
"Wah...cantik sekali..." Seru Vera dan Natasha saat mama Neela menunjukkan baju kebaya untuk mereka pakai di acara ijab kabul Hana dan Adnan. Semua baju hasil rancangan mama Neela sendiri. Dan tentu saja hasil konveksi perusahaan mereka sendiri.
Sedangkan Hanum mengangguk setuju.
" Lili dan Ardi nanti couplean ya sayang..."ucap mama Neela sambil mengeluarkan kebaya dan beskap berwarna putih untuk Ara dan Ardi.
Vera dan Natasha yg tidak tahan untuk mencobanya segera berlari ke kamar Ardi untuk berganti baju.
Ardi yg sedang rebahan karena capek bergantian mengemudi dengan sopir dari Jogja ke Jakarta pun terkejut dengan kehadiran duo ember itu.
" Hush...hush...sana Di..., kami mau fitting baju nih..., sanaan ih keluar..." Usir Natasha.
" Gendheng ni anak!!, ini kamar gue kalo lo lupa..." Walaupun berbicara sambil nyolot tapi tetap saja dia beranjak keluar. Karena tak tahan dengan ocehan Vera dan Natasha yg cetar.
Di depan pintu kamar Ardi berpapasan dengan Hanum yg membawa kebaya ditangan nya.
" Masuk aja Num..." Ucap Ardi mempersilahkan Hanum, tubuhnya bergeser agar Hanum bisa lewat.
" Hanya elo yg waras disini, jangkrik dua itu bikin gendang telinga gue jebol".
Gumam Ardi yg masih bisa didengar duo ember itu.
" Apa..!!, lo bilang kami jangkrik, sini lo Ardi..." Teriak Vera.
Ardipun terkikik sambil tertawa berlari menuju ruang keluarga.
Disana ada bunda Hana yg sedang mengobrol dengan mama Neela.
Hana duduk di kursi single, sepertinya gadis itu sedang membaca sesuatu.
Ardi duduk di sandaran tangan kanan kursi tersebut.
" Baca apa?" Tanyanya.
Hana menutup buku di tangannya, dan menunjukkan judul buku yg sedang dibacanya.
" Cara menjadi istri yang baik..." Ardi membaca judul buku itu.
Hana mengangguk sambil tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipinya yang imut.
Ardi terpaku sesaat, ya...walau bagaimanapun rasa yang ada tak bisa terhapus begitu saja bukan.
Ardi diam menunduk, fikiranya ntah terbang kemana.
" Kata Ara lo udah punya gebetan ya..., selamat ya.., nggak jomblo lagi.." Kata Hana sambil menoleh kepada Ardi yg lebih tinggi darinya.
Ardi tersenyum sambil menggosok tengkuknya.
" Sebenarnya gue bohong sama bebeb, gue malas dijodoh-jodohin dia sama temen- temennya, kayak gue gak laku aja..., masalahnya gue belum bisa move on..."
Hana menoleh terkejut. Emang Ardi suka sama siapa sampai dia nggak bisa move on.
" Sama siapa..?" Tanya Hana kepo.
Ardi tersenyum dan mengusap tanganya di wajahnya.
" Ada..."
" Siapa sih...bikin penasaran ah.." Hana mengayunkan lengan Ardi penasaran.
" Bahkan dia nggak tau gue suka sama dia..." Ardi semakin suka ngerjain Hana, membuatnya penasaran dan kepo seperti sekarang.
" Siapa..??, gue kenal gak..?" Kejar Hana, rasa penasaran sudah diubun-ubun.
" Lo kenal banget, bahkan saking kenalnya, lo merasa diri lo sendiri..." Sambil mengucapkannya Ardi berdiri berjalan sambil mengatungi kedua tanganya di celana pendek selututnya.
" Ih Ardi nggak jelas deh..., Ardi balik sini..." Teriak Hana, gadis ini benar-benar penasaran.
