Childhood Love Story

Childhood Love Story
Sehati


__ADS_3

Setelah menceritakan status Ara pada bu Sasti, diambil kesimpulan bahwa mereka menutup rapat keadaan Ara saat ini.


Saat tiba nanti perut Ara mulai membesar, maka bu Sasti akan membuat alasan tepat agar Ara bisa home schooling.


" Aku nggak nyangka banget, ternyata Neela adalah istrimu mas Kieb.." Ucap bu Sasti.


Saat ini mereka duduk bersama di cafe depan Rumah Sakit.


Mumpung masih ada waktu sebelum sholat Jumat, mereka ngobrol dulu melepas kangen.


" Ha..ha..ha..begitulah Sas, jodoh tidak ada yang tahu, itu bagian rahasia Allah yang sulit ditebak" Sahut papa.


Mata bu Sasti menatap Ara yang terus menggelendot manja di pundak daddy Hen, pantesan akrab. Ternyata mereka mertua dan menantu.


" Sasti, mau aku jodohin nggak?" Tanya mama Neela tiba-tiba.


" Nggak usahlah..." Tepis bu Sasti malu-malu.


" Dulu kan kamu naksir mas Syakieb, siapa tahu mau yang miripan sama dia?" Lanjut mama.


" Emang siapa yang?" Tanya papa Syakieb penasaran.


" Kangmas Syahril hii..hi..hi.." Jawab mama Neela dengan tawa kecilnya yang menggemaskan.


Papa Syakieb berfikir sejenak. Dan manggut-manggut setuju.


" Boleh juga idemu yang...."


...***...


" Sayang Rangga udah dikabarin belum?" Tanya mommy Tara pada menantunya, ditanganya segelas susu hamil disodorkan pada Ara.


" Belum diangkat momm, mungkin masih tidur.." Jawab Ara.


" Oma minta dijaga dengan baik cicit oma ya sayang, jangan lari-lari ditangga lagi.." Ucap Oma dengan mengelus punggung Ara.


" He emm, oma...Apa oma bahagia?" Tanya Ara untuk semakin memastikan.


" Tentu sayang.."


" Kalau mommy??" Kini tatapanya beralih pada mertuanya itu.


" Duhh sayang, jangan ditanya lagi. Mommy rasanya ingin joget-joget saking bahagianya " Mommy Tara kembali mengecupi wajah Ara gemas.


Drrt...drrt...drrtt


" Kakak!!" Seru Ara saat melihat siapa yang ada dalam panggilan di ponselnya.


Janu yang bingung dengan panggilan kakak yang Ara sematkan pada Rangga, dan juga memanggilnya kakak, jadi bingung sendiri.


" Apa bedanya aku dan Rangga, kamu panggil dia kak, aku juga kak. Jadi suamimu yang mana??" Sindir Janu, sambil berinisiatif mengambilkan laptop untuk adik iparnya itu.


" Kok nanya yang mana!!, ya jelas Rangga Bayu Wijaya lah!!, sudah mentok sama dia, nggak ada titik koma!!" Sahut Ara.


Dan membuat semua yang ada disana tertawa, begitupun daddy Hen yang baru akan duduk disamping oma.


Dengan tanpa basa-basi Janu merebut ponsel Ara dan membuka link-nya.


Kini wajah Rangga jelas memenuhi layar laptop Janu.



" Assalamu'alaikum kak..??" Ara terkejut melihat tampilan Rangga yang kacau, demikian juga yang lainya.


" Waalaikumsalam sayang..." Jawabnya lemah.


" Kamu sehat kan sayang?" Tanya mommy Tara cemas.


" Sehat mom, hanya saja mual terus dari kemarin, dan kepala Rangga pusing luar biasa"


Mommy dan Ara saling tatap.


" Dan entah kenapa penciuman Rangga sensitif banget mom, bau aneh dikit aja langsung muntah.." Lanjut Rangga lagi.


" Hemm, jelas ini. Sembilan bulan lagi gue jadi uncle..." Ucap Janu tegas dan membuat Rangga tertegun ditempatnya.


