Childhood Love Story

Childhood Love Story
Rayya dan Hanum


__ADS_3

Ara dan Hanum membantu Natasya bersiap untuk keberangkatannya ke Berlin. Dan itu akan lama, bisa sampai enam bulan Natasya dan Denis akan disana.


Pertama Natasya ada pameran rancangan busananya disana satu bulan kedepan.


Kedua, kakek dan nenek Natasya dari sisi mommynya memang menetap disana.


Ketiga, Denis ada kontrak kerjasama yang memang mengharuskan dirinya tinggal sementara di Jerman sampai, proyek yang sedang dikerjakannya itu rampung.


Mau tidak mau Rangga harus turun tangan ke kantor untuk menggantikan Denis.


" Jadi gimana Num? " Tanya Natasya pada satu-satunya sahabat yang masih single itu. Mereka saat ini sedang berkemas koper Natasya dan Denis.


Sebenarnya Natasya sangat ingin melihat Hanum dan Rayya menikah.


Tapi rupanya cerita cinta mereka berdua tidaklah semanis cerita dalam novel.


" Ya, untuk kelanjutannya tidak ada yang tahu Nat, tapi kami akan mencoba untuk bertemu dengan bunda kak Rayyan dulu..." Jawab Hanum.


" Semoga semua lancar Num..., doa terbaik kami untukmu besty..." Bisik Natasya. Mereka saling peluk untuk waktu yang sangat lama.


" Kapan kau akan bertemu bunda kak Rayya Num?" Tanya Ara yang berada di ambang pintu dengan menggendong Almeer, di sampingnya sudah ada Dian yang menggendong Almaeera.


" Nanti malam, InsyaAllah..." Jawab Hanum mantap.


" Sini biar aku yang gendong Almeer, nanti malam biar keduanya tidur dengan kami Ra, kami pasti akan rindu berat dengan twins saat di Berlin nanti...." Ucap Natasya sendu, kedua tangannya meraih Almeer untuk diambil alihnya.


Semua bersyukur dalam hati melihat ini, dua minggu kebersamaannya dengan twins akhirnya memunculkan rasa keibuan dalam dirinya.


Sebenarnya dari awal Natasya menyukai anak-anak, tapi saat melihat Ara begitu kesakitan saat kontraksi membuatnya keluar dari rasionalitasnya.


Tapi berkat melihat bagaimana Ara merawat putra-putrinya dan bagaimana menyenangkannya mengurus bayi, ketakutan yang menghantui dirinya hampir sebulan ini akhirnya terpatahkan juga.


Untung saja semua bisa kembali ke jalan yang seharusnya dengan cepat. Denis sangat bersyukur dengan keberhasilan siasat gilanya. Kalau menuruti malu, jelas malu untuk Denis.


Bulan madu yang seharusnya manis dan berkesan, harus mereka habiskan dirumah Rangga dan Ara. Tapi harus bagaimana lagi, bagi Denis untuk membuat istrinya sadar akan kodratnya adalah disini tempatnya.


...***...


Sepulang kerja, Rayya melajukan mobilnya menuju rumah Hanum. Dia akan menjemputnya untuk bertemu bundanya malam ini.


Ya, malam ini ujung muara penantianya.


Kalut dan bingung, itulah yang ada dalam benak Rayya saat ini. Bersediakah bundanya menerima Hanum?, yang secara tertulis adalah janda dari Ahmad Fahri?.


Semenjak kebersediaan Hanum untuk bersamanya, bagaimanapun wujudnya. Membuat Rayya begitu menyesali kebodohannya selama ini. Kenapa tidak dari dahulu saja Rayya melangkah maju.


Kenapa selama ini dia terus sembunyi dari rasa insecure yang merongrongnya, padahal kenyataannya Hanum tidak pernah mematok standar yang tinggi untuk menjadi imamnya.


" Astaghfirullah...." Desahnya pelan, mencoba mengusir kalut yang ada.


Mobil Rayya kini telah berhenti tepat dipekarangan rumah keluarga ustadz Abqori, abah dari Hanum dan Hanan.


Hanum muncul dari balik pintu dengan penampilan yang menyejukkan mata Rayya. Terlihat lux tapi tidak berlebihan, sederhana tapi terlihat mewah.


" Aku perlu masuk ke dalam untuk bertemu calon mertua?" Tanya Rayya saat Hanum sudah berada di depanya.


" Tidak ada siapa-siapa, ummi dan abah pergi ke kampung.." Jawab Hanum.