Sedang Ardi hanya menolehkan kepalanya sambil menjulurkan lidah, membuat Hana geram.
Marvel melihat interaksi antara Ardi dan Hana dari balik aquarium besar.
" Kenapa nasib percintaan kita sama-sama mengenaskan bro..." Gumamnya lirih.
__ADS_1
Marvel merogoh kantung celananya. Dari sudut hatinya kini tumbuh satu nama yg mulai berkecambah, walaupun ntah akan tumbuh subur atau bahkan akan mati sebelum bertunas. Ya nama itu adalah Dian Angguni. Gadis yg dikenalnya tomboy saat baru orientasi siswa awal SMU. Gadis yg ceplas-ceplos dan bar-bar membuatnya terlihat tegar dan anti bully, padahal di balik itu ada kesedihan yg tersembunyi rapat.
Semenjak insiden skin to skin yang mereka lakukan dulu, ntah kenapa ada dorongan dari hatinya untuk selalu melindunginya Dian.
Ntah apa yg terjadi padanya, tapi hatinya merasa ingin selalu dekat dengannya.
Ada rasa rindu untuk bisa memeluk lagi, untuk bersentuhan lagi. Sesuatu dalam jiwanya menginginkan Dian.
Dikeluarkan nya ponsel itu dari kantung celananya.
" Kau dimana?, sudah pulang kerja.."
"....................."
" Ya sudah, aku jemput.., tunggu..."
Marvel memasukkan kembali ponselnya dan segera menyambar kunci motor Adnan.
" Brothy...mau kemana..?" Suara Ara tepat dibelakangnya.
" Jemput kak Dian, princess mau kemana?" Tanya Marvel melihat papper bag ditangan Ara.
" Ini, papa lupa belum bagi undangan untuk relasi om Hen.., boleh Li ikut brothy..., jalanya searah kan."
Marvel tersenyum manis, lenganya terentang lebar.
" Sure, let's go babe..."
Ara tersenyum sambil menggeleng kecil.
Mereka menerobos malam dengan sesekali bercanda. Kadang-kadang Ara memukuli pundak Marvel karena kata-katanya terlalu vulgar.
Kadang-kadang juga cubitan tipis bersarang dipinggang nya, saat Marvel bertanya apa yg dilakukan Adnan dan Hana dimalam pertama mereka.
Motor berhenti di sebuah rumah mewah yg terlihat sepi.
" Nanti pulang dijemput atau sama Rangga..." Tanya Marvel dengan menekan rasa cemburu nya.
" Pulang sama om Hen aja, papa bilang om Hen mau kerumah juga kok untuk bertemu kakek...." Jawab Ara tersipu, Marvel memejamkan matanya.
" Ya sudah..., brothy langsung aja ya..." Marvel meraih kepala Ara dan dikecup nya sangat lama.
Ya, Marvel hanya ingin melepaskan semua.
Jika bukan jodoh apalah daya. Ya, Marvel berjanji dalam hati. Mulai hari ini, sejak saat ini..., gadis ini adalah adikku. Adik sepupuku.
Sepasang mata menatap kedua insan yg sedang berpelukan itu dari balkon lantai dua kamarnya.
Kakinya segera melangkah keluar kamar sambil berlari.
" Rangga!!!, kenapa lari-larian di tangga!!"
Teriak mommy Tara melihat kelakuan anaknya.
" Itu ada Ara diluar..." Jawab Rangga masih dengan berlari ke ruang tamu.
Rangga membuka pintu dengan terburu-buru.
Cekrek....
Wajah cantik dengan senyum manis berdiri tepat di depan pintu.
" Masuklah..., sama siapa tadi..?" Tanya Marvel pura-pura tidak tahu.
" Sama brothy.., Assalamu'alaikum..." Ucap Ara sambil melangkahkan kaki memasuki rumah Rangga.
" Trus Marvel, eh bang Marvel kemana sekarang..?"
