Childhood Love Story

Childhood Love Story
Marah lagi??


__ADS_3

Ara melirik Rangga yang berjalan menuju kamar mandi. Gadis itu segera bangkit dan menyiapkan baju ganti untuk Rangga. Sebuah kaos polos dan celana pendek rumahan.


Kini langkahnya menuju meja belajar, membuka laptop dan mengerjakan tugas pak Lukman yang harus segera diselesaikan.


Ceklek..


Rangga keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk sepinggang nya saja.


Pemuda itu tersenyum saat melihat baju ganti sudah tersedia disana.


Dengan santainya dia berganti celana disana tanpa ke kamar mandi.


" Ada tugas..?" Tanya Rangga, otomatis membuat Ara menoleh padanya.


Dada bidang tersaji di depan mata Ara, dada lebar dan sedikit berotot, walaupun tak se sexy perut Ardi.


" Hemmm..." Jawab Ara, mulutnya tak mampu mengeluarkan suara, penampakan Rangga membuatnya grogi.


Memang dia sering melihat Ardi begitu, tapi tentu tak ada efek apa-apa baginya, lain dengan makhluk di depanya ini.


Rangga yang tau istrinya salah tingkah, malah mengurungkan niatnya untuk memakai kaosnya, dan malah mendekat pada Ara.


" Jurnal harian?" Matanya melihat pada layar laptop Ara.


" Iya tadi nggak sempet, keburu dijemput pa---" Rangga mengangkat kedua tangan Ara dari papan keyboard, dan memutar kursi belajar Ara untuk menghadap padanya.


Tangan itu kini dilingkarkan oleh Rangga pada perutnya, tangan Rangga mengunci pada belakang tubuhnya.


Wajah Ara kini menempel pada perut Rangga.


Ara mendongak menatap Rangga. Keduanya saling menatap, tak ada kata-kata yang keluar dari bibir keduanya.


Dada mereka berdebar-debar, tubuh mereka sama-sama sedikit bergetar.


Rangga pemuda yang tidak pernah berdekatan sedekat ini dengan perempuan sebelumnya, dan Arapun sama. Hanya Ardi dan Adnan saja.


Hupp...


Rangga menggendong Ara dan membawanya ke tempat tidur.


" Aduh, mampus gue...mau ngapain kak Rangga..."


Cemas, gelisah, khawatir dan takut semua kini menggerogoti fikiran Ara.


Rangga meletakkan Ara dengan pelan, matanya memindai penampilan istrinya ini.


Pundak, leher, punggungg terekspos sempurna, putih, mulus dengan bulu-bulu halus yang terlihat membuat semakin seksi dan cantik...


Dan lihatlah, pinggang rampingnya bahkan terlihat sempurna, lalu tanktop pendeknya juga membuat perut dan pusatnya terlihat dengan jelas.


Kaki panjang yang bersih dan mulus, putih bersih, membuat Rangga berkali-kali kesusahan menelan ludahnya yang seolah-olah tersangkut di tenggorokan.


"Sayang...." Bisiknya dengan suara serak, sealim-alimnya Rangga, gadis di depanya ini adalah istri sah nya. Jelas Rangga tak bisa menahan dorongan hebat dari tubuhnya untuk menjamah nya.


Ara yg takut segera memunggungi Rangga. Gadis itu menggigit punggung tanganya untuk mengurangi debaran hatinya yang menggila.


Rangga menjatuhkan tubuhnya di belakang Ara.


Cup.


Sesuatu yang kenyal, basah dan hangat menempel pada tengkuk Ara, membuat gadis itu mematung seketika. Dadanya bedentum-dentum bagai drum yg ditabuh.


Cup. .cup...cup...


Kecupan Rangga memenuhi tengkuk belakang dan punggungnya.


Tangan Rangga bergerak pelan kedepan, tepat diatas aset Ara. Dengan bibirnya yang terus mengeksplor punggung dan tengkuk Ara, tanganya pelan meremas dada Ara.


"Eugh...Ahhh...."


Suara menjijikkan bagi Ara itu terlepas dari bibirnya juga. Susah payah gadis itu menahanya, tapi jebol juga.

__ADS_1


Demi mendengar suara sexy Ara membuat Rangga semakin gelap mata.


Kini tanganya masuk tanktop Ara, mengelus perut rata Ara yang halus dan mulus.


Tangan itu semakin keatas dan keatas.


Rangga membuat Ara terlentang sempurna, pemuda itu merangkak diatasnya.


Ara menyambar bantal dan menutupkan pada wajahnya.


Tangan Rangga kini menyusup ke bawah dan membuka pengait b-ra Ara.


" Apa yang akan dilakukannya...ya Tuhan...ya Tuhan..."


Ara menjerit dalam hati, jujur gadis kecil ini belum siap untuk ini semua.


" Buka sayang...., buka bantalnya..." Rangga menarik bantal yang menutupi wajah Ara.


Tapi Ara mencengkeram bantal itu sedemikian rupa.


Rangga tak peduli lagi, baginya menyentuh Ara adalah tujuanya.


Rangga membuka penutup gunung itu, dengan tangan bergetar.


Diciuminya dengan rakus, benda asing yang telah menjadi mainannya sejak semalam.


"Eugh...eugh...eugh..." Lenguhan Ara dibalik bantal sungguh-sungguh membuat Rangga menggila.


Dengan gemas Rangga menggigit kecil puncak gunung Ara.


"Akhhh..." Teriak Ara.


Brugh!!


