
Azura terbangun dari tidurnya, tepatnya dia tidak bisa tidur setelah ajakan Ardi untuk menemui Brian.
Aku tidak salah apa-apa, brothy yang mengacuhkanku duluan..
Aku hanya mencintaimu mas...
Azura menatap wajah Ardi yang nyenyak di sampingnya. Wajah tampan yang meneduhkan, wajah yang tidak pernah menunjukkan rasa kesal, wajah yang selalu tersenyum ceria.
Dikecupnya kening Ardi pelan, tangan kekar Ardi melingkar diperut ratanya yang polos tanpa penghalang.
Azura mengelus perutnya menggunakan telapak tangan Ardi.
Apa kau sangat ini punya baby seperti mereka mas?
Jika itu maumu baiklah, aku akan menemui brothy...
Aku akan berbicara denganya...
Azura mengangkat pelan tangan Ardi dan memindahkanya di bantal.
Kaki sebelahnya turun untuk menggapai baju tidurnya yang berserakan di lantai akibat ulah Ardiansyah semalam.
Setelah memakai baju tidurnya, Azura mengambil ponselnya dan membawanya keluar kamar.
Disini, di kamar Bianca yang kosong, Azura mendial nomor yang hampir lima tahun ini tidak pernah di lihatnya. Mencoba memulai untuk memperbaiki komunikasinya yang rusak dengan Brian.
Hampir lima tahun sudah, mereka tidak saling sapa, tidak saling bicara bahkan bertemu tatap muka saja mereka saling bersikap seolah tidak kenal satu sama lain.
Drrttt...drrttt...drrtttt...
Nada terhubung membuat dada Azura semakin sesak, tidak tahu ini semua sebenarnya terjadi karena salah siapa. Jika hubungan mereka seperti ini sebenarnya karena apa?.
" Zu?" Suara Brian diseberang mengagetkan Azura.
Dengan menarik nafas berulang-ulang Azura mencoba mengumpulkan kekuatan.
Tepp, tepukan hangat dipunggungnya membuatnya semakin mantap. Ardiansyah tersenyum dan mengangguk, memberikan kekuatan yang lebih.
" Assalamualaikum brothy.." Suara Azura terdengar bergetar dengan menahan tangis. Brian orang baik, tidak sepatutnya disakitinya dengan cara yang memalukan.
" Waalaikumsalam Zu...." Jawab Brian tak kalah canggung.
" Kalau ada waktu, Zu mau kita bicara brothy, bisa?" Ucap Azura dengan susah payah, air mata sudah beranak sungai. Ardiansyah dengan setia menghapuskan air mata itu lembut.
Nampak suara Brian hilang untuk beberapa lama. Sepertinya Brian sedang mempertimbangkan sesuatu.
" Ya, InsyaAllah... Dua minggu lagi kami ke Jakarta. Tunggu saja Zu..." Jawab Brian.
Dikantornya Brian mematung setelah menutup panggilan dari Azura.
Rasa cintanya dahulu sudah tidak ada lagi, tapi hubungannya dengan Ardi dan Azura sudah terlanjur retak. Walaupun dari tangan Azuralah, Brian mendapatkan Numa yang begitu dicintainya sekarang, dan dari Numalah kebahagian Brian bertambah dengan hadirnya putra mereka, Aryan. Tapi sampai detik ini masih ada rasa yang mengganjal dihatinya. Bukan rasa benci, hanya kekusutan yang perlu diluruskan.
Flashback on.
5 tahun yang lalu...
Ardi masih belum bisa mengingat siapa dirinya. Dia masih saja menganggap Bianca adalah adiknya, Lili.
Sementara Azura? Ardi sendiri tidak tau siapa gadis itu sebenarnya. Tapi entah kenapa kehadirannya membuatnya nyaman dan bahagia. Azura bagaikan perawat pribadinya yang selalu mengingatkan obatnya pagi, siang, malam.
Hingga suatu ketika kesalah pahaman terjadi. Bianca menangis karena nakal dan harus dimarahin oleh Azura. Tapi Ardi yang tidak suka Lili dimarahin oleh siapapun menjadi membenci Azura.
Hingga suatu hari..
