
Dua minggu yang dijanjikan Brian datang juga. Numa dan Aryan membersamainya kembali ke Jakarta.
Brian yang selalu membicarakan apapun kepada istrinya, bahkan niat kepulangannya kali inipun istrinya telah diberitahunya. Jelas ini semua justru membuat Numa bahagia, Numa yang tahu betul bagaimana cerita dari kedua sudutpun merasa lega, akhirnya sesuatu yang menggumpal selama ini akan bisa cair juga.
" Uncle mau ke Jakarta? " Tanya Sunny mendekati uncle Brian yang datang ke kediaman mereka untuk berpamitan.
" Iya boy, kamu mau titip apa to your girlfriend?" Tanya Brian pada ponakan tersayangnya itu.
" Yes I do, hanya surat ini untuknya.." Sunny mengeluarkan amplop warna maroon dari kantung hoodienya dan menyerahkannya pada Brian.
" Surat cinta?" Tanya Brian dengan disertai tawanya yang renyah.
" No, that's not. Cintaku tidak perlu dituliskan, Shanum hanya akan menerima pembuktian.."
" Wadawww, mantap man!!, icik kiwirrr..." Teriak Shine heboh, tangannya gemas mencolek dagu kakak kembarannya itu.
Sunny memeluk Shine gemas, karena dia selalu mengolok-oloknya tiap kali membicarakan Shanum. Awalnya mereka rebutan Shanum, tapi Shine yang lembut tidak akan suka keributan, lagian bagi Shine cewek didunia bukan Shanum saja yang cantik.
Brian, Marvel dan Dian tertawa melihat kelakuan keduanya.
" Oke selamat jalan bro, InsyaAllah lebaran kita ketemu lagi..." Marvel memeluk adik kembarannya itu erat.
...***...
Jakarta.
Beberapa minggu belakangan ini Ara selalu telihat pucat dan tidak bersemangat. Padahal besok putri-putrinya tepat berusia satu tahun. Almeer sang kakak terlihat tumbuh lebih dominan dari Meera, dari segi fisik dan aktifitas gerak jelas si Almeer lebih dari Meera tapi sayang, Almeer sangat cengeng seperti daddynya.
" Kamu kenapa sayang?, mommy lihat beberapa hari ini kayak kurang bersemangat.." Tanya mommy Tara di sela-sela mereka membuat kue untuk acara syukuran esok hari.
Tidak hanya berdua, didapur Ara saat ini juga ada Lenox dan Wari, Hanum dan juga mama Neela.
" Nggak kenapa-napa sih mom, iya cuma agak sering pusing saja akhir-akhir ini.." Sahut Ara dengan sesekali mengurut pelipisnya yang tiba-tiba begitu nyeri.
Lenox melirik sekilas, menatap tajam pada sahabatnya yang sebentar-sebentar mengernyit itu.
Rasa khawatir memenuhi hatinya saat ini.
Tak!!
Diletakkannya baskom berisikan gula dan telur yang akan dimixernya itu dimeja.
" Coba sini, gue pinjem stetoskop lo..." Ucap Lenox mendekati Ara.
" Ada di ruang kerja kak Rangga Le..." Sahut Ara pelan, lagi-lagi dia memijit keningnya lagi.
" Apa?, apa yang diruang kerja kakak sayang?" Tanya Rangga yang baru pulang dari Market bersama Ardi.
"Stethoscope, gue mau periksa bini lo, kayaknya, ada yang nggak beres sama dia" Sahut Lenox.
__ADS_1
" Oke bentar, gue ambilin.." Rangga meletakkan semua barang belanjaannya dan bergegas ke ruang kerjanya untuk mengambilkan tas kerja istrinya.
Tak lama diapun sudah kembali dan menyerahkan tas itu pada Lenox, lalu duduk di samping istrinya yang memang terlihat kurang sehat itu.
" Masih pusing sayang?" Tanya Rangga penuh perhatian, beberapa hari ini memang Ara sering mengeluh pusing.
Ara mengangguk dan meletakkan kepalanya yang berat di bahu suaminya.
Lenox memeriksa denyut nadi Ara, dan memeriksakan bagian-bagian lain yang dicurigainya.
" Lo udah tespeck belum?" Tanya Lenox to the point. Pertanyaan Lenox yang biasa saja baginya justru membuat gempar semua yang ada di dapur. Mama Neela dan mommy Tara langsung menoleh ke arah Lenox, begitu pula Hanum dan Azura.
Rangga tak kalah syoknya mendengar ini.
" Ap...apa?, ja..jadi...i..ini..ha..hamil sayang?" Tanya Rangga tergagap-gagap.
" Gue curiga kesana sih..." Sahut Lenox santai sambil merapikan tas kerja Ara.
