
---Happy Reading---
Sudah empat kali berkeliling dalam Mall bersama mama dan papanya, dan sekarang luna sudah mulai lelah dan lapar. Luna pun mengajak mama dan papa nya untuk makan ditempat kesukaannya yaitu Restoran Negeri Ginseng. Luna lebih suka dengan makanan kue beras pedas manis dan Mie kecapnya yang bisa dipanggi jajjangmyeon.
"Luna beli apa sebenarnya? Sepertinya dikit sekali tas tentengannya dibandingkan papamu ini yang sekali beli langsung banyak sampai memanggil orang untuk menaruhnya dimobil." tanya mama yang heran karena setiap berkeliling luna hanya membeli seadanya dan benda yang ia butuhkan.
"Luna cuma beli buku novel percintaan, buku sketsa dan bahan kain untuk gaun luna."
"Kenapa? Luna kekurangan bahan kain?" tanya papa.
"Bukan kekurangan cuma tambahan kain aja kok pa."
"Tapi yang kemarin papa beli gak kurang kan?" luna menggeleng kepala. "Ngga papa, malahan itu terlalu banyak untuk pemula seperti luna."
"Tidak apa apa, lebih baik banyak bahan dari pada kekurangan bahan dan akan susah dicarinya bahan halus dan lembut seperti itu." Luna mengangguk. "Iya papa, luna ngerti kok. Wah makanannya udah datang, ayo makan ma, pa."
Sedangkan mama yang sedari tadi hanya memperhatikan suami dan putrinya berbicara hanya bisa tersenyum bahagia. Entah kenapa ia sangat tidak percaya apa yang ia rasakan saat ini. Dia benar benar bahagia bersama keluarga kecilnya hanya minus anak sulungnya yang tidak bisa hadir, karena menggantikan suaminya untuk bertemu dengan rekan yang berada dinegara A.
"Mama kenapa bengong? Ayo makan, Japchae makanan kesukaan mamakan selain Bibimbap." Mama mengangguk. "Iya sayang mama makan kok ini."
Papa mengernyit pelan, "Bibimbap apa itu?" Lalu luna menjelaskannya, "Bibimbap itu semacam nasi goreng ala korea, nasi yang dicampur dengan kimchi dan lain lain."
Papanya ber-Oh ria lalu melanjutkan makanannya. Mereka bertigapun fokus dengan makanannya masing masing sesekali luna berceloteh tentang sesuatu hal yang membuat mama dan papa tertawa akan hal itu. Terkadang mereka menceritakan sesuatu yang menarik seperti kebiasaan tidur abang aksa pun mereka bicarakan, sampai tertawa dan tersedak.
❣❣
Di Negera A, Adam yang masih fokus dengan laptopnya tidak menyadari bahwa sekertarisnya sudah masuk membawa berkas yang ia minta. "Ehem, tuan. Maaf mengganggu, saya membawa berkas yang anda minta."
"Ya taruh saja disini." suruhnya, lalu sekertarisnya menaruh berkas itu disamping bingkai fotonya. "Nanti anda akan ada pertemuan dengan perusahaan Olisther corp."
Adam menghentikan kegiatanya lalu mendongak menatap sekertarisnya dengan datar. "Jam?" "Jam 1 tuan."
"Dimana?"
"Direstoran depan kantor tuan."
"Baiklah, kamu persiapkan berkas yang diperlukan untuk nanti."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Dan dibalas dengan deheman saja olehnya lalu fokus kembali dengan laptopnya.
__ADS_1
Ditempat lain yang baru saja kelar mandi, ia memakai jubah mandinya dan duduk dipinggir kasur menatap luar jendela lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang baru saja ia tinggal beberapa jam. "Halo mama, mama sedang dimana? Mengapa sangat berisik? Mama diMall? Sama siapa?"
"Oh, bukannya dia sedang dihukum? Baiklah, ia ini aksa baru saja selesai mandi dan jam 1 baru akan pertemuannya. Oke ma, aksa tutup ya, iya hati hati juga ma.." lanjutnya lalu menutup teleponnya saat sudah ijin kepada mamanya untuk segera mengakhirinya.
