Childhood Love Story

Childhood Love Story
Lega..


__ADS_3

Rangga, Lenox dan Ardi saat ini sedang mondar-mandir di depan salah satu ruangan di kampus Ara.


Ya, hari ini adalah hari sidang skipsi Ara.


Ara dengan tenang menjawab setiap pertanyaan dosen penguji.


" Jadi Ara, pertanyaan terakhir. Apa benar skripsi ini benar-benar pure kamu yang buat?, bukan suami kamu?"


Deghh


Wajah Ara bagai tersambar api yang menyala.


" Dari bab awal semua saya yang mengerjakan bu, semua murni ide dan gagasan saya sendiri. Tapi memang di bab akhirnya, su...suami saya membantu..." Jawab Ara jujur.


Ibu dosen penguji tersenyum dan mengangguk.


" Baiklah, jadi ada beberapa bagian yang harus di revisi. Disini telah saya tandai mana-mana yang harus di revisi Serahkan segera dalam batas waktu dua minggu dari sekarang. Ingat untuk mengirimkan soft copynya pada alamat email yang telah ibu share.


Oke sekali lagi Lailia Nafeesa Anara selamat, skripsi anda diterima..." Ucap Ibu dosen dengan mengulurkan tanganya.


" Alhamdulilah..., terimakasih bu..." Ara menyambut tangan dari dosen senior itu dan mengecupnya takzim.


" Salam buat pak Rangga ya..." Ucap Ibu dosen itu lagi dengan tersenyum ramah.


" I...ibu..ta..tau..?" Ara terlonjak kaget mendengar ucapan sang dosen.


" Iya, kami semua tau..." Jawab dosen yang lain.


" Selamat juga atas kehamilannya...semoga debay sehat selalu..." Ucap beberapa dosen lain.


" Terimakasih...terimakasih..." Ucap Ara penuh rasa bahagia.


" Gimana sayang?" Tanya Rangga buru-buru menghampiri saat Ara membuka pintu ruangan.



Ara tersenyum manis, bahkan sampai-sampai bisa membuat kadar gula darah Rangga melonjak naik.


" Alhamdulilah..lulus..." jawab Ara dengan rasa lega dan bahagia yang tiada terkira.


" Yeahhhhh..., kita wisuda sama-sama..." Teriak Ardi dan Lenox berbarengan.


" Yuhhuu...makan-makan kita..." Seru Ardi


" Isshhh, jangan seneng dulu. Ada revisi nggak?" Tanya Rangga pada Ara.


" Ada..., gampanglah itu nggak sampai sepuluh halaman...yang penting kita ke Oceanapia restoran, Lenox janji traktir kan? Jangan pura-pura lupa!!!" Ara mengejar Lenox yang tiba-tiba berjalan cepat pergi dari sana.


" Lenox jangan lari" Teriak Ara.


Tapi Lenox semakin berlari dengan tertawa kencang.


" Ya sudahlah berarti kita putus!!" Teriak Ara menghentikan langkah Lenox seketika itu.


Rangga berkacak pinggangnya melotot mendengar ucapan Ara. Sedangkan Ardi membekap mulutnya agar tidak sampai meledakkan tawanya.


" Apa lo ngomong apa?" Tanya Lenox dengan berbalik mendekati Ara.


" Kalo lo pergi, gue putus lo dari pertemanan kita " Jawab Ara santai.


" Huuhhh!!, Dasar kamu!!!" Lenox mentoyor kening Ara sampai terhuyung kebelakang dan Rangga langsung meraihnya.


"Sialan Ara..


Gue sampai gemetaran begini..


Ternyata cuma di PHP in doang..."


Maki Lenox dalam hati.


Rangga mengigit bibirnya kuat-kuat menahan rasa gelinya melihat raut wajah Lenox yang penuh rasa kecewa.


Untuk tertawa rasanya nggak tega, entah kenapa Rangga merasa nyaman jika ada Lenox didekatnya. Kata Rayya ini bawaan bayi. Dan lagi Ara sepertinya juga terlihat nyaman nempel-nempel dengan Lenox semenjak hamil. Kata Rayya juga dulu saat hamil twin, Ara juga sangat tergantung pada Lenox.

__ADS_1


" Bi...., yuk..." Tepukan Ara membuat Rangga terkejut dari lamunannya.