" Langsung jemput kak Dian.."
" Mereka berpacaran ya?"
" Ntahlah...Ara nggak kepo tuh.."
"Sayang...., Hai...sini-sini sayang.." Suara mommy Tara yg heboh mengejutkan mereka.
__ADS_1
Mommy Tara menepuk sebelah kursinya.
Ara menyalami mommy Tara dengan takzim.
Diapun duduk disamping mommy Tara.
Setelah mengatakan alasan kedatangan nya, merekapun mengobrol cukup lama.
Rangga terus-terusan menatap gadis itu.
Membuat mommy Tara tersenyum dan beranjak berdiri.
" Tante mau kemana..?"
" Sebentar lagi om Hen pulang, tante siapin makan dulu ya..., Ara ngobrol sama mas nya dulu..."
Mommy Tara beranjak menuju dapur, tapi ternyata Ara mengikutinya.
Ntah kenapa setelah kejadian di markas kemarin membuat Ara selalu salah tingkah dan malu kepada Rangga. Dan selalu berusaha menghindari Rangga.
Mommy Tara ingin tertawa saat Rangga juga mengikuti Ara.
" Kalian ngapain ngumpul disini..., sana nonton TV atau main game sana..., Rangga gimana sih, ada calon istri kok dicuekin aja..."
Blush!!!!
Kini wajah dua anak manusia itu memerah bagaikan tomat matang yg tinggal petik doang.
Dengan kata-kata mommy Tara seperti itu, justru membuat mereka salah tingkah dan canggung.
Kini makanan sudah tersaji di meja makan dan daddy Hen juga sudah datang beberapa menit lalu.
" Jadi romo sudah ada dirumah mas Syakieb..." Mommy Tara membantu suaminya berganti baju.
" Hemm..., sudah dari sore katanya, berarti sudah cukup istirahat nya, kita bisa kesana.." Jawab daddy Hen.
" Sekalian kita bicarakan hubungan Ara dan Rangga hon..." Rengek mommy Tara yg sangat ingin segera punya mantu.
" Masalah nya Rangga belum menginggat siapa Ara sebenarnya hon...., sementara Ardi memberi syarat akan melepas saudara kembarnya jika Rangga mengingat bahwa Ara itu adalah Lili.."
Mommy Tara menarik nafas dalam-dalam.
Rangga mengajak Ara ke taman belakang. Disana terdapat perosotan dibawah pohon yg rindang.
Ara bergidik ngeri melihat permainan luncur itu.
Rangga menatap heran ekspresi Ara yg terlihat aneh.
" Kenapa...?"
" Nggak papa, cuma suka ngeri dan takut setiap kali liat perosotan..."
Rangga terpaku sesaat. Ingatanya terlepar pada puluhan tahun silam.
Dimana dia telah membuat gadis kecil terluka dan menangis karena ulahnya.
" Pasti bekas lukanya besar dan dalam" Gumamnya sambil menerawang.
" Besok biar kutanya Jessica deh..." Gumamnya lagi.
Sementara Ara sudah berjalan ke kolam ikan disamping taman. Disana banyak tumbuh bunga Lili putih yg sedang mekar.
Ara tersenyum lebar sambil menyentuh bunga-bunga itu dengan bibir yg merekah lebar.
"Bole Ara petik beberapa?, Casablanca putih..., Ara sangat suka..."
Degh!!!!
Lagi dan lagi, Rangga mendapati yg disukai Ara justru bertolak belakang dengan Jessica.
Sejatinya Rangga meminta mommy Tara untuk menanam bunga lili putih karena sangat disukai dedek Lilinya.
Tapi lihatlah sekarang, bahkan bunga apapun tak ada yg disukai oleh Jessica.
Tapi justru Ara..., gadis ini banyak menyukai segala sesuatu yg disukai gadis kecilnya dimasa lalu.
__ADS_1