Childhood Love Story

Childhood Love Story
Suami idaman???


__ADS_3

Rangga membuka pintu kamar Ara perlahan.


"Assalamu'alaikum " Ucapnya.


Tapi tak ada jawaban dari dalam. Ranggapun memasuki kamar yang akan menjadi kamarnya juga untuk kedepannya.


Beberapa saat lalu saat para undangan, sahabat dan orang tuanya pamit pulang, Marvel mengajaknya berbicara empat mata.


" Sayang..." Panggil Rangga pelan.


Matanya menyusuri sudut kamar Ara yang justru terkesan seperti kamar cowok..


Beberapa poster bola terpasang disana, bahkan terdapat lemari khusus jersey Chelsea terusun rapi dan tampak terawat dengan baik.


Rangga berjalan menuju kamar mandi.


Tok..tok.. Rangga mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang kamu di dalam..." Ucap Rangga.


Tapi tetap tak ada balasan dari dalam, Rangga menempelkan telinganya pada pintu kamar mandi tapi tak mendengar apa-apa di dalam.


"Kemana dia..?"


Rangga meraih kopernya dan mengambil baju ganti, pemuda itu segera bergegas ke kamar mandi.


Kini Rangga sudah berganti dengan pakaian rumahan yang santai, memakai kaos polos warna putih dan celana selutut dengan bahan kaos yang dingin.


Rangga menunggu Ara dengan duduk di bibir ranjang, tangannya meraih ponselnya yang berada diatas nakas. Mencoba menghubungi nomor Ara.


Drt..drt...drt..


Ternyata ponsel Ara masih berada di kamar, tergeletak di meja rias nya.


Rangga mengambil ponsel itu dan membukanya.


Sebenarnya Rangga ragu, tapi saat menslide layar, ternyata ponsel Ara tidak menggunakan pengaman.


Rangga tersenyum saat gambar layar ponsel Ara adalah gambar masa kecil mereka.


Setelah mengutak-atik ponsel Ara dan tak menemukan apa-apa, Ranggapun beralih menuju meja belajar Ara.


Buku-buku Ara tersusun sangat rapi, rata-rata didominasi oleh buku-buku keagamaan.


" Suami idaman " Bibir Rangga berkomat-kamit membaca judul buku yang menarik perhatian nya. Tangannya terjulur untuk mengambil buku itu.


Saat baru ingin membuka buku tersebut, suatu meluncur jatuh tepat dibawah kakinya.


" Foto " Ucapnya sambil memungut selembar foto yg jatuh dengan posisi terbalik itu, dibelakang foto itu tertulis.


'kaulah satu-satunya suami idamanku..'


Deg!!!, Rangga ragu-ragu untuk membalik foto tersebut.


Pertama, Rangga takut menerima kenyataan yang tidak diinginkan.


Kedua, dia tidak mau lancang dan kepo untuk mengetahui masa lalu Ara, yg justru akan menyakitinya.


Rangga kembali memasukkan foto itu kedalam buku tanpa melihat gambar siapa disana.


Hampir satu jam menunggu Rangga merasa khawatir, karena Ara tak kunjung datang juga.


Akhirnya Rangga keluar untuk mencari ke bawah. Saat keluar dari kamar dan melitasi kamar Marvel yg pintunya sedikit terbuka, Rangga mengira mungkin Ara ada disana.


Tapi saat Rangga mengintip kedalam matanya terkontaminasi dengan adegan delapan belas plus yg pemeranya tentu kedua pasutri itu.


Dimana Marvel tengah men*yu*u pada Dian. Walaupun tentu Rangga tidak jelas melihatnya tapi posisi kepala Marvel yg tepat di depan dada Dian membuat orang berasumsi kesana dong. Belum lagi suara-suara eksotis Dian yg terdengar di telinga Rangga, fix membuat Rangga on sekarang.


" Brengsek!!!, begituan kok pintu gak ditutup sih" Rangga meremas kepalanya yg terasa pusing.


Rangga menuruni tangga dengan perasaan campur aduk luar biasa.


" Sayang butuh apa nak?" Tanya mama Neela di dasar tangga saat melihat anak menantunya berjalan turun.

__ADS_1


"Em...Rangga cari Lili mah..." Jawab Rangga sambil mengusap telinganya yg tiba-tiba panas.


"Loh nggak di kamar ya..?" Tanya Mama Neela heran.


Rangga hanya menggelengkan kepalanya.


" Oh barangkali di kamarnya sama Ardi, ayo ikut mama..." Mama Neela membawa Rangga kekamar dekat ruang TV.


Pintu kamar di dorong pelan oleh mama.


Tampak disana Ara sedang tidur dalam dekapan Ardi yg juga terlihat tertidur.


Mama mengelus pundak Rangga, memohon pengertian menantunya untuk memahami keadaan si kembar.


Tampak bulu mata basah diantara keduanya, dapat dipastikan baik Ara dan Ardi mereka sama-sama habis menangis.


" Angkatlah sayang, bawa Lili keatas" Ucap mama Neela.


" Biarkan saja mah, mungkin Lili masih kangen Ardi.." Jawab Rangga tenang, walau hatinya saat ini sedang menangis pilu.


Mama Neela yang tahu pasti perasaan Rangga pun menepuk pelan Ardi.


" Ya mah..." saut Ardi saat matanya kini terbuka.


Mama Neela mengkodenya tentang kehadiran Rangga dikamar mereka.


"Dia baru tidur, nanti aku antarkan ke atas, maaf Ga..." Ucap Ardi pelan, takut Ara terbangun.


