
" Ayo Ara, kamu harus jujur siapa cinta pertama mu..?" Desak beberapa siswa.
"Cinta pertamaku bernama...."
" Ardiansyah Syakieb Al Ghifari ..."
" Dialah pemilik hatiku sebelum papa dan mama, dengan dialah aku berbagi plasenta mama, dengan dialah aku berbagi kasih sayang papa dan mama sejak di alam rahim.., hingga melihat dunia pun kami bersama, berbagi air susu mama, berbagi buaian papa mama, berbagi suka, dan deritanya berulang kali operasi demi terpisahnya kami, hanya dia yang tahu sakitnya aku, dan hanya aku yang tau sakitnya dia..hiks...hiks..."
" Tak pernah ada pria lain yang bisa kucintai melebihi cintaku padanya..."
" Ardiansyah Syakieb Al Ghifari tak hanya cinta pertamaku, tapi cinta sejatiku, karena dalam dirinya ada bagianku, dan dalam diriku ada bagianya...kami satu awalnya, tapi kuasa Allah berhasil memisahkan kami, ya karena Ardiansyah adalah saudara kembar dempetku, darahku adalah darahnya, denyutku adalah denyutnya...hiks..hiks..."
" Ancaku, my beloved Ardi, love you more, miss you much bang, always..." Ara yang sadar dengan kamera ponsel Hana segera mengecup jauh Ardi..dengan lelehan air matanya yang terus mengalir.
" Ardiansyah Syakieb Al Ghifari.., he's my beloved brother, my first love..."
Rangga tak mampu menahan diri lagi, persetan dengan rasa malunya di depan seluruh warga SMU Bhakti, dengan sedikit berlari dia segera merengkuh Ara yang sesenggukan menangis dalam pelukanya.
Ranggapun tak mampu menahan rasa leganya yang luar biasa, pemuda itupun ikut menangis saking bahagianya.
Dalam beberapa menit suasana menjadi melow, beberapa siswa ikut menangis tersedu-sedu.
Begitu pula mama, papa dan Ardiansyah sendiri, yang sedang menonton video kiriman Hana yang langsung di sambung melalui bluetooth ke televisi keluarga.
Mereka bertiga menangis berpelukan.
Selama ini tak ada yang tahu isi hati Ara seperti apa.
Azura dan bi Marnipun ikut meneteskan air matanya.
Keterkejutan tak sampai disitu saja, dimana malam ini Bu Sasti yang masih single sampai saat ini ternyata cinta pertama nya adalah Ahmadi Syakieb Al Ghifari, papa Ara.
Ara, Rangga dan Hana menutup mulutnya yang terbuka menganga tak percaya.
Begitupun mereka yang mengenal siapa itu Syakieb Al Ghifari, bahkan bu Sasti sampai saat ini terjebak pada cinta pertama nya dan tak pernah bisa move on.
Matanya menatap Ara dengan sayang, bu Sasti menyesal karena telah banyak menyusahkan gadis yang ternyata adalah putri dari pria yang merajai hatinya sampai saat ini.
Malam semakin larut, acara semakin seru.
Hingga tepat pukul satu dini hari semua dipaksa membubarkan diri, walaupun sebagian banyak yang enggan. Malahan ada beberapa yang rela tidur di tikar dekat api unggun, berteman jangkrik dan nyamuk.
Seluruh siswa putri semua wajib masuk ke tenda masing-masing. Dan tersisa beberapa murid cowok kelas XII yang memang bertugas jurit malam.
...****...
Sementara dirumah Al Ghifari...
Puas menangis bersama setelah menonton pengakuan Ara, papa dan mamapun beranjak meninggalkan ruang keluarga, menyisakan Ardiansyah yang terkulai di sofa karena syoknya dan Azura yang betah menonton drama Korea kesukaannya.
Sruut...
Bunyi Ardiansyah menyedot ingusnya.
Azura yang mendengarnya meliriknya geli. Tapi dia bisa apa, matanya masih menatap layar TV besar di depanya.