Janu uncle??, dari...

__ADS_1


Rangga menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


" Sayang?, mommy?.." Rangga tiba-tiba berdebar tak karuan.


Yang sering dia fikirkan setiap malam adalah ini. Yang menjadi momok setiap malamnya adalah ini.


Bahkan dia sering tidak nyenyak dalam tidurnya juga karena ini.


Bagaimana jika Ara hamil saat dia tidak ada disisisnya. Bagaimana pertanggungjawaban nya.


" Sayang....???" Panggil Rangga penuh ingin penjelasan.


" Tiga minggu kak, usia janin masih tiga minggu..." Sahut Ara cepat.


" MashaAllah!!!, Allahu Akbar!!" Hanya itu yang keluar dari bibir Rangga.


Matanya menatap Ara serius, mencoba menggali isyarat dalam tatapan Ara saat ini.


Jelas tidak ada kemarahan disana, tidak ada kekecewaan disana, tidak ada ketakutan disana.


Yang Rangga lihat adalah wajah bahagia dan suka cita.


" Sayang..., kamu tidak marah kan?" Tanya Rangga takut-takut. Pemuda itu sekedar ingin memperjelas semua, apa yang telah dilihat dan dirasakannya.


Mommy mengajak membawa oma ke dalam, tangan mommy juga mencolek Janu agar pergi karena sepertinya mereka akan berbicara serius.


" Kalian disini saja, biar Lili saja yang kekamar, kak Ara pinjem laptopnya.." Ucap Ara saat menyadari mereka mulai beranjak berdiri.


Janu hanya mengangguk dan kembali duduk.


" Sayang, jawab kakak. Kamu marah nggak karena hamil??"


" Udah terlanjur hamil mau gimana lagi kan?" Ada niatan jahil Ara mengerjain Rangga.


" Tapi...tapi..."


" Tapi apa?, kan kakak sendiri yang buat Lili hamil..."


" Habis..habis..ya..gi---" Rangga terlihat canggung dan salah tingkah.


" Trus jadinya gimana?, Lili udah kadung hamil begini, suami nggak ada pula, Lilinya masih sekolah pula, aduh nasib Lili jadi gimana?" Ara berpura-pura terlihat galau, padahal hatinya ngakak bak orang gila.


" Emmm, kalau kakak lepas beasiswa ini menurutmu gimana sayang?, kakak pulang saja. Tentu kakak sangat ingin jadi suami siaga buat kamu.."


Ara merasa tidak tega untuk mengerjain suaminya yang jelas akan selalu menomor satukanya dirinya.


" Jangan sayang, nggak boleh...tetaplah sekolah.." Jawab Ara cepat.


" Terus kamunya gimana sayang?, papa dan mama pasti marah ya?"


Ara tersenyum jahil.


" Iya mereka marah!!, kayaknya mau cari suami pengganti deh buat Lili"


" Hahh apa!, nggak . Emang sinetron apa!, Nggak boleh enak aja!!"Bentak Rangga.


" Kakak besok pulang aja gimana?, kakak nggak perlu ikut bimbingan bahasa, kakak udah paham juga kok, kakak benar-benar nggak sanggup jauh dari kamu sayang, kakak rasanya ingin menyerah saja..." Lanjut Rangga dengan nada putus asa.


Ara terenyuh mendengar isi hati Rangga.


" Sabar sayang....Jika kakak merasa ingin menyerah seperti ini. Coba ingat-ingat ini kak. Pertama, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Kedua, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Yang sabar dan tawakal kakak sayang, InsyaAllah akan indah pada waktunya.."


Rangga menatap lekat gadis yang kini telah membawa buah hati mereka, buah cinta mereka.


Gadis yang selalu meremat lenganya karena takut akan kehamilan.


Lihatlah dia sekarang. Dia kini tumbuh jauh lebih tangguh dari melebihi ketangguhan Rangga sendiri.


Gadis kecil itu tumbuh lebih dewasa dari melebihi pemikirannya Rangga sendiri.


