
---Happy Reading---
Aluna yang sedang bercanda bersama keempat sahabatnya didalam kafe langsung mengalihkan pandangannya kearah ponsel miliknya yang sudah berdering. Segera ia mengambil ponselnya dan mengklik tanda hijau kekanan. "Halo?"
"Lun, kamu dimana? Abang mau ajak kamu ketempat mama dan papa." ujar abangnya dengan tanya buru buru. Aluna mengernyit. "Aluna ada dikafe bang, kafe deket rumah kenapa?"
"Yaudah tunggu depan, bilang temen kamu kalau kamu bakal pergi sama abang." Aluna menganggukkan kepalanya walaupun abangnya tidak melihatnya. "Iya, luna tunggu didepan."
"Ada apa lun?" tanya karel yang sedari tadi memperhatikan tingkah luna yang menelpon dengan abangnya. Luna melihat semua sahabatnya yang sudah menatapnya. "Aku harus pergi, ditungguin abang soalnya."
"Kemana?" tanya Rizka yang melihat gelagat luna seperti panik. "Gak tau abang aksa buru buru tadi ngomongnya. Duluan ya dah~." ujar luna setelah merapihkan barang barang miliknya lalu berlari pintu keluar dan langsung mendapati mobil abangnya yang baru saja masuk lingkungan kafe.
Aksa menurunkan kacanya langsung berteriak kearah adiknya. "Ayo naik!" ujarnya yang langsung dituruti oleh luna tanpa bertanya. Setelah didalam mobil luna langsung bertanya kemana tujuan mereka sebenarnya. "Kita akan kemana bang?"
"Ke negara A, mama dan papa menunggu kita disana." aluna mengangguk paham lalu mereka langsung sampai dibandara yang sudah dibooking oleh papanya mereka kesana menggunakan pesawat pribadi Agister, milik keluarga kakek adam.
Mereka berdua langsung digiringi oleh beberapa suruhan papanya untuk memasuki pesawat mini untuk keduanya. Aluna terpana dengan kabin pesawat benar benar menakjubkan. "Baru pertama kali luna naik pesawat kayak gini, ternyata keren banget!!" pekiknya kepada abangnya lalu merangkul lengan abangnnya dengan manja. "Abang lain kali ajak luna naik pesawat ini lagi ya." pintanya dengan mata memelas, aksa yang melihat itu hanya bisa tertawa dengan tangan yang tidak bisa diam dipucuk kepala adiknya.
"Minta ke papa, jangan ke abang."
"Kok minta ke papa?" tanya aluna bingung. "Papa yang menyiapkan ini semua untuk kita berdua. Oh iya satu lagi kalau luna minta kendaraan jangan ke abang, abang belum sebanyak papa uangnya, oke?"
Aluna mengangguk lalu membentukkan jarinya, jempol bertemu dengan jari telunjuk membentuk bulat sedangkan ketiga jari lain terbentuk seperti huruf 'K'. "Oke abang." Keduanya diam selama diperjalanan aluna kebanyakan memfoto awan yang sangat dekat dengannya. Ia juga mengarahkan kameranya kepada abangnya yang sedang fokus dengan laptopnya.
Aksa melirik sekilas adiknya yang masih sibuk dengan kamera. "Kalau ngantuk tidur dikamar ya lun, biar badan kamu gak pegel tidur dikursi."
Aluna langsung menatap aksa dengan tatapan tak percaya, "Dipesawat ada kamar? Kok gak bilang tau gitu sedari tadi luna moto moto dikamar aja." ujarnya dengan berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya kearah kamar yang dimaksud dengan abangnya. Ia lagi lagi terpana dengan kamar pesawat ini.
"ABANG! LUNA TERLALU NYAMAN DISINI TAKUTNYA GAK MAU TURUN!!" pekiknya histeris setelah melemparkan tubuhnya diatas kasur empuk dalam pesawat ini. Aksa yang mendengar pekikkan adiknya sedikit tertawa membuat beberapa pramugari terpana menatapnya.
