
" Luc...?, are you oke?" Natasya begitu khawatir melihat tampilan semrawut pada sepupunya Lucas. Yang kini terlihat berjalan sempoyongan memasuki rumah.
Bau alkohol begitu lekat di seluruh tubuhnya.
" Luc?, are you drunk?" Natasya menutup hidungnya tak tahan oleh aroma menyengat minuman beralkohol itu.
"Hustt! Don't be noisy" Jawabnya dengan mengusur tubuh Natasya agar menepi dari tengah pintu.
Lalu dengan terus menubruk sana sini akhirnya diapun sampai juga di kamarnya.
" Luc, kau sangat kacau....aduh bagaimana ini?" Natasya melihat Lucas begitu kacau dan berantakan.
Gadis itu duduk di tepi ranjang Lucas, dan membantu melepaskan sepatunya.
" Sini Luc, lepas dulu jaketmu itu!. Sangat bau...hoekk..." Natasya hampir muntah mencium bau alkohol bercampur muntahan Lucas di jaketnya.
Lucas hanya diam saja, tapi mata merahnya terus menatap Natasya dengan pandangan yang mengerikan.
" Natasya...." Panggil Lucas saat Natasya hendak keluar kamar untuk mengambil air.
" Diem, gue ambil lap untuk lo dulu.."
Tak lama Natasya kembali dengan sebaskom air hangat dan lap ditanganya.
Natasya mulai membasuh wajah Lucas dengan perlahan dan hati-hati.
Sementara Lucas terus mengeracau bicara yang tidak jelas.
Semua omongan Lucas membuat Natasya jijik. Ucapanya tak jauh-jauh dari omongan mesum, ntah apa yang membuat Lucas mabuk seperti ini.
" Apa kau tahu Natha!!, dia itu cewek brengsek!!. Dadanya nggak sampai segenggam aja belagu...".
" Dan cantiknya juga palsu, semua serba make up!! Cih menjijikan.."
" Aku pikir semua cewek itu brengsek, termasuk.....termasuk lo!!" Racau Lukas semakin tidak karuan. Tanganya juga mulai nggak sopan, meraba-raba tubuh Natasya.
" Gue brengsek kata lo!! Ya sudah uruslah dirimu sendiri!!" Natasya jelas tidak terima disebut brengsek oleh sepupunya sendiri. Apalagi tangan rusuh itu semakin membuatnya geram.
Diapun dengan penuh rasa marah mengguyurkan air itu ke kepala Lucas berharap agar Lucas sadar.
Tetapi Lucas yang mabuk ditahap parah itu seperti tertantang. Dengan kasar Lucas membanting tubuh Natasya ke kasur dan menyerangnya secara seductive.
" Lucas!, lepaskan. Jangan kurang ajar kamu!!" Natasya terus memblokade usaha Lucas untuk menciumnya.
Simbok yang datang membawa minuman hangat seperti yang diminta Natasyapun terkejut melihat anak dan ponakan majikanya itu bergumul diatas kasur. Tepatnya Lucas terlihat ingin melecehkan Natasya.
" Astaghfirullah Den..., Den Lucas eling Den...." Teriak simbok dengan menepuk-nepuk kasar punggung Lucas.
Simbok kebingungan harus bagaimana, simbok sudah berusaha mendorong tapi Lucas tetap membatu dan menulikan telinganya.
" Mbok...tolong..." Pinta Natasya dengan terus melawan Lucas. Kedua tanganya terus berusaha menghalangi bibir Lucas yang terus menyerang kemana-mana. Airmatanya telah bercucuran.
" Kak Deniiisssss...." Teriaknya saat Lucas mulai menyobek piyama atasnya. Dan berhasil melabuhkan sesapan di sana.
Simbok tertatih-tatih berlari ke depan untuk memanggil satpam. Tapi saat pintu terbuka Denis berdiri di depan pintu dan tersenyum cerah.
" Maaf mbok, HP Denis keri neng sofa( maaf mbok, HP Denis ketinggalan di sofa).
" Alkhamdulilah!!, Aden bagus rawuh....gusti ayu den...gusti ayu..." Simbok menarik Denis agar segera masuk.
__ADS_1
Denis terkejut dengan tingkah simbok, dan dari raut wajah tegang simbok dia dapat merasa ada sesuatu yang tidak beres.
" Akkhhhh...tolong..mbokkk..." Jerit Natasya.
Mendengar suara Natasya yang menyayat hati Denis segera berlari, tapi saat melewati kamar Lucas mata Denis terbelalak dan begitu panas.
" Lucas!! Let her go!!" Seru Denis penuh kemarahan.
" Bastard!!" Denis mencengkeram kaos belakang Lucas dan membantingnya ke lantai.
Bughhh.
" Auugggghh ****!!!" Lucas berdecih. Badanya bagai remuk semua akibat berbenturan dengan lantai. Belum juga dia sadar dengan apa yang terjadi, Denis sudah kembali melancarkan tinjunya.
Bugh...bugh..bugh...
Pukulan Denis bertubi-tubi membantai wajah Lucas.
Apalagi saat diliriknya leher dan bahu Natasya terdapat bekas kebiadapan Lucas, membuat Denis benar-benar gelap mata.
Andaikan para satpam tidak segera masuk ntah apa jadinya.
Mungkin bisa jadi Denis akan masuk penjara dengan dakwaan sebagai pembunuh.
Natasya membungkus tubuhnya dengan selimut karena begitu malunya terlihat oleh Denis.
" Shayang..., mana yang sakit??" Denis mengangkat Natasya dan segera membawanya ke kamar Natasya diikuti oleh simbok.
