Childhood Love Story

Childhood Love Story
Rangga Bayu Wijaya


__ADS_3

Ara semakin tercengang dan semakin jatuh cinta dengan Rangga Bayu Wijaya suaminya.


Bahkan hotel sebesar ini adalah hasil keringat Rangga sendiri.


Dari sini Ara juga tahu bahwa sejak SMP Rangga rajin mengikuti Olimpiade. Bahkan tak hanya olympiad Sains ataupun Math, tapi juga bahasa dan robotik. Yang di kejar Rangga tak hanya hadiah prestisiusnya saja melainkan impianya untuk bisa sekolah di Amerika tanpa harus mengeluarkan biaya.


Pundi-pundi kekayaan Rangga tak hanya ratusan dollar dari hadiah-hadiah yang didapatkan nya selama ini.


Tetapi, ternyata Rangga dan Denis juga mengelola blog dan youtube mereka sejak SMP. Dan itu tentu sudah menghasilkan ratusan juta tiap bulannya.


Belum lagi tradding saham yang mereka bertiga kelola. Berkat keakuratan taksiran Denis dan tangan dingin Gama, serta ketelitian Rangga, usaha mereka berkembang pesat sampai sejauh ini.


Bahkan Chandrapun akhirnya terseret dalam pusaran bisnis mereka.


Entahlah...


Mungkin pada dasarnya mereka itu memang anak-anak cerdas berbakat yang diberikan kelebihan oleh Tuhan yang Maha Agung.


Hingga diusia mereka yang sangat muda, mereka bisa berdikari secara profesional seperti ini.


Atau mungkin pujian atas prestasi ini patut diberikan kepada kedua orangtua mereka yang telah berhasil mendidik putra-putranya dalam berbisnis selagi muda.


Selakali lagi entahlah...


Ara beberapa kali mengkerutkan keningnya membuat papa dan Adnan tertawa dalam hati mereka. Mereka telah menjelaskan kepada Ara sejelas-jelasnya dan itu justru membuat Ara semakin bingung.


Semenjak pertemuan di ruang meeting dua jam lalu, Ara terlihat speechless dan terbengong seolah tak percaya dengan ini semua.


Bahkan sampai saat inipun, ketika Ara dan Denis berada di lobby samping, gadis manis dengan seragam putih abu itu masih terlihat bingung.


" Kenapa?" Tanya Denis saat melihat kebingungan Ara.


" Kapan dia kerja?, Ara nggak pernah lihat" Bisik Ara pada Denis.


Denis tertawa keras, rupanya istri sahabatnya ini dari tadi memikirkan itu.


" Dia cuti panjang untuk bisa menghabiskan waktunya denganmu sebelum kepergiannya ke Amerika, makanya dia terlihat tidak bekerja saat bersamamu Ra.." Jawab Denis.


Ara malah menggendikan bahunya, masih bingung.


" Pak Denis, tamunya sudah datang.." Seorang karyawan mendekati Denis dengan sedikit membungkuk.


" Iya saya ganti baju dulu.." Ucapnya dan segera berdiri.


" Mau ikut?" Ajak Denis.


" Kemana?" Tanya Ara ragu-ragu.


" Ke ruangan suamimu.." Jawab Denis dengan terus melangkahkan kaki, sementara kedua tangannya masuk kedalam kantong celananya.


Ara segera berlari kecil mengikutinya.


"Nah..ini ruangan suamimu...masuklah.." Ucap Denis dengan membukakan pintu ruangan di depanya untuk Ara.


Ara memasuki ruangan itu dengan berdebar.


Sebuah foto pernikahannya dengan Rangga tergantung tepat di dinding belakang kursi kerja, akan langsung tampak saat siapapun memasuki ruangan.


Dan foto masa kecil mereka juga terpasang rapi diatas meja kerja.


Mata Ara mulai mengembun saat foto-foto dirinya memenuhi meja kerja itu, foto dirinya dengan berbagai pose, foto-foto dengan ukuran kecil-kecil itu memenuhi semua alas meja Rangga dengan saling berdesakan saking banyaknya.