" Biar gue beli tespeck dulu..." Rangga segera berdiri dengan tubuh yang bergetar, Ara tahu itu.
" Sudah Bi..., nanti saja.., kamu kenapa sih?, minum dulu Bi..." Ara berdiri hendak menuangkan Rangga air minum, tapi rupanya mama Neela sudah lebih dulu menyodorkan segelas air putih pada menantunya itu.
" Kenapa kamu Rangga?" Mama Neela menepuk Rangga yang bengong seperti hilang kesadaran.
" K..kok..bi..bisa hamil sih yang...?" Ucapnya masih belum sadar.
Ara yang mendengar ucapan Ranggapun sontak emosi jiwa.
Di tinjunya lengan Rangga saking geramnya.
" Kamu ini ngomong apa sih!!, kok bisa hamil?, ya bisa lah orang punya suami..." Sentak Ara marah.
" Iya tapi kan, kamu bilang nggak akan hamil selama masih eksklusif menyusui twin..." Sahut Rangga cepat.
" Iya memang harusnya begitu!!" Lenox ikut menyahuti.
" Ya harusnya begitu sih, kecuali kamu yang bikin ini nggak wajar" Ucap Ara dengan suara tertahan dan hanya ditujukan pada Rangga. Tapi mereka yang didapur masih jelas mendengarnya.
" Nggak wajar?" Tanya Rangga penasaran.
" Ya iyalah nggak wajar. Kamu aja minta jatah dalam semalam naik sampai dua kali, belum habis subuh masih naik lagi!!, wajar nggak tuh?" Bisik Ara geram didepan telinga Rangga.
" Ap..ha..ha..ha..., naik kemana? Ha..ha..ha..." Tawa Rangga pecah tak tertahan lagi. Lenox dan Ardi yang ikut mendengarnya pun ikut mengulum senyum mereka.
" Auk ahhh..." Ara menghentakkan kedua kakinya geram dan bergegas ke kamar melihat twin sudah bangun atau belum.
" Kau lihat dia?, ya Tuhan imut banget istriku itu..." Ucap Rangga pada Ardi dan Lenox.
Lenox menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis..., Aranya...
__ADS_1
Ara yang dulu digilainya kini sudah seperti selayaknya saudara baginya.
Tidak ada lagi cinta yang menyesakkan, hanya ada rasa sayang yang menenangkan.
Rangga Arapun selalu harmonis menjalani hidup mereka, bertengkar sih wajar dan seadanya.
...***...
Kehidupan genk somplak berjalan sesuai garis takdirnya.
Dengan kesabaran yang luar biasa luas, di tahun keempat mereka membina rumah tangga, Ardi dan Azura akhirnya dikaruniai seorang putri cantik bernama Azmya. Dan setahun berikutnya hadir kembali seorang putra yang tampan dan murah senyum seperti papanya dengan nama Azmi.
Denis sampai saat ini hanya memiliki satu putra bernama Rayden Harsya. Natasha belum bersedia untuk memiliki anak kembali. Sedangkan Rayya dan Hanum memiliki satu putri bernama Saggara Tiara.
Ara?...
Ya..., kehamilan ketiga Ara menghasilkan seorang putri cantik yang imut, putih bersih seperti mommynya. Almaureen...
Putri cantik yang menjadi kesayangan Rangga Bayu Wijaya, bahkan sampai membuat iri kedua saudaranya.
Lima belas tahun kemudian, White Base.
" Daddy pilih kasih!!, daddy selalu membelikan Maureen ini itu yang dia mau.., tapi daddy memilihkan kehendak daddy untuk kami.." Protes Almeer siang itu saat Rangga pulang dari Amerika untuk urusan bisnis.
" Apa memangnya yang dibelikan daddymu untuk Maureen. Bukankah kau sudah punya ini itu juga son ?" Tanya Lenox, mereka, saat ini ada di White Base. Karena seperti biasa, setiap liburan sekolah tiba mereka akan berkumpul disini.
"Iya om, tapi lebih canggih punya Maureen. Daddy membelikan seri terbaru untuk Maureen.." Sela Almeer tanpa mau mengalah.
" Ya udah, nanti kalau om ke Singapura om belikan, sudah sana main sama Luigi sana..." Lenox mengelus rambut halus Almeer dan mendorongnya pelan untuk berkumpul dengan putranya Luigi Tranvis Daffaran.
TAMAT
Almeer Nasyauki Wijaya.
Almaeera Haura Siddiqui
Almaureen
Nantikan cerita romansa anak-anak dari para genk somplak di novel lanjutannya.
Terimakasih sudah membersamai Childhood Love Story sampai hari ini.
__ADS_1
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan๐๐ผ๐๐ผ๐๐ผ