Childhood Love Story

Childhood Love Story
Rangga suami idaman


__ADS_3

Rangga berlari-lari kecil keluar dari ruanganya menuju ke ruangan daddy Hen.


Brak, tanpa permisi Rangga membuka pintu begitu saja.


" Dad, Rangga jemput Lili bentar ya" Pamitnya tanpa masuk ke dalam, hanya di depan pintu dengan tangan menahan gagang pintu.


" Masuk dulu bentar son, daddy mau bicara..." Ucap daddy Hen tegas.


Mau tak mau, akhirnya Rangga masuk dan duduk di depan daddynya.


" Son, daddy minta sekali lagi padamu. Pulanglah nak!, agar istrimu tidak terlalu capek, kau juga tidak harus mondar-mandir seperti ini setiap hari".


Daddy Hen saja yang membayangkannya saja capek apalagi melakukannya.


Bagaimana tidak, pagi hari Rangga dan Ara harus sudah siap memandikan putra-putri mereka dan memberinya sarapan terlebih dahulu, belum drama rewel nya, dan drama-drama tak terduga lainya. Ditambah lagi mereka sendiri juga harus bersiap diri untuk bekerja.


Sebelum mengantarkan Ara dia harus mengantarkan putra-putri nya ke rumah mama Neela dengan jatah satu minggu, lalu ke mommy Tara pula minggu berikutnya.


Capek?, kalau dibayangkan saja mungkin nggak capek. Tapi kalau sudah dilakukan ya nggak tau lagi.


" Biar Rangga jalani dulu dad, sembari berjalan, Rangga akan fikirkan bagaimana baiknya nanti.." Jawab Rangga.


Pria muda itu kembali menatap arloji yang melingkar pada pergelangan tanganya.


" Rangga pergi dulu dad, kami akan ke KUA juga untuk menghadiri pernikahan Rayyan...."


" Baiklah, tapi daddy harap kamu dan Lili memikirkan kembali usulan dady.. Ahh, atau biar hari ini daddy yang jemput mereka dari rumah mertuamu, biar tidur dirumah dady saja mereka malam ini.." Ucap Daddy Hen.


" Ahhh..., Rangga sih nggak masalah dad, tapi Lili pasti nggak mau..." Jawab Rangga dengan menggaruk leher belakangnya.


" Kamu udah suruh Lili KB belum?"


Rangga yang sudah mengangkat bokongnya kembali duduk".


" Kata Lili sih nggak usah dad, soalnya dia masih eksklusif memberi ASI ke twins, peluang untuk hamil lagi kecil" .


" Ya...tapi tetap jaga-jaga lah, kita nggak tahu juga. Kalau Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi, Anak-anakmu masih kecil son, akan repot jika harus ke bobolan lagi.."


Rangga membisu sesaat, hampir tiap malam mereka bercocok tanam tanpa memikirkan arah kesana. Awalnya sih selalu pakai pengaman tapi semakin kesini sering lupa.


...***...


Pasangan Vera dan Vino berserta kedua anaknya sudah berada di parkiran KUA. Begitu juga Marvel, Dian bersama twins mereka.


Rangga kerumah mama Neela untuk menjemput Hana dan Rasya terlebih dahulu sebelum menjemput Ara.


" Nggak masuk dulu kak?" Tanya Hana saat membuka pintu, Rasya yang berumur hampir 4tahun itu segera masuk dan duduk dengan tenang.


" Pengen banget, tapi takut macet Han..." Ucap Rangga.


" Haiii daddy...." Suara mama Neela yang mengecil seperti anak kecil mengagetkan nya. Rangga yang duduk di kemudipun langsung menoleh. Dengan menggendong Almaeera mama Neela mendekati mobi melambaikan tangan Meera.


" Haii, princess...." Rangga mengulurkan tanganya menyambut tangan Meera yang berusaha menggapainya.


" Nggak rewel kan mah?" Tanya Rangga.

__ADS_1


" Meera enggak, tapi Almeer..., MashaAllah..." Mama Neela menepuk keningnya, cucu laki-laki nya itu cengengnya luar biasa. Benar-benar mirip daddynya.


" Hemmm..." Rangga tersipu malu saat mama Neela menunjuknya dengan jempolnya.


" Like father like son..."


...*...


Semua sahabat Rayyan dan Hanum saat ini sudah berkumpul di KUA, kecuali Natasya dan Denis.


Mereka ikut berbahagia atas menyatunya cinta keduanya.


Pembacaan ijab qobul begitu lancar tanpa kendala, dan penuh kendali.


Rayya dan Hanum tampak begitu berbahagia walau pernikahan mereka harus sederhana seperti ini saja.


" Sha..., nanti aku akan buat pesta yang meriah saat kita menikah, tidak seperti uncle Rayya begini.." Bisik Sunny pada Shanum.


" Iiiieewww, geli gue.." Sahut Bianca jijik.


Dian dan Vera tertawa kecil melihat kelakuan anak-anak mereka.


Sementara Shine tidak perduli, dia asyik bermain dengan Saga dan Rasya.


" Sepertinya kalian akan besanan suatu saat" Ucap seorang pria tampan penuh karisma yang berdiri tak jauh dari mereka.


" Brothy..., apa kabar?" Vera berdiri dan berhambur ke pelukan Brian.


Hampir dua setengah tahun lebih Brian menetap di LA bersama istrinya Numa sahabat Azura saat bekerja di Cafe dahulu.