" MasyaAllah kakak...hik..hik.." Ara duduk dikursi Rangga dan meraih foto mereka saat kecil dalam pelukanya. Saat ini Ara hanya bisa menangis, menangis haru dan bahagia.


Ara sungguh bersyukur telah dicintai oleh cinta masa kecilnya.


Dan kini menjadi cintanya untuk selamanya.., InshaAllah.


Ara menatap foto-foto kecil itu dengan senyum dan tangisannya.


Kapan dia mendapatkan foto ini?


Dasar kak Rangga si penguntit...


Ara semakin terisak saat menyadari foto-foto itu kebanyakan hasil screenshotan saat mereka video callan.


" Jangan menangis" Suara dari pintu mengagetkan Ara.


" Disana sudah sekitar pukul 02 dini hari, ditelpon saja, sekalian suruh tahajud suamimu mut.." Adnan mendekati Ara dan membenamkan adik tersayannya dalam pelukanya.


Ara mengangguk, sementara Adnan meninggalkanya untuk memberikan privasi keduanya.


Ara membuka laptop di depanya. Terpasword, tapi Ara sangat tahu pasword ponsel Rangga ataupun laptop belajar Rangga.

__ADS_1


Jadi Ara pun mencobanya dan berhasil.


" Hai sayang Assalamu'alaikum..." Suara serak Rangga terdengar sebelum tampilan layar terbuka sempurna.


" Waalaikumsalam sayang...maaf Lili ganggu tidurnya kakak.."


Rangga langsung membuka matanya lebar saat melihat dimana keberadaan Ara sekarang.


" Kamu dikantor sayang??" Ucapnya dengan langsung duduk bersila di tempat tidurnya. Rasa kantuk tiba-tiba lenyap begitu saja.


" He emmm seperti yang kakak lihat" Ara tersenyum manis semanis gula, membuat Rangga benar-benar membuka matanya terang.


" Kak..." Panggil Ara dengan tatapan mata tajam yang membuat Rangga dag dig dug tak karuan.


" Ya sayang...."


" Terimakasih atas semua yang kakak persembahkan untuk Lili..., Lili tidak bisa membalasnya, hanya satu..."


" Ya sayang, hanya satu?" Rangga menaikan alisnya.


" Cinta....Hanya cinta yang bisa Lili berikan untuk kakak.." Ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya. Disusul oleh kecupan jarak jauhnya.


Sementara Rangga yang diseberang pura-pura menangkap sesuatu di udara dan mengusapkanya di seluruh wajahnya.


" Berasa semua telah kamu kecup sayang" Ucap Rangga dengan senyumnya.


Ara tertawa kecil melihat tingkah lucu suaminya.


Rangga menatap istrinya yang bertambah lebih cantik saat tertawa membuat ide jahil melintas di benaknya.


" Hai sayang kiss me, please...." Rangga memonyongkan bibirnya tepat di depan kamera.



" Akhhh!!!" Teriak Ara gemas.


Matanya melotot melihat visual apa yang memenuhi layar laptop nya kali ini.


Gadis itu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya panas terasa terbakar. Tubuhnya seperti tersengat listrik hanya dengan menatap bibir Rangga saja.


Diseberang sana Rangga tertawa terpingkal-pingkal sampai menepuk kasurnya gemas.


Dia sukses mengerjai Ara kali ini. Rangga sangat tahu jika Ara sangat tidak tahan apabila telah menatap bibir bawahnya.


" Jahat amat sama istri ishhh!!!, kalau pengen trus gimana coba?, Lili lampiasin sama siapa dong!!!"


Mereka terus ngobrol dengan santai, seolah-olah mereka benar-benar berhadapan.


Percakapan mereka terhenti saat Gama dan Chandra memasuki ruangan Rangga.


" Wah...kita sepertinya menganggu orang pacaran deh Chand.." Sindir Gama.


