Childhood Love Story

Childhood Love Story
Persiapan ke Jogja


__ADS_3

Rayya telah selesai membantu Denis menyusun baju-baju yang akan dibawa ke Jogja.


" Diantara kita berempat hanya gue yang belum ada kemajuan..." Ucap Rayya sedih.


" Hanum gimana?" Tanya Denis melirik sekilas pada Rayya yang sahabatnya yang sedang menutup kopernya.


" Bundaku nggak sabar lagi untuk melihatku merried Den. Untuk menunggu pendidikan Hanum selesai itu akan lama. Lo inget Sekar sepupu gue yang di Bandung nggak?" Tanya Rayya dengan tatapan yang sendu.


" Sekar??, teman SMP kita kan?" Denis mencoba mengingat.


" Iya Sekar yang itu. Dan apa kau tahu Den?. Bundaku mau aku menikahinya.." Rayya menggaruk-garuk rambutnya kasar.


Denis menatap Rayya, Denis sangat tahu bahwa Rayya ini cowok setia. Sekali dia jatuh cinta pada Hanum tujuh tahun yang lalu, tak satupun ada nama cewek lain yang berhasil masuk.


" Hanum itu semakin lama terlalu tinggi untuk bisa kugapai, aku ini apa atuh...."


Denis menepuk pundak Rayya dan mengusapnya.


" Aku jamin Hanum itu sayang sama kamu. Coba kamu bicarakan denganya lagi. Bicaralah dari hati ke hati..." Ucap Denis.


" Yahh akan gue coba bicara denganya.." Ucap Rayya.


" Ya udah gue pulang dulu Den. Besok habis subuh gue kesini..." Rayya berdiri dari duduknya saat profesor Pramana justru akan masuk.


" Mau kemana Ray?" Tanya profesor Pramana.


" Pulang om, besok kesini lagi..."


Papa Denis tersenyum dan mengangguk.


" Terimakasih banyak ya Ray..."


" Santai om, dalam persahabatan kami tidak ada terimakasih, tidak ada maaf...". ucap Rayya dengan mata mengedip pada Denis


Rencananya memang besok Rayya bergantian dengan Denis menyetir mobil ke Jogja.


...*...


Denis duduk di sofa ruang keluarga seorang diri. Malam sudah sangat larut, tapi mata Denis begitu terang tanpa rasa kantuk sama sekali.


Didadanya terdapat sebuah foto yang sejak tadi dipeluknya.


" Belum tidur nak?" Tanya papa Denis saat melintas hendak ke kamarnya.



" Belum pah, Denis kangen mamah..." Bisiknya pelan. Dari sudut matanya lolos setitik air bening yang kini membasahi pipinya.


" Sudahlah nak, besok sebelum berangkat ke Jogja kita mampir tempat mamahmu dulu.." Papa Denis mengambil foto itu dari pelukan Denis.


" Dia sangat cantik, mamahmu adalah gadis paling cantik di kampus...." Papa Denis mengecup foto istrinya sekilas sebelum diletakkan kembali di atas nakas.


" Apa mamah dulu langsung hamil setelah menikah pah?"


" Ya, saat ijab qobul mamahmu sedang dalam masa period nya. Jadi saat bulan madu kami, jelas mamahmu dalam masa suburnya.., jadi langsung isi kamu saat itu.." Ucap papa Denis masih menatap foto Nirmala Anjani, istrinya.


" Pah, papa ingin Denis punya anak berapa?" Tanya Denis. Kini kepalanya disandarkan pada bahu sang papa.


" Sedikasihnya saja oleh Tuhan, maunya ya yang banyak. Biar rumah ini rame..." Ucap papa.

__ADS_1


" Pah tapi, ah...nggak jadi deh.." Ucap Denis gak jelas.


" Apa?, emangnya kamu mau apa?" Tanya papa Denis penasaran.


" Pah, pijitin Denis pah.... Udah lama papa nggak pijitin Denis.." Tanpa menunggu kesediaan papanya Denis langsung tengkurap begitu saja.


Professor Pramana tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya gemas melihat tingkah putranya ini.


Tapi tanganya tetap terjulur mengurut bahu dan pundak putranya.


" Mama pasti bahagia punya suami baik seperti papa begini.." Ucap Denis sambil sedikit terpejam menikmati pijitan di bahunya.


" Iya, mamamu selalu bahagia bersama papah.."


" Apa Denis bisa ya pah---"


" Bisa!!, papah yakin kamu juga pria yang baik, kamu pasti bisa membahagiakan Natasya" Sahut profesor Pramana cepat.


" Aamiin...semoga saja pah..."


" Aamin...Aamiin...." sahut profesor Pramana.


...***...


Sesuai janjinya Rayya datang setelah selesai sholat subuh.


Pertama jelas Denis yang menyetir, dan sesuai keinginan mereka semalam. Saat ini mobil melaju ke pemakaman umum terlebih dahulu untuk pamitan pada mamahnya.


Nirmala Anjani binti Sofyan Arman, tulisan pada nisan marmer itu begitu terukir dengan indah dan cantik. Buket bunga mawar putih semakin membuat cantik makam itu.


" Mah...., Denis pamit. Denis akan menuju fase tertinggi dalam hidup Denis mah.., Denis akan menikah. Berbahagialah disisi Allah mah..... " Bisiknya dengan suara yang tercekat.


Lantunan doa terus terapal dari bibir Denis untuk almarhumah sang mama.


Rayya dan profesor Pamanapun ikut tertunduk khidmat disisi yang lain.


" Ayo kita berangkat.." Ucap Denis setelah selesai, menabur bunga pada pusara wanita cinta pertama nya itu.


