
" ARA!!!" Teriak Lenox diluar gerbang rumah keluarga Wijaya.
Untung saja daddy dan mommy sudah berangkat sehabis subuh tadi karena ada meeting di Bandung.
Kalau tidak pasti mereka akan murka melihat kelakuan berandal brengsek macam Lenox.
" ARA!!!" Teriak Lenox lagi saat gerbang tidak juga terbuka.
Sementara bibi berlari kecil menaiki tangga untuk mencapai kamar istri tuan mudanya.
" Non..diluar ada yang teriak-teriak tuh Non..." Ucap bibi saat telah sampai di depan kamar Ara, dan kebetulan Ara juga pas mau keluar dari kamarnya.
" Teriak-teriak??"
" Iya Non teriak manggil- manggil Non Lili.." Jawab bibi.
Ara mengerutkan keningnya sesaat.
" Ya udah bi, Lili berangkat dulu bi..., Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam Non..."
Ara berlalu melewati ruang tamu ke parkiran.
Tapi begitu hendak memakai helmnya suara teriakan kembali terdengar.
"ARA!!"
Lenox???
Jadi dia bilang keroknya!!
Arapun keluar ruang parkir dan menuju gerbang.
" Apa sih berisik teriak-teriak didepan rumah orang!!, mulut kamu nggak pernah disekolahin ya!!" Geram Ara.
" Cepetan! Berangkat barengan gue sini!!" Perintah nya.
" Ogah!!, pergi sendiri sana!!" Sahut Ara, dan memutar tubuhnya kembali.
" Okey kalo gitu, gue teriak-teriak lagi sampe lo keluar bareng gue!!, cepet keluar nggak!!" Ancam Lenox.
" Dasar kamu ya!!" Ara melengos dan kembali melangkah ke parkiran, tapi baru sekali melangkah...
" ARA!!!" Teriakan Lenox kembali menggelegar.
" ARA!!!, ARAAAAA!!! ARAAAAAA!!!"
" Hussttt!!, berisik Lenox!!, iya iya gue keluar!! Dasar berandalan gila!!"
Demi menghormati kenyamanan tetangganya, akhirnya Ara mengalah untuk pergi sekolah bersama Lenox.
Brummm!!
Dengan sengaja berulangkali Lenox mengegas motornya dengan kencang, berharap Ara takut dan berpegangan padanya. Tapi bukan Ara namanya bila tak mampu ngeles dari modus-modus receh seperti itu. Dengan cepat Ara menyambar tali tas punggung Lenox
Membuat Lenox tertarik kebelakang, dan..
Duak!!!
Suara benturan dua helm tak lagi terelakkan.
" Turun!!!, turunin Gue!!" Bentak Ara.
Lenox perlahan mengurangi kecepatan dan menepikan motornya di pinggir jalan.
" Lo mau bikin gue mati hah!!" Bentak Ara.
" Nggak dong, sebelum lo jadi milik gue lo nggak boleh mati Ra!!" Jawab Lenox pasti.
" Otak lo udah geser kayaknya, perlu di bawa ke dokter bedah buat betulin posisinya deh Le..." Sahut Ara dengan mengacungkan tinjunya.
" Pegangan Ra!!, udah siang. Kita buruan.." Lenox berusaha meraih tangan Ara. Tapi Ara dengan cepat menepisnya.
"Lenox!!!, aku cekik kamu kalau berani nggak sopan!!" Ancam Ara dengan penuh penekanan.
" Cekik aja Ra, aku rela mati ditanganmu..." Sahut Lenox.
" Oh ya...Tuhan.." Desis Ara.
" Ya Hamba..." Sahut Lenox dengan cekikikan.
Ara menggelengkan kepalanya geram.
Menghadapi Lenox sungguh membutuhkan kesabaran yang luas, seluas samudera.
Tapi apa boleh buat, mungkin takdir Ara harus bertemu dengan cowok antik modelan si Lenox seperti ini.
Tak sampai tiga puluh menit, motor Lenox telah memasuki gerbang SMU Bhakti.
__ADS_1
Sebenarnya Ara sudah meminta turun dari tadi, tapi dasar si brandal brengsek tak bisa di lawan.
Akhirnya drama kehebohan sesuai ekspetasi!, Ara menjadi pusat perhatian para netijen saat ini. Semua mata menatap aneh padanya.
Semua lambe turah menggosipkannya.
" Ara barengan sama si Lenox loh"
" Iya, Lenox kan naksir Ara dari dulu, tapi karena keduluan kak Rangga jadinya skakmat!! Nggak bisa maju"
" Masa sih"
" Nah iya!!, masa lo gak liat reaksi Lenox yang panik mirip orang gak waras saat Ara digigit ular waktu itu.."