" Kakak masih ada jadwal, kamu pulang bareng Ardi saja ya..." Rangga mengelus jilbab Ara dan mengecup keningnya.


" Oh okelah, boleh ya kami jajan di depan taman kota..?"


" Jangan, disana nggak higienis..." Sahut Rangga.


" Siapa bilang? nggak usah dengerin Ra, sate belutnya enak kok...yuk cuzz kita..." Ajak Lenox.


" Iya, gue juga mau coba pecel Madiun yang terkenal itu...Kuy lah guy's.." Ardi merangkul adik kembarnya pergi meninggalkan Rangga yang melongo.


" Hey...tunggu.., aku mau juga lah pecelnya. Bungkusin dong!!" Teriak Rangga.


Lenox mengakat tanganya melambai, dan mengangguk tanpa menoleh.


...***...


" Sayang..."


" Hemmm.." Ara sedang serius merevisi skripsinya dengan bersila memangku laptopnya di sofa ruang TV. Sementara Rangga menikmati pecel yang telah di panaskan di microwave beberapa saat lalu.


" Laptop nya jauhin dari perut sayang, nggak bagus untuk kesehatan dedek..." Ucap Rangga dengan memindahkan laptopnya ke meja.


Lalu menempatkan bantal sofa di atas karpet.


" Nah, duduk sini sayang.." Rangga mengangkat Ara dan mendudukkannya di bantal.


Diusapnya pelan perut Ara dan diciuminya dengan gemas.


" Hai dedek...., ini daddy.." Ucap Rangga dengan binar bahagianya.


Dua hari ini Rangga tidak pernah absen untuk mengelus perut Ara, seolah-olah telah menjadi habit baru baginya.


Mual muntah Ara akan parah pada pagi dan sore hari. Dan saat-saat tertentu jika mendapati bau dan melihat sesuatu yang tidak lazim.


" Sayang, besok kita ke dokter yuk untuk cek kandungan kamu..." Bisik Rangga.


" Iya..., eh tapi besok Lili ada janji ketemu Asdos Aji Wasesa sama Lenox..." Ucap Ara.


" Bu dokter, boleh saya konsultasi dengan Anda.." Tanya Rangga dengan mengusapkan jemari Ara yang ada digenggamannya pada seluruh wajahnya.


" Apa itu?" Tanya Ara penasaran.


" Saat hamil muda begini boleh nggak saya, emmmm... Naninu dengan istri??"


" Ahhh, apaan..." Seru Ara geram dan gemas.


Ara menutup wajahnya dengan bantal sofa karena malu yang luar biasa.


Memang mereka sudah menikah dalam waktu yang sangat lama. Tapi Ara tetaplah Ara yang pemalu dan selalu menghindar dari cringe-cringe yang tabu. Baik itu dengan Rangga ataupun dengan siapapun yang terbilang dekat dengannya.


" Loh..loh..kok malu sayang, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti ada pasien yang nanya begitu lo yang..." Ucap Rangga lagi.


" Iya, mungkin memang ada. Dan bisa dipastikan orang itu mesum seperti anda pak Rangga..." Jawab Ara dengan menahan tawanya.


" Ha..ha..ha, saya memang mesum jika itu dengan istri saya bu dokter...."


" Habis gimana lagi, lihatlah istri saya ini buk dokter. Dia begitu menggemaskan.., membuat saya selalu ingin..."


" Ihhhhh, merinding Lili Bi..... Sanaan Bi..., tinggal dikit ini.." Ucap Ara dengan kembali fokus pada laptopnya dan mendorong Rangga menjauh.


" Tidak, kamu belum jawab..." Rangga kembali mengangkat laptopnya tinggi-tinggi.


" Apa??" Tanya Ara pura-pura lupa.


" Naninu sayang....." Ucap Rangga mulai geram.


" Ohhh...Iya...boleh kok boleh, asal jangan sering-sering dan pelan saj--- akkhhh" Jerit Ara saat Rangga dengan cepat mengangkatnya.


" Nah ayok...." Rangga membawa Ara ke arah kamar.


" Apaan Bi....." Ara memberontak minta diturunkan.

__ADS_1


" Katanya boleh dan harus pelan tadi, nah kita coba yuk..."


" Ahhhhhhh, kamu ih!!!. Udah mau jadi dady kok masih begini mulu...." Ara mencubit kedua sisi dada Rangga dengan sangat geram.


