
Ara terlihat lesu saat keluar dari mobilnya. Dengan wajah yang menunduk dan tidak bersemangat, wanita muda beranak dua itu melangkah menyusuri koridor rumah sakit.
Mungkin memang raganya ada disini, tetapi jiwanya tertinggal dirumah.
Kedua anaknya semalaman sangat rewel, tepatnya karena Almeer sudah mulai tumbuh gigi begitu pula Almaeera. Mereka terus-terusan menangis minta Asi, dan keduanya sama-sama menolak susu formula.
Kepalanya sangat berat saat ini, kurang tidur jelas mempengaruhi kondisi kesehatannya, dan keadaan twin saat ini juga ikut mengganggu kestabilan kondisi mentalnya.
" Ra..., akhirnya lo sampai juga. Hari ini lo dan gue yang dapet tugas buat nutupin kerjaan Lenox, lo nggak keberatan kan Ra.." Ucap Nurma, salah satu tim Koasnya.
" Ya Nur, siap..." Jawab Ara.
Mau jawab apa lagi, mau nggak mau juga harus mau lah.
Beberapa kali Ara terlihat melamun karena memikirkan anak-anaknya yang sedang tidak baik-baik saja.
Tapi semua kesediaanya dan kesiapanya menutupi pekerjaan itu benar-benar neraka baginya.
Saking padatnya jadwal dan pekerjaan yang menumpuk begitu banyak dan berjejal. Bahkan makan siang dan makan malampun terlewat begitu saja tanpa ia sadari.
Tidak hanya itu, bahkan puluhan panggilan Rangga di ponselnya juga sampai-sampai tak terjawab olehnya.
Malam telah begitu larut, hampir pukul sepuluh malam Ara baru memasuki rumahnya.
Seperti tak bertulang Ara merambat menaiki tangga rumahnya dengan sangat malas.
Rangga yang baru akan keluar dari kamar, menatap istrinya itu dengan tatapan iba. Melihat Ara yang naik satu tangga berhenti, dan naik lagi lalu berhenti lagi itu membuatnya sangat tahu istrinya pasti capek.
" Baru pulang sayang?" Rangga segera berjalan mendekati istrinya yang terlihat pucat.
" Hemmm" Jawab Ara singkat.
" Capek banget ya?" Rangga mengecup kening Ara begitu dalam.
Sudah berpuluh kali dia meminta Ara untuk berhenti saja, tapi Ara terus memaksakan diri. Rangga sendiri tidak mau memaksa istrinya jikalau istrinya itu tidak berkenan dengan apa yang diinginkannya.
" Huppp..." Rangga mengangkat Ara dalam gendongannya.
" Nah, mari ratuku....mandi dulu..." Rangga membawa Ara dalam gendongnya, sementara Ara membaringkan kepalanya di bahu Rangga.
" Apa twin oke?, tadi saat Lili telpon mama, suara mereka sepertinya
sedang menangis.." Tanya Ara dengan mata terus menatap box bayi yang terdapat putra-putrinya yang sedang tidur pulas.
" Ya, tadi menang terus menangis. Tapi mommy datang membantu mama.... Sebenarnya Meera tidak cengeng, tapi karena terus terganggu oleh tangisan Almeer, diapun ikut menangis".
Rangga mengelus rambut putrinya.
" Mandilah sayang, kakak siapkan minyak urutnya dulu. Kamu sudah makan?"
Ara hanya menggeleng lemah, dan sontak jawaban itu membuat Rangga ngilu.
Saat Ara masuk ke kamar mandi untuk berendam sejenak, Rangga turun ke dapur. Membuatkan sop bakso tahu untuk istrinya.
Di dapur Rangga melamun, Raya siang tadi menemuinya di kantor.
Menceritakan bahwa Sekar bolak-balik datang ke rumahnya untuk menganggu Hanum. Tapi rupanya Sekar melawan gadis yang salah. Karena Hanum justru tidak merasa terganggu, malah Sekar yang justru mencak-mencak karena tidak berhasil mengacaukan rumah tangga baru milik Raya dan Hanum.
Sepulangnya Rayya, Rangga dibuat terkejut akan kedatangan Sheyla yang tiba-tiba.
Lagi-lagi wanita itu menawarkan makan malam padanya, ini sudah yang ketiga kalinya wanita itu muncul di kantornya.
Rangga merasa tidak enak dengan pandangan para karyawan padanya, karena dia sendiri sempat mendengar beberapa karyawan menggosipkanya. Memiliki wanita simpanan?, bahkan membayangkannya saja Rangga tidak pernah. Takut-takut istrinya akan mendengar berita yang tidak benar ini dari orang lain, Ranggapun bertekat untuk membicarakanya empat mata dengan istrinya.
" Eemmm, wanginya, kakak masak apa...?" Ucap Ara yang kini terlihat segar, dan cantik.
Wangi sabun dan shampoo yang lembut menguar dari tubuh dan rambutnya yang lembab.
