
Denis cs masih mengikuti arah kaki para gadisnya yang terus berjalan menuju tempat bermain.
Suasana tempat permainan siang ini tampak ramai dengan pengunjung yang mayoritas anak seusia mereka, walaupun tak jarang juga, anak-anak kecil yang datang bersama keluarga mereka. Anak-anak seusia SD berlarian kesana kemari mencoba berbagai macam permaian.
Langkah kaki para gadis mantap menuju mesin permainan dance 'Pump it Up', yang berada di ujung lorong.
Nampak mereka berempat langsung berkerumun di sana dan terlihat saling berbisik-bisik.
Beberapa mata sibuk memperhatikan formasi kecil mereka dengan tatapan intens.
Kehadiran mereka sangat mencolok, dan menarik perhatian pengunjung. Keempat gadis itu terlahir cantik dengan keunikanya sendiri.
Hanum yang berjilbab panjang sangat menarik perhatian, karena wajahnya terlihat ayu, tenang dan menawan.
Sedangkan Natasha selalu berpenampilan modis dan fashionable.
Hari ini gadis itu hanya memakai celana jins dan kaos lengan 3/4 saja sudah sangat cetar.
Vera si kecil imut, manis dan berambut kriwil menggemaskan.Wajanya terlihat imut dan membuat pengen orang mencubitnya.
Sedangkan Ara, wajah rupawan selalu menarik perhatian. Bulu alis dan matanya yang tebal dan lentik adalah magnet tersendiri baginya.
" Siapa dulu nih yang main?" Tanya Natasha dengan bersedekap didada.
" Agar adil kita hom pim pa dulu, gimana?" Usul Hanum
" Okelah" Ucap Vera dan Ara kompak.
Merekapun berhom pim pa dan keluarlah Vera dan Ara sebagai pemain pertama.
Keduanya segera naik ke papan berlampu itu.
Denis nenyenggol pundak Rangga, dagunya menunjuk pada keempat gadis yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
Rangga mengikuti arah pandangan Denis.
" Ya ampun...gadisku itu" Ucap Rangga dengan tangan menepuk dahinya.
Rangga menolehkan kepalanya kesekitar, memindai target. Mengukur seberapa banyak mata pria yang mungkin akan menikmati tubuh istrinya yang akan beraksi di papan itu.
" Lo mau lagu apa Ra?" Tanya Vera
" Emmmm, sepertinya Dynamite BTS aja lah Ver..." Ucap Ara.
Dan tangan Vera pun lihai memilih lagu tersebut sebagai lagu pengiring aksi mereka.
Musik pun mulai terdengar menghentak diiringi lampu-lampu menyala dibawah kaki mereka.
Dengan gesit kedua pasang kaki itu mengikuti tanda panah yang memang harus mereka injak. Ara terlihat gesit dan lihai begitupun Vera tak kalah juga.
Mata mereka fokus pada tanda panah sebagai instruksi yang ada di layar monitor, sedangkan kaki mereka bergerak lincah di atas papan.
Melihat tubuh istrinya meliuk-liuk dengan gesit diatas papan permainan pump it up itu membuat Rangga mengeram geram. Timbul rasa tak rela, timbul rasa posesif yang luar biasa dalam dirinya saat ini.
Tanganya terkepal sempurna di samping kiri dan kanannya.
Denis, Rayya dan Vino pun terlihat terkejut dengan aksi mereka yang spektakuler.
Bahkan beberapa ibu-ibu dan pengunjung lain memberi tepuk tangan untuk kedua gadis itu.
Terlihat ada seorang pemuda yang mengeluarkan ponselnya, mungkin akan mengambil gambar mereka.
Rangga segera mendekati nya dan memohon dengan baik agar mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Pemuda ini tak mau kecantikan dan semua yang ada pada istrinya dinikmati oleh orang lain
Apalagi beberapa cowok melihat dengan tatapan mesum pada gadisnya itu.
Lengkap sudah bumbu penyedap kemarahan seorang Rangga.
Vino pun sama..., bahkan dengan cepat Vino menyambar telinga Vera untuk turun dari papan itu.
" Apa sih kak!!, sakit tau" Vera menepis tangan Vino.
Sementara Rangga berkacak pinggang menatap Ara yang masih sibuk meneruskan kegiatannya.
" Turun sayang!!" Ucapanya dengan lembut.
Tapi Ara malah tersenyum dan melambaikan tanganya agar Rangga ikut bergabung dengannya.
Rangga menggeleng kan kepalanya tanda penolakannya.
Ara malah melempar finger heart padanya, bahkan dilengkapi dengan kedipan sebelah matanya.
Tapi gerakan kakinya terus saja menginjak lampu-lampu yang menyala.
Sekali lagi Ara melambaikan tanganya bahkan dengan lembut memanggil Rangga.
" Sini sayangku...gabung yuk..."
Ucapan Ara sungguh membuat Rangga semakin malu, panggilan sayang Ara membuat hatinya menggila dan salah tingkah sendiri.
Sudut hatinya merasa bahagia, Ara memanggilnya sayang di depan banyak orang.
Menegaskan bahwa dirinya bukanlah gadis single, melaikan gadis yang telah bertuan, dan itu adalah dirinya.
" Selalu begitu..., beraninya di saat banyak orang kayak gini, rasanya pengen gigit kamu.." Gumamnya.
Rangga benar-benar geram dibuatnya.