" Aaaugghhh...lagi yang lagi..., cubit disitu lagi..." Bukanya marah, Rangga malah ketagihan. Tawa Rangga menggelegar sepanjang arah ke kamar. Sementara Ara semakin merengut dalam gendongnya.


...***...


Setelah yudisium, dan didapati nilai Lenox yang luar biasa yaitu 'cumlaude'.


Professor Maha Dafran segera menyiapkan langkah berikutnya yaitu mendorong Lenox ke jenjang profesi.


Lenox memimpikan menjadi dokter spesialis Jantung. Dan tentu beliau akan terus mensupport anak semata wayangnya itu.


Sementara Ara yang juga mendapatkan nilai 'cumlaude' juga seperti Lenox hanya cukup sampai dokter umum saja.


Mengingat dia telah bersuami dan dalam keadaan mengandung seperti saat ini.


Cukuplah baginya profesi ini, setinggi-tingginya pendidikan seorang wanita, kodratnya tetap mengurusi suami dan anak-ananya kelak.


Baiklah...terima apapun dengan iklas.


" Bagaimana dengan besok sayang..., kalian akan wisuda bersama... Putra-putri kembarku ini ternyata sudah sama-sama dewasa...MasyaAllah..." Mama Neela memeluk kedua anaknya dengan derai air mata.


Papa Syakiebpun ikut terenyuh dengan situasi yang ada di depanya.


Tidak menyangka saja kedua anak kembarnya ini sama-sama mendapatkan nilai sangat memuaskan.


Keraguan tentu datang dari Ardi, karena Ardi seolah-olah ogah-ogahan belajar tapi lihatlah kemampuannya.


" Kamu buat skripsinya sendiri kan sayang?" Tanya papa pada Ardi.


" Ya iyalah pah..., eh..., anu di bantu Zura juga sih.." Jawab Ardi dengan nyengir.


" Hemmmm, pantaslah" Sahut papa.


" Trus selanjutnya gimana?" Tanya papa lagi.


" Apanya?" Tanya Ardi polos.


" Kamu sama Azura gimana kelanjutannya sayang...?" Tanya papa gemas.


" Ya menikah lah.. Ada lagi yang lain kah?" Jawab Ardi santai.


" Ya ampun santainya dia mau menikah. Kok seolah-olah mau beli bakso saja kamu.." Ucap papa heran.


" Nggak ada rasa deg..degan..gitu kamu sayang, ini kamu mau ambil anak orang lo jadi bagian hidup kamu.."


" Selanjutnya Azura akan jadi tanggungjawabmu tidak hanya sekarang loh nak, tapi sampai nanti di akhirat.." Lanjut papa.


" Santai pah...justru Azura yang akan bertanggungjawab dengan dunia akhiratku.., dia bisa diandalkan lah...santai lah.." Jawab Ardi tenang.



" Ni anak sableng apa gendeng!!!" Umpat papa.


" Pah kok gitu sih, itu anakmu loh!!" Seru mama Neela dengan marah.


" Nah...ini nih..., singa betina mulai ngamuk anaknya disenggol..." Ucap papa Syakieb melihat mama Neela yang nyolot.


Bughh


" Awww...kabur.." Papa Syakieb berlari keluar ruangan saat bantal sofa mulai beterbangan menuju wajahnya.


" Bang kok gitu sih..." Ara mengusap rambut Ardi pelan.


" Kamu akan jadi kepala rumah tangga loh bang, yang serius dikit lah..." Lanjut Ara.


" Santai beb, Akhh...ya udahlah. Mah Ardi ke rumah Zura dulu deh..mau ngabarin kabar bahagia..." Ardi berdiri mengecup kepala Ara dan mendekati mama Neela untuk mencium pipi wanita tercintanya itu.


" Mau ngapain kesana...ini udah mau maghrib, nggak enak dilihat orang, dan lagi Bianca sedang bersama Dian, masa kamu cuma berduaan sama Zura..." Ucap mama.


" Mau nyicil buat kuping mah, biar anak Ardi nanti sepantaran dengan anaknya bebeb...." Jawab Ardi dengan gelak tawanya yang menggema di ruangan.

__ADS_1


" Astaghfirullah...anak itu..." Mama Neela mengusap dadanya.


__ADS_2