Masih nampak jelas genangan air mata di pipinya.


" Love you mah..." Lagi, dikecupnya nisan itu sebelum beranjak berdiri.


Jalanan dari Jakarta ke Jogja pagi ini terbilang lancar.


Denis dan Rayya sengaja berangkat lebih dulu. Karena rombongan dari Jakarta akan berangkat sore nanti.


Sementara Vino dan Vera berangkat dari Surabaya.


Pernikahan Natasha dan Denis jelas tidak bisa dihadiri oleh Rangga dan Ara.


" Bi..., hadianya udah dikirim kan?" Tanya Ara saat Rangga selesai memandikan kedua bayinya.


" Udah sayang, udah dibawain sama daddy dan mommy.." Jawab Rangga.


" Bi.., boleh minta tolong nggak?" Tanya Ara malu-malu saat selesai memakaikan baju kedua anaknya.


Rangga, menoleh ke arah Ara lalu melangkah mendekatinya.


" Memangnya ada ya, suami istri bertanya kesediaan salah satunya untuk menolong salah satunya..." Ucap Rangga pelan.

__ADS_1


" Lili hanya nggak enak memintanya. "


Rangga mengusap kepala Ara penuh dengan rasa kasih sayang.


" Memangnya kamu minta apa sih?, asal nggak minta kencan sama Lenox aja akan kakak kabulkan deh..." Bisik Rangga genit.


" Ya..jelas bukan itulah. Lili pingin makan bakso cinta Bi.... Sampai ngiler rasanya.."


" Siap sayang, kakak beliin. Tunggu twins tidur dulu ya..." Sahut Rangga cepat. Ara jarang meminta, jadi saat dia punya permintaan seperti ini tentu Rangga akan dengan cepat mengabulkan nya.


Sebagai seorang wanita, Ara sangat berbeda dengan para wanita kebanyakan yang suka akan kemewahan dan kegemerlapan perhiasan. Ara lebih suka menyalurkan sebagian rezeki nya untuk disumbangkan ke panti asuhan milik keluarga mereka, Casablanca.


" Selain bakso mau apalagi sayang, popok twins?, minyak telon?, atau apa yang habis?" Tanya Rangga sebelum berangkat keluar rumah.


" Buah aja Bi..., sepertinya tinggal sedikit di kulkas..."


" Oke sayang, kakak pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu..." Ucap Rangga sebelum melangkah keluar rumah.


Sepeninggal Rangga ponsel Ara terus berkedip tanda ada panggilan masuk.


Rupanya panggilan dari Hana yang kini menetap tinggal di Singapura.


" Hai..kakak ipar...Assalamualaikum.." Sapa Ara renyah.


" Waalaikumsalam Li...Apakabar twins Li?"


" Mereka sehat semua Alhamdulillah. Kamu belum ke Jogja Han?"


" Iya ini lagi siap-siap, kami sudah di bandara Soetta saat ini, nunggu brothy Marvel baru berangkat ke Jogja sama-sama.." Ucap Hana.


" Mommy...mommy..." Suara Rasya heboh dibelakang Hana.


" My..., mommy nggak pergi ke Jogja ya?" Tanya Rasya yang sekarang telah menguasai ponsel Hana.


" Mommy belum boleh, adik twins masih belum bisa dibawa keluar rumah.." Ara berusaha menjelaskan secara sederhana pada Rasya.


Mereka terlibat pembicaraan yang cukup lama. Jujur Adnan dan Hana begitu merindukan Ara, saat Ara melahirkan seminggu dua minggu yang lalu, mereka tidak bisa hadir karena Hana saat itu sedang sakit.


Rencananya Adnan dan Hana akan mampir menengok ponakan mereka sepulang dari Jogja.


Tak berapa lama Marvel, Dian dan kedua putranya telah datang. Percakapan Hana dan Arapun dengan berat harus dihentikan dulu.


" Yah..., Sunny kan juga pengen ngobrol sama mommy princess, kenapa dimatiin sih Rasya!!" Bentak Sunny kesal.


" Ya maaf brothy, Rasya nggak tahu.." Ucap Rasya penuh penyesalan.


" Kita sudah harus chek in Sunny, nanti juga kita bisa mampir ke rumah mommy princess sebelum balik ke Amerika.." Ucap Dian lembut.


" Janji ya bun..., Sunny udah kangen sama Almeer, lihat saja nanti. Almeer akan jadi yang terkuat diantara adik-adiku.." Gumamnya serius.


" Emang kamu mau ajarin adik Almeer mu itu ngapain Sun?" Tanya Marvel.


" Taekwondo yah.... Sunny sudah naik sabuk kemarin yah. Janji ya beliin PS baru..." Jawab Sunny cepat.


" Bukan naik sabuk yang dapat hadiah Sun, tapi rangking kelas!, baru ayah kasih hadiah.." Ucap Marvel angker.


" Yahhhh, pasti sampai matipun aku nggak pernah dapet yah... Ayah kan tahu otak Sunny itu pas-pa----"


" Pintar itu dari usaha Sun, kerja keras!. Orang malas terus tiba-tiba pintar itu nggak ada. Orang rajin belajar dan pintar itulah ramuanya..." Lanjut Marvel.

__ADS_1


" Buktinya Shine nggak pernah belajar kok dia pintar..."


" Shine nggak pintar brothy. Kebetulan Shine mengetahui jawaban test dari buku-buku yang Shine baca. Tanpa membaca jelas Shine tak akan pernah tau.... Betul kata Ayah bro, nggak akan pintar kalau malas belajar..." Ucap Shine bijaksana.


__ADS_2