Childhood Love Story

Childhood Love Story
Dua bulan kemudian..


__ADS_3

" Apa Ga??" Teriak Denis saking terkejutnya. Bahkan Natasya yang berada disampingnya saja sampai terlonjak kaget.


" Apa sih yang..." Natasya mengelus rahang tegas milik Denis.


Di Jerman saat ini masih pukul 03.00 dini hari.


" Si Lele BAYCLIN itu rupanya gercep juga yang...." Ucap Denis sembari mengeratkan pelukanya.


" Maksudnya?"


" Ternyata di langsung melamar Wari pada om Syakieb sehari setelah kak Denis kirim foto Wari dan Janu..ha...ha.." Denis tertawa lirih.


" Hah!!" Natasya menutup mulutnya tak percaya, Lenox itu tipe-tipe sok jual mahal orangnya. Dia mengobral murah harga dirinya hanya pada sahabatnya Ara.


" Memang foto apaan yang kak Denis kirim?" Natasya semakin penasaran, karena seminggu ini dia sibuk dengan acara peragaan busananya, sampai-sampai jarang bertemu Denis.


" Sebenarnya bukan kakak yang mengambil fotonya, tapi teman kakak waktu di Sydney yang hebat mengambil angle yang tepat, jadi mereka terlihat dekat. Lenox cemburu karena itu..."


" Dan apa kau tahu yang..., Si Lele BAYCLIN itu langsung menikahi Wari hari itu juga. Dan dia sudah disini sekarang.." Lanjut Denis.


" Di sini?, maksudnya di Berlin?"


" Yupp..." Jawab Denis cepat.


" Besok pagi kita ke apartemen mereka, sekarang kita enak-enakan yuk.., biar cepet lounching Denis Juniornya, nggak sabar kakak yang...., takut keduluan Si Lele BAYCLIN itu ntar...." Rengek Denis.


Denis tak berhenti bersyukur kali ini, nasehat dan tataran yang diberikan oma dan mommy mertuanya akhirnya mengena.


Beberapa minggu yang lalu akhirnya Natasya mengatakan kesediaanya untuk mengandung, urusan melahirkan gampang. Pokok sebelum sakit, operasi saja, beres.


...***...


Rangga seperti biasa mengantarkan putra-putrinya ke rumah mommynya terlebih dahulu.


Setelah itu baru mengantar Ara.


Hari ini Rangga melarang Ara membawa mobil. Pengalaman kemarin, Ara pulang dalam keadaan yang sangat kecapaian.


Apalagi semalam baru saja Ara terlelap tidur belum satu jam, putra-putrinya sudah rewel minta Asi sampai pagi.


Bisa dibayangkan bagaimana rasa punggung Ara saat ini.


" Bagaimana kalau berhenti saja sayang?" Rangga meraih tangan Ara dan mengecupinya.


" Tanggung Bi..., disabarin dulu sebentar. Sejauh ini Lili masih okey. Twin juga okey..." Ara gantian mengecup punggung tangan Rangga.


" Untuk sampai ke tahap ini, sudah banyak cerita yang kita lalui. Lili ingin menjadi dokter tidak semata-mata hanya cita-cita masa kecil Bi, tapi juga ada tujuan MULIA lainya. Panti Asuhan nenek butuh dokter yang stanby, Anak-anak terlantar semakin kesini semakin banyak, pergaulan anak muda semakin tak terkendali, bayi-bayi dibuang oleh orang tuanya yang tak bertanggungjawab semakin sering terdengar " Ucap Ara panjang lebar.


" Kami semua cucu dari Tyas Winar Al Ghifari berjanji untuk menghidupkan geliat panti yang sudah susah payah dirintis oleh beliau Bi...., walaupun saat ini komando operasionalnya ada ditangan bang Ardi" Lanjut Ara.


" Apa kau lupa bahwa kakak juga cucunya nenek...., walaupun daddyku cuma anak angkat mereka. Tapi nenek dan kakek Al Ghifari begitu baik..." Ucap Rangga, fikiranya terbang ke masa lalu. Mencoba mengingat wajah nenek Tyas.


" Begitulah, emmmm bagaimana kalau weekend ini kita ke Jogjakarta. Nengokin kakek dan sekalian ziarah ke makam nenek, kita bawa twin..." Usul Ara, dan sang suami antusias mengangguk.


Sesampainya dirumah sakit, Rangga masih mengintil mengikuti istrinya sampai ke ruanganya.


