan jenius begitu perhatian dan terlihat menyayangi dokter Ara yang sejatinya adalah istri orang.


" Akhir-akhir ini mereka selalu seperti ini Le...hufft..huffttt..." Ara terus menghembuskan nafas dari mulutnya, gadis cantik itu terlihat begitu kesakitan saat perut itu menggeliut-geliut secara nyata. Bahkan Lenox dan beberapa orang disanapun dapat melihat pergerakan yang intens itu.


" Emmmm, Ra...boleh aku pegang?. Duh gatal tangan aku..." Ucap Lenox gemas saat melihat tonjolan itu bergerak sedemikian rupa.


" Lepas jas doktermu, taruh sini.." Ucap Ara.


Lenox pun melepas jasnya dan menutupkannya pada perut buncit Ara.


" Nah peganglah..." Ucap Ara.


Perlahan-lahan Lenox mengulurkan tanganya dan meletakkan nya tepat diatas perut buncit itu. Merabanya perlahan-lahan dan begitu kaku.


Begitu lembut dan menggemaskan, rasanya begitu membuat dadanya sejuk dan hangat. Tapi itu sebentar sebelum tendangan dari dalam membuatnya terlonjak kaget..


" Oww..wawww...Gila!!" Teriak Lenox dengan mata yang membulat sempurna.


Tepp!!


Ara menepis tangan Lenox dengan kasar, matanya menatap mata Lenox penuh permusuhan.


" Lo ngatain anak gue Gila!!!, mau mati lo ditangan gue hahhh!!" Bentak Ara.


Beberapa teman koas mereka menutup mulut mereka menahan tawa.


" Eehhh.., sorry... Sorry Ra, aku beneran speechless tadi. Bukan maksudku begitu Ra..." Lenox termangu, dia begitu menyesali ucapannya.


Ara melempar jas Lenox begitu saja dan segera berjalan ke lobi depan untuk menunggu Rangga menjemputnya.


" Ra...sorry Ra...." Lenox memungut jasnya dan segera mengejar Ara.


" Lihat itu dokter Lenox ha..ha..ha.."


" Iya, dia galak pada semua orang. Giliran didepan dokter Ara dia seperti kucing manis..."


" Aku denger mereka bersahabat dari SMU..."


" Iya dan itu buat gue iri tahu nggak. Dokter Ara itu suaminya udah ganteng, sahabatnya lebih ganteng, dan kakak-kakak dokter Ara juga ganteng-ganteng gokil nggak sih?"


" Apa yang diperbuatnya di masa lalu ya?"


" Kenapa lo bertanya apa yang dilakukannya di masa lalu. Apa lo nggak tau apa yang dilakukannya di masa kini?"


" Nah apa tuh?"


" Selama dokter Ara ada di stase bedah, beberapa kali dia menggratiskan biaya operasi untuk beberapa pasien kurang mampu.., tagihanya ditujukan ke salah satu hotel besar di Jakarta ini..."


" Gue dengar itu hotel miliknya..."


" Wahhh, gokil juga dokter Ara ya..... Gue beneran iri sampai mati ha..ha..ha..


Suara-suara lambe turah mengenai Ara dan Lenox serta kehidupan pribadi keduanya sudah sangat sering terdengar. Seolah-olah menjadi makanan wajib untuk menu ngerumpi para biang gosip di RS mereka koas.


Lenox masih mengejar Ara untuk minta maaf atas ucapan spontanya.


" Dokter Lenox, maaf jurnal harian anda belum diisi..."


Tapi seorang suster menghadang pergerakannya.


" Oh iya, sorry saya lupa.." Lenox menepuk keningnya dan segera menyambar jurnal itu. Lalu melangkah lagi menuju ruang tunggu dimana Ara berada.

__ADS_1


" Ra...sorry ya...gue beneran nggak maksud!!, yang gila itu gue...." Ucap Lenox penuh penyesalan.


" Hufft...hufft..." Ara tidak memperdulikan ucapan Lenox, fokusnya hanya kontraksi semu yang dibuat oleh kedua babbynya.


" Sakit banget ya?, gue selesaikan ini dulu baru gue antar lo pulang oke.... Tunggu sini..." Lenox kembali mengelus perut itu pelan dan segera berlari ke ruangnya.