Dalam hati mereka serempak. "Bapaknya aja tampan gagah begitu pula dengan anaknya, buah jatuh tidak terlalu jauh dari pohonnya ternyata, sungguh tampan."
__ADS_1
Aksa yang merasa di perhatiin langsung menghentikkan tawanya dan berdehem keras agar tidak ada yang menatapnya seperti ingin memakan dirinya lagi.
❣❣
Sesampai dinegara A, aksa langsung mengambil tas adiknya dan jas hitamnya lalu menggendong bride style kepada adiknya yang masih terlelap tidur. Keluar bandara banyak yang menatapnya dengan tatapan penasaran dan untungnya ia tidak perlu menunggu jemputan lagi karena dilobby sudah ada pengawal papanya dan asisten papanya yang sudah berdiri didekat mobil hitam.
"Selamat datang tuan, silahkan masuk."
"Pelan pelan saja, tidak perlu cepat cepat. Agar tuan putri tidak terganggu tidurnya dan tidak terbangun mengerti?"
Asisten papanya menunduk hormat. "Mengerti tuan."
Didalam mobil, aluna yang sedari tadi dipangkuan abangnya mengernyit pelan karena pegal dilehernya. Ia pun langsung mengerjapkan kedua matanya dan tatapannya langsung terpaku oleh keseriusan abangnya. Luna mendudukkan tubuhnya, "Kenapa luna didalam mobil?" tanya linglungnya yang masih belum terkumpul nyawanya.
Abangnya tersenyum lalu membelai pipi tembam adiknya dengan lembut dan membantu merapihkan rambut luna yang sedikit berantakan. "Sebentar lagi kita sampai."
"Sampai di?"
Aluna yang masih bingung langsung konek saat melihat mama dan papanya yang sudah berdiri didepan pintu rumah mewah ini. Aluna langsung berlari kearah kedua orang tuanya namun terhenti saat melihat pria muda yang selalu ia rindukan. "Ka adam?" tanyanya dengan suara kecil. Adam tersenyum dan mengangguk. "Kau tidak merindukanku, little princess?" tanya adam yang langsung membuat luna menabrakkan tubuhnya kearah adam membuat tubuh mungilnya yang langsung didekap dengan erat oleh tubuh adam yang besar tinggi.
Selesai berpelukkan aluna langsung memeluk kedua orang tuanya dan sedikit memiringkan kepalanya melihat seorang kakek yang sedang menatapnya juga. Baru saja adam ingin memperkenalkan namun luna langsung berlari kearahnya dengan senyuman manisnya. "KAKEK! Luna kangen!" ujarnya membuat empat orang itu terbengong bingung. Bagaimana luna bisa kenal kakek adam.
Kakek tertawa. "Ternyata kamu tidak akan pernah bisa melupakan kakek dan bunda adel ya?"
Aluna langsung mengingat bunda adel, ia langsung melerai pelukkannya dan menatap ka adam dengan tatapan bertanya. "Dimana bunda adel, ka?" tanyanya dengan tatapan polos, aluna memincingkan matanya seraya menyelidik mengapa raut ka adam sendu begitupun dengan mama papanya. Apa ada sebuah kejadian yang ia tidak tau?
"Kalian kenapa? Kenapa raut wajah kalian terlihat sedih? Kan luna bertanya dimana bunda adel berada?"
"Diatas."
"Diatas? Dikamar?" tanyanya dengan semangat namun dibalas jawaban gelengan oleh aksa dan mamanya. Ka adam dengan ragu berjalan mendekat merangkul bahu luna dan mengajaknya kearah taman belakang. Disana luna bisa melihat gundukkan tanah yang ada batu tertulis nama bunda.
Aluna terdiam tidak bergerak sama sekalipun. Adam yang merasakan reaksi tubuh aluna langsung mengatakan apa yang harus ia katakan. "Bunda sudah meninggal selama 10 tahun lun, luna mengingat janji bunda kan?"
__ADS_1
Luna terdiam tidak menjawab namun ia melangkahkan kaki mendekat kearah makam bunda. Luna duduk diam dan membatinkan sebuah kalimat. "Luna harus ingat ya, tempat rahasia yang akan menjadi jawabannya luna harus mencari sendiri. Kalau mau minta bantuan ke kakek aja, beliau tau namun beliau akan lupa jadi jangan salahkan beliau."