" Nggak usah dianterin kedalamlah..., kamu kan juga buru-buru Bi..."


" Nggak mau, kakak harus memastikan kamu aman sampai ke tempat dudukmu..." Sahut Rangga ngeyel.


Benar saja, Rangga benar-benar mengantarkan istrinya sampai di ruangannya, stase gigi.


" Tuh udah nyampai nih, gih...sana ke kampus.." Usir Ara.


" Dihhh, ngusir dia...." Sahut Rangga kesal.


" Nggak ngusir sih, emangnya mau ngapain lagi nggak cepat-cepat berangkat?" Tanya Ara bingung.


Rangga justru mendekat.


" Nggak ada ruangan yang kosong gitu disini?" Tanyanya dengan berbisik disamping telinga Ara.


" Ruangan kosong?"


" Iya, mau kakak sewa tiga jam aja" Sahut Rangga dengan cengengesan.

__ADS_1


" Buat?" Tanya Ara lagi.


" Ya, buat naninu bentar aja...." Ucap Rangga santai.


Ara melotot dan secara naluriah langsung menyerang Rangga dengan cubitan kecilnya.


" Bwaha...ha...ha..." Tawa Rangga menggelegar tak dapat dia tahan lagi.


Kebetulan pula Sheyla sedang melintas, tanpa ada sopan santun, gadis bukan janda bukan itu melongok mengintip di balik jendela.


Hatinya panas dan nggondok saat mendapati begitu mesranya Rangga menciumi Ara.


" Sudah Bi...." Ara menepuk punggung Rangga.


" Bentar lagi..." ucap Rangga disela ciumannya.


" Sudah Bi, jilbab Lili berantakan nih..." Keluh Ara kesal.


" Yaelah...kamu lebih sayang jilbab kamu dari mas Agamu ini?"



" Itu..., ya nggak lah. Dirumah aja nanti kita lanjutin ya...." Bujuk Ara lagi.


" Janji loh..." Ucap Rangga.


" Ya, janji..... Udah sana berangkat ke kampus..." Ara mendorong punggung Rangga untuk segera keluar dari ruangannya.


Rangga tetap Rangga yang sama, yang selalu mesum di manapun dia berada.


" Hai Rangga...." Sapa Sheyla setelah beberapa saat mengikuti Rangga yang menuju ke mobilnya.


" Hemmmm" Jawab Rangga dengan terus melangkah tanpa mempedulikan mak Lampir itu.


" Gue bisa muasin lo...." Tantang Sheyla tiba-tiba.


" Hah?, maksud lo?" Rangga berhenti dan berbalik badan.


" Istrimu tidak mau meladenimu kan?, aku bisa?"


Rangga syok tak percaya.


Liat modelanya aja gue mual...


Rangga menatap Sheyla penuh rasa benci dan remeh.



" Dari mana lo beranggapan gue nggak puas dengan istri gue, siapa lo yang sok tahu akan perasaan gue?"


" Asal lo tau!!, gue nggak akan pernah bisa agresif jika tidak dengan Lili gue. Dan gue nggak akan pernah punya minat kepada wanita manapun selain istri gue!!!. Camkan itu!!!" Rangga segera membuka pintu mobilnya dan membantingnya dengan keras di depan Sheyla.


" Dia kira gue cowok apaan!!, cuihhh kurang ajar. Beraninya dia menghina Rangga Bayu Wijaya!!" Geram Rangga dengan meremat stir mobilnya.


...***...


Dua Bulan Kemudian, White Base.


" Alhamdulilah....., jadi Natasya udah positif?" Teriakan Vera membuat yang lainya menoleh menatapnya.


Vera saat ini sedang melakukan panggilan jarak jauh dengan Natasya.


Beberapa wanita genk somplak yang berada di sana semua terlihat ikut bersyukur.


" So, we'll have another little brother?" Tanya Sunny. Selain Bianca, Sunny dan Shine adalah yang paling tua disini, disusul oleh Shanum yang berselisih lima bulan dengan mereka.


" Ya, dan adik-adikmu akan terus bertambah boy..." Ucap Brian dengan menggendong putrinya yang berusia dua bulan saat ini.


" Wari gimana Le?, udah ada tandanya belum?" Tanya Ara pada Lenox yang sedang memangku Almeer.


" Gimana mau jadi Ra, ketemu juga sebulan sekali...." Jawab Lenox kesal.


Lenox mengijinkan Wari untuk melanjutkan pendidikannya, asalkan Wari pindah kerumah Denis dan Natasya.