"Awas kamu rubah kecil, habis nanti kamu di rumah" Bisik Rangga dengan hanya gerakan bibirnya saja, tentu saja Ara paham betul dengan ucapan Rangga.
Ara hanya tertawa melihat kegeraman Rangga.
Sementara Natasha dan Hanum mempersiapkan diri mereka untuk battle kali ini.
" Num..mau main itu juga?" Tanya Rayya tak percaya. Saat melihat Nanum mulai menunduk mengencangkan tali sepatunya.
" Iya kak..., kakak mau ikutan..??" Tanya Hanum
" Eh...emmm..nanti aja, lihat kalian dulu deh" Jawab Rayya.
Keempat cowok itu sungguh-sungguh dibuat terpana dengan keempat gadis ini. Mereka terlihat cuek dan santai. Disaat gadis lain biasanya sibuk jaga imege didepan cowok mereka malah santai dan apa adanya.
Bahkan kali ini rambut Natasha dicepol diatas kepala, memperlihatkan leher jenjengnya yang aduhai.
Denis tergagap melihatnya, tanganya dengan cepat menyambar karet yang baru saja diikatkan Natasha di cepolanya.
" Lepas aja ini.." Ucapnya.
" Idih kenapa sih kak!!, gerah tau!!" Natasha merebut karet itu dari tangan Denis, tapi Denis justru melempar karet itu kemulutnya.
" Ambil disini, pakai itu baru aku kasih..." Ucapnya dengan jarinya menunjuk pada bibirnya dan bibir Natasha.
" Dasar kurang waras!!!, utek e kurang seons!!" Gumam Natasha geram.
__ADS_1
" Ngomong apa kamu?" Tanya Denis mengejar Natasha yang sudah naik ke atas papan.
" Nggak ada..." Jawab Natasha dengan sengaja mengibaskan rambutnya pelan pada wajah Denis.
Wangi rambut Natasha membuat Denis terlena sesaat.
" Gue mau dia..., tapi dia nggak mau gue!!!, sial!!!" Umpat Denis pada dirinya sendiri.
Hampir satu jam Hanum dan Natasha beradau di atas papan pump it up dan pemenangnya justru Hanum.
" Yah...kalah deh, kaki aku pakai terkilir segala" Adu Natasha pada Denis.
" Siniin" Denis segera meraih kaki Natasha dan membuka sepatunya.
Dengan gerakan perlahan Denis mengurut kaki putih mulus yang berada dipangkuanya itu.
Saat ini Natasha dapat melihat wajah Denis yang begitu dekat dimatanya.
Tampan......, tapi playboy cap Buaya!!!
Melihat ketiga sahabatnya sudah mojok sendiri -sendiri dengan pasangan nya, Rayya pun segera mendekati Hanum.
" Num mau main capit boneka nggak?" Tanyanya.
" Hanum nggak suka, karena nggak pernah dapat, bahkan bang Hanan aja sampai beli koin hampir 50 keping nggak nyangkut satupun" Ucap Hanum dengan diselingi tawa yang ditutup dengan telapak tanganya.
" Ayoo, kita coba..,barangkali rezeki kakak bagus, dengan lima keping ini bisa dapat lima boneka" Ucap Rayya dengan menarik tas Hanum menuju mesin capit boneka yang tak jauh dari tempat mereka.
Sedangkan di pojok Vera dan Vino.
Vera marah dan terlihat jutek, karena Vino telah mempermalukan nya dengan menjewer telinganya di depan umum.
" Sudah jangan marah terus lah.." Ucap Vino dengan memainkan rambut kriwil Vera dengan jari-jarinya.
" Kakak ngga liat orang ngetawain aku karena dikira anak kecil yang dihukum om nya?" Ucap Vera.
Vino mengernyitkan dahinya.
" Om??, maksudnya aku om nya begitu?, aku?, om?, yang bener aja!!" Sewot Vino.
" Ya iyalah, siapa dong yang bisa jewer telingan cewek imut modelan aku ini kalau bukan om-om yang lagi nemenin keponakannya jalan-jalan, kalau pacar mana ada yang tega jewer telinga pacarnya.." Jawab Vera geram.
Vino terkesiap dengan kata-kata Vera saat ini..
Sampai detik ini hubungan mereka tidak jelas apa namanya.
Kalau dibilang kakak beradik, hungungan kakak beradik mereka sudah hancur saat kejadian malam itu.
Kalau dibilang pacaran, nyatanya sampai detik ini tak ada statment yang mendasari mereka menjadi sepasang kekasih.
Ya, hubungan Vino dan Vera tak bernama sampai saat ini.
Tapi sangat tergambar jelas rasa cinta yang mendalam dari mata Vino pada seorang Vera.
Berulangkali bahkan Vino meminta Vera untuk menerima tanggungjawabnya atas perbuatan Vino malam itu, tapi Vera selalu menolak, entah karena apa.
Vino hanya berusaha sabar menghadapi tingkah Vera yang masih kekanakan.
Hati kecilnya berharap Vera hamil atas kejadian malam itu agar dia bisa mengikatnya. Biarlah dia disebut egois.
Karena jelas Vino takut!!, karena kalau sampai Vera tidak hamil. Maka sangat besar kemungkinan Vera akan lepas dari tanganya.
Bersambung.....
...*****...
__ADS_1
Senin waktunya vote nih....
Vote karyaku yukππΌππΌππΌππΌ