" Aamiin sayang, terimakasih untuk support yang kau berikan padaku selama ini, InsyaAllah sayang kita bisa melalui semuanya penuh dengan semangat".


Ata tersenyum manis dengan mengelus perutnya.


" Ini seperti mimpi kak, disini ada dedek kecil milik kita, disini ada babby. MasyaAllah...Tabbarakallah.." Gumam Ara tidak percaya.


" Boleh buka perutnya sayang..."

__ADS_1


" Hahh!!! Untuk???" Ara melotot tak percaya dengan ucapan Rangga.



" Ingin lihat keberadaan dedek saja ha...ha..ha.." Tawa Rangga pecah melihat pelototan Ara yang maha dasyat.


" Modus!!" Bentak Ara.


" Buka dikit dong sayang, kakak kangen isinya kamu..." Rayu Rangga lagi.


" Nggak!, nggak boleh. Entar yang ada kakak makin pusing.." Ucap Ara sendu.


Rangga terdiam sejenak. Lalu menganggukkan kepalanya setuju.


" Emmm iya juga ya..."


" Ya udah kakak bobo lagi aja, Lili mau bantu mommy siramin tanaman"


" Jangan kerja berat sayang, cukup duduk cantik aja lah, mommy paham juga kok".


Seperti itulah mereka, kalau sudah ngobrol tak ingat lagi waktu. Mereka masih terus mengobrol dan tak tau kapan berakhirnya.


Seperti saat ini laptop masih menyala dan Ara justru tertidur di depanya.


Hemmm salut gue dengan mereka berdua.


Ya Allah berikanlah mereka berdua keteguhan hati.


Ya Allah berikanlah mereka kesabaran untuk menghadapi semua ini.


Janu perlahan mematikan laptopnya dan diletakkanya di nakas.


Dengan perlahan di betulkanya posisi tidur Ara yang tertelungkup itu ke atas bantal.


Ditatapnya wajah teduh yang terlelap di depanya itu.


Tak ada wajah yang menyebalkan disana.


Tak ada wajah yang membuatnya kesal disana.


Yang ada hanya wajah manis yang imut lelap dalam tidurnya.


Rangga, aku berjanji agan menjaga Lilimu..


Berjuanglah disana adik, gapailah cita-citamu..


Janu meraih laptopnya dan bergegas kembali keluar dari kamar Ara.


Sementara itu Ara yang memang selalu perasa pun terdiam membisu, gadis itu syok mendapatkan perilaku Janu atasnya.


" Lain kali pintu dikunci Lili..." Disisnya seraya mentoyor kepalanya sendiri.


Mengingat akan janjinya bersama Hana dan Natasha untuk mengunjungi Vera, Ara segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi.


" Dad..momm..." Panggil Ara di depan kamar mertuanya selepas sholat maghrib.


" Iya sayang..." Daddy keluar masih lengkap dengan sarung dan pecinya.


" Lili mau ke rumah brothy Marvel, kak Vino dan Vera ada disana, boleh dad?"


" Diantar Janu ya..."


" Nggak dad, ada kak Denis jemput.."


" Ya udah, pergilah... Hati-hati ya sayang..." Daddy mengecup pucuk kepala mantunya sayang.


" Boleh nginep disana nggak?"


"NO!!!, statusmu sudah berubah sayang. Lili sekarang gadis bersuami. Jadi nggak boleh lagi nginep-nginepan sayang. Bisa dipahami kan maksud daddy?" Daddy Hen mengelus kepala Ara, memang semua serba cepat. Diusianya yang masih ingin bebas semua telah berubah.


Ara mengangguk patuh.


" Lili berangkat dad, Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam..."


Sebenarnya daddy Hen tidak sampai hati mengekang Ara sedemikian rupa.

__ADS_1


Tapi masalahnya, Lili bukan hanya menantunya. Tapi juga putri sahabat karibnya. Mereka wajib saling menjaga, apalagi keadaan Lili yang sedang mengandung dan ditinggalkan suaminya.


__ADS_2