" Ahh..iya lo guys, baru nyadar gue.."
" Nah satu lagi waktu dia nantangin tanding dulu tuh, apa lo gak liat?. Lenox natap Ara tuh penuh cinta dimatanya loh guys, bukan tatapan ke lawan tanding"
" Iya ya, kok gue nggak notice yah.."
" Nah!! Memang iya!! Kalian aja yang gak peka.."
" Dah..dah.., gak usah ngerumpi mulu yuk masuk.."
" Sstttt!!, sini dulu guy's. Ini rahasia...Lenox itu waktu ngelecehin Ara dulu aja dia nangis loh"
" Hahhhhh????"
" Sumpah guys gue lihat sendiri.., habis ditunju Ara dia terdiam kan, dia nangis itu guy's. Cuma kalian fokusnya di Ara sih, Nah gue fokus di Lenox waktu itu.."
" Jadi??"
" Jadi ya guy's, gue bisa bertaruh kalau Lenox itu sebenarnya cinta mati sama Ara.., tuh lihat!! Matanya saat natap Ara kan beda saat dia natap kita-kita yang kerikil ini guy's..."
Mereka mengalihkan pandangannya pada Ara yang berjalan cepat di depan Lenox. Sementara Lenox terus saja mengikutinya di belakang.
***
" Jadi Vin, kapan kita jemput Vera?" Tanya Rayya saat mereka telah berkumpul di kantin saat jam istirahat.
" Iya kak kapan? Natha udah bawa mobil kalau mau jemput hari ini.."
" Aku nebeng pulang nanti ya.." Bisik Ara pada Hana.
" Tadi berangkat sama siapa beib" Tanya Hana, setelah mengangguk setuju.
" Lele..." Sahut Ara jutek.
" Susah..." Ara terlihat menggosok hidungnya.
Baru saja Hana akan membuka mulutnya, si biang kerok datang dengan tidak sopannya mengetuk kepala Ara dengan segulung kertas.
Pukk!!!
"Aaawwww!! Lenox?" Seru Ara terkejut.
" Minggir Han!! Huppp!!"
" Akhhhh..." Hana berteriak histeris saat Lenox mengangkatnya berserta kursinya untuk pindah ke kesamping. Sementara Lenox mengambil kursi di belakang nya untuk didudukinya di samping Ara.
Semua yang ada di kantin tercengan dengan kelakuan brandal brengsek itu.
" Lo tuh ya, bangku gue dikelas udah lo serobot, disini juga lo serobot, gila lo!!!" Bentak Hana pada Lenox yang justru menutup telinganya.
Hana sangat terkejut saat tadi pagi melihat ada tas lain di bangkunya, gadis itu berfikir mungkin pergantian posisi tempat duduk saat dia tidak hadir sekolah dihari pertama.
Keterkejutan bertambah saat tahu siapa pemilik tas yang teronggok di bangkunya.
Lenox Maha Dafran yang sejatinya anak IPS 1 itu ternyata kini telah resmi menjadi warga kelasnya.
Dan sialnya Lenox tak mau bergeming saat diusir Hana untuk pindah dari tempat duduknya.
" Jangan suka nimpuk kepala orang Le!!, itu nggak sopan. Kepala ditaruh dibagian atas karena ada akal disini. Hormati itu!!" Ucap Ara.
" Ya" Hanya itu yang keluar dari mulut Lenox.
Dan tidak sampai disitu keberandalan seorang Lenox.
Dengan santainya dia menggusur jus jambu Ara kedepanya dan menyedot dengan tenang jus yang tinggal setengah gelas itu dengan tanpa beban apa-apa.
" Ihhhhh..Lenox!!!" Natasya melotot tak percaya melihat itu semua, bahkan tak hanya Natasya. Semua yang ada di meja itu melongo dibuatnya.
" Kau ini benar-benar..." Ara tak sanggup lagi melihat kekurang ajaran seorang Lenox kali ini. Dipelintirnya telinga Lenox sampai memutar.
" Akkhhhh sakit!!!" Teriak Lenox kencang, tanganya menggosok telinga yang kini memerah.
Bahkan matanya sampai berkaca-kaca saking panasnya jeweran Ara.
" Ya Tuhan!!, bar-bar amat kamu Ra!!! Sakit...." Desisnya.
__ADS_1
" Kalau nggak punya duit bilang!!, aku bayarin!!!, jangan seenaknya nyerobot minuman orang!!!"
" Aku haus banget!!, gak keburu pesan!! Sshhhh aduh panas banget ini..." Sahutnya tak mau disalahkanya, dengan masih mengelus telinganya.