Lenox tidak mau istrinya tinggal sendiri disana. Untuk pertemuan mereka telah dijadwalkan sebulan sekali, Lenox akan mengunjunginya selama seminggu.

__ADS_1


Rencananya habis Koas ini, Lenox akan segera menyusul Wari untuk pendidikan spesialis nya disana.


" Shanum...." Panggil Sunny pada putri Vino yang begitu cantik hari ini.


" Ya Sunn..." Shanum berhenti dan menoleh menghadap pada Sunny putra Marvel.



"Nih..., aku tadi titip bunda..." Sunny menyerahkan sekotak henna pada Shanum.


" Hena?, buat apa ini?" Tanya Shanum setelah melihat isi kotak yang ada ditangannya.


" Untuk menebalkan namaku dipergelanganmu itu...tuh udah hampir hilang.." Sunny menarik tangan Shanum dan mulai menebalkan tulisannya lagi.


Ardiansyah melirik pada istrinya yang terus menunduk dan menyendiri setelah mendengar berita kehamilan Natasya.


" Kamu kenapa sayang?" Tanya Ardi.


" Maaf mas, aku belum hamil juga..." Ucap Azura pelan, ada tekanan kekecewaan pada nada suaranya.


Ardiansyah tertawa kecil, merangkul Azura dan membawanya kedalam pelukanya.


" Sabarlah sayang, kenapa kamu begini...." Bisik Ardi.


" Mereka sudah punya anak..., kita belum?" Azura menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Ardi, membuat Ardi tak bisa menahan tawanya.


" Hei....Zu..., siapa bilang kita belum. Daripada mereka kan kita yang lebih duluan punya anak!, kamu lupa atau gimana?. Bahkan anak kita paling besar diantara anak-anak mereka. Kita punya Bianca, bahkan sejak kita belum menikah.." Ardi mengecup kening Zura pelan.


" Jiahhh...., pacaran terus...." Teriak Vino dari belakang mereka.


" Ya haruslah...., kesempatan itu... ya nggak Di?, Sebelum diganggu para tuyul puas-puasin lah pacaranya.." Sahut Marvel.


" Apa hubby?, maksudnya tuyul itu anak-anak gitu?" Tanya Dian dengan berkacak pinggang dibelakang Marvel.


" Bu...bu...bukan Wife..., mana ada tuyul setampan our son?" Sahut Marvel.


" Iya kak, brothy sering bilang tuyul duanya itu selalu mendominasi kakak, jadi brothy merasa tersisihkan. Itulah sebabnya di HP brothy penuh gambar cewek" Ucap Lenox panjang lebar.


" Lenox lo mau gue bikin lumpuh hah!!" Bentak Marvel kesal.


" Emang iya loh kak, brothy sering bilang ke Ardi juga, katanya kak Dian udah beda, nggak cinta lagi sama brothy, cintanya habis buat twin saja..." Ucal Ardi pula semakin membuat Dian geram.


" Kamu itu nggak berubah Hubby!!!, nakal! Dari dulu tetap nakal!!" Teriak Dian kesal dan berlari ke kamarnya di lantai dua.


Lenox dan Ardi saling pandang, sebenarnya mereka hanya bergurau saja, tidak menyangka akan seperti ini


" Kalian ini!!" Umpat Marvel geram dan langsung berlari mengejar istrinya.


Sementara yang lainya tertawa terbahak-bahak.


" Ayahku kenapa aunty princess?" Tanya Shine.


" Seperti biasa... Bundamu kesal, ayahmu luar biasa nakal...." Jawab Ara.


" Iya dan Sunny nakal juga seperti ayahnya..." Ucap Brian mengelus kepala Sunny.


" Biar nakal aku tampan..." Sahut Sunny dengan sudut mata melirik pada Shanum.


" Lebih tampan Saga..." Sahut Lenox.


" Aku!!" Teriak Sunny.


" Saga!!" Ucap Lenox tak mau kalah.


" Aku!!" Teriak Sunny lagi.


" Iya, Sunny paling tampan..." Teriak Shanum membela Sunny.


Sementara Saga sendiri saat ini sedang mematung, dengan syok saat melihat begitu manisnya senyum Almaeraa di depanya saat ini. Sampai-sampai pria kecil itu melupakan bagaimana cara bernafas saking bahagianya melihat senyum indah Meera.



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa kepoin Binar Cahaya guy's...

__ADS_1


Cerita dan Shanum ada disini....



__ADS_2