" Jadi kita langsung pergi saja ke rumah bundaku?" Tanya Rayya lagi, tanganya sigap membukakan pintu mobil untuk Hanum.


" Terserah, kemanapun kakak membawaku, aku ikut..." Jawab Hanum dengan menutup mulutnya dengan ujung jilbabnya dan tersenyum kecil.


Rayya menggelengkan kepalanya gemas melirik Hanum yang imut dipandangannya.


"Kamu sudah besar sekarang, sudah mulai berani..." Sahut Rayya dengan menggelengkan kepalanya pelan. Senyum simpul terlihat dari bibirnya yang pink.


__ADS_1


" Ya pengalaman dan guruku sangat hebat. Natasya dan Ara telah membuka mataku..." Ucap Hanum dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil yang telah dibukakan oleh Rayya.


Dengan berlari kecil memutari badan depan mobil Rayya akhirnya duduk didepan kemudi.


" Memangnya selama ini mata kamu tertutup Num?" Tanya Rayya, menyambung obrolan mereka.


" Ya, tertutup oleh besarnya cintamu..." Sahut Hanum lagi.


Bom...bommm


Hati Rayya meledak bagai petasan tahun baru yang memendar-mendar diatas langit.


Gadis ini mampu membuatnya terbang hanya dengan kata-kata nya saja.


Bibirnya terus bergetar ingin tersenyum, tapi saat ini Rayya betul-betul malu. Yang dia bisa saat ini hanya melipat bibirnya kedalam, menahan senyumnya.


Menahan senyum saat hati bahagia itu ternyata sedikit sakit juga, sampai-sampai air mata menggenang dipelupuk matanya.


Hanum menoleh menatap mata Rayya yang berkilat.


" Kenapa menangis?" Tanya Hanum khawatir.


" Tidak, bukan menangis, hanya kemasukan debu cintamu Num..." Jawab Rayya dengan menggigit lidahnya, cengiran khasnya membuat wajahnya semakin tampan.


Mereka saling lirik sesaat, lalu tak berselang lama tawa kecil menghiasi bibir keduanya.


Kenapa tidak dari dulu saja aku maju...


Ya Tuhan, betapa bodohnya aku..


Raya melirik lagi ke arah Hanum, bibirnya tak surut akan senyumnya. Sedangkan Hanum hanya menatap kedepan, dalam hati dia merasa geli melihat Rayya yang bertingkah seperti ABG yang sedang jatuh cinta itu.


" Sudah.. Fokus dulu ke jalan..., ada masanya nanti bisa menatapku dengan puas..." Sindir Hanum.


" Benarkah?, kapan itu?" Rayya menoleh sesaat, senyumnya terus mengembang.


Rayya melepaskan satu tanganya pada stir dan mengusap pucuk kepala Hanum pelan.


" Hemmmm, Hanum Rafiqa Aliya...." Gumam Rayya.


Tangan Rayya berusaha meraih jemari Hanum yang berada di pangkuan gadis itu, menggenggamnya erat.


Lalu perlahan membawanya kedepan bibirnya.


Cup.


" Hanum Rafiqa Aliya maukah kau menikah denganku?, Rayyan Athaya..pemuda biasa saja, yang hanya punya cinta. Aku tidaklah punya permata dan harta, tapi demi dirimu, mengorbankan nyawaku pun aku mampu.." Rayya menatap Hanum tak berkedip, mengisyaratkan begitu seriusnya niatan yang ada dalam setiap ucapannya.


Cup.


Sekali lagi dikecupnya punggung tangan Hanum yang ada di genggamannya.


Entah darimana keberanian Rayya ini berasal.


" Suit...cie..cie...., akhirnya setelah sekian lamanya, aku dilamar kak Rayyan juga..., mau nangis atau ketawa ya...." bukanya menjawab pertanyaan romantis dan sakral Rayya, Hanum justru membuat suasana menjadi hangat.


Sudut mata gadis itu menitikkan air mata beningnya. Rayya mengusapnya pelan dengan jempolnya.


Sungguh gadis yang unik..


Aku kira selama ini, Hanum begitu tinggi dan tak tersentuh...


Rayya berulang kali menatap Hanum disampingnya.


Sebenarnya Rayya gatal ingin bertanya tentang pernikahan Hanum dengan pilihan abahnya yang sempat gagal dahulu. Tapi rasanya dia harus menunggu Hanum untuk bercerita sendiri.


...***...