Rangga tersenyum dan menoleh, menuangkan semangkuk sop dan membawanya ke meja makan. Ara mengikutinya dari belakangan.
" Makanlah sayang mumpung masih hangat..., atau mau kakak suapin?, heemmm.."
__ADS_1
Ara tertawa kecil dan menggeleng, seperti biasa, Rangga menggeser sambal menjauh dari jangkauan Ara.
" Loh, kenapa sambelnya dijauhin sih Bi..." protes Ara.
" Jangan sayang, udah malam ini..." Sahut Rangga.
" Trus apa hubungannya malam dan nggak boleh sambal.."
" Jangan pokoknya, kakak nggak mau kamu sakit perut.., nurut sayang..." Pinta Rangga tulus dengan menatap manik mata bulat wanita yang telah melahirkan penerusnya itu.
Ara mengangguk patuh, disertai acungan jempolnya.
" Sayang...., tadi Sheyla datang ke kantor, tepatnya sudah tiga kali ini..." Rangga memulai pembicaraan ini setelah melihat mangkuk Ara mulai kosong.
" Uhukk..uhukkk..." Ara terbatuk-batuk karena terlalu kaget.
Rangga segera menyodorkan air putih padanya.
" Sudah tiga kali baru bilang sekarang?" Sahut Ara ketus.
" Sayangku Lili..., dengar sayang. Disini hanya ada kamu dan twin. Penuh akan kalian, tak ada lagi ruang tersisa untuk orang lain. Percayalah.." Rangga menepuk dadanya.
" Kakak sudah meminta sekuriti untuk tidak menerimanya lagi setelah ini karena..." Rangga menundukkan kepalanya dan *******-***** kedua tanganya.
" Karena?"
" Karena dikantor timbul gosip antara kakak dan---"
" Dan Sheyla?" Sambar Ara.
Rangga mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam, lalu membaringkan kepalanya di meja. Diikuti oleh Ara yang terus saja menatapnya.
" Ini kalau kedengaran papa, broty Marvel dan Lenox, nggak tau akan jadi apa?, sebenarnya kakak ketemu dia dimana sih?, apa yang kakak janjikan padanya?, kok dia ngeyel banget deketin suami orang..."
" Nggak ada, ketemu juga pas kerumah hari itu. Sebenarnya bukan dia yang kakak kenal, tapi mamahnya, kakak nggak tahu kenapa dia begitu terobsesi padaku begini" Cerita Rangga.
" Kenapa? Ya karena kamu ganteng, kaya, keren dan dia bahkan bilang pada Lili kakak itu macho..." Ucap Ara penuh rasa cemburu.
Ara menatap pria yang menikahinya sejak masih duduk di kelas satu SMU itu.
" Apa aku punya pilihan waktu itu, sedangkan kamu terus menempel seperti lintah, bahkan untuk sekedar bernafas saja rasanya Lili sulit saking terus menempelnya kakak ke Lili..hi...hi" Ara tertawa terkikik sementara Rangga telah berpindah di belakangnya dan semakin menggelitik perutnya.
...***...
Sementara itu Lenox terus saja mengacuhkan Wari.
Dia terus bertingkah seolah-olah di apartemen itu hanya dirinya seorang.
Tapi bukan Wari namanya kalau tidak pandai membuat mood Lenox naik kepuncak. Apalagi kelemahan Lenox adalah wanita seksi.
" Beneran nggak mau makan?" Tanya Wari pada Lenox yang hanya berbaring seharian ini.
" Nggak nafsu..." Jawab Lenox acuh.
" Nggak nafsu makan?, trus nafsu apaan maunya?" Tanya Wari genit.
" Haishhh, nakal kamu!!"
Brugh...
Lenox merebahkan tubuhnya kembali, tapi matanya terus-terusan mencuri pandang pada penampilan Wari yang begitu berani.
Lenox hanyalah seorang yang haus kasih sayang. Sedari kecil dia selalu disisihkan, karena perselisihan orang tuanya.
Dia hanya ingin diperhatikan, dia hanya ingin dianggap keberadaannya.
Dan dia mendapatkannya dari Ara dan para genk somplak. Walaupun itu harus di dapatkannya dengan cara yang ekstrim. Yaitu melecehkan Ara, gadis pertama yang mampu membuatnya semangat untuk terus melanjutkan hidup.
__ADS_1
Lenox gelagapan dan menggigit bibir bawahnya, saat Wari membuka outernya begitu saja didepan matanya.
" Masih ada rendang beku buatan kak Dian, mau ya?. Wari panasin dulu..." Wari beranjak berdiri.
Tapi tarikan Lenox pada jemarinya membuat Wari langsung menoleh.
" Bukan mau rendang, kakak maunya kamu sayang...." Bisik Lenox seksi.
" Masa?, katanya nggak doyan tadi.." Sindir Wari.
" Tadi enggak, sekarang mau..." Jawab Lenox.
