
Anzel yang saat ini sedang berbaring lemah dikasur rumah sakit hanya bisa tersenyum melihat putranya yang sedang digendong oleh suami tercinta. Ranz berjalan menghampirinya dengan senyuman manis setelah itu ranz memberi putranya agar ia bisa menggendongnya juga.
“Lucu ya, anak kita. Ganteng lagi.” Kata Ranz, tanpa mengalihkan pandangan kearah putranya, ia melihat binaran dikedua mata putranya. Lalu tersenyum kepada mereka berdua yang saat ini sudah sepenuhnya menjadi orang tua.
“Dia sangat mirip denganmu, mas.” Ucap anzel dengan suara pelan dan serak. Ranz mengangguk setuju dan tersenyum kepada istrinya, dikecupnya dahi anzel dengan lembut lalu membisikkan sesuatu yang membuat mereka terharu menangis.
“Terima kasih, terima kasih sudah memberiku putra yang lucu seperti Aksara Bintang.” Bisikkan Ranz pun dibalas, “Terima kasih juga untuk semua perhatian mas kekita berdua.”
"Selamat datang didunia papa dan mama Aksa." ucap Anzel dengan mengecup pelan pipi tembam putranya.
--- Sepuluh tahun kemudian ---
__ADS_1
Anzel dan Ranz dikaruniai lagi putri kecil yang sangat menggemaskan, saat ini sudah berumur delapan tahun hanya beda dua tahun dengan kakaknya , nama putri kecil mereka Aluna Nada.
Anzel yang saat ini sedang berada didapur tersenyum karena jerittan cempreng putrinya dibarengi teriakkan putranya. “HUAAA! Mama! Kakak nakall, mama help me!” Anzel pun menghentikkan kegiatan memasaknya dan berjalan kearah putrinya. “Ada apa sih ribut ribut? Luna kenapa nangis?” tanyanya bingung menatap putrinya yang sudah terisak.
Tak lama putranya datang dibelakang luna bersama suaminya. “Kakak, adeknya diapain ini?” tanya anzel dengan tatapan melembut. Aksa pun menggeleng, “Kakak gak ngapa ngapain adek ma. Adek aja yang baper.” Jawab aksa dengan menatap mamanya. “Bohong! Kakak gangguin luna yang lagi asik nonton sambil nalik nalik lambut luna sampai belantakkan.” Ngadunya ke mama Anzel.
“Kok kakak gitu sama adeknya? Harusnya adeknya di sayang sama kakak, bukannya digituin sama kakak.” Aksapun menunduk. “Iya maapin aksa. Dek luna maafin kakak Aksa ya?” sembari memegang tangan adeknya dibalas anggukkan oleh aluna dengan uluran kelingkingnya kearah kakaknya. “Tapi janji, gak kayak tadi lagi.” Dibalas anggukkan oleh kakak aksa.
Anzel dan Ranz pun tersenyum bahagia, melihat tingkah laku kedua anaknya mereka. Mereka sangat bersyukur melihat putranya itu yang sangat bisa menjadi panutan adiknya dari gaya bicaranya saja sudah terlihat bahwa putra - putri mereka mempunyai otak yang cerdas.
“Terima kasih sayang atas kado terindahnya. Karena sudah memberikanku kebahagiaan yang sangat luar biasa indahnya ini. Terima kasih sudah menjadi ibu dari anak anakku.” Anzelpun membalas dengan elusan ditangan besar suaminya itu.
__ADS_1
“Sama - sama sayangku. Tanpa kamu dan mereka aku akan hampa juga. Dan terima kasih juga sudah menjadi bapaknya anak anakku.” Ujarnya sambil memutar balik badannya agar ia bisa leluasa menatap suami tercintanya.
Ranz pun sedikit menunduk kearah anzel dengan penuh kelembutan ia beri kecupan dikening istrinya itu dengan lembut. Dan berlalu kearah bibir ranum anzel saat ingin menciumnya, tiba tiba anak mereka berteriak dari arah taman.
“PAPA! Ayo kita main bareng!” teriak aksa dengan bola basket dikedua tangannya. Diangguki oleh luna yang berada disamping kakaknya. “Mama juga sini main baleng sama aluna.” Ucap luna dengan suara
cadelnya jangan lupakan bunga tanaman mamanya ditangan luna.
“Iya, papa kesana. Ayo ma, udah diajak sama pangeran dan putri kecil kita.” Ajak Ranz dengan menatap anzel serta senyuman manisnya diwajahnya. Dibalas tawa kecil dibibir anzel sembari mengangguk manis. Sebelum mendekat kearah putra putrinya, ranz secepat mungkin ia mencium pipi tembam anzel lalu berlari kearah putranya yang sudah menunggunya sedangkan anzel berdiam beberapa menit kemudian ia tersenyum berlari kecil kearah putri manisnya.
---Tamat---
__ADS_1