Childhood Love Story

Childhood Love Story
Rasa


__ADS_3

"NGGAK!!"


Adnan berdiri berkacak pinggang tidak jauh dari mereka. Adnan datang sebagai alumni SMU Bhakti periode bawah.


Sedari tadi pemuda itu mencari-cari keberadaan istrinya.


Dan sungguh-sungguh terkejut saat istrinya berduaan dengan cowok. Apalagi dengan sangat jelas dia mendengar cowok itu mengutarakan rasa sukanya pada istrinya ini.


" Kesini sayangku..." Ucap Adnan dengan suara dingin dan mengerikan.


" Bang ini..ini, Hana bisa jelasin ini..." Hana ketakutan melihat wajah Adnan yang mengerikan.


" Kesini..." Lagi, suara Adnan semakin terdengar datar. Tatapannya tajam seperti sedang menguliti Janu saat ini.


Hana segera melangkah, tapi Janu dengan cepat menahan tangan Hana.


Adnan melotot melihat seseorang berani menyentuh istrinya.


" LEPASKAN!!!" Teriak Adnan.


Hana segera menepis tangan Janu.


" Kenapa kamu takut padanya Han, dia hanya kakak dari sahabatmu kan?" Ucap Janu.


Hana berlari kebelakang tubuh Adnan yang tinggi besar.


" Jangan berharap kau bisa mendekatinya setelah ini!!, Dengarkan baik-baik olehmu. Dia Hana Nindya Adnan Syakieb, istri dari Adnan Syakieb Al Ghifari..." Adnan mengenggam tangan Hana dan membawanya pergi meninggalkan Janu sendirian yang mematung tak percaya.


Flashback off.


Ara berlarian di Koridor rumah sakit, entah kenapa hatinya berdebar kencang sejak tadi.


" Nggak usah lari kali Ra!!, kamu lari juga percuma. Ardi nggak bisa kemana-mana!!" Bentak Janu.


" Serah aku lah..." Jawab Ara santai.


Sementara daddy dan mommy hanya tersenyum setiap kali kucing dan tikus ini ribut.


Didepan ruang Ardi suasana terlihat kacau, mama menangis begitu juga Azura dan Dian yang menggendong satu putranya, sementara satunya lagi ada di gendongan Brian.


" Ada apa?, kenapa?" Tanya Ara dengan suara bergetar.


Mereka hanya diam tanpa mau menjawab.


" Anca kenapa mah??" Suara Ara semakin mengecil. Tak lama muncul papa yang berlarian dari koridor dengan menggendong Bianca.


Saat ini kondisi Ardi sangat kritis.


" Lili, masuk dulu sama mama dan Bianca..., nanti ganti papa dan yang lain.." Ucap papa dengan lelehan air mata di pipi nya.


Mama mengambil alih Bianca dalam gendongannya dan masuk ke dalam.


Ardi masih terbujur di brangkar, wajahnya semakin pucat.


" Bang...sampai kapan terus disitu, kamu tidak kangen bebebmu ini hah???" Bisik Ara di telingan Ardi.


" Sayang..., ini mama sayang. Ayo nak kita pulang....Sudah cukup istirahatnya, kita kembali pulang ke rumah sayang..."


Bianca yang sudah marah dengan ini akhirnya merayap naik ke atas brangkar Ardi dan menepuk pipi Ardi agak keras.


" Om nanun..., Bianta malah ini!!!" Suara gadis itu begitu melengking.


Puk..puk..


Dipukulnya lagi pipi Ardi.


" Sshhhh, jangan sayang itu menyakiti om..." Mama menahan tangan Bianca yang lagi-lagi ingin menabok pipi Ardi.


Tapi satu tangan Bianca yang lain telah terlanjur berayun.


Plakk


" Aduhh...sakit beb...." Suara lirih keluar dari bibir Ardi.


Membuat mama dan Ara saling pandang.


" Ardi sayang...., kamu sudah bangun nak??"


Ardiansyah pelan-pelan membuka matanya. Menatap satu persatu mereka yang ada di depanya.


Matanya menatap Bianca dengan senyum yang dipaksakan mengembang.