Sementara Ara terus menghubungi Rangga, tapi sayangnya nomor Rangga dalam panggilan lain.


Di rumah Ara dan Rangga, satu setengah jam yang lalu.


Rangga memasuki rumahnya yang lengang sepulang jama'ah masjid di musholla.


Matanya menatap jam dinding di ruang tamu, masih ada waktu satu jam lagi untuk menjemput kekasih hatinya.


Drtt...drrtt..


Ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.


Rupanya dari group penelitian, yang berisikan mahasiswa jenius yang diketuai oleh dirinya.


Rangga membuka room chat dan mendapati bahwa sebagian mahasiswanya masih belum mampu menemukan langkah untuk membongkar rumus-rumus kimia.


Akhirnya Rangga mengambil keputusan dengan duduk di depan laptopnya untuk melakukan zoom meeting.


Dasarnya Rangga yang hobby banget utak-utik rumus, tanpa sadar dia tenggelam dalam hobbynya dan melupakan kewajibannya.


" Ra..., yuk gue anter pulang udah setengah sembilan ini, mendung juga sebentar lagi hujan kayanya.." Ucap Lenox yang setia menemani Ara hingga satu jam lamanya.


" Nggak usah, takutnya nanti selisih jalan. Mungkin kak Rangga udah dijalan..." Jawab Ara.


" Lo pulang aja duluan Le, lo keliatan capek banget, jangan lupa sebelum tidur minum vitamin dulu..."


" Ya lah, vitamin gue ada di Casablanca kan...ha..ha.." Lenox tertawa mesum dengan tangan yang reflek mengelus perut bunci itu pelan.


" Gue jadi pengen menghamili Wari...ha..ha.." Lanjutnya penuh rasa gemas dengan perut Ara yang selalu merespon setiap usapanya.


" Ck!! Kau itu, dinikahin dulu baru dihamilin Le.... Lagian lo kemarin janjinya setelah wisuda, kok jadi gini..?" Ara menatap Lenox dengan penuh pertanyaan.


" Lo bilang belum yakin, tapi lo terus saja mengambil keuntungan dari gadis polos itu?, lo memang brengsek ya Lenox!!" Ucap Ara dengan membuang muka.


" Jangan kira gue nggak tahu apa yang telah lo perbuat padanya Le, gue sering mendapati bekas cupangan lo dan gigitan lo di bahu dan lehernya!!, lo maunya apa sebenarnya???" Kini Ara menatap pada Lenox yang masih menunduk.


" Liat gue!!, jangan jadi banci lo Le... Mau lo apa Lenox Maha Dafran???"


" Hufftt...." Lenox menghembuskan nafasnya pelan.


Dan mau tidak mau menatap mata Ara yang tajam menusuk jantungnya.


" Gue...., gue....." Lenox mengusap wajahnya kasar.


" Gue masih.... " Lenox membuang tatapannya kesembarang arah. Tak mampu bersitatap dengan mata Ara yang seolah-olah ingin mengulitinya.


" Masih?" Tanya Ara.


" Gue masih sangat sayang sama lo Ra...., gue takut melangkah lebih jauh dengan Wari. Gue takut menyakitinya jika dia tahu gue masih menyimpan rasa gue ke lo..." Lenox menutup wajahnya yang panas dengan kedua telapak tangannya.


" Huuffttt...." Ara menghembuskan nafasnya pelan.


Air matanya meluncur tanpa ia sadari. Tanganya terjulur ke pundak Lenox yang bergetar, pemuda itu sepertinya sedang menangis.


Usapan pelan dipundaknya membuat Lenox menoleh.


" Maaf Ra...., gue tau gue salah....."


" Sudahlah....Gue juga sayang lo, tapi sebatas teman atau lebih tepatnya sahabat, gue harap lo juga begitu. Atau kalau nggak!, lo bersiap saja kehilangan gue. Karena jelas gue nggak akan bisa nyaman lagi sama lo..."


" Gue mau pulang..." Lanjut Ara dengan sedikit kesusahan untuk berdiri.


" Biar gue antar..." Lenox langsung menyambar tubuh Ara dan membantunya berdiri.


