
Hotel tempat diselenggarakannya wisuda kali ini sudah sangat ramai dipadati anggota keluarga, sahabat dan kerabat para mahasiswa.
Tak tertinggal sahabat dan kerabat dari Ardi dan Ara.
Rangga merasa ngenes melihat ini semua, dia teringat bagaimana dia merasakan rasanya tersisihkan saat harus wisuda sendirian di negara paman sam itu.
Saat itu daddy dan mommy benar-benar tak mau menghadiri wisudanya karena sakit hati dengan apa yang diperbuatnya.
Rangga tidak sakit hati, justru dia merasa itu adalah pembalasan yang setimpal atas kesalahanya dengan mempermalukan keluarganya.
" Kenapa Bi....?" Ara menggosok lengan Rangga yang terlihat melamun semenjak tadi.
" Nggak sayang, hanya mengingat saat kakak wisuda dulu, tidak ada satupun yang datang..." Ucap Rangga sendu.
" Maafkan Lili Bi......." Ara menundukkan kepalanya sedih.
" Ssstttt, sudahlah... Itu memang pantas untukku.." Rangga memeluk Ara dan mengecup keningnya.
Acara berjalan sesuai yang telah dijadwalkan.
Rangga menatap istri kecil yang dinikahinya sejak masih duduk kelas X SMU itu.
Lilinya yang dulu suka malu-malu saat menatap nya itu kini telah dewasa.
Dengan binar penuh semangat kini mata itu tajam menatap masa depan.
Lilinya yang selalu imut dimatanya ini sudah menjadi seorang dokter muda sekarang.
Lilinya, gadis kecilnya, cintanya...
Kini dia berdiri di depan podium dengan beribu ucapan terimakasih padanya, pada dirinya, pada Rangganya, pada suami tercintanya.
" Thank to you, my lovely husband. For all your time, all your energy, all your patience and all your material you have put out for me. Thank you my dear, me and the twins love you so much dad..."
Sorak sorai mahasiswa menggema memenuhi ruangan. Mereka akhirnya tahu status Ara seperti apa.
Lenox menatap Ara dengan kagum.
Mereka berdua sama-sama menyabet nilai memuaskan atau biasa disebut cumlaude.
Saat ini dikedua tangan mereka telah berada tropy penghargaan dan sertifikasi dokter muda mereka.
" Akhirnya..., tinggal mempersiapkan diri untuk Koas Ra...." Bisik Lenox saat mereka menuju kursi mereka kembali.
...***...
" Alhamdulillah Zu...kita bisa menikah sekarang..." Bisik Ardi.
Azura hanya mengangguk dan tersenyum dibalik cadarnya.
Mama Neela yang mendengar ucapan Ardi rasanya ingin tertawa.
Putranya ini sungguh imut saat kasmaran seperti saat ini.
__ADS_1
Mereka kini telah berada di halaman belakang hotel, semua wisudawan dan wisudawati bergerombol bersama keluarga nya untuk mencari spot foto yang keren.
Ardi menarik Azura untuk mendekati para sahabatnya.
" Heyyy guys attention please..." Seru Ardi kepada teman-temanya.
Para sahabat dan kenalan Ardipun berkumpul. Sementara Azura sedikit syok dengan tangan Ardi yang mengenggam erat tanganya.
"Dengarkan baik-baik!! gue Ardiansyah Syakieb Al Ghifari, melamar Azura Paramita Pramudya sebagai pelabuhan terakhir..." Ucapnya dengan penuh kesungguhan.
Ardi berjongkok dengan betumpu pada sebelah kakinya di depan Azura.
" Wahai Azura Paramita, kamu adalah alasanku tersenyum. Kamu adalah alasanku mencapai kesuksesan ku sampai sejauh ini. Segala sesuatu yang kulakukan akan selalu tentang kamu..."
" Wahai pemilik cinta ku Azura Paramita, izinkan aku, dengan segala perasaan yang di titipkan Allah ini membuat pengakuan padamu..."
" Sudah sangat lama diriku ini menyimpan rasa suka dan tertarik padamu, dan itu sangat besar. Bukan aku tidak ingin memilikimu saat itu juga, tapi aku memang ingin menjagamu dan membukamu dengan halal"
" Azura Paramita Pramudya, berkali-kali aku bertanya pada Tuhan dengan munajatku, tapi ternyata jawabannya tetaplah sama, itu kau dan tetap kau"
" Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Azura Paramita Pramudya, mau kah engkau menjadi istriku sayang...??"
" Waahhhhhh...yuhhhuuu..huuuuuu"
Lamaran Ardi yang heboh jelas membuat suasana halaman hotel menjadi riuh dan ramai.
" Jawab..jawab...jawab...."
Tepukan riuh membuat Azura merona malu.
" Ayo sayang jawab..." Bisik mama Neela.
" Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah, aku Azura Paramita Pramudya menerima lamaramu, Ardiansyah Syakieb Al Ghifari...." Jawab Azura dengan mantab.
" Yeahhhh....yuhhuuuu"
Sorak para sahabat Ardi dan beberapa orang yang berada disana.
" Alhamdulillah..., go!!! Langsung cus KUA sayang...." Kelakar Ardi yang sontak membuat mereka yang disana tertawa terbahak-bahak.
" Alhamdulillah Bi..., bang Ardi akhirnya menikah juga..." Bisik Ara pada Rangga yang terus mendekapnya.
" Ya sayang, semua telah ditentukan. Kapan kita dilahirkan, kapan kita bertemu jodoh kita dan kapan kita akan menutup mata..." ucap Rangga dengan tangan yang melambai pada Bianca yang bersorak-sorak bahagia.
Sunny, Shine serta Rasya juga meloncat-loncat kegirangan mengelilingi Ardi yang terus mendapatkan ucapan selamat oleh para sahabat dan teman-temannya.
Suasana riuh terus berlanjut, tapi Rangga teringat bahwa mereka ada janji dengan dokter Linda sahabat mommy untuk kontrol kandungan Ara dan konsultasi mengenai Koas saat hami seperti Ara ini.
" Yuk kita ke dokter, kakak nggak sabar ingin liat mereka..."
Rangga menarik tangan Ara untuk menuju ke mobil.
Sesampainya dimobil Rangga justru diam dan terus menatap Ara.
__ADS_1
" Ada apa Bi....?" Tanya Ara sendu.
" Aku tak pernah memberimu kenangan manis seperti lamaran Ardi pada Azura tadi sayang..." Ucap Rangga sedih.
" Kenapa memangnya Bi?, Kunci kebahagiaan itu adalah syukuri apa yang kita miliki Bi, Jangan bandingkan dengan yang orang lain punya. Kita buat standar bahagia kita sendiri Bi..., dengan kapasitas dan cara kita sendiri..." Rangga tertegun dengan ucapan Ara yang sejuk.
Cup.
Dikecupnya singkat bibir manis itu, ya...kebahagianya jelas karena gadis didepannya ini.
Tidak perlu apa-apa lagi baginya, cukup Lailia Nafeesa Anara saja di sisinya, sudah...ini saja lebih dari rasa bahagia.
Cup.
Lagi, dikecupnya bibir Ara dengan segala rasa syukur yang tercurah.
Alhamdulilah...ya Allah.
Cukup bersamanya saja itu sudah membuatku bahagia...
...***...
" Nah, ayo kita kunjungi mereka..." Dokter Linda sahabat mommy Tara mengoleskan cairan kental dan dingin ke atas perut Ara yang membuncit.
Lalu menggeserkan sebuah alat disana.
Nampaklah di monitor kedua janin yang kecil dan bergerak-gerak.
" Nah ini dia, dokter Ara.., mereka boy and girl..." Ucap dokter Linda dengan terus menggerakkan alat USG diatas perut Ara.
Rangga diam terpaku menatap monitor didepanya dengan rasa bahagia yang luar biasa.
" Boy and girl, like you and Ardi sayang?" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya pada monitor.
Ara mengulum senyumnya melihat Rangga yang speechless dengan semua ini.
" Alhamdulillah ya Allah, memang benar bahwa makna bahagia itu kita sendiri yang mengukurnya.... Ya Allah aku bersaksi, bersamanya aku sungguh-sungguh bahagia.."
Gumam Rangga pada dirinya sendiri.
Setelah mengetahui keadaan Ara dan kedua babby baik-baik saja, Ranggapun bertanya tentang plus dan minusnya Koas di saat hamil seperti Ara ini.
Dokterpun memberikan saran dan vitamin untuk penunjang imunitas Ara. Dan tentu saja obat pereda mual untuk HEG setiap pagi dan malam hari yang belum juga hilang.
Jujur Rangga sebenarnya berat melepaskan istrinya Koas, tapi mau tidak mau harus mau. Karena itu adalah prosedurnya.
" Sayang...kamu siap untuk Koas kan...?"
" Ya...mau nggak mau harus mau lah, siap nggak siap juga harus siap. Disinilah akhir dari yang telah kami pelajari selama ini Bi...."
" Bisa disebut ini adalah awal karier kami Bi, disinilah bisa dilihat panggilan hati ataukah hanya tuntutan profesi saja yang kami pelajari selama ini.."
" Lili minta ijinmu Bi.., minta pengertianmu, minta kesabaranmu, minta ketulusamu untuk merestui jalan yang telah Lili pilih..." ucap Ara dengan mengecupi tangan Rangga yang ada di genggamannya.
__ADS_1
" InsyaAllah sayang..... Kakak akan selalu mendukung semua yang terbaik untukmu..."