Childhood Love Story

Childhood Love Story
Ara hamil


__ADS_3

Hoek...hoek....


Rasa mual terus saja mengocok perut Ara dari selepas sholat subuh tadi pagi, sampai sekarang.


Wajahnya terlihat pucat dan berjalanpun terlihat malas-malasan.


" Astaghfirullah, pusing banget..." Ucapnya sambil memijit-mijit pelipisnya pelan, saat menuruni tangga.


" Sini sayang sarapan..." Panggil mama Neela.


Ara hanya mengangguk malas, melangkah pelan mendekati papanya dan menciumnya seperti biasa.


" Jadi daddymu ke Surabaya?" Tanya papa, yang telah duduk dimeja makan bersama Adnan Hana, Brian dan Azura.


" Iya pa, makanya Lili nginep sini. Disana hanya ada kak Janu, sementara oma menginap di rumah kak Denis.." Ara mendudukkan tubuhnya disamping Adnan, kepalanya di senderkan pada pundak kakaknya itu.


Berat, Ara merasa kepalanya sangat berat.


" Kamu sakit mut?" Tanya Adnan cemas, tanganya menyentuh dahi Ara pelan.


" Hanya, pusing dan nggak nafsu makan bang..." Ucapnya pelan, dan benar saja. Gadis itu hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang disediakan mama untuknya.


Mereka hanya mengangguk, karena mereka mengira bahwa Ara sedang kangen Rangga.


...**...


Tin..tin...


Mobil Rangga yang dikendarai Janu telah berada di depan gerbang, menjemput Ara.


Saat pintu mobil terbuka Ara langsung membuang muka.


" Emmppp...kenapa bau begini mobilnya??" Ara membekap mulutnya dengan kedua tanganya.


Mual tiba-tiba menyerang perutnya dengan hebat.


" Cepetan Ra, gue belum buat PR!!" Bentak Janu.


" Kakak duluan deh, aku berangkat nanti aja, mual..hoek..hoek..." Ara melambai tanganya meminta Janu duluan saja, sementara dia langsung berlari kembali ke dalam rumah dengan membekap mulutnya.


" Dia kenapa?" Gumam Janu sambil melajukan kembali mobilnya menuju sekolah, karena PR segunung menunggunya.


" Non kenapa?" Tanya bik Marni cemas.


" Masuk angin bi..." Keluh Ara lemas, tanganya sibuk mengelap bibirnya yang basah habis dibasuhnya.


" Ya sudah bibi buatin wedang jahe mau?"


Ara hanya mengangguk pasrah, dan duduk dengan lemah di sofa. Kepalanya benar-benar berat seolah-olah ada bekarung-karung beban diatasnya.


Setelah minum wedang jahe buatan bi Marni, kondisi Ara sedikit membaik.


Tapi semua telah berangkat, sopir di rumah juga baru saja berangkat mengantar mama ke butik.


" Bi.., kunci motor Ardi mana?" Tanya Ara.


" Non, jangan pakai motor den Ardi, motor Non kan ada.." Sahut bi Marni.


" Nggak ada bensinya bi, lupa isi kemaren.."


" Kalau gitu pakai mobil nyonya aja Non.." Tawar bi Marni.


" Mobil mama terlalu wangi.., rasanya Lili mau muntah bi.."


Bi Marni ragu-ragu mengulurkan kunci motor Ardi pada nonannya ini.


" Biar bibi beliin bensinya sebentar Non di depan.."


Ara menatap ada raut khawatir di wajah bi Marni.


" Ya sudah Lili, naik taksi aja kalo gitu..." Daripada bi Marni berfikiran berat mending Ara naik taksi saja, terlambat sebentar pasti di maklumi lah sama pak satpam.


...***...


" Le...geseran sana, kamu bau!!" Ara mendorong lengan Lenox agar menjauh dari bangkunya.


"Aku?, bau?, yang benar aja!!, hidungmu yang nggak beres..." Sungut Lenox, tapi tetap menggeser bangkunya agak menjauh.


Ara terus menerus meremat kepalanya yang kembali pusing.


" Ra, nggak lupa bawa baju olahraga kan?" Bisik Natasya dibelakang telinganya.


Ara menutup hidung saat tercium olehnya bau parfum Natasha yang menyengat, biasanya dia suka wangi buah dari parfum sahabatnya itu, tapi entah kenapa sekarang begitu memualkan.


Ara hanya mengangkat jempolnya tanpa menoleh.


Priitt...