Sruut..
Lagi-lagi suaranya membuat Azura bergidik dan jijik, tanganya menyambar tisu disampingnya, dan diremasnya gemas. Gadis itu berniat memberikan tisyu pada Ardi, tapi ragu-ragu untuk mendekatinya karena pemuda itu tengah terpejam saat ini.
Sruut..
Sruut..
Sruut...
Tak tahan lagi Azura segera mendekati Ardi dan memencet hidung itu gemas dengan beralas tisyu, jadi jari Azura tak menyentuh langsung kulit hidung Ardi.
" Keluarin semua...ihhh...jorok amat..." Geram Azura.
Ardi memelototkan matanya tak percaya, reflek Ardi menenggam tangan Azura yang ada di depanya.
Mata mereka beradu lama, jatung keduanya beradu berdentum-dentum dengan hebatnya.
__ADS_1
Azura yang menyadari sesuatu yang salah segera mundur.
"Ma..ma..maafkan aku..." Ucap Azura dan dengan cepat segera berbalik meninggalkan Ardi yang terpaku di tempat.
" Dia?, ya...Tuhan jantungku...., gila tanganya halus banget...." Gumam Ardi lirih.
Tanpa sadar Ardi memandangi jemarinya yang menyentuh Azura tadi, dan dengan gilanya dia mencium jarinya itu dengan terpejam. Dadanya terpompa tak karuan sampai mengigil.
Lama baginya menenangkan suasana hatinya yang heboh tak terkendali.
" Zu....." Panggil Ardi lirih.
" Hemmm..." Azura yang malu karena sikap impulsive nya beberapa saat lalu jadi salah tingkah sendiri.
" Minta tisyu lagi dong..."
" Nih.." Azura melemparkan tisyu pada Ardi.
" Ehhh...kok dilempar sih...sinilah.., gadis sholehah kok nggak sopan..."
" Ckk... Mau tidur ah...." Ucap Azura tak peduli dan beranjak berdiri.
" Zu...." Panggil Ardi lagi.
" Apa....?" Azura berhenti dan menoleh.
" Lap lagi dong..ingusnya masih banyak nih...." Tunjuk Ardi pada hidungnya.
" Astaghfirullah..." Azura nyebut dan menggosok dadanya.
Gadis itu beranjak melangkah menuju kamar Bianca, tapi kakinya berhenti saat suara Ardi kembali memanggilnya.
"Zu..."
Azura kembali menoleh dengan muka garang.
Ardi justru mengerjai nya dengan mencebikkan bibir padanya, membuat Azura geram dan melemparkan bantal sofa yang ada didekatnya.
Bantal itu tepat menimpuk wajah Ardi.
" A ha...ha...ha..." Tawa Ardi menggelegar tak bisa di kontrol lagi. Sementara Azura yang geram sedikit berlari menuju kamarnya.
" Gila...asyik juga ngerjain dia, imut banget..." Desis Ardi.
Entah kemana larinya nama Hana dalam hatinya saat ini.
Kembali ke area kemping.
" Ga..., ponsel lo kedip-kedip terus tuh..." Tunjuk Vino pada ponsel Rangga yang tergeletak di meja jaga mereka.
" Siapa?" Tanya Rayya.
" Bang Adnan?"
Rangga segera meraih ponselnya dan menempelkan pada telinganya.
" Assalamu'alaikum bang..."
"................................."
" Aduh..., gimana ya bang?, masa nggak bisa sih bang?, coba dimeremin gitu.." Rangga terlihat bingung hingga terlihat kerut dikeningnya.
"..................................."
" Waduh, Rangga nggak berani bang..."
" ......................................"
Rayya, Denis, Vino dan Hanan saling tatap, penasaran apa yang membuat Rangga bingung seperti itu dan apa tadi katanya?, nggak berani?, seorang Rangga nggak berani pada apa?.
" Iya deh..., iya...., Rangga coba usahain. Tapi Rangga nggak janji bisa..."
