
---Happy Reading---
Sudah berbulan bulan adam selalu bermain dengan aluna serta abangnya, aksa. Ia juga sudah jarang tidak bermain dengan teman temannya sampai hari ini teman temannya datang menghampirinya yang masih sibuk bermain.
"Adam! Jadi kamu begini? Lebih memilih bermain bersama gadis itu dibandingkan bermain dengan kami?" tanya temannya itu yang mendorong bahu adam dengan sedikit demi sedikit, karena temannya tau adam berdiri pas dekat dengan jalanan raya.
"Bukan begitu maksudku," ucap adam berhenti lalu temannya mendorong dengan keras, sampai adam hampri saja tertabrak mobil yang melewati jalanan itu.
*"Apa *yang bukan, sudah dua bulan kamu main bersama gadis itu dan tidak menghiraukan kami yang sudah mengajakmu sebelum gadis itu mengajak." ujarnya dengan dorongan bahu adam. Adam yang belum siap pun mundur dan hampir saja tertabrak mobil karena seseorang mendorongnya dengan keras.
"Akh!"
Brak!
"LUNA!!" pekik aksa yang sedang mengejar luna saat luna melihat adam didorong oleh teman teman kecilnya namun naas, adiknya menyelamatkan adam dan nyawanya hampir saja melayang.
Aksa selalu memaki teman teman adam dengan kata 'pembunuh'. Membuat teman adam yang mendorong adam merasa gemetar ketakutan karena sudah tidak mendengar ucapan gadis itu dikemarin hari.
Sehari sebelum kecelakaan, aluna menghampiri segerombolan teman adam yang sedang memaki dirinya dan adam. "Adam menyebalkan! Ia sekarang lebih mementingkan main bersama gadis itu dan melupakan kita yang sebagai temannya."
"Iya adam menyebalkan sekali, besok dia akan meninggalkan kita." celetuk luna yang sudah berdiri dibelakang teman adam yang luna tau bahwa namanya tidak lain dari, bagas, alka, mike, david dan ciko. Mereka terkejut melihat aluna gadis kecil yang sudah mendengarkan makian mereka.
"Aku tau kok kalian kesal terhada adam tapi bisakah kalian membantuku untuk menahannya pergi dari tempat ini. Aku mendengar bahwa bunda adel akan membawa adam pergi jauh dari kita."
"Maksudmu berkata seperti ini apa?"
"Aku ingin kalian menahannya, terserah kalian ingin melakukan terhadap adam bagaimana asalkan jangan melukainya atau mendorongnya dengan keras. Cukup menahannya saja, jangan sampai ia pergi meninggalkan kita."
"Tapi kita harus melupakan apa?" gadis itu mengangkat kedua bahunya, "terserah kalian asalkan jangan melukainya, jika aku melihat kalian berniat melukainya aku yang akan datang untuk menyelamatkannya. Dadah~" ujar aluna kecil meninggalkan kelima teman adam berdiam memikirkan cara untuk menahan temannya.
❣❣
Adam menggandeng aluna keluar dari ruangannya dan turun menuju lantai dimana seluruh tamunya menunggu kedatangan mereka. Mereka berdiri didepan pintu besar dan dibukanya pintu itu mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam ruangan besar yang sudah berisi banyaknya teman teman dan semua tamu undangan yang diundang oleh keluarganya.
Aluna tersenyum, begitupun dengan adam namun senyuman adam itu sangat tipis membuat orang yang melihatnya mengira adam sangat datar jauh dengan pengantinnya yang senyumannya sangat lebar. Sampai mereka di pelaminan, keduanya langsung disuruh untuk berfoto mesra apa yang dipinta dari tukang poto itu.
Setelah itu, beberapa tamu undangan langsung memberi salam selamat kepada keduanya, selamat menempuh kehidupan yang baru kebanyakan orang mengatakan itu kepada keduanya, sampai aluna bosan mendengarnya sampai ia hanya menjawabnya dengan senyuman saja.
__ADS_1
Tak lama datanglah lima pria dengan ekspresi yang berbeda ada yang tidak enakkan, senyum, datar, dan bingung. Aluna yang melihat itu langsung tau siapa yang datang ini, aluna dengan senyuman lebar langsung say hi! kepada lima pria itu membuat adam bingung.
"Kamu mengenal mereka."
"Katanya kamu sering berhubungan dengan mereka? Mereka sahabat kamu sejak kecil." bisik aluna membuat adam menatap kelima pria itu dengan tatapan tak percaya, "benarkah? ini kalian?" tanya adam yang diangguki oleh kelimanya.