__ADS_1


Suara peluit telah ditiup.


Pak Markus bersiap di tengah lapangan, hari ini pengambilan nilai pelajaran olahraga.


Masing-masing anak diharuskan mempraktikkan teknik lompat jauh seperti yang telah dipelajari materinya.


Masing-masing anak maju satu persatu setelah dipanggil namanya.


" Lailia Nafeesa Anara"


Giliran Ara melangkah menuju ke posisi tolakan.


" Bersedia....Awas....Priiiittt!!"


Ara berlari menuju tumpuan tolakan, kakinya dengan stabil menumpu pada tolakkan dan meloncat sekuatnya. Rasa pusing yang luar biasa ditekanya sedemikian rupa. Ara merasakan berat yang luar biasa pada kepalanya, tiba-tiba pandangannya kabur dan berangsur gelap seketika, tubuhnya kini terasa ringan bagai melayang.


Brugh!!!


Badan itu terhempas ke pasir pendaratan.


" Wuihh gila!!, dari sekian murid cewek cuma kamu yang jarak lompatanya sejauh ini Ra.." Seru Chandra yang berusaha meraih pundak Ara untuk membantunya bangkit.


Tetapi tubuh Ara yang tidak bergerak sama sekali membuat Chandra pucat.


" Lailia?, Laili...Astaghfirullah!!!" Chandra dengan cepat mengangkat tubuh Ara.


Ya.., Ara pingsan bertepatan dengan pendaratan lompatanya.


" Ara kenapa?" Kejar Lenox saat melihat Chandra berlari membawa Ara dalam gendonganya.


" Pingsan.." Jawab beberapa anak yang lain.


Natasha dan Hana ingin juga berlari mengejar Lenox dan Chandra tetapi suara peluit pak Markus menghentikan keduanya.


Priitt...priit...


" Biar Chandra dan Lenox yang urus Ara!!, kalian kembali kesini!!!" Seru pak Markus.


Ara telah dibaringkan di UKS, dan telah sadar beberapa menit yang lalu.


" Apa yang kamu rasakan?" Tanya Lenox, kebetulan dialah yang bertugas hari ini. Tangan kanannya memegang jurnal yang harus diisinya, sementara tangan kirinya memegang pena untuk menulis. Ya, Lenox seorang yang kidal.


" Hanya pusing.." Jawab Ara singkat.


" Tadi sarapan nggak?"


" Kenapa?" Tanya Lenox lembut.


" Malas makan Le.."


" Ckck, aku beliin bubur mau?" Tanya Lenox lagi.


" Nggak usahlah, nggak selera.."


" Trus kamu seleranya apa? Biar aku cariin" Lenox terus membujuk.


" Rujak mangga, enak kayaknya..." Ucap Ara dengan sedikit menyedot liurnya, saat membayangkannya.


" Mana boleh makan rujak sebelum sarapan, kau itu. Bentar aku beliin nasi uduk di kantin!!" Lenox meletakkan jurnalnya dan beranjak.


" Nggak perlu Lenox, aku nggak lapar!!" Seru Ara dengan cepat, tanganya menyambar kaos olahraga Lenox bagian belakang.


" Terus kenapa kamu jadi begini?, kenapa jadi malas makan begini Ra?" Tanya Lenox bingung.


" Karena aku kangen suamiku Le..."


Jawaban Ara membuat hati dan otak Lenox berhenti sesaat, seolah tak berfungsi. Ditatapnya mata cantik yang penuh kerinduan ini dengan sendu.


Sebegitu besarkah kau cinta kak Rangga?


Tidak adakah secuil tempatku disana?


" Bagaimana Lenox?" Tanya dokter yang bertugas di UKS tersebut. Suaranya mengagetkan Lenox yang tengah melamun.


" Sepertinya masuk angin karena nggak sarapan dok..." Jawab Lenox.


" Baiklah biar saya periksa dulu.."


Lenoxpun keluar dari bilik UKS dan berjalan menuju kantin.


Dokter mengerutkan alisnya setelah meneriksa Ara.


Dokter jaga UKS langsung menghubungi bu Sasti sebagai guru pendampingan siswa.


" Ada apa?" Tanya bu Sasti sesaat setelah dipanggil dokter jaga UKS SMU Bhakti.


Dokter jaga membisikkan sesuatu pada telinga bu Sasti. Dan bu Sasti membelalakan matanya dengan kedua tangan menutup mulutnya tak percaya.