__ADS_1
"......................................"
" Iya, sama bang, Waalaikumsalam"
" Kenapa?, ada apa?" Tanya Denis kepo.
" Bang Adnan ada di mobilnya, diseberang sungai, dia mau Hana kesana, dia nggak bisa tidur tanpa Hana katanya..." Jawab Rangga jutek.
Dikira hanya Adnan saja apa yang gak bisa jauh dengan istri?, Rangga juga iya kali. Untung saja malam ini dia jaga begini, kalau enggak pasti juga susah merem macam si Adnan.
" Jadi gimana?" Tanya Vino.
" Biar gue aja yang antar, lo bangunin Hana " Sahut Hanan dan menunjuk Rangga untuk bangunin Hana.
" Di telpon ajalah gue gak enak deketin tenda cewek.." Sahut Rangga.
" Takut khilaf nerjang bini gue, gue mah..." Lanjut Rangga.
" Ya elah, kali aja nggak bisa ditelpon ponsel Hana, makanya bang Adnan nelpon lo..." Ucap Hanan pintar.
" Eh iya..iya..." Rangga menggaruk tengkuknya yang nggak gatel.
" Nih masuk nih, gue telpon Natasya..." Ucap Denis yang sedang dalam panggilan ke ponsel Natasya.
" Ya....." Suara serak Natasya terdengar seksi.
" Ya...Tuhan sayang...akang kangen.." Bisik Denis yang dapat tabokan keras dari Hanan.
" Kayaknya lo juga perlu ikut dicambuk bareng Vino deh Den.."
" Wehhh, nggak ya...ogah gue, amanlah!! Kalo gue mah, colek-colek dikit aja..." Ucap Denis dengan cengirannya.
" Sama aja tetap zina itu.." Sahut Hanan.
" Hana udah tidur belum?, itu bang Adnan ada disini..."
Hana segera merebut ponsel Natasya.
" Han lo keluar bisa?, suami lo nggak bisa tidur tuh..." Ucap Denis.
Tanpa babibu, Hana segera menyambar jaket dan jilbabnya langsung keluar.
Disambut Hanan dan Rangga.
Rangga yang notabene anak yang tidak pernah melanggar aturan sungguh ini benar-benar bertentangan dengan hati nuraninya.
Tapi dia bisa apa, karena memang status Hana yang adalah siswa istimewa, murid kelas X SMU dan juga seorang istri.
Hanan perlahan-lahan turun ke sungai dan mencondongkan punggungnya kedepan.
" Naik sini" Ucapnya pada sepupunya itu.
Hanapun naik ke gendongan Hanan dengan hati-hati.
Diseberang sungai nampak Adnan tersenyum sangat manis.
Rindunya yang menggebu-gebu beberapa jam lalu sirna melihat senyum manis istrinya yang menatapnya penuh cinta.
Hanan mengoper tubuh Hana pada sambutan Adnan yang ada di pinggir sungai.
" Terimakasih Hanan..." Ucap Adnan.
" Sama-sama bang, kembalikan sebelum subuh..., Hanan harap abang patuh, agar tak jadi masalah..." Hanan menekankan kata-katanya, dan Adnan pun mengangguk setuju.
" Lo nggak pengen Ga?, tidur bareng bini lo?" Tanya Denis yang melihat Rangga menggaruk-garuk kepalanya dari tadi.
" Sshhhhh, SANGAT!!! ya Tuhan..." Ucapnya dengan langsung menelungkupkan kepalanya di meja jaga.
"Eemmmmm, boleh nggak gue ketemu bini gue sebentar aja?, aduh mak!!!, kangen banget gue...." Desis Rangga dengan mengacak rambutnya stress.
" No Way!!!" Teriak mereka semua.
" Ya Tuhan.....mati gue...gue belum dapet imun..." Rangga lagi-lagi menggaruk kepalanya sampai rambut gondrong itu acak-acakan.
__ADS_1
Bersambung