"Maafkan kami adam, kami sudah berusaha membuatmu terluka saat kecil dan ternyata istrimu yang terluka hanya karena menyelamatkanmu saat itu." ucap maaf dari mike.
Aluna tersenyum, "aku kan sudah mengatakan kepada kalian untuk menahannya pergi bukannya melukainya, gimana sih?" dumel luna membuat david dan alka tersenyum. "Maafkan kami berdua yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mendorong adam-mu."
"Jadi kalian yang tak lain adalah 'pembunuh' semasa kecil untuk adikku?" tanya tajam aksa yang sudah berdiri dibelakang kelima orang itu dengan wajah datar dan dingin, jangan lupakan dengan rizka yang tidak pernah dilepaskan rangkulan pinggangnya itu.
Kelima pria itu menatap aksa dengan pias, ini yang mereka takutkan sedari tadi. Takutnya bertemu dengan kakak dari gadis itu tapi ternyata mereka ditakdirkan memang harus bertemu. Mike hampir saja ingin bersujud didepan aksa jika tidak ditahan oleh aluna dan adam.
"Maafkan kami, sa.. Aku tidak bisa menahan untuk tidak mendorong adam namun kami juga tidak menyangka bahwa adikmu menyelamatkan adam secepat itu."
Aksa tertawa, lalu semakin tertawa besar sampai membuat kelima pria itu bingung. "Tenanglah, kami sekeluarga sudah memafkan kalian semua kok, aku hanya mengetes saja ternyata kalian berlima masih mengingat namaku." ucap santai aksa, membuat kelima orang itu bernafas lega. Sedangkan rizka yang melihat itu langsung menyubit pinggang suaminya dengan kencang membuat aksa memekik kesakitan aluna yang melihat itu langsung menahan tawanya.
"Sakit yang!"
"Kau memang menyebalkan ya? Hampir anak orang ingin bersujud kepadamu, dan itu akan sangat memalukan."
"Sabar riz, nanti juga dia tidak posesif lagi kepadamu setelah anak perempuanmu lahir mungkin. Tunggu aja." rizka mengangguk mendengar sautan aluna, adik iparnya sekaligus sahabatnya.
"Selamat untukmu manis, akhirnya kamu menikah dengan adam, pria yang kamu lamar sejak kecil itu." ujar rizka sembari memeluk aluna dengan erat. "Terima kasih sahabatku sekaligus kakak iparku," aluna melepaskan pelukannya dan menatap perut sahabatnya, "jadi katakan kamu sudah hamil berapa bulan?"
"Kata dokter sudah mau sebulan aku isi, ternyata abangmu kemarin itu bukan karena masuk angin melainkan karena morning sicknes menggantikan diriku yang hamil." ujarnya dengan terkekeh pelan membayangkan kesakitan suaminya. Aluna pun ikut tertawa dan membayangkannya juga bagaimana wajah kesakitan abangnya saat itu.
"Oke baiklah, cukup berbincangnya ladies. Saatnya kamu makan sayang, kamu tadi baru makan sedikit soalnya." ujar aksa kepada rizka sesekali ia mengecup pelipis istrinya, aluna yang melihat itu merasa senang entah kenapa sahabat tomboynya menjadi feminim dan manja jika berdekatan dengan abangnya.
Sedangkan adam masih sibuk berbincang dengan sahabat kecilnya yang tadi beberapa menit mengambil cemilan lalu berbincang kembali kepada adam, tak lama ia melihat karel bersama ava yang sedang menggandeng lengan karel dengan manis.
"Udah dong gantian, sahabatku ingin mengucapkan selamat juga tau.." ujar aluna yang menyaut dari samping adam dan adam beserta kelima sahabat kecilnya ikut menoleh kebelakang dan melihat wajah karel yang sangat dingin.
"Ah, maafkan kami. Kami terlalu rindu dengan suamimu ini gadis kecil." ledek bagas kepada adam. Adam menatapnyanya dengan pelotottan tajam, "Ah ternyata kalian juga memanggilku gadis kecil ya semasa kecil?" diangguki oleh keempatnya sedangkan alka hanya diam melihat adam dalam diam.
"Selamat adam, akhirnya gadis yang kamu harapkan tercapai menjadi istri masa depanmu." saut alka yang menatap adam dengan senyumana, adam mengangguk senang. Aluna menatap adam dengan tatapan sayang, "jadi ini yang kamu maksud dengan harapan yang kamu inginkan?"