" Dasar lo! modus!!!" Denis melemparkan kulit kacang ke arahnya.
Sementara Vino menatap jengah pada berandal yang seenaknya sendiri nimbrung diantara mereka. Membuatnya tak bisa lagi melanjutkan diskusi mereka mengenai jadwal penjemputan Vera.
Ara melirik Lenox yang masih terus menggosok telinganya, saat mereka kini telah berada di kelas.
"Maaf...." Ucap Ara lirih. Dalam hati dia menyesal telah menyakiti Lenox sampai seperti itu.
Lenox hanya melirik sekilas dan mengangguk. Pemuda itupun juga menyesal bertindak seenaknya sendiri. Dia tau Ara serba salah dengan keberadaannya di antara sahabatnya.
Jelas dia sangat tahu nilai-nilai seorang Ara. Ara gadis baik yang tidak akan mungkin dengan tega mengusirnya begitu saja dilingkaran pertemanan Ara.
" Aku juga.." Ucapnya.
" Juga?" Ara mengulangi ucapan Lenox yang menggantung.
" Maaf...." Ucap Lenox lirih.
Ara tertawa dalam hati. Seorang Lenox yang berandalan meminta maaf itu terlalu sangat menyakiti harga diri, tapi sekarang lihatlah dia, seperti kucing imut yang lucu, menggosok telinga dan meminta maaf.
Jam pelajaran bu Sasti siang ini menjadi gempar dan gaduh.Tiba-tiba saja bu Sasti membagikan soal babak penyisihan Sains Olympic tanpa memberitahukan lebih dulu.
Para siswa terlihat panik dan ada beberapa yang pasrah tak peduli.
Di barisan Chandra cs, tampak wajah-wajah kalem mendominasi.
Theo terlihat tenang mengerjakan tanpa beban apa-apa. Entah dia itu bisa mengerjakan atau tidak, hanya Tuhan yang tahu. Begitu juga Hana, Natasya dan Meta dan Rania.
Sementara tiga murid dengan nilai tertinggi saat pembagian raport semester ganjil kemarin, saat ini sedang komat-kamit membaca mantra.
Tepatnya mereka sedang menjabarkan rumus-rumus yang mereka hafal diotak mereka saat ini.
Lenox terlihat serius menatap kertas di depanya dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Jika teman sekelasnya saat di IPS 1 melihatnya saat ini tentu akan kejang-kejang saking syok nya.
Karena motto Lenox itu adalah datang sekolah, buat ulah, nilai terserah.
Bahkan seperti itulah citranya selama semester yang lalu.
Tapi sekarang???
Bu Sasti saja seperti melihat penjelmaan lain disini. Tak percaya bahwa seseorang yang serius menghitung disamping Ara ini adalah seorang Lenox Maha Dafran.
" Kalian harus serius, Olympic kali ini penyelenggara nya adalah Institut besar di Boston!!"
Deghh!!!
Demi mendengar nama Boston saja tiba-tiba membuat jantung Ara berdentum-dentum tak karuan.
Tiba-tiba saja peganganya pada pensilnya sedikit bergetar dan Lenox menyadari itu.
" Kalau kamu ingin, maka berjuanglah!!" Bisik Lenox disamping telinga Ara.
" Institut apa bu?, kalau boleh tahu.." Tanya Chandra penasaran.
" Massachusetts Institute of Technology atau bisa disebut MIT" Seru bu Sasti
" Wahhhh, wooahhh gila man!!! Teriak para siswa bersorak-sorai.
" Ara..." Panggil salah satu temanya yang duduk diujung dekat pintu keluar.
" Ya..." Sahut Ara.
" Seandainya bisa gue mau kasih otak gue buat lo.."
" Kok..?" Kini bu Sasti yang justru heran.
" Biar otak lo semakin besar dan bisa nyusulin kak Rangga" Jawabnya serius.
" Percuma!!, biar besar kalau otak lo nggak ada isinya juga nggak berguna buat Ara ha..ha..ha.." seru seorang teman lainya.
Tawa riuh terdengar memenuhi kelas Ara kali ini.
Bu Sasti yang biasanya jutek kali ini terlihat menyunggingkan senyum tipisnya.
Menghadapi anak-anak seusia mereka tidak perlu disertai ancaman.
Sekedar diingatkan maka mereka akan mengingat.
Sekedar diberitahu maka mereka juga akan mampu.
Mereka harus mulai diajak berfikir dari sudut pandang mereka, karena mereka saat ini sedang kritis dengan situasi di sekitarnya.
Maka bu Sasti menarik kesimpulan untuk memberi kebebasan mereka tetapi tetap dalam pengawasan.
__ADS_1
Bersambung...