
Hari ini adalah hari keempat Ara dan Rangga berada di Bandung.
Hari ini jugalah hari ulang tahun Ardi dan Ara.
Tengah malam Rangga membuka matanya pelan, tanganya meraba-raba sebelah tempat tidurnya, kosong.
Perlahan diturunkan kakinya dari ranjang. Fikiran buruk kembali mendominasi otaknya. Takut-takut jika Aranya kembali terpuruk.
Kakinya melangkah keluar dari kamar di lantai dua rumah Bandung.
Suara merdu lantunan ayat suci membuatnya melangkah mengikuti arah suara.
Di musholla keluarga nampak pemandangan yang menyejukkan hatinya.
Rangga tersenyum dan melangkah menuju air mancur untuk mengambil air wudhu.
Tapi langkahnya terhenti saat suara lembut Ara mengagetkannya.
" Duhai Allah..
Telah Engkau gagalkan rencana-rencana yang telah aku susun dengan matang..
Juga telah Engkau patahkan pucuk-pucuk pengharapan ku..
Tidak, Wahai Allah..
Aku tidak marah, pun aku tidak kecewa..
Bagaimana mungkin aku memaksakan kehendak ku..
Sedangkan Engkaulah yang lebih tahu mana yang terbaik buatku..
Hanya saja Wahai Tuhanku..
Bantu aku untuk iklas dan ridha dengan takdir yang Kau tulis untukku..
Agar mudah hati ini untuk menjalani ini semua..
Karena tidak ada suatu kemudahan, jika Engkau tidak membuatnya mudah..
" Allohumma laasahla illaa maaja'altahu sahla. Wa anta taj'alul hazna idzaa syi'ta sahla"
Tes...tes..
Butiran air mata Rangga mengalir begitu saja, kedua telapak tangannya meraup wajahnya. Mengaminkan semua doa istrinya. Lailia Nafeesa Anara...
Syukur yang terdalam Rangga panjatkan.
Lambat laun istrinya kembali, kembali menjadi dedek Lilinya yang tegar dan pantang menyerah.
...***...
Lenox segera berlari menuju pintu mobil dimana Ara berada saat mobil Rangga terparkir sempurna di depan rumah Syakieb.
Dengan tergesa-gesa Lenox membuka pintu itu dari luar.
" Kenapa semenjak pulang dari RS kau tidak mengangkat telponku?, kau juga tidak membalas pesanmu..., kenapa Ra?" Lenox memberondong Ara dengan pertanyaannya.
" Maaf Le, saat itu aku bahkan lupa akan ponselku.." Jawab Ara jujur.
" Beib!!, cepet masuk. Kakek menunggumu.." Seruan Ardi membuat Ara langsung berlari ke dalam saat sebelumnya dia menepuk lengan Lenox agar tenang.
" Sekarang pergilah!!, aku sudah disini. Kau tidak diperlukan pagi" Ucap Rangga dingin, dan berlalu meninggalkan Lenox.
" Kau disini berapa lama?, seminggu, dua minggu, atau sebulan dua bulan. Tapi kau akan meninggalkannya lagi lama... Bertahun-tahun. Kau fikir kau bisa menang begitu???" Lenox tersenyum devil.
Rangga menghentikan langkahnya dan berbalik menuju tepat di depan Lenox.
" Kau fikir kau bisa merebutnya dariku?, langkahi dulu mayatku!!" Bisik Rangga tepat di telinga Lenox.
Lenox mendorong dada Rangga dengan jarinya.
" Jelas!!!, bahkan aku menunggu-nunggu saat itu" Balas Lenox sengit.
Rangga menggelengkan kepalanya tak percaya. Pemuda di depanya ini tangguh juga.
" Ha..ha..ha, seleramu luar biasa. Bahkan istri orangpun ingin kau embat juga.
__ADS_1
Lenox apa segitunya kau tak laku...?"
" Brengsek!!, aku bisa mendapatkan siapapun yang aku mau. Termasuk istrim---"
Tuk!! Tuk!!