"Stop!! Selama lo belum menempatkan perasaan lo pada tempat yang selayaknya, mendingan kita jaga jarak saja Le.... " Ara memundurkan tubuhnya agar Lenox tidak menjangkaunya.

__ADS_1


" Gue duluan, taxi gue udah didepan...Assalammualaikum.." Ucap Ara dengan menunjukkan notif dari penyelenggara taxi online.


Lenox mengangguk pelan. Menjawab salam Arapun dengan pelan. Beberapa saat lamanya Lenox masih betah berdiri ditempatnya.


" Ya Tuhan....." Lenox lagi-lagi mengusap wajahnya.


" Kenapa begitu sakit merasakan cinta sendirian seperti ini.."


" Ara...myAra..." Desah Lenox berulang-ulang.


Hujan begitu deras mengguyur kota Jakarta. Ara merogoh tasnya, payung lipat yang biasa terdapat disana kini telah tiada.


Ara menepuk keningnya saat mengingat beberapa hari kemarin dia memberikannya kepada ibu-ibu yang kehujanan.


Taxi sudah berhenti di depan gerbang rumah minimalis miliknya dan Rangga.


" Sepertinya belum pulang, garasi masih tertutup.." Guman Ara dengan berlari-lari kecil karena hujan telah benar-benar membuatnya basah kuyup.


Ceklek.


Pintu ruang tamu terbuka, Ara bisa melihat sajadah Rangga tersampir rapi di sandaran sofa.


" Loh ada kok, apa sakit ya..." Gumam Ara lagi.


" Bi......" Panggilnya dengan penuh rasa khawatir.


Begitulah seorang istri, dia melupakan capek dan keadaannya yang menggigil kedinginan saat tidak mendapati suaminya, rasa khawatir begitu menderanya.


Pintu ruang kerja Rangga terbuka sedikit, suara Rangga yang sedang berbicara santai dengan beberapa orang, sangat menjelaskan keadaanya yang baik-baik saja.


Lihatlah!!, bahkan dia nyaman bersila dengan santainya. Melupakan istrinya begitu saja.


Ngilu, sesak dan kecewa itulah yang dirasakan Ara.


Suami yang dipilihnya begitu gampangnya melupakan dirinya begitu saja, sedangkan Lenox.....


" Oh, rupanya ada yang lebih penting dari pada istri!!!, lain kali nikahin saja penelitianmu itu Bi...." Teriak Ara penuh emosi.


Brakkk!!!


Dibantingnya pintu ruang kerja Rangga dengan kasar.


Mata Rangga langsung menatap jam pada dinding ruangan yang telah menunjukkan waktu tepat pukul 10 malam.


" Hahhh, Astaghfirullah!!!"


Rangga dengan cepat berlari membuka pintu dan mengejar Ara.


" Sayang..., maaf sayang... Maafkan kakak...."


Rangga mendekati istrinya yang sedang melepaskan baju basahnya, dengan sigap Rangga ikut membantunya.


" Kenapa basah begini?" Tanya Rangga kikuk dengan memakaikan handuk kimono pada istrinya dengan telaten, lalu mengikatkan kedua talinya.


"Bahkan hujan di luarpun kamu nggak tahu!!, luar biasa!!" Sahut Ara jutek.


" Sayang kakak tadi...itu..."


" Sayang! Sayang! Gombal...Sana keluar..., tidur aja di ruang kerjamu. Sayangi saja semua penelitian mu itu..." Ara mendorong Rangga keluar dari kamar.


" Sayang maaf...jangan marah...ampun sayang, ampun...." Rangga membatukan dirinya dengan tidak bergerak sedikitpun.


" Lenox saja begitu khawatir padaku!, Lenox saja begitu perhatian padaku!, Lenox saja selalu----"


" CUKUP!!!" Bentak Rangga.


Ara terjingkat kaget dan langsung berlari ke sofa untuk duduk meringkuk disana.


" Sayang...., kenapa ini? Kakak salah iya...kakak ngaku. Tapi jangan banding-banding aku dengan Lenox please......"


" Sakit sayang...., sakit...... Disini sangat sakit...." Rangga menepuk dadanya keras dan bersimpuh di depan Ara.

__ADS_1



__ADS_2