" Mas bisa anter Zu sekolah?" Azura mendekati Ardi yang sedang menyiram tanaman di samping rumah.
" Kenapa harus gue yang anterin lo..., emang lo siapanya gue?" Tanya Ardi ketus.
Nyut...
Rasa sakit meremas hati Azura ketika mendengar penolakan mentah-mentah dari pria yang disukainya.
__ADS_1
" Zu.., sama brothy aja yuk..." Panggil Brian yang juga sudah bersiap berangkat kerja.
Azura terlihat beberapa kali melirik Ardi. Berharap Ardi berubah fikiran, tapi yang didapatkan dan diharapanya harus zonk.
Demikianlah, sampai beberapa bulan berlalu Azura selalu diantarkan sekolah oleh Brian. Bahkan tak hanya sekolah, Brian juga setia mengantarkannya bekerja dan menjemputnya jam berapapun itu.
Brian akan selalu menyempatkan diri untuk selalu ada untuk Azura.
Beberapa bulan bersama tentulah timbul benih-benih asmara yang memang sudah bertunas di hati Brian dari awalnya.
" Apa impianmu Zu?" Tanya Brian saat mereka ada di mobil menuju rumah, sepulang dari cafe Nathaniel.
" Maksudnya cita-cita?" Tanya Azura memastikan.
" Bukan, tapi impian masa depan..." Ucap Brian.
" Ngga muluk-muluk sih, hanya ingin bisa ke Sidogiri untuk menuntut ilmu, trus berkunjung ke rumah Allah di Mekkah..." Jawab Azura.
Hanya sebaris harapan Azura, yang bahkan bagi orang lain hanya angin lalu. Tapi tidak bagi Brian. Setelah mendengar harapan Azura, Brian begadang mati-matian untuk mencari informasi tentang pesantren tahfiz di Sidogiri, lalu beasiswa untuk mahasiswa ke Arab Saudi.
Semua mimpi Azura haruslah bisa terpenuhi dari tangan Brian. Brian begitu sadar, sadar-sesadarnya bahwa dia telah jatuh cinta pada Azura Paramitha Pramudya.
Brian terus bersiul sepanjang hari, kebahagiaannya begitu komplit saat lambat laun Bianca juga terlihat mulai menempel padanya.
" Wah sepertinya lagi bahagia nih?" Sindir Ardi ketika mereka telah berkumpul di ruang makan.
" Yupp!!, very-very happy. I falling in love..." Jawab Brian mantap.
" Oh ya?, with who?" Tanya Marvel yang juga sedang berada di rumah papa Syakieb
" Dia...." Tunjuknya dengan dagunya pada sosok Azura yang keluar dari mushola rumah papa Syakieb.
Ardi terlihat tersentak kaget, wajahnya terlihat pucat dan bergetar tiba-tiba.
Walaupun Ardi belum ingat betul siapa Azura, tapi Ardi sudah begitu tertarik padanya.
Walaupun selama ini dia jutek dan agak kasar padanya, sebenarnya hanya untuk menyembunyikan perasaannya, karena Ardi malu mengakuinya.
" Kenapa Di?" Tanya Brian saat mendapati Ardiansyah yang terlihat gelisah.
" Nggak papa?" Jawabnya cepat.
" Apa kau juga suka dia?" Pancing Marvel yang aneh melihat gelagat Ardi.
" Nggak lah, kurang seksi.." Jawab Ardi asal dan segera meninggalkan meja makan dengan alasan mau belajar.
" Tau dari mana kau kalau dia kurang seksi..." Tanya Brian tidak suka dengan sudut pandangan Ardi.
Ardi yang sudah beberapa langkah berjalanpun akhirnya berhenti.
" Nebak saja..., nggak minat dan nggak tertarik juga gue.." Ucapnya sambil lalu. Tapi saat berbalik badan justru Azura berdiri di depannya.
Duh...dia denger nggak ya...
Duh...dia buang muka lagi..
Duh...mati gue..
Ardi gelagapan saat Azura melewatinya begitu saja.
Hatinya begitu sakit, karena semenjak itu Azura tidak lagi mengingatkannya minum obat, tidak lagi membantunya menyediakan makannya. Azura benar-benar menarik dirinya dari sekitar Ardi.