Aksa, yang disebut 'ia' sedari tadi. Aksa sengaja datang menggantikan papanya agar papanya bisa memiliki waktu bermain bersama adik kecilnya itu. Aksa sengaja datang ke Negara ini hanya untuk mengecek sesuatu hal yang menurutnya adalah kebenaran dan nyata.
Aksa menghela nafas pelan lalu ia memejamkan matanya sebelum ia membaringkan tubuhnya. "Aku berharap aku bisa bertemu dengannya. Semoga kita bertemu kembali teman lama yang kurindukan." ujarnya.
Dipertemuan ini, aksa hanya memakai kaos hitam dengan outer coklat dan jeans. Tidak terlalu formal namun tidak terlalu santai juga, dan itu adalah style dia sehari harinya.
Jam sudah menunjukkan set 1 siang dan ia pun langsung segera solat kemudian berangkat menuju restoran yang sudah dijanjikan. Ia kesana menaiki mobil yang ia sewa dengan sopir dari hotel tersebut, sesudah sampai direstoran ia langsung diantarkan ke meja yang sudah dipesankan.
Sembari menunggu aksa memesan kopi americano kesukaannya dan kue kering yang pas untuk kopinya. Sesekali ia melihat tabnya yang sudah banyak isi dari data data yang diperlukan. Tak lama orang yang ia tunggu telah datang dan diikuti oleh sekertarisnya.
"Selamat siang, maaf telah membuat anda menunggu." ujarnya yang masih belum sadar sama siapa ia bertemu. Aksa tersenyum, "Tidak apa apa, saya juga baru datang." jawab aksa membuat orang itu terkejut menatapnya saat ia sudah duduk dihadapan aksa.
Aksa semakin tersenyum melihat reaksi temannya itu, "Apa kabar Mr. Adam? Lama tidak jumpa? Apa kau tidak rindu dengan sahabatmu ini?"
"Anda mengenal bos saya tuan?" tanya sekertarisnya yang terkejut bahwa bosnya mengenal baik dengan direktur perusahaan terbaik di dunia. Aksa mengangguk. "Kami sudah kenal sejak kecil namun kita terpisah sudha 12 tahun lamanya. Apa kabar denganmu dam? Kau sehat?"
"Haish! Panggilan itu lagi? Umur kita ini sama, buat apa kau memanggilku dengan embel abang?" kesalnya. Adam tertawa, "Karena kau adalah calon abang ipar ku."
Aksa berdecak. "Memangnya adikku masih mau denganmu? Apa kamu lupa bahwa gadis kecil itu mellupakan semua ingatannya dimasa kecilnya?" tanya aksa yang membuat raut wajah adam menjadi sendu. Adam mengangguk. "Aku tau, maka dari itu aku ingin mengingat diriku kembali dan janji itu."
"Ck, masih kecil sudah janji menikah saja."
Sedangkan sekertarisnya mendadak melototkan kedua matanya terkejut untuk kedua kalinya mendengar ucapan aksa, ia tidak menyangka bahwa bos yang terkenal dinginnya ini sudah melamar seorang gadis dan itu saat mereka masih kecil. Benar benar luar biasa, sepertinya dia harus lapor ke tuan besar.
"Segitu berubahnya dirimu dengan masa lalu? Sampai bawahanmu saja terkejut bahwa dirimu sudah melamar bocah kecil yang belum mengerti apa kata pernikahan."
"Diam kau! Sekarang kita fokus saja ke tujuan pertemuan kita. Kau ingin menjadi rekan bisnis perusahaanku bukan?"
Aksa mengangguk. "Oh iya apa kabar dengan bunda Adel? Aku merindukannya." ujar aksa membuat tubuh adam menegang kaku. Aksa yang melihat itu langsung menyuruh sekertaris adam meninggalkan mereka dan aksa menatap mata adam dalam.
