Childhood Love Story

Childhood Love Story
Sidang siswa & Ke pantai


__ADS_3

Rangga sangat tepat dalam memilih Yuda sebagai pengganti ketos sementara. Lihatlah, dia sangat cekatan dalam menggelar sidang siswa yg mendadak demi memulihkan nama baik Lailia Nafesaa Anara.


Yuda sangat tahu bagaimana seorang Rangga terhadap gadis ini.


Bahkan dia sangat menekankan pada anggota nya untuk tidak mempercayai dulu berita yg belum jelas kebenarannya.


Sidang dihadiri para guru beserta jajaranya dan seluruh siswa kelas X sampai XII. Yuda memimpin sidang dengan tegas dan bijaksana.


Masing-masing pria yg ada di foto Ara satu persatu menjelaskan kronologi dari foto tersebut.


Siswi SMU Bhakti histeris saat mengetahui bahwa Ardiansyah adalah saudara kembar Ara. Yang mereka yakini selama ini adalah pacar Ara.


Begitupun dengan, Adnan, Brian dan Marvel.


Mereka yang tahu siapa Hendrawan Wijaya terbelalak tak percaya saat beliau mengatakan tak ada yang salah dengan fotonya bersama Ara, karena tidak ada larangan pergi makan berdua dengan calon mantunya.


Para guru dan beberapa murid yg mengetahui bahwa daddy Hen adalah ayah dari Rangga Bayu Wijayapun langsung notice dengan gambar postingan Rangga beberapa bulan yg lalu.


Setelah semua tuduhan terbantahkan, mereka membahas tentang perilaku Lenox dan kawan-kawanya terhadap Ara dalam video itu. Bapak kepala sekolah memutuskan untuk memberikan skorsing kepada Lenox.


Sejak sidang berlangsung mata elang Marvel terus memindai satu persatu wajah siswa SMU Bhakti, menandai siapa-siapa yang terlibat dalam pembullyan Ara, cuma Marvel masih bertanya-tanya dimana sekarang Lenox berada.


*******


Rangga mondar-mandir di depan rumah Ara. Sebentar duduk, sebentar berdiri, saat bi Marni mempersilahkan masukpun Rangga menolak dan hanya duduk di teras depan saja.


Saat mobil memasuki gerbang rumah Ara, Rangga segera berdiri dengan tatapan menatap lurus pada gadis yg duduk diantara Marvel dan Adnan.


" Lihatlah dia, tidak pernah berubah, sepuluh tahun yg lalupun dia seperti itu..."ucap Adnan saat melihat Rangga berdiri di depan teras rumahnya.


" Dulu setiap mendengar kami akan ke rumah kakek, dia pasti menunggu di depan teras seperti itu, bahkan untuk mandipun dia enggan, sebelum Lili datang...." Lanjutnya dengan tersenyum mengenang betapa Aga kecil yg selalu melompat-lompat bahagia setiap mereka liburan ke Jogja.


Marvel, melirik Ara yg terlihat tertunduk setelah melihat keberadaan Rangga di teras rumahanya.


" Apa kau bahagia bersamanya princess..??"


Ara menoleh menatap Marvel, tatapan mereka bertemu sangat lama, dan pelan Arapun mengangguk.


" Kau mencintai nya?" Tanya Marvel lagi.


Lagi-lagi Ara menatap Marvel seolah mencari dukungan, dan lagi-lagi gadis itu mengangguk.


Baik Marvel, Brian dan Adnan kini semua merasa lega. Setidaknya mereka juga sedikit banyak mengenal siapa Rangga.


Rangga mendekati pintu mobil dimana Ara berada, tatapanya lurus pada Ara yg terus menundukkan kepalanya. Semua sudah keluar dari mobil, tetapi Ara tetap diam tak bergeming.


Brian melemparkan kunci mobilnya pada Rangga. Rangga yg paham langsung segera menangkap kunci itu dan mengangguk.


" Rangga bawa Lili dulu kak.." Ucapnya pada Adnan yg masih berada disitu, sedangkan Brian dan Marvel telah pergi melangkah memasuki rumah.


" Bawa kembali pulang, jangan dibawa kabur, Imut kami belum cukup umur.." Tepukan Adnan pada pundak Rangga di sertai senyumnya yg khas.


" Tidak mau pindah ke depan?" Tanya Rangga pelan saat pemuda itu telah duduk di kursi kemudi.Wajahnya terlihat suram dan sendu.


Ara perlahan pindah kedepan tanpa turun dari mobil, gadis itu melangkah begitu saja.


Mobil melaju keluar gerbang tanpa satupun yg mengeluarkan suara.


Saat mobil berjalan beberapa menit, tiba-tiba..


Cittt...

__ADS_1


Rangga menghentikan mendadak mobil itu begitu saja.


Dengan gerakan cepat dia meraih tubuh Ara dan membawanya ke dalam pelukanya.


Keduanya kini menangis, isak tangis memilukan terdengar dari keduannya. Rasa sesak yg berusaha mereka tahan sedari tadi akhirnya jebol juga. Rangga mengusap air mata Ara dengan kedua jempolnya.


"Maafkan Lili kak...."


" Shhhhh...., kakak yang minta maaf, kakak yg tidak bisa menjaga mu..." Rangga menutup mulut Ara dengan jari telunjuk nya, pemuda itu menggelengkan kepalanya.


Perlahan Rangga mengecup kening Ara, gadis itu memejamkan matanya. Rasa aman dan tenang dirasakan olehnya saat berdekatan dengan Rangga seperti ini, sama seperti yg dirasakan sepuluh tahun yg lalu.


Setiap kali dia berantem rebutan mainan dengan Ardi, maka Aga kecil akan memeluknya, dan rasanya tetap sama, aman dan tenang.