"Ya.., gak papa.." Jawab Rangga dengan mata terus menatap pada wajah tenang Ara yg tengah tertidur masih mengenakan jilbab rumahnya.


" Sayang, kamu bawa aja sekarang, nggak papa.." Ucap mama Neela merasa nggak enak pada menantunya ini.


" Biar aja mah, Rangga nggak papa.., ya udah Rangga keatas dulu.." Rangga berjalan keluar kamar Ardi dengan perasaan entah. Bahkan pemuda beristri ini berlari saat menaiki tangga.


Brugh...


Rangga menghempaskan tubuhnya pada ranjang tidur Ara. Ranjang tidur yg empuk dan wangi, pemuda itu menciumi bau wangi pada bantal Ara.


" Lihat dikit boleh kan ya..., iishh..jadi kepo nih gue"


Rangga beranjak menuju rak buku Ara, ditariknya lagi buku bersampul maroon itu, dan mengambil foto yg dilihatnya tadi.


Lagi, Rangga ragu untuk melihat gambar siapa foto itu.


Hanan kah?


Sekali lagi Rangga ragu, diletakkan nya kembali foto itu.


Tapi kepo maximum tension sudah menguasai ubun-ubunnya.


Pelan tapi pasti Rangga membuka foto tersebut.


" MashaAllah...Allahu Akbar..." Desis Rangga, matanya tiba-tiba pedas dan tak terasa cairan bening keluar dari sana.



"I..ini...ini gue, ya Tuhan...ini gue..." Rangga memeluk foto itu dengan kebahagiaan yg meluap. Bahkan sampai melompat-lompat kecil saking bahagianya.


Sekarang dia tahu isi hati Ara, sekarang dia damai dengan penemuannya. Ya, ringan sudah hatinya saat ini.


Nggak masalah Ara nggak tidur dengannya malam ini.


Penemuan hari ini cukup membuatnya lebih dari kata bahagia, seolah mendapatkan berlian yg melimpah tiada tara.


Rangga membawa fotonya ke bawah bantal dan dengan senyumnya yg terkembang Rangga memejamkan matanya.


*


Ara merasa haus dalam tidurnya, gadis itu mengulurkan tanganya ke nakas, meraih botol air minum yang biasa ia siapkan sebelum tidur.


Kosong, botolnya kosong.


Dengan malas gadis itu duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Loh, kok gue ada disini.." Ara mencoba mengingat yg terjadi sebelum dia tertidur.


Tampak Ardi pulas tertidur di ranjangnya, berseberangan dengan ranjang Ara.


"Astaghfirullah kak Rangga..." Ara segera bergegas keluar kamar.


Bahkan gadis itu lupa dengan rasa hausnya. Secepatnya dia berlari melesat ke kamarnya diatas.


Ara mendekati ranjang tidur, gadis itu duduk di depan wajah Rangga.


Pelan Ara membelai rambut suaminya itu.


"Maafkan Lili kak..." Bisiknya di telinga Rangga.


Ara melepas jilbabnya dan membaringkan tubuhnya di depan Rangga.


Ara berbaring menghadap pada wajah Rangga. Ditatapnya wajah tampan rupawan di depannya itu. Ara merapikan rambut-rambut Rangga yg menjuntai di wajahnya.


Ara kembali duduk, dia benar-benar merasa haus. Gadis itupun menyeruput air di gelasnya.


Ara kembali membaringkan tubuhnya masih menghadap Rangga.


Saat tanganya terulur hendak menyentuh wajah lelap Rangga.


Tap!!


Rangga menangkap tangan itu dan ditempelkan nya pada pipinya.


Matanya terbuka sempurna.


Deg..deg..deg...


Jatung Rangga terpompa sedemikiannya rupa saat menatap gadis didepanya.


Wajah cantik tanpa polesan, bibir merah tanpa lipstik, rambut hitam panjang bergelombang, dan anak-anak rambut di sekitar dahi dan depan telinga sungguh membuat mata Rangga tak mampu berkedip.


Mereka hanya saling tatap sampai beberapa lama. Jantung mereka tak bisa dikendalikan. Ara gugup tak tau harus berbuat apa, selama ini dia hanya bisa berdekatan dan satu ranjang dengan Ardi.


Tangan Rangga kini membelai wajah Ara dengan lembut, tak ada kata-kata. Tapi tindakan menunjukkan segalanya.


Tangan itu kini membelai bibir Ara, benda yang selalu di ingin-inginkan Rangga.


Pelan pemuda itu menggeser tubuhnya, merapatkan dirinya pada Ara.


Nyes..nyes..nyes..


Tubuh keduanya terasa bagai tersengat listrik berulang kali.


" Kalau sekarang sudah boleh kan?"


Suara Rangga terdengar beda, Ara merasa bergidik ngeri mendengarnya.


Dan Ara hanya bisa mengangguk, entah kemana suaranya, gadis itu tiba-tiba menjadi bisu.


Tangan Rangga nenelusup ke belakang leher Ara. Dengan terpejam dia mendekatkan wajahnya.


Arapun demikian, gadis itu memejamkan matanya demi mengurangi dentuman hebat pada jantungnya.


Cup.


Awalnya kecupan kecil.


Rangga membuka matanya, menatap Ara yg terpejam.


Cup..cup..dua kecupan di mata kiri mata kanan Ara.


Tatapanya kembali ke bibir Ara.


Kurang, Rangga merasa kurang....


------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2