Malah yang terlihat Azura justru sering terlihat bersama Brian.
" Bro...gercep kalo udah mantap mah, sat set sat set gitu..." Marvel menepuk pundak Brian yang menatap foto Azura dan Bianca di ponselnya.
" Azura sepertinya suka Ardi deh bro..., setiap hari yang dibicarakan Ardi melulu" Ucap Brian sedih.
" Tapi lo kan denger sendiri kalo Zura bukan tipe Ardi.." Marvel menangkap bola yang kedua putranya lemparkan padanya.
" Iya sih..." Brian menyugar rambutnya ke belakang.
" Coba lo seriusin bicara dengan Zura, dua bulan lagi dia lulus SMU.., kalau oke langsung cus ke Jogja. Minta segera ke kakek..., masa kalah sama ayah..ha..ha... ayah aja udah tua gitu mau merid lagi, yang ketiga kalinya cuy...."
__ADS_1
" Siapa yang tua Nanda Marvelino!!" Seru ayah Shahril dari arah pintu.
" Eh...i..itu...itu...apa ya tadi--" Ucap Marvel gagap.
" Grandpa sudah tua kata ayah...." Sambar Sunny.
" Dihhhh tuyul ini antena Wi-Fi nya tinggi amat nyamber mulu..." Marvel meletakkan telunjuknya di bibirnya.
" Kata ayah udah tua masih mau merried yang ketiga kalinya pula..." Lanjut Sunny lagi.
Brian, Dian, dan ayah Syahril melotot mendengar ucapan Sunny.
Sementara Marvel menggaruk rambut gondrongnya gemas dan membuat tanda damai dengan jarinya pada ayahnya.
Melihat Sunny seolah-olah melihat dirinya waktu kecil, nakal.
" Kamu nakal boy...." Marvel menangkap putra sulungnya dan menggelitik perutnya.
" Ya, nakal seperti ayahnya..." Ucap Dian dengan memeluk Shine yang ikut tertawa melihat Sunny meliuk-liuk minta ampun pada ayahnya.
" Yah, Brian mau minta tolong..." Suara Brian membuat Marvel berhenti menggelitik Sunny.
Semua mata menatap padanya.
" What can i do for you son?" Tanya ayah Syahril.
" Lamarkan aku untuk Zura pada kakek..."
Duar....
Mama Neela yang kebetulan melintas dan mendengar itu semua tiba-tiba menjatuhkan air matanya.
Sebagai seorang ibu tentu beliau tahu arti tatapan putranya pada Azura selama ini.
Tidak dipungkiri, bahwa mama Neela selama ini juga tahu bahwa Ardi juga sempat mencintai Hana.
Dengan perasaan tak karuan mama Neela menemui papa Syakieb untuk membicarakan ini.
" Aku sudah lama tahu Ardi suka dengan Zura yang...., Zura sepertinya juga iya..."
Ucap papa Syakieb.
" Tapi masalahnya saat ini Ardi kehilangan ingatanya, dia tidak sadar akan apa yang sedang terjadi..." Lanjut papa.
Hari terus berganti dengan cepat, begitupun hari kelulusan Azura, Ara dan Ardi.
Rasa cinta Brian juga semakin meletup-letup. Hingga suatu malam saat menjemput Azura bekerja di cafe Nathaniel, Brian begitu cemburu melihat keakraban Azura dan Nathan.
Vino dan Numa yang melihat Brian datang menjemput Azura segera mendekati Brian.
" Brothy udah lama?" Sapa Vino.
" Belum lama Vin, baru duduk..., Hai Numa..." Sapa Brian ramah.
Numa mengangguk sopan, sudah enam bulan ini Numa mengikuti pengajian yang juga diikuti oleh Azura. Dan enam bulan sudah Numa berpakaian syari seperti Azura.
Mata Brian terus menatap Azura yang masih juga mengobrol dan tertawa santai dengan Nathaniel.
Jika besok aku melamarmu apa kamu setuju Zu?
Jika aku ingin memilikimu apakah kau juga ingin sepertiku?
Ahhhh...
Aku akan bertanya dulu padanya..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mampir yuk guys, cerita tentang Sunny dan Shanum...
__ADS_1