Setelah mereka tenang, mobil melaju menuju pantai.


Mereka mampir ke masjid untuk sholat dzuhur, dan membeli beberapa snack dan minuman lalu mereka melanjutkan perjalanan.


Sepasang kekasih yg telah direstui itu kini sedang duduk dengan saling bersandar pada punggung masing-masing. Ya, mereka saling memunggungi, dengan kepala Ara bersandar pada punggung lebarnya. Semilir angin pantai siang ini membuat mereka terlena.


Mereka terdiam dengan mata terpejam, berusaha melepaskan himpitan berat pada hati masing-masing.


Saat ini Rangga tak bisa berkata apa-apa.


Kejadian ini sungguh membuat hati dan fikiranya terluka.


" Aku akan segera menikahimu.., apa kau setuju..?"


Ara beringsut untuk bisa menatap Rangga. Rangga pun demikian.


Kini mereka saling berhadapan, saling menatap, saling menyelami isi hati mereka masing-masing.


Ara terlihat diam saja.


" Apa kau setuju.."


Rangga menatap Ara dengan penuh pengharapan, sudut hatinya sangat takut Ara akan menolaknya.


Tapi yg ditakutkan nya tidak menjadi kenyataan, dewi fortuna masih berpihak kepadanya, karena dengan tegas Ara menganggukan kepalanya.


Rangga tersenyum bahagia, bahkan sampai memperlihatkan gigi gingsulnya.


Sungguh terlihat tampan.


Di raihnya tubuh Ara, dipeluknya dengan erat.


Tring!!!


Ponsel Rangga berbunyi, pemuda itu membuka aplikasi hijau di ponselnya yg tampak memiliki pesan baru.


Bersihkan noda ditubuh Lili segera. Hanya kau yang bisa.


Rangga berusaha mencerna kalimat yg dikirimkan Marvel padanya.


Maksudnya???. Ketik Rangga


Dasar bocil bodoh!!!. Balas Marvel.


Lagi-lagi Rangga bingung dengan maksud pesan Marvel. Rangga menggaruk rambutnya asal.


" Apa...?" Tanya Ara yang melihat Rangga kebingungan dengan terus mengulang kalimat pesan Marvel.

__ADS_1


"Nggak papa..." Jawab Rangga asal.


Rangga menarik pundak Ara agar menempel padanya.


Tapi tanganya terlalu menjuntai kedepan hingga menyentuh dada Ara.


Ara yg mempunya trauma terhadap sentuhan pada dadanya segera menepis kasar tangan Rangga.


Rangga terkejut luar biasa, melihat Ara yg mematung dan air mata yang mulai berderai, pemuda itu menutup matanya dan menghela nafas berat.


"Sa..sayang maaf..maaf...kakak tidak sengaja..." Ucap Rangga langsung paham dengan situasinya.


Ara berulang kali beristighfar, Ara bukan gadis yg bodoh, dia juga sangat tahu bahwa Rangga bener-benar tidak sengaja.


Tapi rasa jatungnya yg berdebar bertalu-talu tentu bukan yang bisa ia kendalikan. Nafasnya seolah berhenti sesaat mengingat bagaimana perlakuan Lenox.


Ara berusaha menguasai keadaan dirinya, sebagai gadis yang cerdas Ara harus mampu untuk menaklukan rasa takutnya.


Rangga berusaha menenangkan Ara, digenggamanya kedua tangan gadis itu dan diciumnya.


"Boleh kakak peluk..." Tanya Rangga saat angin mulai berhembus, dan Ara terlihat menggosokkan kedua tanganya.


Ara mengangguk, dan Rangga pun segera merengkuh gadis itu dalam pelukanya.


" Kakak sangat kangen kamu..." Ucapnya.


" Kakak kenapa tidak berubah sama sekali, dari dulu tiap ketemu pasti bilang kangen..." Ucap Ara mengingat Aga kecil yg rajin bilang kangen padanya.


" Kamu juga gak berubah, dari dulu ngangenin" Jawab Rangga sambil mengelus jilbab Ara.


" Tentu saja Lili berubah kak, kakak yang nggak tahu..."


" Tentu kakak tahu, kamu berubah jadi lebih cantik dan lebih...emmm.."


" Lebih apa?"


" Kalo kakak jujur jangan marah ya..."


" Iya..., lebih apa?" Tanya Ara lagi.


Rangga mendekatkan bibirnya pada telinga Ara dan membisikkan sesuatu yang membuat Ara segera menyerang Rangga dengan pukulannya.


Rangga tertawa lepas karena berhasil membuat Ara berekasi seperti itu.


Pukulan Ara pada dada Rangga membuat pemuda itu mau tak mau menangkap kedua tangan Ara.


Tapi itu justru membuat Rangga oleng dan jatuh kebelakang.


Kini Ara berada diatas tubuh Rangga.


Nafas mereka berhenti seketika, posisi sedekat ini tak pernah mereka alami, apalagi ditambah dengan rasa yang telah tumbuh di hati mereka.


Mata mereka saling menatap dengan penuh cinta.


Rangga pemuda berusia delapan belas tahun yg sangat ingin mencoba segala hal.


Matanya tak lepas menatap bibir Ara, ada dorongan dalam dirinya yg tak kuasa ia taklukkan saat ini.


" Boleh kakak minta ini..." Tunjuk Rangga pada bibir Ara. Ara terkesiap seketika, gadis itu segera membenarkan posisinya, gadis itu segera duduk dan membenahi jilbab dan bajunya.


Rangga masih dalam posisinya yg telentang di pasir pantai. Matanya terpejam, dadanya naik turun memendam inginya. Lagi, Ara menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2