Selama dalam gendongan Denis, Natasya terus menundukkan kepalanya. Rambutnya menutupi wajahnya yang terlihat pucat.
" Don't think too far!. Semua ini tidak akan merubah apapun...Sorry... I'm almost late..." Bisik Denis tepat di telinga Natasya. Denis merasa menyesal karena tidak menurut saja untuk menginap.
Perlahan Denis menurunkan Natasya, mengancingkan kembali piyama Natasya dan juga merapikan kerah piyamanya. Jujur ada rasa sesak yang luar biasa di dadanya. Tapi semua itu tentu tidak boleh ditampakkan di depan Natasya dong, Denis sangat paham itu.
Natasya terus saja menunduk, rasa malu karena tidak bisa menjaga diri baik-baik begitu menyiksanya.
" Nata mau ke kamar mandi.." Natasya menurunkan kakinya dan berlalu ke kamar mandi.
Denis hanya bisa mengikutinya dari belakang dan menatap punggung yang mulai bergetar itu.
" Jangan ditutup!!" Sentak Denis cepat saat Natasya hendak menutup pintu kamar mandi. Jelas Denis tahu Natasya ingin masuk kamar mandi untuk menangis.
" Tapi Natha mau...hik..hik..hu..hu.." Natasya tak mampu membendung tangisnya. Denis memeluknya dengan erat. Membiarkan kaosnya basah oleh airmata kekasihnya. Pelukannya yang hangat lambat laun menyalurkan hawa positifnya pada Natasya.
" Jangan berfikir yang tidak-tidak Natasya, please..."
Natasya melepaskan pelukan Denis lalu menuju wastafel, menghapus bekas merah dibahu dan dan lehernya. Digosoknya sampai bertambah memerah.
" Natasya enough!!" Denis meraih tangan itu dan membawanya untuk dikecupinya.
" Please don't think too much. Kita akan menikah sayang...ingatlah itu"
" Tapi...."
" Tidak!! Tidak ada tapi-tapi!!" Sahut Denis.
...***...
Setelah meyakinkan bahwa Natasya telah benar-benar tidur, Denis menuju kamar Lucas. Lucas juga telah diberikan obat pereda mabuk. Bahkan simbok yang marah meminta para pengawal untuk mengguyur Lucas dikamar mandi sampai sadar.
__ADS_1
Keadaan Lucas begitu kacau, wajah tampannya bonyok tak karuan. Para penjaga telah menghubungi keluarga Natasya di Sydney. Dan meminta untuk menghukum Lucas. Tapi penolakan datang dari orangtua Lucas, mereka meminta maaf atas kesalahan putranya. Jelas Lucas melakukan pelecehan itu secara tidak sadar, dan orang mabuk jelas tidak bisa disalahkan dengan yang telah diperbuatnya.
Denis mengeratkan tinjunya, amarahnya masih begitu kental.
" Denis...i'm sorry..... Aku tidak tau kalau itu Natasya.." Lucas bersujud dibawah kaki Denis.
" You can kill me now. Aku sendiri begitu malu dengan apa yang telah kuperbuat pada adikku sendiri...hu...hu.." Lucas menangis tersedu-sedu.
" Sudahlah..." Denis meninggalkan Lucas begitu saja. Karena jika dia masih tetap disitu dia takut menggila lagi.
Denis kembali ke kamar Natasya.
Simbok ada disisi ranjang den ayunya dengan setia.
" Den, aden bagus nginep wae yo..." Pinta simbok.
" Nggih mbok, ora ono pilihan laen..." Jawab Denis dan mendudukkan tubuhnya disofa.
" Simbok tinggal yo den bagus, niki selimut e den bagus..." Simbok meletakkan selimut di samping Denis.
" Mbok..., ojo ditutup!!" Pinta Denis cepat saat simbok hendak menutup pintu.
" Nggih den bagus..."
Denis mendekati tempat tidur lalu menundukkan tubuhnya, mengecup kening Natasya sekilas.
" Love you Shayang.."
Denis hendak melangkah menuju sofa, tapi cekalan Natasya membuatnya berhenti.
" Jangan tinggalin Natha kak...." Ucap Natasya sendu.
" Nggak sayang, nggak akan.... Kakak akan jaga kamu.... Tidurlah lagi. Kakak tetap disini.."
...**...
Romo dan mommy Natasya tersenyum saat mendapati calon menantunya tertidur di sofa untuk menjaga putri mereka.
Mereka langsung terbang saat mendapati kabar buruk dari Jakarta.
Dan beberapa menit lalu mereka baru nyampai.
Romo menepuk pundak Denis pelan. Denis yang merasakan tepukan itupun segera membuka matanya.
" Romo...?" Ucap Denis terkejut.
" Iyo le iki romo, wes subuhan le cah bagus?" ( iya nak ini romo, sudah subuhan anak bagus) Tanya romo Natasya.
" Ngapunten romo, dereng..." ( maaf romo, belum) Jawab Denis dengan kepala menunduk malu.
" Ini sayang baju sholatnya, sholat saja dulu. Baru tidur lagi yang bener di kamar tamu. Pasti badanmu sakit semua tidur seperti itu semalaman.." Ucap mommy Natasya.
" Yes mom, thanks.."
Denis menerima baju koko dan sarung lalu melangkahkan kakinya keluar, tapi matanya terus saja menatap Natasya yang masih tidur dengan tatapan penuh kekhawatiran.
" Dia baik-baik saja...ada kami" bisik mommy Natasya.
__ADS_1