"Tempat rahasia bunda, kakek tau dan harus luna ingatkan."
"Tempat yang selalu menjadi kesenangan bunda?" gumamnya setelah mengingat perkataan bunda. Aluna berdiri karena disuruh mamanya untuk masuk kedalam agar adam bisa menceritakan awal kejadian yang ditimpa oleh bundanya.
Semua orang baru mengetahui bahwa bundanya menikah dengan ayah kandung adam karena bunda diperkosa oleh pria itu. Ayah diberi obat gairah oleh wanita yang tak lain saudara angkatnya. Mereka berdua bertaruh bahwa ayah harus memiliki anak dari wanita lain agar mereka berdua bisa menikah namun lain hati lain bicara, ayahnya malah jatuh kedalam perangkapnya sendiri yaitu jatuh cinta kepada bunda.
Bunda senang jika dirinya hamil ada yang mempertanggung jawab, dan bunda mengiyakan permintaan ayah yang harus pindah kenegara lain alasannya urusan pekerjaan tapi bukan itu melainkan ayah menghindar dari wanita yang ia janjikan untuk menikah dengannya setelah berhasil.
Tak disangka sangka beberapa tahun sudah lewat wanita itu datang kembali dan mendatangi ayah lalu memberi obat lagi kepada ayah agar dia bisa memiliki anak sendiri dari rahimnya. Ayah yang tidak bisa melakukan apapun hanya bisa pasrah, pasrah dengan hatinya yang sakit melihat bunda yang menangis karenanya.
Wanita itu hamil, dan bunda mengetahuinya setelah wanita itu mengirim beberapa bukti bahwa suaminya sendiri sedang berselingkuh dengan wanita lain dan itu membuat bunda lebih memilih pergi dan membawa adam, putra satu satunya. Berencana ingin balik kenegara asalnya.
Namun rencananya gagal karena bunda dan adam telah diculik oleh segerombolan preman yang sudah disuruh oleh wanita itu. Bunda berkali kali dicambuk dan diperkosa oleh beberapa pria. Ayah mengetahuinya langsung memberontak melihat orang yang ia sayanginya disiksa seperti binatang.
Lagi lagi ayahnya dipengaruhi oleh wanita itu sampai wanita itu menyuruh menembak kepala bunda kepada preman itu didepan mata adam kecil. Dari situlah adam kecil bertekad untuk dendam kepada wanita itu dan putrinya yang sama sama murahan.
Mama, kakek, dan aksa, menangis mendengar cerita tragis yang membuat adel, bunda adam meninggal karena kekejaman oleh egoisnya wanita tersebut. Sedangkan papa dan adam mengepalkan kedua tangannya karena amarah. Tak lama kemudian aluna yang sedang berjalan kearah kelima orang itu langsung duduk disamping adam, ia membawa satu kotak ditangannya sedari tadi aluna tidak ikut mendengarkan ceritanya karena ia sibuk dengan pikiran pikiran tentang bundanya.
Papa ranz langsung menghilangkan kepalan tangan setelah melihat putrinya yang tidak menangis karena pergi ditengah tengah perjalanan cerita. "Apa yang kamu bawa, sayang?" tanya papa membuat semua orang yang masih sibuk menenangkan diri langsung menatap aluna yang sedang mencoba mencari cara membuka kotak tersebut.
Kakek langsung mengambil kalung yang selalu ia pakai dan ternyata itu adalah kunci yang selalu ia simpan dilehernya. "Coba pakai ini nak. Sepertinya ini kunci yang pas untuk kotak itu." ucap kakek dengan menyerahkan kunci mungil kepada luna, luna pun segera menerimanya lalu membuka kotak tersebut dan berhasil.
Dibukanya kotak itu membuat luna terbengong kaget. "Ini?"
---Bersambung---
Jangan lupa like cerita ini dan mampirlah keceritaku yang lain.
Terima kasih.
__ADS_1