" Tapi?"
" Sudah boleh kok.., ayah sudah melamarkan kamu ke om Syakib..." Lenox semakin menghentakkan tarikanya, dan Waripun akhirnya jatuh diatas tubuh Lenox.
" Aku juga udah baca ikrar ijab qobul buat kamu sebelum berangkat kesini.." Bisik Lenox ditelinga Wari.
" Hahh!!" Wari segera duduk dan menatap Lenox penuh selidik.
" K..kok bis...bisa?"
" Bisa, kakak sudah konsultasi ke Hanan. Untuk akad nikah, pengantin perempuan tidak hadir itu tidak apa-apa. Lagian kamu nggak ada wali nikah dari keluarga mu, walinya kamu om Syakib. Jadi semua mudah..."Lenox kembali menarik Wari ke dalam dekapannya.
" Jadi kita sudah suami istri sekarang..." Bisik Lenox lagi dengan seduktif.
" Ahhh, nggak!!. Bohong! Kakak tukang bohong orangnya. Tunjukin dulu buktinya mana?"
Lenox tertawa terbahak-bahak. Wari sudah pinter sekarang, dia ingat dahulu..
Wari yang polos selalu nurut saat digrepe-grepenya. Bahkan dia selalu mengambil keuntungan setiap kali berduaan dengan Wari.
Lenox memang bejat, bahkan tubuh Wari sudah semua pernah di sentuhnya, tapi Lenox tidak sebejat yang terlihat. Karena dia menyisakan yang memang harus dijaga sampai pada pernikahan.
Lenox masih mampu mengendalikan diri untuk tidak menerobos Wari, walaupun tubuh Wari sudah penuh bintang stempel darinya.
" Nih...kalo masih nggak percaya..." Lenox mengeluarkan ponselnya, disana memang ada fotonya berjabat tangan dengan om Syakib.
" Masih menikah secara agama sih..., karena aku rasa ini harus secepatnya. Kamu nggak bisa dibiarkan sendirian disini, lalat-lalat busuk terus berada disekitarmu...." Lenox mengelus rambut panjang Wari.
" Jadi sekarang aku ini istrimu kak?" Wari menatap Lenox tak percaya. Sementara Lenox hanya mengangguk dan tersenyum.
" Tapi?, kok nggak berasa sih?, nggak ada greget nya gitu..." Ucap Wari polos.
Lenox kembali tertawa sampai-sampai menutup mulutnya.
Gadis polos dan bodoh ini masih sama saja.
" Sini...." Lenox merangkum wajah Wari kedalam dua telapak tangannya.
" Mau berasa dan mau yang greget?" Tanya Lenox penuh maksud tersembunyi.
" Cepat tutup matamu..." Lanjut Lenox dengan senyuman menyeringai liciknya.
Wari yang bodohpun menurut saja, dia tidak tahu saja modus Lenox untuk menggasak dia seperti biasanya.
Tidak tahu bagaimana awalnya yang jelas kamar yang tadi dingin kini berubah hareudang luar biasa.
" Ahhh..hah..hahh..." ******* keduanya begitu syahdu menggema.
Suara deru nafas memburu dan beradu, memenuhi kamar apartemen Wari saat ini. Panas membara.
Lenox selalu begitu, selalu memaksakan kehendaknya. Pertemuan mereka di mana pun pasti berakhir seperti ini.
Dan Wari tahu betul ini salah. Bahkan dia kakang-kadang merasa jijik dengan dirinya sendiri. Tapi dia bisa apa?, dia begitu mencintai Lenox.
" Apakah aku masih harus menahan diri lagi Wari?" Desis Lenox frustari, tatapan mata Lenox sudah penuh akan gairah membara. Entah kapan membukanya, tapi kini mereka telah sama-sama polos.
" Terserah kakak saja..." Jawab Wari pasrah. Diapun tidak lagi mampu menahan hasratnya. Berulang kali digantung saat tinggi-tingginya membuat Wari frustasi. Lenox selalu meninggalkan saat semuanya mulai memuncak. Alasanya hanya satu, Lenox belum mau menerobos Wari. Lenox selama ini memang hanya bermain-main pada tubuh Wari tanpa mau merusaknya, menang sengaja ia jaga untuk saat ini, saat sudah sah.
__ADS_1
" Ahhh, sudah halal kan?, ahhhh Wari...sekarang saja ya?, nggak tahan lagihhh....hah...hhhh.." Ucap Lenox lirih, peluh telah membanjiri wajah tampanya.
Dan begitulah, Lenox yang begitu kesal karena foto-foto Wari yang dikirim Denis padanya beberapa hari lalu, membuatnya langsung menemui ayahnya untuk melamar Wari segera. Kebetulan pula saat ke rumah om Syakib ada Hanan yang memberikan pencerahan padanya. Dan akhirnya diputuskanlah untuk menikahi Wari langsung tanpa kehadiran Wari itu sendiri.