Pukulan gulungan kertas mendarat di bibir seksi Lenox, membuatnya berhenti ngoceh.
Dan tentu saja pelakunya adalah Ara.
" Kau itu selalu sembarangan bicara Lenox, apa kau tau bahwa mulutmu itu akan dihisab kelak. Pergunakanlah mulutmu untuk berbicara yang baik Le..."
Ucap Ara dengan menatap tajam mata Lenox.
" Tapi aku jujur Ra!!, aku ini mencintaimu.. Aku menginginkanmu Ara!!" Lenox meremas rambutnya frustasi.
" Le..., kau tidak malu berbicara seperti itu di depan suami ku...???, ya Tuhan Lenox!!, dimana adab sopan santun mu.."
Ara tak habis fikir, Lenox belum juga bisa dipukul mundur.
Harus cara apalagi yang harus Ara lakukan.
" Nih..., mama minta tolong kau ke panti. Sebelum itu ini ada barang yang harus kau ambil ke toko. Dan lagi, beberapa adik menangis mencarimu..." Ara menyerahkan gulungan kertas ditangannya pada Lenox.
Ya, beberapa bulan ini Lenoxlah yang rajin membantu Ara mengurusi panti asuhan peninggalan nenek, yang sejatinya tanggungjawabnya ada di tangan Ardi.
Tapi bertepatan Ardi ke Thailand, maka Aralah yang melanjutkan.
Lenox mengangguk patuh. Dan berbalik badan menuju motornya.
" Lenox..." Panggil Ara.
Lenox hanya berhenti tanpa menoleh.
" Maafkan aku, untuk cintamu...aku tidak bisa menerimanya. Dihatiku sudah penuh nama Rangga, tanpa sisa. Jika kau mau, kau tetap memiliki tempat, sebagai teman baikku. Hanya itu...maafkan aku Lenox.." Ara menengadahkan kepalanya ke atas. Menahan sesak air mata yang ingin keluar.
Lenox mengangguk dan langsung menaiki motornya tanpa berkata apa-apa.
Rangga membekap Ara dalam pelukanya.
Rasa bahagianya tiada terkira, Aranya, dedek Lilinya, cinta pertamnya. Kini kembali padanya.
...***...
Hanya saja kehebohan terjadi di panti asuhan Casablanca karena ulah Lenox.
Saat ini seluruh keluarga besar dan kolega papa Syakieb berkumpul untuk makan malam bersama, sebagai syukuran bertambahnya usia Ardi dan Ara.
Beberapa sahabat dari keduanya pun hadir.
Rangga tak pernah sedikitpun menjauh dari cintanya, pemuda itu terus menempel seperti perangko.
Bianca heboh, berlari ke sana kemari. Sesekali sengaja melompat-lompat agar Ardi menangkapnya.
" Anak lo udah gede aja Di, emaknya kapan di halalin nih..." Leon berbisik di telinga Ardi.
" Anaknya nempel mulu ama gue Yon, emaknya licin seperti belut. Gue kadang merasa dia suka gue Yon, tapi juga kadang sepertinya enggak..." Ucapan Ardi sedikit membuat Leon pening.
" Kenapa mukanya ditutupun Di?, apa banyak jerawatnya gitu?" Pertanyaan Leon membuat Ardi berdebar-debar.
Ingatannya tertuju pada malam penyerangan itu. Dimana dia sempat melihat wajah Azura yang terbuka.
Tidak ada jerawat sama sekali.
Bahkan setitik noda pun tidak.
Wajah cantik yang membuatnya tidak bisa tidur seminggu ini, wajah yang membuatnya gelisah setiap waktu.
Hidung tinggi dan kokoh, bibir kecil bervolume. Pipi yang cubby menggemaskan.
Cantik!!
Wajah Azura yang tersembunyi dibalik cadarnya, melebihi definisi cantik itu sendiri.
Bahkan sampai detik ini, Ardi gagal move on dari ingatanya itu.