Dengan sekuat tenaga Ara menabok Rangga dengan bantal yang dipegangnya.


" Hemmp...ha..ha..ha..." Rangga tertawa terbahak-bahak melihat muka Ara yg merah padam.


Brugh!!!


Rangga segera menindih Ara dan mel*ma* bibirnya , sementara tanganya bergerilya diatas gunung kembar Ara.


" Akh...uhhh...ahhh..." ******* Ara menggema di kamarnya.


Tok..tok..tok..


"Sayang, Lili...." Panggilan dari luar membuat keduanya mematung sesaat


" I iya ma---"


Rangga membekap mulut Ara.


" I iya mah...sebentar..." Suara Rangga menyahuti panggilan mama mertuanya.


" Sayang ke kamar mandi cepat" Ucap Rangga, tangannya menyambar kaosnya dan mengenakanya sambil berlari kecil ke arah pintu.


Ara juga begitu, gadis itu melesat dengan cepat ke kamar mandi.


" Ya mah..." Ucap Rangga sambil membuka pintu.


"Loh Lili mana sayang? " Ucap mama Neela dengan kaki masuk melangkah ke dalam kamar.


" Di..dikamar mandi.." Jawab Rangga sambil mengelus tengkuknya.


Mama Neela tersenyum saat matanya menatap kamar tidur yang mirip kapal pecah.


Rangga buru-buru menyepak b-ra Ara yang teronggok di bawah kaki ranjang.


Tapi terlambat, mama Neela sudah melihatnya.


" Ini vitamin buat Lili ya sayang, mamah taruh sini, jangan lupa minumnya satu sebelum tidur, jangan sampai lupa okey..."

__ADS_1


Rangga menganggukan kepalanya sopan.


Mama Neela meletakkan botol kaca kecil


di atas meja nakas. Mengelus pundak menatunya itu dan segera keluar kamar, mama Neela sangat paham apa yang tengah terjadi saat ini.


" Sayang...sudah.." Ucap Rangga didepan pintu kamar mandi.


Ara keluar dengan wajah cemberut, saat dikamar mandi dia menatap dirinya di wastafel dan sungguh terkejut melihat tubuh bagian atasnya memerah semua.


Fikiranya langsung connect dengan merah-merah ditubuhnya tadi pagi.


" Minggir.." Ucap Ara sambil mendorong perut Rangga yg memblokir jalannya.


"Lah kenapa nih kok cemberut...?, kurang ya yg tadi" Ucapan vulgar Rangga membuat Ara semakin cemberut.


" Iya...kurang!!!, anda puas...??" Ara segera menjatuhkan dirinya dikasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


Rangga mendudukkan tubuhnya disamping Ara. Menangani gadis kecil ini penuh perjuangan.


Rangga merengkuh tubuh seperti lepet itu dengan gemas.


"Ayok cus kalo kurang, abang siap lahir batin nih..." Ucap Rangga menggoda Ara.


Ara geram dengan ucapan Rangga, Ara merasa malu dan tidak suka.


Ara segera menerjang Rangga dan duduk diatas aset Rangga.


Sumpah Rangga syok dan terkejut dengan apa yg dilakukan gadis kecilnya ini.


" Gila!!!, Liliku....ya Tuhan, nggak kuat gue...sumpah nggak kuat...mak tolong Rangga"


Jerit batin Rangga saat ini. Fikiranya blank seketika melihat tingkah Ara.


" Sa..sayang..apa..i..ini..." Rangga gelagapan dibuatnya.


Tangan Ara mengelus perut Rangga, Rangga tepejam dibuatnya. Perlahan-lahan tangan itu merambat ke dada Rangga.


"Ahhhh..." Desisnya saat Ara tak sengaja menyentuh Cocochip Rangga.


Ara tersenyum penuh misteri, otak pintarnya bergerak aktif.


"Sayang, cium kakak..." Pinta Rangga dengan meraih tengkuk Ara. Inginnya sudah sampai ke ubun-ubun.


Ara menurut saja gadis itu mencium Rangga seperti yg telah diajarkan Rangga semalam.


Rangga dibuat Gila dengan ini semua, pemuda itu merasakan terbang ke awang-awang.


Saat Rangga terlihat lengah dan hanyut dalam nafsunya yg membara Ara memutar Cocochip Rangga dan segera turun dari tubuh Rangga.


" Akhhh..." Teriak Rangga frustasi.


" Sayang...." Tanganya hendak menarik kembali Ara, tapi gadisnya segera melesat keluar kamar.


"Kabuuuurrr....." Teriak Ara sambil menutup pintu.


"Akhhh...." Teriak Rangga dengan kedua tangan meremas kepalanya.


"Awas kamu sayang, lihat aja pembalasanku..."


Rangga membuka lemari Ara, dengan geram pemuda itu menyambar semua dalaman Ara dan dimasukkan ke dalam paper bag lalu dilemparkan ke atas lemari yg tinggi.


"Main-main sama Rangga Bayu Wijaya, lihat aja sayang..., kamu bakalan mendesah sepanjang malam..."


Rangga mendudukkan tubuhnya di tempat tidur.


Pemuda itu memikirkan balas dendamnya.


Ditariknya selimut, bantal, guling dan dimasukkan semua ke lemari lalu dikuncinya.


Lagi-lagi kunci itu ia lemparkan ke atas lemari.

__ADS_1


Rangga tersenyum puas, dengan merapikan rambutnya yang acak-acakan, Ranggapun keluar kamar dan turun ke bawah.


__ADS_2