__ADS_1
Adam mengecup kening aluna dengan lembut dan cukup lama membuat kelima pria itu meminggir, "benar, harapanku sudah tercapai namun kurang satu yaitu anak yang mirip denganmu." bisik adam membuat aluna malu sampai tidak sadar karel sudah berdiri didepan keduanya dengan deheman keras membuat keduanya tersadar.
"Maaf mengganggu."
Aluna menggeleng pelan, "tidak kok, maafkan kami yang lupa dengan kehadiran kalian, apa kabar karel? Apa kalian sebentar lagi akan menikah juga?" tanya aluna dengan melirik cincin yang samaan berada dijari manis mereka."
"Kami sudah menikah, maaf tidak mengundangmu."
Aluna yang mendengar itu terkejut namun tetap senang, "tidak apa apa, aku mengerti. Jika kau mengundangku mungkin akan berantakan dengan kehadiranku, bukan?" tebak aluna yang langsung diangguki oleh karel. "Kau benar," balas karel lalu menatap adam, suami aluna yang sudah memandangnya tidak suka. "Maafkan aku yang sudah membuatmu sakit karena kedekatanku dengan gadis milikmu, jika aku pikirkan kembali jika saja aku yang berada diposisimu aku juga akan sakit hati melihat gadisnya bermesraan dengan pria lain selain dirimu. Jadi tolong maafkan aku."
Adam menatapnya dalam diam, membuat karel merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberi oleh adam kepadanya. Beberapa menit kemudian adampun tersenyum lebar menatapnya seraya merangkul istrinya dengan erat. "Aku mengerti perasaanmu apalagi saat kau pertama kali melihat gadisku langsung terpesona dan sayang jika tidak ditatap terus, aku memaafkanmu, karena kau tidak mungkin mengganggu luna-ku yang sudah menikah dengan pria lain."
Karel mengangguk, "ya, lagipula diriku sudah memiliki istri." balasnya tanpa tau wajah ava merah merona, ia baru merasakan bagaimana karel memperkenalkannya sebagai istrinya. "Ya, apalagi kau sudah memiliki istri, tidak mungkin kau menyakitinya."
Perbincangan mereka telah selesai, sampai waktu sudah hampir selesai. Tak lama stefan dan citra datang paling akhir. Aluna bisa melihat wajah citra kesal menatap stefan. "Aluna maafkan aku yang telat karena suamiku yang malas ini benar benar menyebalkan."
Aluna tertawa dengan dua pasangan ini, namun ia masih bisa memaklumi kedua orang itu. "Tidak apa apa, yang penting kalian sudah sampai kemari dengan selamat."
"Apa makanannya masih ada? Aku sangat lapar karenanya."
Aluna mengangguk, lalu melihat beberapa pelayan memba keranjang cucian piring. "Mas, tunggu sebentar.. Aku mau nanya makanannya masih ada kan disana?"
Pelayan itu mengangguk, "masih kok ka, apa kaka membutuhkan bantuan?"
"Temanku baru saja datang dan ia ingin makan tolong beri tau dimana tempatnya." ujar aluna yang membuat citra tersenyum senang lalu mengikuti pelayan itu yang sedang menunjukkan tempat yang masih penuh dengan makanan. Sedangkan stefan beserta putrinya merasa kelelahan dan menceritakan semua yang terjadi sepanjang perjalanan mereka kepada adam.
"Benar benar ya, mengurusi bisnis jika kita tidak pandai bercakap akan memakan hati oleh lawan, yang membuatku tidak mau keluar adalah aku tidak ingin meninggalkan istri dan putriku walaupun citra merasa kesal kepadaku."
"Jadi kalian dihadang oleh beberapa orang yang kemungkinan musuh bisnismu itu? Dan bantuan dari keluargamu telat selama sejam setengah membuat citra kesal karena dirimu." saut aluna yang sudah mengerti dari cerita papa muda satu ini dan ia merasa kasihan kepada sahabat satunya itu, "ya, begitulah dan aku kesal juga dengan bawahanku yang ternyata menghianatiku."
"Sayang ini makan dulu, aku udah bawa banyak untukmu." ujar citra yang dibantu dua pelayan dibelakangnya sambil menaruh makanan mereka diatas meja yang dekat ditempat aluna dan adam, kemudian stefan mengangguk dengan menggendong putrinya yang kelelahan diperjalanan.
---Bersambung---
Terimakasih sudah mengikuti cerita aluna dan adam, sebentar lagi kisah mereka akan berakhir.
__ADS_1
Sampai jumpa semua..