" Iya nih..." Balas Chandra.


" Nggak ganggu kok.., nih lihat.." Ara memutar laptop hingga menghadap keduanya.


Tak lama Denis dan Vinopun masuk keruangan Rangga dan mereka berempatpun terlibat pembicaraan yang serius.


Sementara Ara iseng membuka-buka laci meja kerja Rangga.


Dan menemukan sepucuk kertas yang membuatnya semakin mencintai Rangga Bayu Wijaya.


**


Ara merebahkan tubuh lelahnya dikasur yang terasa dingin seminggu terakhir ini.


Biasanya selalu ada saja tingkah Rangga yang usil menggodanya.


Entah kenapa?. Malam ini Ara benar-benar merasa sangat merindukan Rangganya.


Tubuhnya menggigil karena tangis.


Dibukanya lagi secarik kertas yang ditemukannya di laci meja kerja Rangga tadi sore.


Medio, 11th July...


Lailia Nafeesa Anara..


Nama yang indah, seindah senyummu..


Disana...


Dihatimu aku semaikan rasaku, semoga tumbuh subur dihatimu..

__ADS_1


Sayang..


Aku Rangga Bayu Wijaya..


Dibuat jatuh sejatuh jatuhnya oleh CINTAKU..


Dibuat babak belur oleh HARAPAN agar bisa bersamamu..


Dibuat tersiksa oleh rasa RINDUKU..


Aku sadar sayang..


Saat ini SABAR itu wajib bagiku..


BERJUANG, BANGKIT dan BERTAHAN adalah prioritas ku...


Lailia Nafeesa Anara...


My childhood lover...


My lovely wife...


My dear sweetheart..


Love you baby.....love you so much...


Ara memeluk tulisan tanda Rangga dalam dekapanya.


Tangisnya terisak dalam sunyi. Rindu sungguh menyayat hati.


Diraihnya ponselnya, diusapnya air mata yang membanjiri pipi mulusnya.


Gatal rasanya ingin kembali menekan nomor Rangga. Tapi Ara sangat tahu, saat ini suaminya pasti sedang tenggelam dalam belajarnya.


LDRan itu sejatinya kedua belah pihak harus saling memahami, saling percaya dan saling mengisi.


Setelah beberapa saat menimbang-nimbang Ara akhirnya mengetik sesuatu di ponselnya.


Sayangku Rangga Bayu Wijaya..


KUATLAH... Sayangku...


Hidup itu memang begini saja


Berpisah, lalu bertemu


Berpisah, terus bersama lagi


BERTAHANLAH....Cintaku...


Buah kesabaran itu lebih manis daripada madu.


Akan ada saatnya kita menyadari bahwa perpisahan ini akan kita syukuri dengan dalam, suatu hari nanti.


Dimana kita akan tahu nikmatnya bertemu setelah berjuang menaklukan rindu.


IKHLASLAH...Pujaanku...


Semoga terganti setiap air mata kita dengan sesuatu yang jauh lebih baik.


Tangan hanya dua, mana mampu untuk menggenggam semua


SABARLAH...Permata hatiku.....


Takkan jadi Hebat, jika tak Kuat


Takkan jadi Besar, jika tak Sabar


Love you so much...


My prince...


My childhood lover...


My lovely hubby..


You are my everything....


Rangga yang mendapatkan pesan Ara saat berada dalam kelasnya langsung menggigit genggaman tanganya, menahan rasa bahagia yang membuncah tiada tara.


Bibirnya melengkung menandakan betapa dia tak akan sanggup menahan senyumnya kali ini.


Perutnya terasa penuh kupu-kupu yang mengepak didalam sana.

__ADS_1


" Sayangku...cintaku...I love you...." Bisiknya dengan menelungkupkan kepalanya di mejanya. Rindu kini menyelimuti relung hatinya.


Andaikan bisa, rasanya ingin berlari untuk segera memeluk.


__ADS_2