"Apakah ada sesuatu terjadi saat kalian pergi meninggalkan kami?" Adam berdiam, tak lama keluarlah air mata dikedua mata itu. Aksa terdiam, dan berpikir pasti ada kejadian yang sangat fatal dimasa lalu membuat adam berubah menjadi dingin dan tak tersentuh.
"Dam, kamu bisa menceritakannya kepadaku jika kamu ingin merasa lega." pinta aksa dan dibalas gelengan kepala oleh adam. "Belum saatnya kalian mengetahui semuanya. Hanya satu yang harus kuberitahu, bunda sudah tiada."
__ADS_1
Deg!
Aksa terkejut saking terkejutnya ia menatap adam dengan tatapan kosong, lalu menggelengkan kepala karena merasa tidak mungkin. "Kau pasti bercanda."
"Tidak, aku tidak bercanda. Kau mau mengunjunginya?"
"Disini? Bunda dimakamkan disini?" Adam mengangguk. "Ya, dihalaman rumahku." jawabnya dan langsung diiyakan oleh aksa saking ingin bertemu dengan bunda.
"Ayo, bawa pergi diriku menemui bunda."
Adam tersenyum. "Lalu pembicaraan tentang kerjaan?"
"Itu bisa besok, sekarang ajak aku kesana." Adam mengangguk lalu menyuruh sekertarisnya untuk balik kekantor, sedangkan dirinya menuju mobil sewaan aksa dari hotel.
❣❣
Aksa termenung, duduk ditanah didepan tempat tinggal bunda saat ini. Aksa menangis, ia tidak menyangka bunda yang paling ia sayangi selain mamanya telah pergi meninggalkan dunia ini. Jika luna mengingat bunda dan mengetahui bahwa bunda sudah tiada pastinya luna sudah... ah tau lah.
"Halo bunda adel, aksa datang. Maaf aksa baru datang karena baru mengetahui keberadaan bunda karena adam. Aksa cuma mau memberitahu bahwa aluna, princess yang dibanggakan oleh bunda sudah besar dan setelah kejadian itu luna menjadi lupa ingatan karena kepalanya terlebih dahulu terbanting keaspal. Seandainya luna ingat bunda pasti aksa akan ajak dirinya kemari. Aksa merindukan bunda, kami semua merindukan bunda. Semoga bahagia bunda disana, aksa akan mendoakan yang terbaik buat bunda. Aksa pamit bunda, Assalamualaikum bunda."
Ujar aksa lalu bangkit dari duduknya kemudian berbalik badan dan sedikit mengernyit melihat kakek tua yang sudah berdiri disamping pagar pemakaman rumah pribadi adam. Adam melihat reaksi aksa langsung membalikkan tubuhnya dan menatap kakeknya yang sedang mematung disana, adam melangkah mendekat diikuti aksa dibelakangnya.
"Kakek kenalkan dia aksa, yang pernah diceritakan oleh bunda. Dan aksa adalah abang dari gadis itu, Aksa kenalkan ini kakekku, ayah dari bunda adel." ujarnya. Aksa pun langsung menyalimi tangan kakek itu dengan sopan, "Salam kenal kakek, saya aksa teman kecil adam."
"Salam kenal juga aksa, kakek sudah sering mendengar cerita tentangmu dari adel maupun adam. Ayo kita masuk dan bersantai."
"Baik kek."
Kakek berjalan lebih dulu, sedangkan aksa langsung berdiri disamping adam dan menyenggol lengan adam dengan pelan. "Bukannya bunda adel sudah tidak memiliki siapapun? Kenapa tiba tiba ada ayah dan kakek untukmu??"
Aksa penasaran. "Ceritanya terlalu panjang, nanti jika waktunya tepat aku ceritakan dihadapan mama dan papamu juga."
"Kapan?"
"Jika waktu sudah tepat, tunggu saja."
---Bersambung---
Jangan lupa like dan mampir kekaryaku yang lain.
__ADS_1
Terima kasih.