__ADS_1


" Untuk memastikannya, kita harus membawanya ke dokter.." Bísik dokter jaga lagi.


Bu Sasti menatap Ara yang tertidur karena pengaruh obat.


Sejauh itukah hubungannya dengan Rangga??


Kini bu Sasti telah berada di RS Mutiara Hati yang jaraknya lebih dekat dengan sekolah.


Kecurigaan dokter jaga UKS harus dibuktikan agar tidak terjadi prasangka.


Dikeluarkannya ponsel dari sakunya.


" Ya, Assalamualaikum Sasti. Tumben nelpon gue kangen kah? ha...ha..ha.." Suara papa Syakieb membuat bu Sasti tersenyum lebar.


" Waalaikumsalam mas, bisa temui aku di RS Mutiara Hati?"


" Emmm, memang siapa yang sakit?"


" Putimu mas, Ara..."


" Hahh..., apa?, kenapa Ara. Oke baiklah, baiklah aku segera kesana.."


Bu Sasti celingukan menunggu papa Syakieb. Tapi matanya menangkap siluet orang yang dikenalnya berlarian di koridor dan itu adalah mama Neela.


" Neela..." Gumanya.


Baru saja mulutnya ingin terbuka untuk memanggil teman masa sekolahnya itu dari arah pintu masuk muncul Hendrawan Wijaya berlari menghampiri mama Neela.


Bu Sasti merasa sejuk melihat keduanya. Pasangan fenomenal saat mereka masih berseragam putih abu dulu kini berada di depanya.


Dengan senyum cerahnya bu Sasti melangkah menuju para temannya dahulu..


Duaaarrrr!!!


Mata bu Sasti terbelalak tak percaya saat papa Syakieb tiba-tiba muncul dan langsung merapat memeluk mama Neela dan bahkan menciuminya begitu saja di depan Hendrawan.


Papa Syakieb yang melihat kehadiran bu Sasti segera merapatkan pinggang mama Neela dalam pelukanya dan melangkah mendekati bu Sasti.


" Sasti..., di mana putriku sekarang?"


" Ayo ikuti aku..." Ucap bu Sasti dengan tatapan keheranan melihat ketiga orang di depanya.


Mereka berempat memasuki ruangan dokter obgyn.


Mama Neela mengerutkan dahinya heran.


" Jadi tadi Ara pingsan Kieb, trus dokter kami menyarankan Ara dibawa kesini, Ara masih diperiksa di dalam.."


" Obgyn???" Bisik daddy Hen ditelinga papa Syakieb.


" Apa yang kau fikirkan Hen?" Tanya papa Syakieb.


" Cucu..." Bisik daddy Hen


" Awww...sakit Neeelll!!!" Cubitan mama Neela membuat daddy Hen mengelus pinggangnya yang panas.


" Cubitanmu masih sama pedesnya, Gila!!" Desisnya.


" Husssttt, kalian ini!!" Papa Syakieb menjewer keduanya, membuat dokter yang sedang memeriksa Ara tersenyum simpul. Sementara bu Sasti masih kebingungan dengan ini.


" Ma, pa, dad..." Ara menoleh melihat keberadaan mereka.


Ma??


Ara memanggil Neela ma? Dan dad untuk Hendrawan?


Bu Sasti menatap wajah mereka satu persatu dengan fikiran yang buntu.


" Sayang...., menantuku..." Suara mommy Tara yang muncul dari pintu semakin membuat bu Sasti bingung.


" Apa yang terjadi dengan menantuku Lidya?"


" Silakan duduk dulu tuan-tuan dan nyonya, dan kau juga Tara.." Ucap dokter Lidya, sahabat mommy Tara.


Mama dan mommy duduk dibrangkar Ara, sedangkan daddy dan papa duduk di kursi depan dokter. Sementara bu Sasti berdiri di samping kepala Ara.


" Dari gejala-gejala yang terjadi ini adalah gejala kehamilan, tapi untuk itu, perlu pemeriksaan lanjutan yaitu USG, apa kalian setuju?"


Kedua pasang pasutri itu saling tatap.


" Hamil?" Ucap mereka serempak.


Sementara Ara langsung bersyukur dengan mengucapkan hamdalah yang jelas di dengar oleh mereka.


" Alhamdulilah ya Allah "


Ara mengelus perut ratanya, air mata bahagia meluncur deras dari pipinya.

__ADS_1


" I..ini maksudnya ini gimana?, salah satu muridku ada yang hamil??" Tanya bu Sasti pada dokter.


__ADS_2