" Lili..., beb kamu nakal..." Gumamnya..


" Bang..." Panggil Ara lirih.


Ardi menoleh pada nya dan lalu menatap mamanya.


" Kalian siapa???"


Duarrrr!!!

__ADS_1


" Sayang kamu tidak kenal mama?" Mama Neela syok luar biasa.


" Bang..." Panggil Ara bergetar.


Ardi seperti orang bingung, diraihnya Bianca mendekat padanya.


" Lili kamu disini saja beb, jangan kemana-mana.." Tanganya menggegam erat Bianca.


" Mah..ada yang nggak beres sama abang, Lili panggil dokter dulu.."Ara berlari keluar ruangan Ardi untuk memanggil dokter.


...***...


Dan begitulah, 6bulan Ardi koma. Dan saat bangun justru dia amnesia.


Yang diingatnya hanya satu, Lili dan itupun justru pada sosok Bianca.


Tapi semua itu tidak menyurutkan kebahagiaan keluarga Syakieb.


Dengan Ardi bisa kembali ketengah-tengah mereka seperti ini saja sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa.


Empat hari Ardi menjalani masa observasi dan akhirnya diijinkan pulang.


Ingatan Ardi hanya tersisa saat masa kecilnya yang bahagia bersama adik kembarnya Lili.


Seperti pagi ini,


" Lili..., beb sini.." Ardi yang duduk di pinggir kolam renang memanggil Bianca yang sedang bermain di kolam bersama Dian dan Marvel yang menjemur putra mereka diatas pelampung.


Semua anggota keluarga bersepakat untuk menjelaskan secara sederhana pada Bianca bahwa om Ardi sedang latihan drama. Dan Bianca ikut serta dengan nama Lili, berperan jadi adik om Ardi.


" Iya bang..." Sahut Bianca antusias.


Marvel membantunya keluar dari kolam.


" Ini, bakso tahu kesukaan mu. Ayo aa...,biar abang yang suapin..."


Bianca duduk dipangkuan Ardi setelah terbungkus handuk.



Selama menyuapi Bianca beberapa kali Ardi terlihat melamun.


Ya.., saat ini Ardi dalam keadaan yang sangat bingung.


Semua orang dirumah ini asing baginya, kecuali Bianca.


Tapi satu orang yang menarik perhatiannya sejak kembalinya dia kerumah ini yaitu gadis dengan penutup wajah.


Dan kenapa Bianca memanggilnya mmy...


" Assalamualaikum Bian..., mmy pulang..."


Suara gadis yang beberapa saat lalu berkelebatan di fikiranya itu tiba-tiba muncul dari pintu samping.


" Lihat Bian, mmy bawa apa?" Azura menyodorkan sebuah bando dengan karakter Minnymouse sebagai hiasanya.


Mata Azura menatap pada mata Ardi yang kini juga tengah menatapnya.


" Assalamu'alaikum mas..., bagaimana hari ini?"


" Wa'alaikumussalam, aku Alhamdulilah..." Jawab Ardi singkat dan langsung membuang muka ke arah lain.


" Badusna...bando ini, telimakasih mmy..." Bianca terlihat berseri-seri.


" Sama-sama sayang, sini mmy pakein.."


Ara memakaikan bando itu ke kepala Azura.


Ardi terus menatap interaksi keduanya.


" Nah sekarang mmy foto ya, madep sini"


Cekrek..cekrek..


Azura banyak mengambil foto, tapi bukan Bianca saja. Tapi juga beberapa foto Ardi yang memang sengaja di curinya.


" Om...senyum dong..." Ucap Azura pada Ardi.


Dan entah apa alasanya, bibir Ardi tertarik keatas, menampilkan gigi-giginya yang putih dan tersusun rapi.


Cekrek..cekrek..



" MasyaAllah..."


Azura tersipu malu saat melihat hasil fotonya.


Jikalau terlihat tentu akan nampak gurat merah diwajah Azura yang merona.


" Ya sudah mmy masuk dulu ganti baju ya sayang, sekolah mmy ada acara di museum.."

__ADS_1


Azura mengelus rambut Bianca dan beranjak masuk.