Mendengar suara Vera yang menyebut brothy padahal Marvel ada disampingnya, Ara segera menoleh. Begitu juga Azura dan Ardi, mereka segera menghambur kepelukan Brian.


" Ssshhh, tidak lama princess, hanya dua tahun..." Bisiknya.


" Udah punya buntut dua masih cengeng rupanya kamu.." Brian mencubit hidung Ara gemas.


Marvel ikut merangkul Ara dan menjabat tangan Brian, menggengam dan merematnya, seolah menguatkan hubungan darah diantara keduanya.


" Putramu sudah mengincar masa depannya bro..." Bisik Brian dengan mata mengkode pada Sunny dan Shanum yang mojok berdua.


" Ya, dan mereka harus berhasil. Tidak boleh sakit seperti aku dan kamu dahulu..." Marvel menyikut perut Brian pelan, dagunya menunjuk pada Azura yang menempel terus pada Ardi.


Brian tersenyum dan menggeleng kecil saat melihat Azura yang terlihat berbahagia dengan Ardi. Lalu menatap Ara yang masih dalam rangkulan Marvel.


Yahh... Tidak masalah kisah cinta mereka harus berliku. Harus ada sesak dan tangis yang harus mereka lewati. Marvel dengan keterpurukanya saat tak bisa bersama Ara, dan Brian yang sempat hancur karena Azura.


Tapi dibalik itu semua rupanya Allah telah mempersiapkan masa depan lain yang lebih sempurna diluar jangkauan bayangan kita.


Saat ini Brian sedang menanti buah hati mereka yang beberapa minggu lagi akan melihat dunia.


Tidak kembar, hanya seorang putra yang akan mewarisi darah Syahril Al Ghifari selanjutnya.


Setelah mengucapkan selamat pada pasangan yang berbahagia mereka meluncur ke markas besar mereka.


Rumah besar yang mirip mansion, sengaja mereka membelinya bersama untuk berkumpul saat seperti ini.

__ADS_1



Atau tepatnya rumah tujuan untuk siapapun saat pulang atau datang ke Jakarta. Seperti Brian, Marvel dan Vino saat ini, rumah inilah tujuan mereka.


Lagi-lagi ini adalah ide sang ketua genk, siapa lagi kalau bukan Denis Pramana Putra.


" Horeee...." Teriak Rasya dan Saga memasuki rumah besar itu.


" Sorry guys gue telat...." Seru Lenox dengan berlarian keluar dari mobilnya, disusul Wari dibelakangnya.


" Lo udah ke kak Rayya belum Le?" Tanya Ara.


" Udah, Dan kak Rayya langsung kerumah pribadinya..." Jawab Lenox.


" Loh....anakku mana nih? Almeerku mana?" Tanyanya sembari matanya celingukan mencari keberadaan Almeer.


" Ulangi lagi!!!, gue cekik lo!!" Seru Rangga kesal.


" Woyy!!, Bahaya main cekik-cekik, mati ntar anak orang, lo nggak kasihan apa sama Wari jadi janda sebelum dinikahi Lenox?" Vino menabok punggung Rangga pelan.


" Kesel gue, kalau cuma kalian yang denger sih nggak masalah.... Kalau sampai kedengaran orang lain yang bakalan jadi berita nggak bener..." Umpat Rangga jengkel.


Rangga dan Ara tidak bisa berlama-lama disana, karena harus menjemput kedua anaknya.


Setelah ngedrop Ara dirumah, rupanya dia harus kembali ke kantor.


Ada klien dari Amerika yang mengaku sebagai teman kuliahnya dahulu. Beliau sangat ingin bertemu denganya.


Ranggapun menyempatkan untuk membantu Ara mengurus putra putrinya sebelum kembali ke kantor.


...***...


Hampir tengah malam Rangga, baru memasuki rumah dengan sedikit berlari.


Lampu rumah terlihat sudah gelap, perlahan-lahan Rangga memasuki kamar dengan mengendap, takut membangunkan kedua buah hatinya.


Ara telah tertidur, dengan dada yang masih terbuka, sementara kepala Almeer berada di perutnya. Mungkin Ara sudah tertidur sebelum memindahkan putra-putrinya ke boxnya.



Rangga membuka matanya lebar saat mendapati kepala putrinya keluar dari selimut. Rasa capek dan penat yang dirasakanya seharian ini lenyap begitu saja saat melihat senyum manis little princessnya.


" Hey sayangan daddy, belum tidur hemm??" Rangga mengusap rambut putrinya dengan lembut.


" Tuh..mommy sama kakak saja sudah tidur sayang.." Rangga mengangkat putrinya dalam gendongannya.


Rangga menggedong Almaeera pada sebelah tangannya, sementara tangan satunya merapikan baju atasan Ara. Mengancingkan kembali blouse Ara yang terbuka saat memberi Asi twins.


Istrinya ini pasti sangat kecapekan, biasanya suara kecil saja membuatnya terbangun, tapi lihatlah. Dia begitu pulas dengan tidurnya.


" Mau bobo di ayunan sayang?" Rangga meletakkan putrinya di baby bouncer, lalu mensettingnya agar mengayun.


" Daddy mandi dulu ya hemmm" Rangga mengecup pipi gembul Meera pelan.


" Bi...." Suara serak Ara membuatnya menoleh pelan.

__ADS_1


" Kenapa tidak bangunin Lili sih..." Ara mengangkat pelan Almeer dari perutnya.


" Sini sayang, kakak saja..." Rangga meraih Almeer lalu meletakkan di box.


__ADS_2