" Di!!, kok lo ngelamun sih!!, tuh anak lo nangis tuh!!" Suara Lenox mengagetkan Ardi yang terjebak dalam lamunan sesaatnya.
" Kenapa sayang?, mau apa?" Tanya Ardi pada Bianca yang menangis.
__ADS_1
" Cucu..."
" Oh susu, yuk kita cari mmy dulu, biar dibuatin..." Ardi menggendong Bianca dan mencari keberadaan Azura.
Azura tidak ditemukannya dimana-mana. Di kamar, dapur, diantara para undangan juga tidak nampak batang hidung nya( ya emang nggak nampak, kan ditutup).
Saat melintasi balkon yang menuju kolam renang, siluet gadis berjilbab panjang membuat Ardi segera menoleh dan beranjak ke sana.
Semakin mendekat semakin hati Ardi teriris sakit.
Azura tidak sendiri, tapi ada Brian bersama nya.
Mereka mojok berdua?
Apa yang mereka lakukan.
Dan itu apa?
Brothy memberinya cincin?
" Mmy...." Panggil Bianca.
Azura dengan cepat menoleh dan berjalan menuju Ardi dan Bianca.
" Iya sayang sini..." Azura mengulurkan tanganya untuk meraih Bianca.
Tapi Ardi menepisnya kasar.
" Tidak usah!!!, teruskan saja pacaranmu!!.
Ardi berbalik badan dan berlalu begitu saja dari hadapan Azura.
" Biar om bikinin susunya ya Bian..." Ucap Ardi pada Bianca. Dan gadis itupun mengangguk imut, seraya menciumi pipi Ardi.
Azura mematung ditempatnya.
Kenapa mas Ardi selalu ketus padaku?
Apa salahku?
Gadis itu mengerjapkan matanya berulang-ulang untuk membuang air mata yang mulai keluar.
" Kenapa Zu?" Tanya Brian.
" Ahhh, nggak papa brothy. Yuk kedalam, sepertinya brothy Marvel akan perform tuh...".
Marvel ditemani Dian kini duduk di kursi piano, mereka membawan lagu ulang tahun dari Jamrud untuk Ardi dan Ara.
Banyak tamu undangan bertanya-tanya, kenapa suara anggota Al Ghifari ini merdu semua.
Akhirnya kekek membuka rahasia, bahwa saat dirinya muda dia adalah seorang penyanyi juga.
Dengan pengakuan itu sontak sebagian dari mereka memaksa-maksa paman dan papa untuk ikut serta menunjukkan suara emas mereka.
Marvel menatap Ara yang tengah tertawa-tawa ditengah sahabatnya dan juga sahabat-sahabat Rangga.
Rasa cintanya pada Ara tidaklah bisa mati begitu saja.
Tapi jelas Marvel sadar dan waras untuk memahami situasi ini.
Tanganya sudah sangat gatal ingin mencekik Jessica dan mencabik-cabiknya.
Tapi kini di dalam perut istrinya ada putra-putranya.
Dia tidak boleh egois, dengan kemauannya sendiri. Ada Dian dan buah hati mereka sekarang.
Princess...., kau akan selalu dihatiku. Princess ada tempatmu disana, sampai kau sendiri yang akan pergi..
" Kenapa hubby?" Tanya Dian dengan menyerahkan jus jeruk ke arah suaminya.
" Hemmmm, biasalah wife... Sesuatu disini berdetak lagi.." Jawab Marvel jujur dengan menunjuk pada dadanya.
Entah Allah menciptakan hati Dian terbuat dari apa.
Wanita ini begitu tegar menghadapi suaminya yang terang-terangan mencintai gadis lain. Tapi bukan Dian Angguni namanya yang harus nangis ngesot-ngesot karena ini.
Mungkin awalnya perih, tapi lambat laun Dian yakin. Suatu saat nama Ara pasti akan keluar dari hati Marvel dengan sendirinya.
__ADS_1