" Tunggu!!" Panggil Ardi.


" Biar gue yang antar..." Ucap Ardi spontan.


Marvel yang ada disana dan melihat itu lansung mentas.


" Ardi kau sudah ingat sesuatu?" Tanyanya cepat.


" Ingat apa?" Tanya Ardi datar.


" Kau ingat tidak bahwa kau memang selalu mengantar Azura tiap kali kemana-mana?"


Ardi terdiam sesaat, mencoba mengingat-ingat.


" Tidak ingat " Jawabnya jujur.


***


Sementara Ara di kamarnya, dirumah keluarga Wijaya uring-uringan tidak jelas.


Lagi-lagi Rangga tidak menghubungi nya, dan ini sudah terjadi tiga minggu ini.


Ara paham sepaham pahamnya kalau Rangga itu gila belajar. Tapi masa iya tiga minggu nggak ingat sama istri sama sekali. Ara yang geram karena emosi akhirnya memutuskan memblokir Rangga.


Sementara di Massachusetts USA.


Rangga terbangun dari ketidurannya, dan masih duduk di meja belajar.


Pulang kuliah sudah sangat malam dan langsung harus menyelesaikan tugas.


Beberapa minggu ini Rangga benar-benar memeras tenaganya untuk memenuhi targetnya. Jika tesis ini lancar, maka seperti yang diharapkannya, dia bisa memotong masa kuliahnya dan segera berlari pulang ke pelukan istrinya.


Tapi Rangga lupa, bahwa segala sesuatunya harus dibicarakan. Ara jelas bukan dukun yang akan bisa membaca maksudnya.


Dengan tindakannya ini justru membuat hubunganya dengan Ara tidak baik-baik saja.


Seperti saat ini..


" Di blokir??" Seru Rangga dengan mata yang membola luar biasa.


" Apa apaan nih" Geramnya.



Rangga segera melakukan panggilan kepada mommy nya. Hatinya mendidih dan dipenuhi emosi yang membara.


" Ya sayang..."


" Mom, tanya kepada menantumu itu, kenapa berani sekali memblokir nomor Rangga.." Sela Rangga cepat.


" Lalu?, menurutmu untuk apa dia menyimpan nomormu jika kau saja tidak pernah menghubunginya, dan saat dia menghubungimu apa kau juga mengangkatnya?, atau bahkan jarimu sudah lupa cara mengetik sampai-sampai pesan istrimu satupun tidak ada yang kau balas"


Tut...tut...tut..


Setelah berbicara seperti itu mommy langsung memutus telpon Rangga.


Mommy juga kesal dengan sikap Rangga hampir sebulan ini.


Kring...kring...kring..


Rangga berusaha menghubungi melalui telpon rumah.


" Ya, keluarga Wijaya disini, bisa dibantu?" Suara bik Sarni terdengar mengangkat telpon.


" Bi...non Lili ada dirumah??"


" Oh ini den Rangga ya?, ya ampun den....Kenapa lama nggak nelpon sih den, kan kasihan non Lili nya kangen, setiap makan selalu nggak habis den, kadang juga nggak makan seharian.."


Tuk...


Ponsel ditelinga Rangga merosot begitu saja.


" Astaghfirullahalazim....apa yang telah ku lakukan ya Allah...."



Rangga menyesali sikapnya yang lebih mendahulukan pendidikanya daripada perasaan istrinya.


" Astaghfirullah...bodoh nya aku..." Rangga mengetuk-ketuk keningnya sendiri dengan geram.


" Elli...iya Elliot..."


Rangga berlari keluar kamarnya dan segera mengetuk pintu kamar Elliott.


" Apa sih bro!! ngantuk nih!!"


" Ell pinjem ponsel sebentar" Rangga menerobos kamar Elliot dan menyambar ponsel yang tergeletak dikasur itu dengan cepat dan bergegas kembali ke kamarnya.


" Hai Elli, how are you?

__ADS_1


Degg...degg...degg..


Suara indah mendayu yang tiga minggu ini diabaikanya ini begitu sejuk menyiram hatinya.


__ADS_2