__ADS_1


Rumah sederhana tapi luas, dengan pekarangan yang penuh dengan bunga dan terlihat terawat dengan baik.


Mobil telah terparkir ditempatnya, tapi Rayya tak kunjung keluar.


Pemuda berusia hampir duapuluh enam tahun itu kini menghadap ke arah Hanum, menatap nya tajam. Hanum mendadak cemas, ini sudah di depan rumah, tapi kenapa seakan Rayya terlihat ragu. Apakah Rayya berubah fikiran?, kenapa?, akan statusnya kah?.


Flasback on


6 Tahun yang lalu..


Lebih tepatnya sehari sebelum keberangkatan SMU Bhakti kemping ke Bandung.


Rayya yang mendapatkan kabar dari Hanan bahwa Hanum pulangpun segera memacu motornya dengan kencang ke arah rumah ustadz Abqori.


Dan benar saja, Hanum sudah berdiri di luar gerbang rumahnya.


" Sudah lama menunggu?" Tanya Rayya masih duduk di motornya.


" Belum lama, hanya sekitar sepuluh menitan.." Jawab Hanum dengan masih menunduk.


" Kita mau kemana?" Tanya Rayya, mempersilahkan Hanum duduk di belakangnya.


" Tempat yang nyaman untuk berbicara serius...." Jawab Hanum.


Rayya berfikir sejenak, dan tersenyum saat terlintas tempat yang cocok untuk mereka tuju.


Dan disilah mereka berdua, duduk diatas rerumputan luas yang tinggi, dibawah pohon yang rindang. Tepatnya di sebuah bukit disamping SMU Bhakti. Bukit itu bernama bukit cinta, karena setiap Sabtu malam selalu penuh akan muda-mudi berpacaran.


Mereka berdua hanya diam untuk beberapa waktu yang lama, tak ada satupun yang memulai bicara.


" Jadi kapan kamu berangkat ke Kairo?" Tanya Rayya sendu.


Sebelum pulang sekolah tadi siang, Hanan memberitahukannya bahwa Hanum mendapatkan beasiswa khusus untuk melanjutkan pendidikannya ke Kairo.


" Nanti malam, dan nanti malam juga...."


Hanum menghentikan ucapannya, tubuhnya terasa kaku, hatinya begitu pilu.


"Nanti malam?" Rayya ikut tercekat dengan ucapannya.


" Keluarga Akhi Fahri akan datang...." Lagi Hanum menunduk semakin dalam.


Rayya menghembuskan nafasnya berat. Dia tahu siapa Fahri, pemuda yang memang dipersiapkan kedua orang tua Hanum untuk menjadi imamnya kelak.


" Jadi?" Tanyanya, sekedar meyakinkan hatinya atas apa yang ditakutinya saat ini.


" Iya, mereka mau melamar Num..." Jawab Hanum sendu.


" Lalu kamu sendiri bagaimana?" Rayya mengusap wajahnya kasar, pupus sudah harapannya untuk bersanding dengan gadis sholehah disampingnya ini.


Dia bisa apa?, haruskah memaksakan diri.., diusianya yang masih 18tahun?.


Dia bukanlah Rangga, yang didukung penuh oleh keluarganya saat berumah tangga diusia muda. Dia adalah Rayyan Athaya, putra pegawai PNS biasa.


Tak akan mampu menyaingi Rangga Bayu Wijaya yang telah beristri di saat masih SMU.


" Kak Rayyan kan tahu aturan ke Kairo bagi seorang wanita single, harus didampingi wali, atau tepatnya mahramnya. Dan abah.....abah....memil----"


" Iya, tidak apa-apa.., semoga pilihan abah adalah yang terbaik untukmu...." Jawab Rayya sendu. Hanya Rayya yang tahu sakitnya saat itu. Hatinya remuk!!, seakan diremas sampai berkeping-keping.


Tapi Rayya rupanya lupa, bahwa tidak hanya dia yang terluka. Hanum pun sama.


Sesak hati Hanum semakin menjadi saat keluarga Fahri memutuskan untuk menikahkan secara siri terlebih dahulu Hanum dan putra mereka.


Hanum berusaha menolak malam itu, tapi ternyata Rayya tidak juga mengangkat ponselnya. Ya, saat itu Rayya sedang berada di bus dan rombongan untuk berangkat ke Bandung.


Andai saat itu Rayya datang, mungkin sudah lama mereka bersama. Karena saat itu abah hanya ingin bertemu dengan pemuda pilihan putrinya, lalu memberikan putusannya.

__ADS_1


__ADS_2